Rasuk

Rasuk
Bu Ningsih



Alea diam membeku, tubuhnya melayang di udara hampir menyentuh langit-langit ruangan. Kedua tangan terjuntai lemas, berikut kepalanya yang juga terkulai. Semua murid membeku sambil mendongak, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Firda dibantu Sofi dan Lina mulai berdiri perlahan-lahan, mereka berjalan tertatih kembali mendekat ke posisi Alea yang melayang. Sementara itu, Asri terbatuk-batuk sambil memegangi lehernya yang terasa sakit. Susah payah ke posisi duduk, wajahnya meringis menyedihkan.


Sikunya memar terbentur dinding ruangan, kulit dahinya bahkan tergores dan mengeluarkan sedikit darah. Bibirnya tak henti berdesis, memegangi siku yang terasa ngilu dan nyeri. Ketiga dayangnya cepat-cepat berlari ke arah Asri membantunya untuk duduk dengan benar.


"Kamu gak apa-apa?" tanya salah satu dari mereka dengan cemas.


"Gak apa-apa, tapi leher dan siku aku sakit banget. Kepala aku juga pusing," keluh Asri sambil menunjukkan siku dan lehernya nampak memar juga dahinya yang sedikit berdarah. Bekas jari-jari Alea melingkar di leher gadis berkulit putih itu.


"Dia kesurupan," gumam yang lain memberitahu.


"Iya, aku tahu. Itu bukan dia, mukanya serem banget. Aku lihat di mulutnya ada taring," beritahu Asri tak menutupi rasa takutnya.


"Aku takut, aku mau ke kamar. Aku gak mau di sini," rengek salah satunya sambil mengeratkan pegangan pada tangan seorang teman.


"Kamu gak lihat pintu sama jendela tiba-tiba kekunci? Siapa coba kalo bukan setan yang ada di tubuh murid baru itu yang ngunci?" sentak yang lain dengan nada bisikan khawatir akan dapat didenger jin yang masih mendiami tubuh Alea.


Ia tak lagi bicara, kepalanya mengedar ke segala arah khawatir setan itu tiba-tiba akan muncul di belakang tubuhnya.


"Parno-an," ejek temannya.


Di tempat Firda dan dua temannya, mereka masih mengarahkan pandangan ke langit-langit ruangan. Pada Alea yang sudah beberapa menit hanya diam membeku. Tak ada pergerakan, tak ada suara rintihan atau apapun yang terdengar. Benar-benar beku mengambang di atas kepala mereka.


"Alea?" gumam Firda merasa prihatin dengan kondisi teman barunya itu.


Air matanya menetes tanpa sadar, ia berharap semuanya akan berakhir baik-baik saja. Alea gadis yang baik, supel dan ceria. Hanya saja, beban di hati yang ia pendam sendiri menjadikannya sosok yang tertutup. Tak pernah bercerita perihal masalah yang ia hadapi, seolah-olah tak percaya pada siapapun jua.


Mata mereka dikejutkan oleh tubuh Alea yang tiba-tiba menggeliat, suara rintihan banyak orang terdengar lirih dari arahnya. Kumpulan murid yang berhadapan tepat dengan kepala gadis itu merapatkan barisan mereka. Saling memeluk berbagi rasa takut yang dihadirkan murid baru di atas sana.


Mereka menjerit kuat-kuat dikala kedua mata Alea terbuka lebar secara tiba-tiba. Mata merah yang melotot penuh ancaman, menusuk jantung mereka. Degupnya terasa sesak, salah satu murid bahkan kehilangan napas dan mengalami sesak hebat. Ia pingsan terduduk di lantai tak kuasa menyaksikan kejadian aneh di depan matanya.


Perlahan tubuh Alea memutar, berdiri tegak dengan kepala tertunduk. Rambut sebahunya menjuntai ke depan menutupi wajah cantik yang entah seperti apa saat ini.


"Lea! Sebut nama Allah, Lea! Lepaskan belenggu mereka yang mengurung jiwa kamu, Alea! Aku yakin kamu bisa!" ucap Firda tidak menyerah menyelamatkan temannya.


"Jangan mimpi!" sahut suara banyak orang yang menguar dari bibir Alea.


"Kamu bisa, Lea! Kamu lebih kuat dari pada mereka," timpal Firda lagi. Hanya dia yang terlihat berani di antara semua murid, tak menyerah dan terus menguatkan Alea.


"Kalian yang lemah, aku tahu apa saja yang sudah kalian lakukan. Aku melihatnya, hahahah ...." Suara tawa melengking tinggi, tawa banyak orang dari jiwa yang tersesat.


"Kamu gak tahu apa-apa, kamu cuma tukang fitnah!" teriak Firda dengan geram, "sebut nama Allah, Lea. Cuma kamu yang bisa membebaskan diri kamu dari mereka! Sebut, Lea! Allah! Allah!" lanjut Firda berteriak lagi.


"Hahaha ... dia gak-"


"Allah!"


Suara Alea terdengar lirih, tapi jin yang menguasai dirinya tidak bisa menerima.


"Jangan sebut itu! Jangan sebut itu!" teriak jin tersebut mulai panik.


"Jangan sebut itu! Jangan! Jangan!"


Brak!


"Ada apa ini?!"


Brugh!


Tubuh Alea tiba-tiba terjatuh saat pintu dibuka seseorang. Beruntung, Firda dan Sofi juga Lina sigap menangkapnya sehingga Alea tidak langsung jatuh di lantai.


Bu Ningsih, wanita tua berkebaya itu datang dengan tergesa. Ia melangkah masuk dan menghampiri tempat Alea jatuh tadi.


"Kenapa teman kalian itu?" tanya Bu Ningsih pada ketiga teman Alea yang mengerubungi gadis itu. Wajah yang selalu terlihat tenang itu, kini nampak merah karena marah.


"Dia kerusakan lagi, Bu." Lina mengadu sambil menangis.


Bu Ningsih mendekat, berjongkok di samping Alea berbaring. Punggung tangannya ia letakkan di bagian leher gadis itu, mengusapnya pelan dengan mata terpejam.


"Bangun, Neng!" perintahnya yang seketika saja membuka kedua mata Alea.


"Lea!" Ketiga temannya berhambur memeluk tubuh lemas itu. Alea tersenyum mengucapkan terima kasih pada Bu Ningsih lewat sorotan matanya.


Wanita tua itu beranjak, melihat semua murid yang masih membeku dengan raut wajah ketakutan. Pandangannya berputar pada empat orang lainnya. Di sana Asri masih meringis sambil memegangi siku.


Bu Ningsih mendekat ke arahnya, kembali berjongkok di depan Asri memeriksa leher gadis itu. Seolah-olah ia tahu apa yang sudah terjadi padanya.


Bu Ningsih menyentuh leher Asri, menutupnya cukup lama. Kedua matanya kembali terpejam, tak lama Asri menjerit kesakitan. Ketiga temannya melongo, meneguk saliva takut melihat Bu Ningsih yang nampak biasa saja bahkan terus terpejam sambil membaca sesuatu.


Ia mengusapkan tangannya melewati leher Asri, jerit kesakitan tak terdengar lagi. Ia diam dengan napas yang memburu, keringat dingin bermunculan di dahinya. Bu Ningsih beranjak tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Kembali ke kamar kalian! Jam makan malam sudah lewat," titahnya sebelum benar-benar pergi dari ruangan tersebut.


Pintu ruangan dibiarkan terbuka, Marni berdiri di luar pintu menunggu semua murid keluar.


Firda dan Sofi membantu Alea berdiri, mereka sempat melirik Asri dan teman-temannya sebelum melangkah keluar dari ruangan.


"Aku masih lapar, beli makanan di kantin, yuk!" ajak Sofi sambil memegangi perutnya yang keroncongan.


Mereka belum sempat memakan apapun tadi, semuanya terganggu karena Asri dan teman-teman. Pada akhirnya, mereka pergi ke kantin membeli beberapa camilan sebagai pengganjal perut.


Di jalan, mereka berpapasan dengan kelompok Asri yang menuju asrama. Mata Firda berkilat mengancam gadis angkuh yang melotot ke arah mereka. Tak ada kapoknya, sepertinya Asri akan terus mengganggu Alea dan kejadian tadi hanya dianggapnya sebagai hal kebetulan saja.


"Kamu lihat matanya si Asri tadi? Dia melotot, rasanya pengen aku cungkil mata belonya itu," umpat Sofi kesal.


Mereka semua kesal, bagaimanapun Alea tak pernah berbuat salah apalagi mengganggu mereka. Bisa-bisanya Asri justru membulli Alea yang tak tahu apapun.


"Udah biarin aja, aku capek pengen cepet rebahan," sela Firda seraya menarik tangan Sofi untuk segera meninggalkan luar asrama.