Rasuk

Rasuk
Nekad



Usai bergumul dengan sebuah buku dan pena, Nola meraih ponsel menghubungi salah satu temannya. Ada satu rancangan yang ingin ia lakukan hari itu. Hati yang tak tenang membulatkan tekadnya untuk pergi jauh ke Ujung Kulon menemui sang Kakak di asrama.


"Hallo, Al, kamu bisa nggak antar aku sekarang juga?" tanya Nola dengan cepat begitu telepon tersambung.


"Antar ke mana?" tanya suara dari sebrang telpon.


"Udah kamu ke rumah aku aja sekarang, jangan lupa pake jaket terus bawa uang. Takutnya uang aku nggak cukup, ya," pinta Nola, dengan cepat menutup sambungan.


Bergegas ia turun dari ranjang, mengambil ransel dan memasukkan beberapa barang yang berguna di perjalanan. Ia mengambil semua uang yang disimpannya.


Nola menghela napas, di depan almari dia mulai berpikir mengelabui kedua orang tua itu. Ditatapnya layar ponsel, dengan ragu ia mengirim sebuah pesan pada Siska.


Mah, aku mau tidur seharian. Jangan bangunin, ya. Aku capek.


Pesan singkat itu tak kunjung mendapat balasan. Tak ingin menunda waktu lebih lama, Nola keluar dari kamarnya. Mengunci pintu, seperti maling ia berjalan mengendap. Ekor matanya melirik awas pada pintu kamar orang tua, khawatir akan tiba-tiba terbuka dan memergoki dirinya yang akan pergi.


Nola melangkah lebar-lebar tanpa suara, menuruni anak tangga dengan hati-hati, merasa aman dia berlari keluar rumah secepat kilat. Dengan melapisi tubuhnya menggunakan jaket kulit, ia berjalan menyusuri trotoar sambil menunggu kedatangan temannya.


"Ck. Lama banget, sih? Ngapain aja coba?" gerutu Nola sembari menendang udara kosong di depannya.


Tak lama sebuah sepeda motor berhenti tepat di sampingnya. Tanpa berkata apapun, Nola mengambil tempat duduk di belakang si pengemudi. Ia menerima helm dan lekas mengenakannya.


Tanpa bertanya, teman laki-laki bernama Al itu, lekas menjalankan roda duanya. Dengan kecepatan tinggi menyalib kendaraan-kendaraan besar di depan mereka.


"Sebenarnya kita mau ke mana? Kenapa kamu kayak orang gelisah gitu?" tanya Al. Suaranya samar terbawa angin menyapa telinga Nola.


"Ke Ujung Kulon, aku pengen liat Kakak," jawab Nola setengah berteriak agar Al dapat mendengarnya.


"Gila! Ujung Kulon itu jauh, La! Nggak akan cukup waktu sehari buat pergi ke sana!" pekik Al tak percaya pada pendengarannya sendiri.


"Makannya, sekarang kita ke stasiun aja. Naik kereta lebih cepet, dari sana kita naik grab. Lewat tol lebih cepet lagi sampenya," ujar Nola.


Itulah yang sejak tadi dia rencanakan, kereta lebih cepat. Transportasi umum tanpa hambatan, dan tentunya lebih cepat.


"Kamu yakin mau ke sana? Emangnya kenapa? Bukannya baru seminggu, ya, Kak Alea di asrama?" selidik Al sedikit heran karena selama ini yang ia tahu Nola acuh tak acuh pada Kakaknya itu.


Ditanya begitu, Nola pun diam seribu bahasa. Ia sendiri tidak tahu kenapa hatinya begitu ingin pergi melihat sang Kakak.


"La? Kamu baik-baik aja, 'kan?" Suara Al kembali terdengar, kali ini bahkan lebih keras dari sebelumnya. Khawatir Nola tak mendengar ucapannya karena terbawa angin.


"Udahlah, kita pergi aja. Aku sendiri juga nggak tahu kenapa, tapi perasaan aku nggak enak dari pagi," sahutnya sedikit getir membayangkan hubungan mereka selama ini.


Kedua orang tua yang terlalu memanjakannya, tapi begitu cuek terhadap Alea. Semua keinginan Alea tak pernah ia dapatkan, sekalipun Kakaknya itu selalu membuat bangga mereka. Entah apa yang terjadi? Dia sendiri saja tidak mengerti.


Tak ada lagi pembicaraan di antara mereka, motor itu terus melaju menuju stasiun terdekat dari tempat mereka tinggal. Dengan terburu-buru mengejar waktu, Al menitipkan motornya di penitipan. Keduanya terus berlari menuju loket.


Keberangkatan kereta telah pun dikumandangkan, berlomba dengan waktu, keduanya terus berlari. Beruntung, di detik terakhir mereka masih mendapatkan pintu. Gegas masuk, dan ambruk di kursi penumpang dengan napas tersengal-sengal.


"Gila kamu, La! Kamu mau bikin jantung aku copot terus mati muda, ya!" sungutnya sembari mengambil napas pendek-pendek mengurangi sesak yang merebak dalam dada.


Nola sendiri terlihat payah, bersandar pada jendela dengan kedua mata terpejam. Beruntung ia memakai jaket hingga dadanya yang naik-turun tak terlihat terlalu jelas.


"Kita nggak mungkin nungguin kereta berikutnya, bisa lama. Untung masih bisa masuk," sahutnya payah.


Keringat membasahi rambutnya yang diikat asal. Ia memindahkan tas di punggung pada pangkuan, ponsel sengaja dimatikan demi menghindari panggilan. Ia mendekap ransel tersebut, menumpahkan sesak karena berlari berpacu dengan waktu.


Al mengibaskan tangannya, duduk berhadapan dengan gadis itu membuat dirinya ikut menjadi gila. Ia menelisik wajah ayu di depannya, hampir serupa dengan sang Kakak yang dialihkan ke asrama.


"Emangnya Mamah Papah kamu nggak mau nengokin Kak Alea?" tanya Al memicingkan mata pada Nola yang masih setia memejamkan mata.


Gelengan kepala gadis itu menjawab pernyataannya. Sesuatu terbersit dalam hati, ia membelalak saat mengetahuinya. Al berpindah tempat duduk di samping Nola, gadis itu berjengit kaget. Sedikit bergeser dengan kerutan menumpuk di antara kedua ujung alis.


"Jangan bilang kamu kabur dari rumah? Mereka nggak tahu kalo kamu pergi ke asrama Kakak kamu?!" Jari telunjuk Al lurus menuding tepat di depan hidungnya.


"Jadi bener, kamu kabur dari rumah?!" pekiknya. Semakin lebar kedua mata itu terbuka, seolah-olah ingin melompat menerjang mata Nola.


"Singkirin tangan kamu! Kalo iya emangnya kenapa?" Nola menepis pelan tangan Al.


Ia berbalik ke hadapan, menghindari tatapan teman laki-lakinya itu. Wajahnya muram seketika, bibir cemberut sedih. Ada gumpalan awan hitam yang menutupi wajah cantiknya.


"Gila, kamu! Benar-benar gila! Aku nggak nyangka anak kesayangan keluarga Prasetyo nekad kabur dari rumah cuma buat liat Kakaknya di asrama," celetuk Al.


Dijatuhkan punggung pada sandaran, kepalanya menggeleng-geleng tak percaya. Nola yang notabene adalah anak manja, nekad melarikan diri dari rumah. Naik kendaraan umum, dan rela panas-panasan menggunakan motor.


"Emangnya kenapa? Perasaan aku nggak enak dari pagi tahu. Aku takut Kakak kenapa-napa di asrama, tapi Mamah sama Papah nggak mau diajak nengokin Kakak. Ya udah, aku pergi sendiri aja," sungut Nola sambil memainkan jemari gelisah.


"Ini bukan lagi diri kamu, La. Benar-benar berubah, aku nggak pernah lihat kamu begitu peduli sama Kak Alea. Terus sekarang, tiba-tiba kami gelisah mikirin dia. Pasti ada yang terjadi? Iya, 'kan?" tuntut Al seraya mendekatkan dirinya pada Nola teringin tahu berita apa yang membuat temannya itu berubah.


Nola mengedarkan pandangan, ada beberapa penumpang lain di gerbong yang sama dengannya. Melihat interaksi antara dirinya dan Al, beberapa pasang mata tertuju ke arah mereka. Hal itu tentu saja membuatnya merasa tak nyaman.


"Ceritain sama aku apa yang terjadi? Kenapa kamu yang cuek dan nggak peduli sama sekali sama dia, sekarang malah mengkhawatirkan Kakak kamu itu?" tekannya lagi semakin menuntut.


Nola memutus pandangan dari semua orang, fokus pada kursi kosong di depan yang tampak lengang. Ia melirik Al dengan ekor mata, tubuhnya bergidik membayangkan kembali kejadian pagi tadi.


"I-itu ...." Kalimatnya terjeda, seseorang mengenakan kebaya merah berdiri mematung di pintu gerbong. Matanya yang kosong lagi dingin tertuju ke arah Nola, meski tersenyum itu tak membuatnya tampak ramah.


Entah mengapa, perasaannya jadi lain. Berdesir darah dalam tubuh, bergemuruh dada dengan hebat. Debaran jantung tak karuan, buru-buru Nola berpaling dan tertunduk dalam. Menatap kedua pasang kakinya sendiri yang tiba-tiba terasa berat.


"Hei, kenapa? Kok, kamu kayak ngelihat hantu gitu?" sentak Al sembari menepuk pundak Nola sedikit kencang.


Gadis itu menggeleng sembari berbicara terbata, "Ng-nggak apa-apa. Nggak ada apa-apa."


Dia membuang pandangan, sosok itu berjalan mendekat. Perlahan dan hati-hati, kakinya yang tanpa alas menapak di atas lantai dan meninggalkan jejak lumpur. Nola melirik takut-takut, menarik kaki dan memeluknya dengan erat.


Bahunya bergetar, kepalanya bahkan ia benamkan pada tas. Hal itu membuat Al bingung, juga penumpang yang lain. Berpasang-pasang mata menatap aneh pada Nola yang duduk meringkuk memeluk lutut.


Suasana berubah mencekam saat Nola mengangkat pandangan, keadaan yang tadi terang benderang berubah menjadi gulita. Ia melirik ke samping, Al tertidur lelap. Semua penumpang berubah pucat, mereka bagai seonggok daging tak bernyawa dalam pandangannya.


"Kenapa? Kenapa tiba-tiba jadi kayak gini?" Nola berpaling kembali, wajahnya sudah dibanjiri keringat. Napas jadi tersengal-sengal, ia panik.


"Al, bangun! Bangun, Al! Aku takut!" lirih Alea gemetar sambil mengguncang-guncang tubuh temannya itu.


Pandangannya mengedar ke segala arah, ia beringsut merapatkan tubuh pada Al. Kakinya semakin gemetaran.


"Al!" Suaranya bertambah parau, lirih dan bergetar.


Air matanya telah rembes berbaur dengan keringat yang mengucur deras dari pori-pori kulit.


"Alll!" Nola semakin gencar mengguncang tubuh Al tatkala wanita berkebaya merah itu tiba-tiba muncul di depan matanya.


Wanita itu tersenyum, melangkah perlahan sambil memainkan selendang di tangan. Ia menari-nari meski tanpa iringan musik dan gendang. Sesekali melirik pada Nola sambil tersenyum sinis.


Gadis itu membeku, hanya air dari matanya yang terus turun tanpa dapat ia cegah. Tubuhnya bergetar hebat, terguncang seiring jarak yang semakin terkikis.


Penari itu berhenti tepat di hadapannya, Nola tak mampu melakukan apapun. Tubuhnya sulit digerakkan, kaku dan terpaku di tempat. Dia mengalungkan selendang merahnya di leher Nola, senyum yang diukirnya memancarkan ancaman yang tidak main-main.


Isak tangis Nola menguar tanpa sadar, matanya melirik selendang yang tersampir di leher. Lantas, melirik wajah ayu sang gadis penari. Dia menjauhkan diri sambil memperagakan tarian jaipong.


Tubuhnya yang sintal, pastilah begitu menggoda banyak pria. Siapa yang tak ingin memilikinya? Wanita itu sosok yang cantik jelita, kecantikannya tak dapat ditolak mata. Entah dia seorang Dewi aturan iblis yang menyamar?


Dia mendekat, berdiri terbungkuk di hadapan Nola.


"Kamu malapetaka!"