Rasuk

Rasuk
Tempat Tak Terawat



"Apa, sih, kalian ini! Udah urus aja diri kalian, nggak usah urusin saya!" ketus si Ibu itu sambil melotot ke arah Nola.


Nola bungkam, kembali duduk dengan tenang karena tujuannya turun sebentar lagi. Al menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa kasihan pada dua anak yang tampak ketakutan itu.


Para makhluk itu kembali menatap salah satu anak. Anak yang tak dihiraukan oleh ibunya, anak yang dimintanya membawa barang lebih banyak dari pada yang lain. Padahal, tubuh dia lebih kecil daripada yang satunya.


"Ibu aku mau duduk di sini, takut," ucap anak yang sulung merengek meminta duduk di pangkuan.


Si Ibu tersenyum, seraya mengangkat tubuhnya tanpa basa-basi dan mendudukkan anak itu di dekatnya. Sementara yang lain masih berdiri memaku tatapan pada salah satu makhluk yang berada tepat di depannya. Anak itu berbalik, menarik-narik daster si Ibu panik.


"Ibu, aku duduk di sini, ya. Aku mau duduk dekat Ibu. Takut, Bu. Ada mata merah yang liatin aku," ucapnya memelas sambil terus menarik-narik pakaian milik ibunya.


Dengan kasar tangan wanita tersebut menepisnya, kedua matanya juga melotot tak senang pada rengekan si bungsu.


"Nggak usah manja, deh. Duduk di sana aja! 'Kan, masih banyak bangku kosong tuh," ketus si Ibu menunjuk kursi kosong di depannya.


Si anak terlihat meneguk ludah takut. Bulir keringat bercucuran di pelipis menghujani ceruk lehernya yang dalam. Ibu tersebut mendorong punggung si anak hingga melangkah maju ke depan.


"Bu, jangan begitu! Kenapa Ibu memperlakukan kedua anak Ibu nggak adil kayak gitu!" pekik Nola kembali berdiri disaat si anak berhadapan tepat dengan makhluk bermata merah.


Mendengar nada tak senang dari Nola, Ibu itu lekas menoleh. Hidungnya kembang-kempis karena tarikan napas yang memburu. Sikap Nola yang terlalu ikut campur urusan orang lain itu benar-benar membuat emosinya memuncak.


"Tahu apa kamu! Emang kamu itu udah bener apa? Sok, ngajarin orang lain," sungutnya tidak terima.


Ia mendengus kesal, kedua matanya melirik tajam untuk kemudian melengos tak peduli. Nola termangu, sadar benar dirinya pun terlalu banyak kesalahan. Sampai-sampai kini harus menanggung beban berat di hatinya.


Digigitnya bibir tanpa sadar sambil memainkan bola mata gelisah. Hatinya benar-benar tertohok oleh ucapan pedas wanita itu. Namun, melihat anak itu tak berdaya di bawah tekanan sang Ibu, Nola merasa tak tega. Dia masih terlalu kecil untuk dihadapkan dengan sebuah kekerasan.


"Tapi anak Ibu itu masih kecil? Dia juga butuh kasih sayang Ibu sebagai orang tua. Kenapa Ibu tega kayak gitu. Coba lihat anak Ibu, dia nangis ketakutan kayak gitu Ibu masih tega aja lihatnya." Nola geram bahkan tangannya menunjuk si anak lurus yang kini telah duduk di antara lima makhluk itu.


"La, sabar!" Al menarik tangan Nola, memintanya untuk duduk menenangkan diri.


Namun, emosi telah menguasai hati gadis itu, ia benar-benar marah melihat perlakuan seorang Ibu yang tega pada anaknya.


"Lepas, Al!" Nola mengibaskan tangan Al dengan kasar. Remaja tanggung itu menjadi sasaran empuk kemarahannya saat ini.


"Tapi, La, nggak enak marah-marah kayak gini. Udah, mending kamu duduk dinginin pikiran kamu."


Al tidak menyerah, kembali menarik tangan Nola dengan lembut meski gadis itu terus menerus menepisnya.


Wanita itu menoleh, wajahnya yang tak enak dipandang semakin jelek terlihat. Terlebih saat kedua matanya melotot lebar hampir melompat keluar. Dia berdiri, melangkah pelan mendekati Nola.


Dengan sedikit kasar, Al menarik tangan Nola hingga terjatuh di kursi sampingnya. Gadis itu bergeming, mematri tatapan pada wanita yang kini berhadapan dengannya.


"Kamu pikir hidup kamu itu udah lebih baik? Sikap kamu dan orang tua kamu itu udah bener? Kenapa kamu ngerasa kasihan sama orang lain, tapi sama sodara sendiri kamu begitu jahatnya. Udah ngerasa bener kamu, terus sekarang bisa nasehatin orang gitu?" sengit wanita itu menuding Nola lurus tepat di depan wajahnya.


Gadis dengan jaket kulit itu tercenung, mendengar itu ia merasa sedang dirajam oleh ribuan batu. Ada yang sakit meski tak berdarah, terbesit dalam benak bagaimana selama ini perlakukan mereka terhadap Alea.


Sikap yang tidak adil, rasa yang pilih kasih, dan semua berbanding terbalik antara dirinya dengan sang Kakak yang dipaksa menetap di sekolah asrama. Mengingat semua itu, tanpa sadar air menggenang di pelupuk mata. Bibirnya berkedut tak kuasa, tapi sekuat mungkin menahan tangisnya agar tidak tumpah.


"Kamu sadar, hah? Seandainya kamu ada di posisi anak itu, apa yang akan kamu lakuin? Marah? Nggak terima? Atau malahan bunuh diri? Coba pikir! Apa yang dirasakannya sekarang? Semua sudah terlambat. Sadar kamu terlambat, benar-benar terlambat."


Ia melengos menarik kedua anaknya untuk keluar dari gerbong tersebut. Bersamaan dengan itu, lima makhluk yang sedari tadi duduk pun, raib entah ke mana.


Nola menundukkan kepala, air mata jatuh setetes demi setetes. Kian lama kian deras hingga kedua bahunya terguncang hebat. Al di sisinya memberikan sapuan lembut untuk menyalurkan kekuatan.


"Nggak apa-apa, La. Lebih baik terlambat daripada nggak sama sekali. Sekarang mungkin udah saatnya kamu melihat sosok Kak Alea. Minta maaf sama dia, aku yakin Kak Alea sosok yang baik lagi pemaaf," ucap Al tak henti mengusap-usap punggung gadis itu.


Nola semakin terisak, guncangan dari kereta tak ia rasakan. Laju tangis pun kian mengeras, bersambut dengan suara dalam pengeras yang mengabarkan pemberhentian terakhir mereka.


"Bentar lagi kita turun. Udahan nangisnya, atau kita balik lagi aja ke Jakarta?" ucap Al lagi tak henti menenangkan temannya itu.


"Al, ke mana orang-orang aneh yang duduk di sana?" tanyanya dengan suara parau sehabis menangis.


Eh?


Al celingukan mencari mereka semua, ia sendiri tidak sadar jika orang-orang itu telah tiada.


"Iya, ke mana, ya. Aku juga nggak nyadar kalo mereka udah pergi," sahut Al yang juga nampak kebingungan.


Pengumuman stasiun terakhir telah menggema, para penumpang pun bergantian turun. Pemberhentian terakhir, stasiun Rangkasbitung.


"Ayo, La. Udah nyampe," ajak Al seraya berdiri dan mengambil ranselnya.


Nola mengangguk, seraya menyampirkan tas di punggung. Ia mengeluarkan kacamata hitam dan mengenakannya guna menyembunyikan mata sembab sehabis menangis.


Keduanya menghirup udara dalam-dalam, merasakan sensasi berbeda dari kota tempat mereka tinggal. Stasiun yang bersebelahan dengan pasar Rangkasbitung itu tampak dipadati pengunjung.


Suara penjual yang menjajakkan barang dagangannya pun tertangkap rungu mereka. Belum lagi para pedagang kaki lima yang memadati pinggiran jalan, ditambah para pengamen yang hilir mudik menyuarakan lagu mereka. Benar-benar penampakan kota besar di kota kecil tersebut.


Nola dan Al berdiri di pintu stasiun, bertanya pada seorang petugas keamanan tentang arah tujuan mereka.


"Adek berdua ini mau pesan grab, ya?" tanya laki-laki paruh baya berseragam petugas keamanan.


"Iya, Pak," jawab Al sambil mengangguk.


"Kalo gitu Adek berdua ini harus jalan keluar dari sini, tunggu di depan konter hp di seberang rel, ya, karena mobil nggak bisa masuk sini," ucap laki-laki itu sambil menunjuk pada arah di mana toko handphone berderet rapi.


"Oh, di sana, Pak?" Al memastikan dengan menunjuk ulang arah yang ditunjukkan laki-laki tersebut.


"Iya, di sana."


Al mengucapkan terima kasih sebelum melangkah bersama Nola meninggalkan stasiun. Keduanya terus berjalan melewati rel dan berdiri tepat di depan ruko handphone.


"Kamu yang pesen grab-nya," titah Nola sembari memperhatikan lalu-lalang manusia juga kendaraan yang tampak padat. Mungkin karena itu adalah akhir pekan, kota kecil itu pun turut dipadati kendaraan.


Al memesan sesuai arahan dari Nola. Menunggu beberapa saat, tak lama sebuah mobil berhenti di depan mereka. Mengkonfirmasi pesanan, setelahnya mereka berdua naik dan duduk dengan tenang.


"Adek berdua ini beneran mau ke asrama Melati Putih?" tanya sang supir sembari melirik dua remaja yang duduk anteng di kursi belakang.


"Iya, Pak. Kenapa?" Al berinisiatif bertanya. Ia bahkan mencondongkan tubuh ke depan guna dapat mendengar suaranya.


"Ah, nggak apa-apa. Cuma keliatannya asrama itu nggak terawat. Bangunannya juga udah bangunan tua nggak pernah direnovasi. Belum lagi ada banyak pohon besar di dalamnya. Ih ... serem pokoknya," katanya sambil bergidik ngeri.


Al dan Nola saling menoleh satu sama lain. Jujur saja Al yang belum tahu tentang asrama tersebut merasa ragu untuk datang ke sana. Sedikit rasa takut muncul, mengalahkan kelelakiannya.


"La, kamu yakin tetap mau ke sana?" tanya Al menatap dalam-dalam wajah gadis di depannya.


Nola memalingkan wajah ke depan, menatap supir yang kembali fokus pada jalanan. Tak seramai di pasar tadi, jalanan menuju tol Rangkasbitung tampak sedikit lengang sehingga mobil bisa melaju dengan kecepatan tinggi.


"Emangnya kenapa? Aku pernah masuk ke sana, kok. Emang ada pohon besar, sih, tapi nggak apa-apa. Aku lihat juga murid di asrama itu baik-baik juga ramah-ramah. Cuma dari luar aja kali yang keliatannya nggak sedap," ucap Nola sesuai dengan penilainya.


Namun, bagi Al, tetap saja membuat takut jika membayangkan apa yang diucapkan supir tadi.


"Iya, sih, Dek. Saya, 'kan, cuma liat dari luarnya aja. Nggak pernah masuk ke dalam karena angkutan umum nggak diperbolehkan masuk ke dalam asrama," timpal pak supir meluruskan ucapannya.


Al berpaling lagi padanya, gurat bingung juga takut saling bertumpuk di wajahnya. Ia benar-benar gugup sekarang.


"Udahlah, Al. Kamu parnoan, sih. Masa cuma pohon gede aja kamu udah takut. Laki-laki macam apa kamu!" cibir Nola melengos sembari mencibir temannya itu.


Al berdecih tak senang, tapi tetap saja rasa takut saat membayangkan pohon besar yang rimbun dan dipenuhi akar menjuntai, memenuhi hatinya. Tubuhnya seketika meremang, bulu-bulu halus berdiri tak terkendali. Sesuatu menghalau tengkuknya. Al mengusap-usap pelan, melilau liar ke setiap ruang sempit dalam mobil tersebut.