Rasuk

Rasuk
Sampai Di Tempat Tujuan



Reisha segera membangunkan teman-temannya ketika mobil yang mereka kendarai memasuki tugu yang bertuliskan Selamat memasuki Desa Suaka. Ini alamat kampung oma Keyla, mereka sampai selesai ashar. Setelah sampai di rumah Oma Keyla Anak-anak itu segera berhamburan keluar mobil sambil tertawa. Ternyata rumah Oma Keyla sangat mudah untuk ditemukan karena berada di pinggir jalan.


"Ini rumahnya indah banget, tidak seperti yang dikatakan Keyla." Arga tertawa bahagia, Begitupun teman-temannya yang lain.


"Benar banget, rumahnya indah karena ada bapak tukang kebun yang merawat rumah ini. Keyla sudah cerita kok sama aku, memang yang kalian pikir rumah ini seperti apa?" Livia tertawa kecil melihat teman-temannya.


"Tapi benaran, rumahnya berjauh-jauhan banget." Reisha memerhatikan jarak diantara para tetangga.


"Sejuk banget, masih banyak pohon-pohon besar." Clara menatap kagum dan ngeri pada pohon-pohon yang tinggi menjulang.


"Kok, tidak ada seram-seramnya ya?" Livia memelototi Joshua.


"Lo pikir kita mau ke desa panari sampai mencari yang seram-seram?" Livia menatap sewot Joshua yang terlihat santai.


"Santai saja dong Liv, Joshua juga seperti itu karena info yang kamu berikan." Livia terdiam mendengarkan perkataan Clara.


Ini sebenarnya Keyla yang melebih-lebihkan atau bagaimana sih? Livia juga tidak menangkap ada keanehan apapun di rumah ini. Mereka semua masuk ke rumah itu dengan perasaan was-was, tidak ada hal yang aneh. Rumah itu tertata seperti rumah biasa, tidak ada simbol-simbol rahasia atau boneka-boneka aneh.


Setelah melihat isi rumah yang normal, Livia yang tidak sabaran ingin segera menelpon Keyla meminta penjelasan. Apa mungkin Keyla bercanda ya? Livia segera menghidupkan handphonenya, Livia mendesah kecewa ketika tidak mendapatkan jaringan. Livia berlari menuruni tangga menghampiri Reisha dan lainnya yang sedang duduk di ruang tamu.


"Kalian, dapat jaringan tidak?" Arga menatap Livia lucu.


"Jelas tidak ada jaringan dong liv, kita ini di kampung bukan di kota." Arga tertawa, Livia menatap Arga ragu.


Livia ingat tadi mereka melewati pemancar, jadi tidak mungkin tidak ada jaringan, walaupun kampung tapi kampung ini terlihat lebih modern dibandingkan yang dihayalkannya.


" Kalian mau tidak, kita jalan-jalan di desa ini?" Joshua menatap mereka satu persatu.


"Mau lah, sekalian kita ketemu sama warga-warga di kampung ini." Anak-anak yang ditatap Arga mengangguk.


Livia terlihat menimbang-nimbang, kemudian ikut berjalan.


"Lo mikirin apaan sih Liv?" Livia menggeleng.


"Masih kepikiran jaringan?" Livia mengangguk lesu.


"Kok lo tahu sih?" Joshua tersenyum.


"Aku tahu karena aku dengar kamu kan tadi tanya saat di ruang tamu." Livia mengangguk.


"Jangan sedih dong, kan kita bisa melakukan banyak hal lain di tempat ini." Livia mengangguk.


Mereka semua berkeliling dan berkenalan dengan warga-warga sekitar, kedatangan mereka yang disambut hangat membuat mereka semua bahagia. Jadi warga disini itu sehari-hari bekerja di ladang, itulah yang membuat desa ini terlihat sunyi. Oleh warga yang lain mereka di suruh ke rumah pak RT agar melaporkan kedatangan mereka.


" Kamu tebak, pak RT berkumis atau tidak?" Clara memutarkan mata mendengar tebak-tebakan milik Arga.


"Berkumis lah, di TV-TV noh pak RT punya kumis." Jawab Reisha.


"Pak RT punya kepala tidak?" Clara merinding mendengarnya, kemudian menjauhi mereka berjalan lebih cepat.


"Punya lah, **** banget sih pertanyaan kamu." Livia melirik Arga kesal. Arga hanya menggaruk tengkuknya dan terbahak-bahak.


"Assalamualaikum!" Livia kemudian mengetuk-ngetuk pintu rumah yang dikatakan pak RT itu.


"Walaikumsalam" Seorang wanita paruh baya membukakan pintu dan menyuruh mereka masuk ke dalam rumah. Kemudian wanita itu masuk untuk memanggilkan pak RT.


"Jadi, adik-adik ini datangnya dari mana?" Pak RT tersenyum kecil menatap mereka satu persatu.


"Kami dari kota pak, kami ini teman-temannya cucunya Oma Darti." Pak RT terdiam beberapa menit kemudian menatap mereka satu persatu, keringat mengucur dari dahi pria paruh baya itu. Pak RT menghela napas kemudian menatap mereka dengan wajah datar.


"Kalian tahu tentang mitos-mitos yang dilarang di kampung ini?" Mereka mengangguk.


"Dilarang mengherankan hal-hal ganjil, dilarang berbuat mesum. Dilarang mengobrak-abrik rumah milik Oma Darti, juga di suruh untuk menjaga tata Krama." Pak RT menatap mereka mengangguk.


"Tapi itu tidak benar pak, rumahnya nyaman kok, bersih lagi." Pak RT mengangguk.


"Semoga saja seperti itu kebenarannya. Kalian harus berjaga-jaga, Oma Darti meninggal bunuh diri di rumah itu. Mungkin itu sih yang membuat warga dihantui rasa takut sehingga berhalusinasi melihat makhluk-makhluk astral." Pak RT menghela napas.


"Oooh, ngeri juga ya pak" pak RT mengangguk.


"Tapi pak, itu murni bunuh diri? Kan Oma Darti sudah tua tidak mungkin kan punya banyak tekanan yang akan membuatnya bunuh diri?" Clara terlihat berpikir keras.


"Adik-adik sejauh yang bapak dengar itu bunuh diri, dan dugaan warga sekitar Oma Darti itu bunuh diri karena melakukan pesugihan atau sejenisnya. Bapak sih kurang paham yang seperti itu. Adik-adik cukup berjaga-jaga, kalau ada hal yang aneh sampaikan saja sama bapak." Mereka mengangguk.


"Pak, bagaimana dengan yang membersihkan kebun itu, apa dia tidak takut?" Pak RT mengusap wajahnya dan menatap mereka putus asa.


"Bapak kurang tahu, karena penjaga kebun itu bisu jadi susah minta informasi apalagi bapak tidak pintar berkomunikasi menggunakan isyarat. Karena itu pekerjaan yang menjadi nafkah untuk dirinya selama ini. Jadi mungkin dia menepis perasaan-perasaan takutnya demi menghidupi dirinya sendiri." Arga menggangguk paham.


Kemudian keluarlah Bu RT bersama pisang goreng dan beberapa gelas teh. Mereka dipersilahkan untuk mencicipi jamuan itu, mereka yang makan mulai mengomentari rasa pisang goreng yang di goreng menggunakan minyak kelapa itu. Banyak pujian yang mereka berikan kemudian perbincangan mereka bergulir pada aktivitas warga yang ada di daerah sini.


Satu jam kemudian mereka pamit untuk pulang ke rumah Oma Darti. Sepanjang perjalanan benar-benar sunyi, tidak ada warga yang berkeliaran.


"Ini seperti kota mati, masa tidak ada warga yang berkeliaran. Masih magrib lo ini." Reisha memfokuskan pandangannya lagi siapa tahu menemukan orang yang berlalu lalang.


"Kan tahu sendiri warga sini siang menghabiskan waktunya di ladang, jadi waja


rlah kalau menjelang malam mereka tidak berkeliaran sama sekali." Reisha mengangguk, tapi kok rasanya aneh ya.


"Rei, ini bagus loh. kita bisa tenang tanpa keriuhan warga." Reisha tersenyum kecil saja.


Setelah di perhatikan memang rumah Oma Darti kelihatan mencolok karena bangunananya yang agak modern dan auranya yang seram, sepertinya punya banyak teka-teki. Melewati pohon beringin yang besar-besar Joshua segera lari dan berteriak ketakutan. Teman-temannya yang lain yang tidak mengerti apa yang terjadi ikut berlari karena teriakan Joshua yang sangat kencang.


"Hosh hosh hosh!" Mereka semua ngos-ngosan.


"Kamu kenapa sih Jo, main lari-lari sambil teriak segala?" Joshua nyengir dan menatap mereka serius.


"Aku merinding tadi, jadi aku ketakutan aku teriak dong." Semuanya menatap Joshua jengkel.


"Katanya kamu tidak takut hantu? tapi kok kamu lari?" Joshua menatap teman-temannya malu.


"Oke, aku masuk duluan ya, sekalian membuat makan malam." Livia segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamarnya dilantai atas, Livia tidak sengaja menatap ke arah balkon, belum ditutup tirai. Livia yang mendekati balkon kaget ketika melihat seperti ada orang di bawah sana yang memegang sesuatu, Livia menajamkan pandangannya. Gadis itu segera bersembunyi ketika merasakan orang itu melihat ke arahnya. Livia menghela napas menormalkan detak jantungnya, setelah agak tenang gadis itu kembali mengintip tidak ada siapapun. Livia segera melebarkan tirai dan turun ke bawah menemui teman-temannya.


Semuanya ada disitu kecuali Joshua, apa Joshua yang tadi di lihatnya? Livia menggelengkan kepala untuk menjauhkan prasangka buruk dari pikirannya. Gadis itu segera ke dapur untuk memasak. Livia hanya memasak mie instan untuk mereka semua, mengingat mereka belum berbelanja untuk keperluan makanan mereka. Selesai memasak gadis itu memanggil teman-temannya untuk mengambil mie instan secukupnya.


"Joshua, darimana? Kok tadi tidak kelihatan?" Joshua menatap Livia dan tersenyum.


"Aku dari kamar, biasa bersih-bersih." Livia mengangguk.


"Setelah makan kalian mau ngapain?" Arga menatap teman-temannya.


"Aku mau tidur, badanku mulai terasa pegal-pegalnya." Reisha lalu meregangkan badannya.


"Kalian tidur dimana?" Joshua melirik Reisha.


"Kami di kamar yang berdekatan dengan kamar kalian." Joshua mengengguk.


"Tidak jadi di lantai atas?" Ketiga cewek itu menggeleng. Livia merasakan sesuatu dengan pertanyaan Joshua, apa benar Joshua yang dilihatnya tadi?


Mereka semua makan dalam diam kemudian masuk ke dalam kamar masing-masing.


***


Jangan lupa, like, vote, komentar 🤗


Sampai jumpa😉