Rasuk

Rasuk
Sosok Misterius



Semua berjalan normal seperti yang diharapkan Alea, gangguan-gangguan yang sering dia alami tak lagi muncul. Keanehan pun tak lagi mereka rasakan, setidaknya setelah Alea memutuskan berteman dengan Regi.


Remaja laki-laki yang ramah lagi sopan, berparas biasa, tapi manis dan tak bosan dilihat. Jangan lupa, dia pandai membuat Alea tertawa dan melupakan kesedihan hatinya. Bahkan Alea lupa jika dia masih memiliki kedua orang tua yang menimpakan beban di hidupnya.


Wajah cantiknya nampak lebih bersinar, cerah dan ceria. Senyum yang diukirnya setiap saat memancarkan aura yang tak biasa pada sosoknya. Banyak yang bertanya-tanya tentang murid baru itu, banyak juga yang ingin berkenalan bahkan mencoba untuk dekat dengannya.


Hanya saja, terlalu banyak teman juga tidaklah baik. Bukannya menutup diri, tapi Alea sudah merasa sangat nyaman dengan teman sekamarnya. Mereka berempat melangkah bersama menuju kantin, di belakang Regi mengekor sambil mengawasi.


Gak tahu kenapa aku merasa harus ada di dekat Alea. Apa sebenarnya yang ada dalam diri gadis itu, ya?


Dia bergumam dalam hati, tapi detik berikutnya langkah Regi terhenti. Di halaman sekolah, jauh di seberang lapangan, sesosok tubuh berdiri di balik pohon mangga yang rindang. Hanya sebelah wajahnya saja yang terlihat, sebelah lagi tersembunyi dibalik pohon.


Matanya dingin menusuk, sosok seorang wanita yang tak pernah Regi lihat. Memakai kebaya merah dipadu dengan sinjang yang menutupi bagian bawah tubuhnya, sampur berwarna senada dengan kebaya tersampir di leher. Rambutnya disanggul tinggi, satu tusuk konde yang sedikit mencuat terpasang di atas juga hiasan kepala berbentuk bunga yang melingkari sanggulnya. Sosok itu seperti seorang penari jaipong.


Astaghfirullah!


Regi memalingkan wajah sambil mengusap tengkuknya yang meremang. Ia terpejam seiring hatinya yang menggumamkan doa-doa. Matanya kembali terbuka helaan napas lega dihembuskan setelah keadaan janggal itu menghilang.


"Regi! Kenapa berhenti di sana?" tegur suara Alea cukup keras, tak hanya Regi yang menoleh ke arahnya, tapi juga siswa yang lain.


Remaja laki-laki itu mengangguk seraya membawa langkah menyusul mereka. Berkali-kali melirik pohon mangga memastikan bahwa sosok itu telah benar-benar pergi.


"Apa dia murid baru yang lagi jadi perbincangan semua murid di sini?" Seorang murid laki-laki lain bertanya pada teman di sampingnya.


"Iya, dia. Gimana? Cantik, 'kan? Seksi. Asri, mah, lewat sama dia." Rekan di sampingnya itu menggebu saat menjelaskan tentang Alea.


Remaja yang bertanya tadi memangku dagu sambil mengusap-usapnya. Pandangan matanya penuh kelicikan, kejahatan seolah-olah tersusun pada pancaran sinarnya.


"Aku mau dia," gumamnya tersenyum miring.


"Eh, serakah amat si Arya. Terus Asri gimana? Mau kamu buang gitu aja?" ketus temannya sambil mendengus kesal.


Murid bernama Arya itu beranjak sambil menepuk kedua paha, kepalanya menoleh ke kiri dan kanan menatap siswa yang duduk di sana.


"Aku udah bosen, buat kalian aja. Kalian bebas, deh, mau ngapain dia," katanya seraya terkekeh kecil sambil berlalu pergi.


"Eh, Arya! Mau ke mana kamu? Maen tinggalin aja," gerutu dua siswa yang menjadi temannya. Mereka menyusul Arya ke arah rombongan Alea pergi.


Lagi-lagi Regi merasakan kehadiran sesosok makhluk di sekitar kantin tempat mereka menikmati jajanan. Kali ini tak hanya Regi, tapi juga Firda yang mencuri lirik ke sekitar. Keduanya sama-sama menjatuhkan pandangan pada Alea. Gadis itu sedang berbincang bersama Sofi dan Lina sambil menikmati semangkuk mie.


"Eh, Fir? Kamu juga bisa ngerasain, ya?" bisik Regi tatkala melihat Firda yang tampak gelisah.


"Emang kamu juga?" Firda balik bertanya.


Regi menganggukkan kepala sambil menatap sekeliling. Tak ada yang aneh, semua siswa terlihat normal sama seperti hari-hari biasa.


"Fir, kamu sekamar sama Alea, 'kan? Kalo iya, jangan biarin dia sendirian apalagi sampai ngelamun. Itu bahaya buat dia, aku yakin kamu pasti tahu juga, 'kan?" ucap Regi serius.


Firda tercenung, membayangkan hari kemarin di mana Alea berkali-kali bertingkah aneh bahkan kerasukan. Dia menyadari satu hal. Alea begitu ketika dia ditinggal sendirian atau melamunkan sesuatu.


"Kamu bener, makasih udah kasih tahu."


Firda menemukan hal lain di kedua manik Regi. Matanya bercahaya, hangat dan penuh cinta saat menatap ke arah Alea.


"Kamu suka sama Alea, ya?" tanya Firda sambil tersenyum menggoda.


Remaja laki-laki itu gelagapan, gugup seolah-olah tertangkap basah saat mencuri sesuatu. Regi berpaling sambil menggigit bibir bawahnya, menyembunyikan rona merah di kedua pipi yang muncul tanpa komando.


"Ya salam! Apa-apaan makhluk di depanku ini?" umpat Regi tanpa sadar.


"Hei, kamu murid baru, ya. Boleh kenalan? Arya. Aku siswa paling tampan di sekolah ini," ucap Arya makhluk yang mengejutkan Regi dan Firda tadi.


Alea melirik tangan yang menggantung, lalu berputar pada Regi dan Firda yang termangu dalam diam.


"Pantesan aja bulu kuduk aku berdiri, gak tahunya muncul makhluk jadi-jadian ini," gumam Regi lagi sambil mengusap-usap tengkuknya.


"Hei!" Arya mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Alea. Gadis dengan rambut sebahu itu pun menoleh ke arahnya, dan dengan ragu menjabat tangan Arya.


"Alea," katanya singkat seraya menarik tangannya kembali dari genggaman Arya.


Namun, laki-laki itu justru mengeratkan jemarinya, tidak membiarkan tangan halus Alea terlepas begitu saja.


Plak!


Pukulan cukup keras dari Sofi mendarat di tangan Arya, genggaman itu terlepas dengan cepat. Mata Sofi mendelik lebar saat Arya menatapnya tajam. Tatapan penuh ancaman, tapi Sofi sama sekali tidak gentar karenanya.


"Eh, udah, yuk. Bentar lagi bel, kita ke kelas aja," ajak Sofi seraya beranjak dari duduk sambil menarik tangan Alea pergi.


Disusul Lina, Firda, dan terakhir Regi yang sempat bertatapan dengannya. Arya mendengus, ia mencebik kesal sambil terus menatap kepergian mereka.


"Awas aja kalian, aku pasti bisa dapetin Alea. Yah, walaupun harus menyingkirkan kalian semua," lirihnya mengancam.


Otak jahatnya berputar mencari cara menjauhkan Alea dari semua temannya. Sayang, dia tidak tahu apapun soal gadis itu karena mulai sekarang, mereka tak akan membiarkan Alea sendirian.


"JAUHI GADIS ITU!"


Sebuah suara yang muncul tiba-tiba menghantam telinga Arya hingga berdenging hebat.


"Argh!"


Arya menutup telinga dengan kedua tangan sambil menjerit-jerit kesakitan.


"JAUHI GADIS ITU!"


"JAUHI GADIS ITU!"


"JAUHI GADIS ITU!"


Kalimat itu terus berdengung di telinganya, berulang-ulang tiada henti. Suara-suara yang menggema semakin banyak dan keras. Arya jatuh dari kursi berguling-guling di lantai.


"Berhenti! Sakit!" jeritnya yang dengan cepat mencuri perhatian.


Kedua temannya berdiri dengan mulut terbuka lebar, mereka tidak mengerti apa yang terjadi pada remaja itu. Jadilah semua siswa yang masih di kantin mengelilingi tubuh Arya yang terus berguling-guling di lantai sambil menutup kedua telinga dan berteriak-teriak.


"Arya!"


Seorang siswi berlari menghampiri, ia berjongkok di samping Arya dengan bingung.


"Dia kenapa?" tanya Asri sambilmendongak pada dua teman Arya.


"Ti-tidak tahu."


Bingung dan tidak mengerti, jadilah mereka hanya menonton tanpa tahu apa yang harus dilakukan sampai tubuh Arya diam tak lagi berguling. Tegang, keadaan kantin berubah tegang dan mencekam.