
Livia dan Clara segera ke rumah Keyla ketika mendapatkan chat yang mengajak mereka untuk membicarakan liburan. Livia mengetuk pintu rumah Keyla dengan tidak sabar ketika sampai di rumah Keyla. Bi Sum dengan tergopoh-gopoh berlari membukakan pintu dan menyuruh Livia dan Clara ke ruang keluarga.
"Jadi ada apa nih sampai aku dipanggil ke sini?" Keyla tidak menjawab dan mengajak mereka duduk.
"Kalian kenapa tidak cari tempat liburan yang keren sih, tante takut banget kalian kenapa-napa. Kampung milik ibu Tante itu masih percaya hal-hal magis atau adat yang menurut Tante aneh sih." Livia tersenyum, dan menatap Mony semangat.
"Justru itu akan menjadi pengalaman yang menarik banget Tante, kami kan anak-anak yang senang petualangan." Clara mengangguk setuju.
"Iya tante, apalagi kita semua kan besar di kota. Kita sudah bosan Tante dengan tempat liburan yang terkenal, kita butuh tempat-tempat yang unik Tante." Mony menghela napas dan menatap mereka hati-hati.
"Tante mengijinkan tapi kalian jangan macam-macam disana, kalian juga harus janga tata krama, disana tidak boleh mesum, kalian juga jangan mengobrak-abrik rumah milik ibu Tante. Kalian juga tidak boleh mengherankan apapun yang menjadi ganjil menurut pandangan kalian, paham?" Ketiga gadis itu mengangguk.
"Paham Tante, terimakasih banget" Mony mengangguk dan tersenyum.
"Aku dan Livia mau balik Tante, mau beli persiapan untuk liburan." Mony mengangguk dan mengucapkan hati-hati di jalan ketika kedua gadis itu menyalami tangannya.
"Key, kamu jangan pergi kalau kamu tidak enak perasaannya, tidak bagus firasatnya. Kamu masih punya teman kok, kalau mereka marah karena tidak jadi liburan." Keyla berdiri dan memeluk ibunya.
"Keyla tidak enak Bu, bagaimana pun mereka sahabat Keyla sejak dulu. Ini pertama kalinya mereka meminta sesuatu pada Keyla, ibu doain Keyla baik-baik saja ya ketika di rumah Oma." Mony mengangguk dan mencium pucuk kepala Keyla.
Keyla dibantu ibunya untuk mengepak barang-barangnya segala macam wejangan diberikan ibunya.
"Jangan lupa shalat ya nak, perasaan ibu kurang enak loh. Kalau boleh kamu jangan berangkat besok, kamu berangkat hari lain. Memang ada apa Bu?" Mony tersenyum dan menatap anaknya lembut.
"Ibu khawatir sebenarnya, kamu jangan berangkat besok ya!" Keyla mengangguk, jarang banget ibunya labil seperti ini.
"Terimakasih ya nak!" Keyla mengangguk.
Keyla segera mengambil handphonenya dan mengetikan sesuatu pada aplikasi yang ada di handphonenya tentang larangan ibunya.
Girls Squad
Keyla: Maaf nih guys, gue tidak bisa berangkat besok karena nyokap tidak mengizinkan.
Livia Andara: Lo serius? Masa kita berangkat tanpa lo? Nggak seru tahu!
Clara Regina: Lo nggak asyik banget,🙄
Reisha Claudia: masa kita ke sana sendirian?
Keyla: Gue tetap pergi kok, cuma lo semua perlu tahulah mungkin menyusul beberapa hari kemudian. Kalian bisa duluan kok, datang ambil kunci dirumah besok."
Livia Andara: Serius kan mau nyusul?
Reisha Claudia: iya, lo serius mau nyusul kan Key?
Keyla: iya, doain ya biar nyokap gue ngizinin😊
Clara: oke besok aku datang ambil yah kunci di rumahmu.
Keyla: oke, aku tunggu ya.
Keyla mematikan sambungan WiFi dan melembar handphonenya di tengah ranjang, Keyla menatap langit-langit kamar. Entah kenapa mengenai liburan Keyla memiliki firasat yang buruk. Keyla meremas rambutnya frustrasi, gadis itu membaca doa melegakan hatinya yang resah.
Livia segera menghubungi Joshua dan Arga untuk memberikan informasi mengenai liburan ini.
"Terus kita menginap dimana sebelum Keyla datang?" Livia tersenyum.
"Besok pagi sebelum berangkat, Clara yang akan mengambil kuncinya. Jadi kita berangkat duluan saja besok." jauh di seberang Joshua tersenyum cerah.
"Oke, gue akan beritahu Arga ya" Livia mengangguk dan mematikan sambungan telepon.
"Akhirnya gue bisa liburan yang asyik, gue bisa sekalian piknik, bantu-bantu masyarakat." Livia tersenyum-senyum sendiri memikirkan hal-hal yang akan dilakukannya nanti di desa.
*****
Keesokan paginya, Clara datang ke rumah Keyla sangat pagi. Keyla yang menunggu kedatangan Clara segera membukakan pintu.
" Lo kenapa Key? Kantung mata Lo besar banget?" Clara menatap Keyla menyelidik.
"Gue mimpi buruk, jadi tidak bisa tidur. Clara bisa tidak aku bicara serius?" Clara menaikkan alisnya, heran.
"Bicara sajalah, aku tidak akan marah pun." Keyla menatap Clara hati-hati.
" Gue minta maaf banget, kalau bisa kalian tidak usah liburan disana. Masih banyak tempat yang lain kan? Atau kita liburan disana tapi cewek semua, tanpa Joshua dan Arga." Clara menatap Keyla murka.
"Maksud lo itu apa? Lo tidak kasian sama mereka semua yang sudah mengepak barang-barangnya? Lo egois Key!" Keyla terdiam, Clara menunjuk-nunjuk wajahnya penuh emosi.
"Ini demi kebaikan kita! aku punya firasat buruk." Keyla menghembuskan napas, karena percuma memang dijelaskan tidak akan ada yang peduli.
"Gue tidak peduli firasat lo, gue cuma mau ngambil kunci, kalau lo keberatan, katakan berapa sewanya per menit?" Clara menatap Keyla angkuh.
"Kalian tidak perlu bayar, jaga diri saja baik-baik." Clara mengangguk dan keluar dari rumah Keyla.
Keyla menatap kepergian Clara dengan perasaan campur aduk. Mungkin yang semalam cuma mimpi buruknya saja, toh kan tidak mungkin teman-temannya akan seperti itu.
Di dalam mobil Clara berperang dengan dirinya sendiri antara memberi tahu sahabat-sahabatnya atau mendiamkan saja apa yang dikatakan Keyla tadi. Saat mendekati rumah Livia hilang sudah keinginan Clara menyampaikan apa yang dikatakan Keyla. Gadis itu tidak tega untuk menghilangkan senyum-senyum yang ada di wajah teman-temannya.
"Clara, bagaimana dengan Keyla? Dia kapan nyusul?" Clara menelan ludah.
"Mungkin dia tidak datang, lo semua kan tahu, dia mungkin akan membantu ibunya atau melakukan hal lain gitu." Clara menatap mereka meyakinkan.
" Gue sih nggak peduli ada Keyla atau tidak, yang penting gue bisa menikmati liburan ini" celutuk Arga.
"Lo mah memang seperti itu, kurang peduli lo dengan keadaan." Arga tertawa mendengar perkataan Joshua.
"Iya, tanpa Keyla juga tidak apa-apakan? Kita akan tetap menikmati liburannya kan?" celutuk Livia tertawa.
"Iya dong kita tetap akan nikmati liburannya, apalagi ini pengalaman pertama kita, liburan ke desa." sambut Clara antusias.
" Lo semua jangan lupa yah pesan-pesan yang diberikan oleh ibunya Keyra." Sontak saja anak-anak menertawakannya.
"Lo percaya amat sama begituan, Liv. Sekarang yang seperti itu sudah tidak ada. Teriak Joshua.
"Eh, lo jangan belagu deh. Tidak ada salahnya kan kalau menuruti pesan ibunya Keyra!" Clara melirik Joshua sewot.
"Terserah deh lo mau gimana, yang penting jadi gak kita berangkat?" semuanya diam.
"Kita doa dulu kalau gitu" seru Livia, kelima anak-anak remaja tersebut berdoa. Setelah berdoa semuanya masuk ke dalam mobil dan mulai bernyanyi-nyanyi melupakan ketegangan yang sempat menyulut emosi mereka tadi.