Rasuk

Rasuk
Teguran



"Hati-hati, Neng. Kamu lagi diincer!"


Sontak sekelompok anak muda itu menoleh ke belakang tubuh mereka. Di sana seorang Kakek tua berdiri terbungkuk, ia tersenyum sebelum memutar tubuh dan melanjutkan langkahnya yang ringkih.


"Tunggu, Kek!" Regi dengan cepat menjegal langkah tuanya, "maksud Kakek diincar bagaimana?" lanjutnya bertanya sambil menatap bingung laki-laki tua itu.


Si Kakek melirik para gadis dengan ekor mata, tepatnya pada Alea yang berada di antara kedua temannya. Ia kembali bersitatap dengan Regi, memandang remaja itu penuh arti.


"Lastri. Dia kembali lagi karena mencium jiwa rapuh anak itu. Jaga dia baik-baik," ucapnya penuh misteri.


Kaki ringkih itu kembali melangkah, terus saja berjalan tanpa peduli Regi yang terus memanggil dan bertanya. Tak ada kata lagi yang terucap dari lisannya, sosok itu turun ke sawah melalui semak belukar. Jalan yang sempat dilewati beberapa penduduk, tapi setelah lama menunggu sosok tua itu tak pernah muncul di pematang. Hilang begitu saja.


"Kakek itu ngomong apa, Gi?" tanya Firda penasaran. Ia sempat melihat lirikan matanya untuk Alea, sarat akan makna.


"Aku nggak ngerti, dia cuma bilang Lastri kembali. Kalian tahu siapa Lastri?" tanya Regi lengkap dengan kerutan di dahi.


Mendengar nama Lastri disebut mereka semua berpikir, mencari-cari murid yang berkaitan dengan nama Lastri.


"Lastri siapa?" Alea bersuara lirih.


Firda dan dua temannya yang lain sama-sama melihat ke arahnya. Alea nampak bingung, pandangannya hampa dan dingin. Seketika saja membuat tubuh mereka meremang.


"Kita juga nggak tahu, Le," jawab Firda.


"Udah, ah. Mungkin Kakek itu cuma iseng aja kali, perasaan nggak pernah denger nama Lastri, deh. Udah, yuk, cari sarapan," ucap Sofi tak ingin berlarut dengan hal yang tak pasti.


"Ayo!"


Lina menarik tangan Lea, diikuti Regi dan ketiga temannya mencari sarapan. Biasanya tukang bubur dan tukang kupat sayur juga ketoprak akan mangkal di pinggir jalan tak jauh dari gerbang asrama.


Khusus untuk hari Minggu Bu Ningsih mengizinkan semua murid berbelanja di luar asrama. Perjalanan mencari makanan mereka isi dengan celoteh tak jelas, ngobrol ngalor-ngidul untuk menghilangkan rasa jemu.


Alea lebih banyak diam, hanya sesekali akan tersenyum menanggapi celotehan semua orang. Ia berdampingan dengan Regi, sama-sama diam tak banyak bicara. Teringat akan ucapan di laki-laki tua tadi, Regi sedikit ingin menguliknya dengan Alea.


"Mmm ... Le, menurut kamu ucapan Kakek tadi beneran nggak?" tanya Regi membuka percakapan dengan Alea.


Ia melirik, gadis itu bergeming tak menyahut. Pandangan lurus ke depan, bibir sesekali tertarik ke atas. Aneh, satu ungkapan yang terdetik dalam hati Regi.


"Le!" tegur Regi lagi sedikit keras.


Namun, gadis itu tetap pada ekspresi wajahnya, dan kali ini dibarengi tangannya yang memilin-milin rambut. Regi mengernyit dikala Alea justru menggigit bibirnya sendiri.


Ada yang nggak beres sama anak ini. Bismillah!


"Lea!"


Regi menepuk bahu gadis itu, menempelkannya sembari melafalkan ayat kursi di dalam hati. Langkah Alea terhenti, ia mematung. Kedua matanya melotot, tak lama tubuhnya oleng dan hampir jatuh jika saja Regi tak sigap menangkapnya.


Alea memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, memejamkan mata sambil menggeleng pelan. Mengusir rasa pening yang tiba-tiba mendera. Regi membantunya berdiri, memperhatikan raut wajah gadis yang sering mengalami gangguan itu.


"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya pelan.


Alea menoleh, tersirat kebingungan di wajahnya saat bertatapan dengan remaja laki-laki itu. Ia menggelengkan kepala seraya menegakkan tubuh.


"Nggak apa-apa, cuma sedikit pusing aja," katanya sambil menekan-nekan pelipis dan melanjutkan langkah menyusul semua temannya.


"Mungkin karena perut kamu kosong, baiknya sarapan yang banyak biar nggak pusing lagi," ujar Regi ikut melangkah di sisi Alea.


Aku yakin apa yang diucapin Kakek tadi emang bener. Alea kenapa-napa.


"Oh, pantes aja. Ya udah, tuh ada bubur teman-teman juga lagi di sana. Ayo!" Regi menggandeng tangan Alea mengajaknya berjalan bersama.


Sesuatu berdesir tak terkendali merayap dari ujung jemari hingga ke ubun-ubun. Alea terenyuh, ia senang mendapatkan perhatian seperti yang dilakukan Regi saat ini hingga benih rasa pun mulai bermunculan sedikit. Bibirnya tersenyum, tanpa sadar mengeratkan pegangan tangannya.


"Eh, kalian pacaran? Sengaja, ya, jalannya lambat," ejek Sofi sembari tersenyum menggoda.


Mereka semua tengah duduk di bangku depan gerobak penjual. Mendengar selorohan gadis itu, semua orang sontak menoleh dan melihat tautan jemari mereka.


Eh?


Alea dan Regi buru-buru melepaskan tangan, saling melempar wajah yang bersemu. Malu, tapi suka.


"Acie-cie ... sweet-sweet!"


Sorak-sorai semua teman semakin membuat rona di pipi Alea memerah. Ia bergegas duduk di antara Sofi dan Firda bersembunyi dari Regi dan semua temannya. Senggolan menggoda pun ia terima, malu rasanya.


Sementara Regi, sekalipun bersikap biasa tetap saja tak dapat menyembunyikan rasa lain yang memancar di wajah. Ia duduk di deretan temannya, menunggu pesanan. Sesekali akan mencuri pandang pada gadis yang tengah asik berbincang dengan rekannya.


"Eh, anter ke minimarket, yuk. Please! Aku mau beli pembalut," pinta Sofi berbisik.


"Yuk, sekalian aku juga ada yang mau dibeli," sahut Lina dengan cepat.


"Ikut, yuk, Le. Kali aja ada yang mau dibeli juga." Firda menimpali sambil menyenggol sikut Alea.


Gadis itu mengangguk, tak ada yang ingin dibelinya, tapi tak apa menemani teman tidak ada salahnya. Ia tak dibekali uang banyak, hanya secukupnya saja karena semua kebutuhan telah disediakan.


Alea menuruti perkataan Regi, ia menghabiskan bubur ayam yang dipesannya tanpa sisa. Di tempatnya, laki-laki itu tersenyum puas melihat Alea makan. Sebuah rasa asing mulai mengisi hatinya, timbul keinginan untuk menjaga dan melindungi Alea dari bahaya apapun.


Senyum yang diukir gadis itu, amat melekat dalam ingatan. Ia tak ingin senyum itu pudar bahkan raib dari wajahnya.


Astaghfirullah! Aku mikirin apa, sih? Masih kecil juga, tapi Alea emang manis dan cantik kalo lagi senyum kaya gitu. Aku harus cari tahu apa yang bikin Alea sering diganggu para jin.


Dalam hati bertekad, apapun akan ia lakukan untuk membebaskan Alea dari gangguan jin yang membelenggu jiwanya.


"Eh, kenapa kamu senyum-senyum sendiri? Kaya orang kesurupan," tegur salah satu temannya sembari menyenggol perut Regi yang melamun.


Remaja itu mengusap tengkuk, menatap ketoprak yang baru beberapa suap saja ia lahap.


"Wah, kamu naksir murid baru itu, ya? Wah, Regi kita yang kalem mulai kenal ama cinta," goda yang lain sambil bertepuk tangan gembira.


"Apaan, sih!" Regi mendengus kesal. Beruntung Alea dan ketiga temannya telah meninggalkan tempat itu. Jadilah, mereka tak mendengar celotehan teman-teman Regi.


"Bilang aja, kale! Nggak usah malu, iya nggak?"


Semakin menjadi Regi dibuat mereka, kulit wajahnya berubah warna. Semerah kepiting rebus. Buru-buru ia menghabiskan sarapannya, membayar dan pergi menghindari godaan semua teman-temannya.


Regi terus saja berjalan mendekati gerbang asrama, ia tak berniat pergi ke mana pun hari itu. Berdiam diri di asrama sembari menikmati waktu libur. Langkahnya terus melaju hampir mendekati gerbang.


"Jangan dekati dia!"


Sebuah teguran dari suara seorang perempuan menghentikan langkah Regi. Tanpa segan ia menoleh, pada sebatang pohon cerry yang tumbuh rindang di samping jalan berdekatan dengan gerbang.


Seorang wanita bergaya seperti penari berdiri di bawah pohon tersebut. Tatapan matanya tajam mengancam, melotot pada Regi.


Siapakah dia?