
"Mah, kita nggak ke asrama Kakak?" tanya Nola sembari memainkan gawainya asik. Sekali akan tertawa cekikikan, entah apa yang sedang remaja itu lakukan.
"Buat apa? Tujuan Mamah masukkan Lea ke sana, 'kan, biar dia mandiri. Biar aja dia di sana, biar nggak manja lagi," sahut Siska sambil membolak-balik majalah fashion kesukaannya.
Nola mendengus, tapi selanjutnya dia kembali tertawa kecil saat melihat gawai. Siska menurunkan kacamata, mengintip dari balik majalah yang dibaca, penasaran mendengar tawa si anak bungsu.
"Kamu lagi ngapain, sih? Kok, dari tadi Mamah perhatiin ketawa ketiwi terus?" sungut Siska beralih lagi pada majalah di tangan.
"Ih, Mamah kepo. Mau tahu aja urusan anak gadis," cibir Nola tanpa menoleh pada sang Mamah. Bibirnya tersenyum-senyum sendiri, senangnya hati.
Siska menggelengkan kepala, kembali tak acuh pada kelakuan bocah ingusan yang berbaring di sofa panjang berhadapan dengannya.
Namun, tiba-tiba saja, anak gadisnya berbalik dan menatap ke arahnya.
"Mah, tahu nggak Kak Dio?" tanya Nola sembari mengulum senyum genit.
Siska melirik tak acuh sambil melengos ia menyahut, "Tahu. Pacar Kakak kamu yang ganteng, tinggi itu, 'kan? Emangnya kenapa? Kamu juga naksir sama dia?"
Ia membalikkan halaman majalah dengan santai.
"Dia ke sekolah Nola kemarin siang, nanyain Kakak. Katanya Kakak pergi ke mana, apa mau ngehindar dari dia," ungkap Nola memainkan jemari di atas permukaan sofa.
"Terus ... kamu jawab apa?" Siska menyahut sekenanya.
"Nola jawab aja, iya. Abisnya Kak Dio terlalu ganteng, sih, buat Kakak. Mending buat aku aja," katanya tanpa tahu malu.
"Ya udah, ambil aja. Lagian Kakak kamu juga nggak bakal Mamah jemput, kok. Biar aja dia lupa sama teman-temannya, di sana juga ada teman baru," sahut Siska dengan tega hati.
"Iya, dong. Nola juga udah jadian ama Kak Dio-"
Trang!
Suara spatula terjatuh mengejutkan keduanya hingga obrolan mereka terhenti seketika. Dengan gerakan cepat, Siska menurunkan majalah pun dengan Nola. Keduanya sama-sama menoleh, antara cemas dan takut mulai berlomba mengisi hatinya.
"Kenapa-" Suara Nola terpangkas.
"Argh! Ampuuuun! Jangan! Ampuuuuuun!"
Suara teriak ketakutan berasal dari dapur menyentak keduanya untuk segera bangkit dan memastikan keadaan. Siska dibuntuti Nola melangkah tergesa mendatangi dapur.
Bola mata wanita paruh baya itu melotot lebar, hampir-hampir melompat keluar melihat kondisi dapurnya yang tak berupa.
"KENAPA INI DAPUR KAYAK KAPAL PECAH BEGINI?!" jerit Siska melengking tinggi, memecah gendang telinga.
Nola di sampingnya menutup telinga kuat-kuat, jika tidak maka sudah pasti akan berdarah-darah. Ia membeliak pada lantai, di mana asisten rumah tangganya sedang meringkuk di bawah meja. Di sekitarnya jejak kaki berlumpur menyebar ke seluruh dapur.
Sementara Siska terus menatap geram pada meja dapur yang berantakan, sayuran berserak, bumbu-bumbu terlempar ke segala arah, ikan dan ayam yang seharusnya akan dimasak pun tergeletak begitu saja.
"KAMU APAIN DAPUR AKU!" Dia kembali menjerit.
"Di mana? Di mana pembantu nggak berguna itu? Kurang ajar! Ngumpet di mana dia, hah?!" ucapnya lagi dengan napas memburu sesak.
Nola menyenggol tubuh mamahnya, menunjuk meja menggunakan wajah. Siska merunduk, dengan kasar menarik tubuh yang menggigil itu dari kolong meja.
"Kurang ajar, ya, kamu! Abis berantakin dapur aku terus ngumpet di kolong meja!" hardiknya seraya membanting tubuh kurus itu hingga membentur tembok.
Sang asisten meringis sembari memegangi bokongnya yang berdenyut nyeri. Rontok sudah rasanya tulang tua itu.
"Astaga! Apa-apaan ini lagi? Kamu abis dari mana? Kenapa lantai dapur banyak lumpurnya gini?!" Untuk ke sekian kalinya dia menjerit saat melihat lantai dipenuhi jejak kaki berlumpur.
Wanita hampir tua itu membuka mata lebar-lebar, rasa tak percaya ada jejak lumpur di lantai dapur. Tergesa ia melihat kakinya, bersih tanpa noda.
"Jangan sok-"
"Tadi apa?!" sentak Siska dengan berang.
Kedua matanya yang menjegil semakin membuat tubuh ringkih itu menggigil. Tubuhnya meringkuk takut di dekat dinding, memeluk dirinya sendiri.
"Ta-ta-tadi a-ada N-n-non Alea, Nyah. Di-di-dia minta to-tolong," ucapnya terbata. Kelopak matanya bergerak-gerak takut, bibir gemetar hebat karena gugup.
"Mustahil! Dia ada di asrama, nggak mungkin tiba-tiba ada di rumah. Jangan mengada-ada kamu!" bentaknya lagi tetap tak percaya pada asistennya itu.
Ia menangis kencang, sebelah tangannya yang gemetar menutup mulut, dan sebelah lagi menunjuk pintu belakang. Tubuhnya berguncang hebat, kedua mata melotot lebar. Sesak menghantam dada, terlihat seperti orang ketakutan karena bertemu setan bungkus.
"I-i-i-tu ...."
Di sana, di ambang pintu belakang, sosok Alea berdiri mematung. Riak di wajahnya memperlihatkan kemurkaan, mata merah berapi-api. Sorot penuh ancaman ia layangkan pada asisten rumah tangga itu.
Tubuh wanita itu ambruk, tangan yang terangkat terkulai, wajahnya pucat pasi. Dia tak sadarkan diri.
"Heh! Bangun! Jangan pura-pura kamu!" Siska menendang kakinya beberapa kali, tapi dia tak bergerak sama sekali.
Nola yang penasaran melihat ke arah pintu belakang yang terbuka lebar. Tak ada apapun di halaman belakang rumah itu, selain hanya ada taman kecil dengan sebuah bangku kayu yang kosong, taman mini milik Alea. Di sana Alea sering menghabiskan waktu sendirian. Duduk ditemani secangkir teh melati hangat untuk mengusir jemu juga kerisauan hatinya.
Kening Nola berkerut, pandangannya beralih pada lantai kotor. Jejak telapak kaki di sana memang bukan milik asisten itu, jika dibandingkan kakinya lebih kecil dari telapak itu.
"Heh! Bangun!" Siska tak menyerah, terus menendang kaki wanita itu dengan kesal.
"Sial!" umpatnya.
"Mah, kayaknya emang bukan kaki Bibi, deh. Jejak kakinya lebih besar dari punya Bibi. Coba, deh, Mamah liat sini," ucap Nola seraya berjongkok di depan salah satu jejak kaki.
Siska yang tengah kesal setengah mati, menoleh geram. Tak urung kakinya melangkah jua mendekati. Turut berjongkok di samping Nola, memperhatikan jejak kaki di atas lantai.
"Kalo dilihat-lihat ini emang kayak kaki Kakak, Mah. Masa, Kakak pulang sendiri?" celetuk Nola setelah menelisik jejak tersebut dan menyamakannya dengan kaki milik Alea.
Siska mengerutkan dahi, semakin dalam menilik telapak kaki itu.
"Bener, sih, tapi Kakak kamu itu lagi di asrama. Nggak mungkin dia ada di rumah sekarang, 'kan?" sahut Siska sama bingungnya.
Angin berhembus menyentuh kulit mereka. Seketika saja suasana berubah mencekam, darah di tubuh mereka berdesir hebat. Membuat urat-urat di tubuh menegang.
"Mah! Kenapa tiba-tiba aku merinding gini, ya?" ucap Nola mengusap tengkuk yang meremang.
"Iya. Kok, jadi serem gini, ya. Padahal, ini masih pagi," sahut Siska sama takutnya.
Wajah keduanya mengernyit ngeri, mata mereka melilau ke segala arah. Taman Alea secara perlahan memburam, asap tipis keluar dari sela-sela tanaman bunga dan menyebar di sekitar taman tersebut.
"Mah!" lirih Nola bergetar.
Mereka beranjak sambil berpegangan tangan, keadaan terang secara perlahan meredup. Matahari tak lagi menampakkan sinarnya, awam kelabu menutupi, membentuk mendung di langit.
"No-nola ke-kenapa jadi gelap begini?" Lidah Siska terasa kelu, sulit untuk digerakkan.
Ketakutan mulai merambat di hati mereka, mengusik ketentraman jiwa. Pandangan mereka tak teralihkan dari taman kecil milik Alea yang semakin lama semakin menggelap.
Nola meneguk ludah takut, peluh pun membanjiri wajah hingga punggung keduanya. Tanpa sadar kaki melangkah mundur, menjauhi taman tersebut. Tangan meraba-raba dinding untuk menggapai gagang pintu.
Namun, langkah mereka terhenti seketika, disaat tubuh keduanya,l membentur sesuatu. Itu bukan dinding, tapi seperti sesosok tubuh yang berdiri tepat di belakang mereka.
Pertanyaannya, siapa?
"M-m-maahh!"