
Matahari terus merangkak hingga ke puncak, membawa cahaya terang benderang yang menghampar di atas bumi. Terik sinarnya selalu dinanti manusia untuk mengais rezeki. Sebagian lagi mengumpat karena tak tahan sengatannya.
Namun, apapun itu, gadis yang sedang duduk di atas pembatas depan asramanya tak terpengaruh sama sekali. Ia tetap duduk sambil memainkan kedua kaki ke depan ke belakang hingga membentur tembok. Kedua tangan bertumpu di kanan dan kiri tubuh.
Pandangannya mengawang menatap hamparan awan yang berarak di langit. Merayap beraturan, menyebar mencipta bentuk yang lain. Manusia diajaknya berimajinasi, menebak apa yang sedang dibuatnya.
Mamah, Papah, apa kalian nggak inget sama anak kalian yang di sini?
Hatinya bergumam, rasa rindu kian membuncah. Menciptakan duri-duri yang menusuk segumpal daging dalam dadanya. Nyeri, perih, bagai diiris sembilu.
Riuh rendah celotehan para murid dan orang tua mereka, mengecilkan hatinya. Apa dia benar-benar dibuang? Air menggenang di kedua sudut mata kala pandangan ia jatuhkan pada gazebo-gazebo yang dihuni banyak orang.
"Aku juga mau kayak mereka. Aku kira mereka juga mau dateng nengokin aku, tapi sampe jam segini nggak ada nongol juga," lirihnya pelan.
Cairan kristal itu meluncur tanpa komando, Alea menyekanya dengan cepat. Khawatir ketiga temannya akan melihat dan merasa cemas terhadap dirinya.
"Ayo, Le! Itu mereka udah dateng, aku mau ngenalin kamu sama mereka," ajak Firda sembari menarik tangan Alea agar segera turun dari pembatas asrama itu.
"Sofi sama Lina di mana?" tanya Alea sambil mensejajarkan langkahnya dengan Firda.
"Mereka udah nungguin kita di gubuk," jawabnya.
Langkah yang diambil Firda lebar-lebar, Alea terpaksa mengikuti karena tangannya yang digenggam gadis itu. Di salah satu gubuk dekat taman asrama, Sofi dan Lina melambaikan tangan. Bersama mereka, tiga wanita paruh baya, dan dua laki-laki yang usianya tak jauh beda dari mereka. Juga ada satu anak remaja yang berhijab. Dia hampir serupa dengan Firda, tapi usianya mungkin tak jauh beda dengan Nola.
"Itu adikku, Anisa namanya. Dia baru aja duduk di kelas satu Tsanawiyah," ucap Firda menunjuk gadis remaja berhijab sepertinya.
Alea menilik, Firda dan Anisa seperti dirinya dan Nola. Usia mereka tak terlalu jauh. Semua orang tua di sana tersenyum menyambut kedatangan mereka.
Dia seumuran sama Nola. Apa orang tua mereka juga sama kayak orang tuaku?
Alea bergumam dalam hati, rasa penasaran sekonyong-konyong hadir memenuhi hatinya. Teringat akan kisahnya dan Nola, mungkin saja kisah Firda pun tak jauh beda.
"Mak, Abah, ini Alea. Teman sekamar Firda yang baru, pindahan dari Jakarta," ucap Firda memperkenalkan Alea pada wanita berhijab dan laki-laki yang mengenakan songkok hitam.
"Iya, Mah, Pah, Lea juga teman Sofi. Anaknya baik," sambar Sofi pula pada sepasang orang tua yang sedikit terlihat lebih modern.
"Berarti kamu teman Lina juga, ya?" Seorang wanita yang terlihat lebih tua dari ibu Sofi dan Firda bertanya sambil tersenyum.
"Iya, Bu. Teman Lina juga. Ayo, Le, duduk," ucap Lina menepuk ruang kosong di sampingnya.
Firda menarik Alea lebih mendekat. Gadis berhijab itu menyalami satu per satu dari orang tua di sana. Alea nampak bingung, ia tidak tahu harus apa karena ini kali pertama bertemu dengan orang tua lain di asrama.
"Hallo, saya Alea. Senang bisa bertemu kalian," ucap Alea canggung sambil membungkuk sopan di hadapan semua orang.
Semua orang tua terdiam, berselang senyum terukir di bibir mereka. Ibu Firda berdiri, menyentuh lembut punggung Alea. Garis lengkung di bibirnya terpahat hangat dan penuh kasih sayang.
Dengan lembut dia berkata, "Sayang, ayo, salim sama mereka kayak Firda tadi. Kamu anak yang cantik, Mak liat kamu juga anak yang baik."
Alea menoleh, wajah teduh wanita di sampingnya menggetarkan seluruh rasa dalam jiwa rapuh Alea. Anggukan kepala yang lembut menjadi perintah lanjutan tanpa kata untuknya.
Alea menyodorkan tangan yang gemetar pada ibu Firda, mencoba melakukan seperti anaknya tadi. Sambil terus tersenyum, wanita paruh baya berjilbab itu menyambut uluran tangannya. Lirikan mata sang gadis jatuh pada punggung tangan yang keriput sebelum mendekatkannya ke bibir dan menciumnya lembut.
Satu sapuan di kepala ia terima, disusul pelukan hangat, hampir saja air matanya menetes. Wanita seusia ibu Firda di rumahnya tak pernah berbuat seperti itu. Alea melepas tangan, bergantian pada semua orang tua yang ada. Sungguh, para orang tua itu sangat ramah dan baik. Mereka tak segan merangkul tubuhnya bahkan mencium pipinya.
"Ayo, duduk, Nak!" ucap ibu Lina yang terakhir mendapat giliran. Ia menarik tangan Alea untuk duduk di dekatnya.
Gadis itu belum berucap kata lagi seusai memperkenalkan diri tadi. Terus terdiam dan terpaku memperhatikan gelagat para orang tua temannya. Alea sedikit bingung, ada tiga wanita, tapi hanya ada dua laki-laki.
"Ah, maaf kalo saya lancang. Nggak apa-apa, jangan dijawab," katanya lagi dengan cepat.
Alea menggigit bibirnya, menundukkan kepala dalam-dalam menahan rasa malu juga tak enak dalam hatinya. Beberapa saat tak ada respon, usapan lembut di tangannya membuat Alea semakin dalam menggigit bibir. Matanya terpejam erat, rasa gelisah bergejolak dalam dada.
"Bapaknya Lina udah meninggal dua tahun lalu, dia anak tunggal. Anak kami satu-satunya, kalo Nak Lea mau menginap di rumah nanti liburan, Ibu sangat senang sekali," ucap ibunya Lina sama sekali tak terdengar kesal apalagi marah.
Mendengar itu Alea membuka mata, pelan-pelan menoleh meskipun ragu. Lagi-lagi garis bibir yang sama ia dapati dari wanita itu. Wajah teduh yang keibuan, hanya ada pancaran cinta di kedua matanya yang mulai berkabut.
Kenapa mereka berbeda sekali dengan orang tua di rumahku? Bisakah kedua orang tua itu memperlakukanku seperti mereka?
Tanpa sadar air mata Alea jatuh, menangis tanpa suara membayangkan bahwa yang didepannya saat ini adalah orang tua yang dia harapkan.
"Eh, kenapa nangis? Jangan nangis, sayang." Ibunya Sofi menyambar seraya mengusap air mata Alea.
Gadis itu menggelengkan kepala sambil tertunduk. Sofi berbisik di telinga Ibunya, ia mengerti.
"Udah, nggak apa-apa. 'Kan, ada kita di sini. Anggap aja kita orang tua kamu juga, ya. Doakan aja semoga kedua orang tua kamu di rumah sehat selalu, mungkin mereka sedang sibuk jadi belum bisa menjenguk," ujar ibunya Sofi sambil mengusap-usap punggung Alea.
Ia mengangkat wajah, memandang wanita yang memasang wajah sama seperti dua lainnya.
"Emangnya boleh?" tanyanya dengan suara yang parau.
"Boleh, dong! Siapa yang larang?" sahutnya jenaka. Disambut tawa ramah dari semua orang tua lainnya.
"Makasih," katanya, kali ini dengan senyum tersungging di bibir.
"Nah, gitu, dong. Senyum, makin cantik kalo senyum kayak gini," ucap maknya Firda sambil mencubit lembut pipi Alea.
Para orang tua itu terlihat akrab, mungkin karena sudah sering bertemu. Timbul pertanyaan dalam benak, akankah mamah dan papahnya juga seperti mereka? Baik dan ramah bahkan tanpa segan memberikan perhatian pada anak orang lain.
Alea yang penasaran dengan hubungan Firda dan Anisa melirik ke arah mereka. Keduanya tampak akrab, sesekali akan bercanda tanpa turut campur orang tua. Hubungan antara Kakak dan Adik itu nampak harmonis dan bahagia. Rasa iri muncul begitu saja, bisakah ia dan Nola memiliki hubungan yang seperti mereka?
"Kakak Lea, apa Teh Firda suka usil di kamar? Dia sama aku usil banget, Kak," rengek Anisa sambil memeluk tubuh Alea meminta perlindungan.
"Hei, kamu jangan ngadu, ya. Udah Teteh bilang kamu jangan pacaran malah cerita soal ustadz lagi!" sungut Firda sambil berkacak pinggang gemas.
Alea tersenyum. Seharusnya memang seperti itu, bukan seperti dirinya dan Nola.
"Aduh, Teteh. Itu, mah, ustadz sepuh udah punya istri sama anak. Emang semua santriwati di sana juga sering ngomongin itu, kalo Anisa pacaran Mak serahin hukumannya sama Teteh, deh," ujar maknya Firda menengahi.
Firda menurunkan emosi, menatap tajam pada sang adik yang semakin mengkerut di balik tubuh Alea.
"Awas kamu, ya, kalo sampe berani pacaran. Mak udah nyerahin hukumannya sama Teteh," ucapnya penuh kemenangan.
"Iya, iya, Teh. Mana berani adik Teteh yang cantik lagi imut ini melanggar aturan yang Teteh buat, bisa-bisa ... krek!" Anisa menyayat lehernya sendiri menggunakan tangan, matanya juling, lidahnya terjulur.
Terlihat lucu, Alea tanpa sadar tertawa. Hubungan mereka lucu dan manis, menggemaskan.
"Nah, itu tahu!"
"Udah, udah, makan dulu. Bercandanya nanti lagi," ucap ibunya Lina sambil membuka bekal yang dibawanya.
Siang itu terasa lain, hati Alea benar-benar menghangat. Ia menemukan arti keluarga yang sesungguhnya bersama mereka.
Mamah, Papah?