
"Selamat datang di kampung Gantarawang, anakku!"
Wanita sepuh itu mengangkat tangannya ke depan menyambut kedatangan Alea. Dalam kebingungan, gadis itu ingin bertanya banyak hal.
"Gantarawang? Di mana itu? Apa jauh dari Jakarta?" tanya Alea.
Alisnya bertaut sempurna nyaris mempersatukan kedua ujungnya. Ia belum ingin melangkah terlalu jauh, kedua kakinya masih terpaku di sana, bergeming sembari memperhatikan hilir mudik para manusia berpakaian aneh.
Wanita di hadapannya melangkah pelan, berdiri di samping Alea seraya merangkul lengan gadis itu. Ia menunjuk ke depan, pada jalan setapak yang memisahkan dua kubu bangunan.
"Ini kampung kami, kampung damai dan nyaman. Di sini, kamu nggak akan tahu apa itu sakit karena nggak dianggap. Kami semua menerima kamu di sini. Sebagai keluarga, teman, saudara, Kakak atau Adik. Mari, Nak, sudah lama kami menunggu kedatangan kamu," ungkap wanita itu setelah memperlihatkan keakraban manusia di kampung tersebut.
Alea memperhatikan apa yang ditunjukan wanita itu padanya. Kelompok manusia di sana, terdiri dari orang tua, paruh baya, remaja, juga anak-anak.
"Kamu nggak usah khawatir, Ibu yakin orang-orang di kampung ini akan memperlakukan kamu dengan baik. Kamu lihat di sana, laki-laki itu nggak malu gendong anak kecil padahal dia bukan anaknya,," ucapnya pula sembari menunjuk pada seorang laki-laki paruh baya yang menggendong anak kecil.
Alea tertegun, hatinya menginginkan, tapi pikiran menolak. Ada gencatan antara keduanya itu.
"Gimana sama temen-temen aku, Bu? Mereka pasti nyariin aku," tanya Alea lagi teringat akan keempat teman sekamarnya di asrama.
Teman yang sejak beberapa waktu lalu mengisi hari-harinya dengan senyuman. Memberikan perhatian juga kasih sayang yang nyata, membuatnya merasa nyaman menjalani kehidupan.
"Mereka baik-baik aja, kok. Mereka pasti maklum, kamu butuh keluarga yang bisa membuat kamu nyaman. Suatu hari Ibu akan bawa kamu menjenguk mereka," jawabnya lagi merayu dengan sabar.
Alea menoleh padanya, pandangan mereka bertemu untuk beberapa waktu lamanya. Seperti terhipnotis, Alea mengangguk pasrah. Garis bibir wanita sepuh itu tertarik sempurna ke atas. Puas dengan pilihan yang dijatuhkan Alea.
Beriringan mereka melangkah, diikuti dua orang dari belakang. Memasuki perkampungan, senyum para penduduk menyambutnya. Seorang anak laki-laki berlari ke arahnya membawa mahkota bunga di tangan. Alea menunduk menerima bunga tersebut di kepalanya.
Anak kecil itu menautkan jarinya di tangan Alea, berjalan sambil bergandengan menyusuri jalan setapak perkampungan. Ada banyak janur yang terpasang di beberapa tempat. Sebagai penunjuk arah tujuan mereka.
"Kenapa ada banyak janur di kampung ini, Bu?" Alea bertanya lagi.
Matanya melilau ke segala arah, memindai kampung asing yang baru dimasukinya. Para penduduk tersenyum ramah, berbeda dengan manusia yang tinggal di sekitar komplek perumahannya. Mereka selalu bersikap cuek dan acuh tak acuh terhadap tetangga mereka.
Tidak mempedulikan satu sama lain, selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Tak ada gotong royong, tak ada kasih mengasihi. Hanya ada persaingan ketat, pamer memamerkan apa yang mereka miliki.
"Karena sebentar lagi musim hajatan, di kampung kami akan ada banyak pesta hampir setiap harinya. Kamu juga bisa sekalian belajar nari sama ahlinya. Sama Lastri, dia penari jaipong yang lincah dan cantik. Jadi incaran laki-laki lajang ataupun duda di kampung ini, nanti Ibu kenalkan sama dia," jawab wanita tersebut.
Lastri?
Hatinya bergumam, seolah-olah mengingat nama itu, tapi lagi-lagi ia tak mengindahkan.
Wanita itu menuntun Alea ke sebuah istana besar yang berada di ujung kampung tersebut. Istana merah yang megah, ada banyak pelayan berpakaian sama di dalam sana yang hilir mudik tiada henti.
"Selamat datang di istana merah! Salah satu tempat perkumpulan para penduduk, rumah pemimpin desa. Beliau sudah menunggu kedatangan kamu, Nak," ucap wanita itu lagi seraya membawa masuk Alea ke halaman luas istana tersebut.
Dua orang penjaga sigap membuka pintu besar berdaun dua tersebut untuk mereka. Alea menoleh ragu, tapi wanita itu meyakinkan lewat anggukan kepalanya untuk menepis rasa ragu di hati.
Gadis itu menarik napas panjang, melepasnya perlahan. Mulai meniti langkah melewati ambang pintu dari istana megah tersebut. Sebuah tangga yang menjorok ke bawah segara menyambutnya.
Ada banyak pilar berdiri di ruangan tersebut. Dinding dan langit-langit diukir dengan ornamen kuno khas kerajaan zaman dulu. Ukiran naga melilit dengan kepalanya yang menyemburkan asap, terdapat pada setiap pilar yang nampak kokoh itu.
"Ini aula pertemuan, Nyai udah nunggu kamu di singgasananya," ucap wanita itu lagi menunjuk pada ujung ruangan. Mereka menuruni anak tangga menuju ke tengah aula.
Di ujung ruangan tersebut sebuah singgasana berwarna merah pula, terpasang dengan indah. Singgasana yang memiliki ukiran dua ekor ular raksasa di kedua sisinya. Seorang wanita yang lebih muda dengan mahkota di atas kepala berdiri sambil tersenyum.
Ia mengenakan pakaian mewah berwarna merah pula, persis para ratu dalam film serial kolosal. Kedua tangan bertaut di depan perut, aura kepemimpinan menguar dari sosoknya. Dia cantik dan kulitnya putih bersinar. Alea tak menampik hal itu.
Wanita sepuh dan dua orang yang membawanya melakukan penghormatan pada wanita tersebut. Mereka melangkah mundur dan berdiri di belakang Alea.
Gadis itu terpesona oleh kemolekan sang ratu, terus mematri tatapan pada wajahnya yang tersenyum ramah.
"Selamat datang di istana merah, anakku. Calon penguasa baru di kampung ini. Sudah lama Ibu tunggu dan akhirnya datang juga. Sini, Nak, dekat-dekat dengan Ibu," ucapnya melambai-lambaikan tangan pada Alea.
Suara merdu nan syahdu tertangkap telinga Alea, berdesir hangat darah dalam tubuh. Tanpa penolakan, kakinya meniti langkah menaiki tiga belas anak tangga menuju singgasana.
Sebuah pelukan hangat ia terima, penuh cinta dan kasih. Alea menyukai sosoknya. Digiringnya gadis itu untuk duduk di singgasana. Sebuah kursi kuno yang nyaman untuk ditempati.
Ratu itu merebahkan Alea di atas pangkuannya, mengusap-usap rambut sang gadis dengan lembut. Alea memejamkan mata, kedua sudut bibirnya terangkat ke atas membentuk senyuman yang sempurna.
Berselang, sederet dayang istana datang membawakannya makanan juga minuman. Ratu itu mengambil buah anggur dan menyuapkannya ke mulut Alea. Sekali lagi, tanpa penolakan Alea membuka mulut dan menerima buah tersebut.
Ia teramat senang hingga menepis segala keraguan dan keanehan yang sempat dirasakan hatinya. Di sana dia tak akan pernah mendapatkan perhatian seperti ini.
"Ibu punya hadiah buat kamu," katanya seraya membantu Alea untuk duduk.
"Apa?" tanya Alea penasaran.
Wanita itu mengeluarkan sebuah kotak berudu berwarna merah terang dari dalam selendang. Memberikannya pada Alea dan dengan senang hati ia menerima. Dibukanya kotak tersebut dengan hati-hati.
Sebuah kalung yang dia inginkan, tapi tak pernah ia dapatkan. Hanya saja, bandulnya berwarna merah darah bukan merah muda seperti yang dimiliki Nola.
"Ini buat aku?" Wanita itu mengangguk.
"Makasih, Bu." Alea memeluknya dengan senang hati.
Tanpa tahu apa maksud dan tujuan darinya, ia dengan gembira memakainya.