
Brak!
Firda tersentak sambil terpejam. Jantungnya melompat-lompat memompa lebih cepat. Derap langkah terdengar mendekat, semakin rapat kelopak matanya menutup. Bibir yang sedikit tebal membentuk garis lurus tanpa celah. Kedua tangan dikepalkan dengan erat, seolah-olah bersiap menerima kemungkian yang akan dia lihat.
"Fir, kamu ngapain? Berdiri sambil merem, kamu mimpi?" tegur Alea yang nampak kebingungan melihat Firda yang mematung di tengah ruang kamar.
Firda membuka mata cepat, memastikan bahwa yang menegurnya adalah memang Alea. Kedua bahunya melorot seiring napas lega terlepas dari mulutnya. Ia memegangi dada yang masih meninggalkan degup tak sedap di dalam rongga. Napasnya terdengar pendek-pendek, perlahan meraba tepi ranjang dan mendudukinya.
"Kamu kenapa? Tadi ngapain berdiri di situ?" tanya Alea lagi menuntut. Ia ikut mendaratkan bokong di tepi ranjang sambil terus menatap Firda dengan bingung.
Firda menarik napas panjang dan dalam, sampai-sampai dadanya membusung tinggi. Lalu, dibuangnya udara secara perlahan untuk melegakan saluran pernapasan.
"Gak apa-apa, aku cuma kaget aja tiba-tiba pintu kebanting keras. Kaget tahu, bisa gak buka pintunya pelan-pelan aja?" Firda memanyunkan bibir kesal. Matanya mendelik menghindari Alea.
Gadis itu mengangkat sebelah alisnya, semakin bingung dengan ucapan Firda barusan.
"Kebanting apaan? Aku buka pintu pelan, kok. Aku gak mungkin banting-banting pintu subuh begini, bisa-bisa seluruh asrama bangun terus marahin aku," cerocos Alea sembari terkekeh geli sendiri.
Kedua ujung alis Firda saling bertaut ke bawah mendengar penuturan Alea. Takut-takut dia melirik pintu yang tertutup, tak ada apapun di sana. Mungkin saja Firda mengalami halusinasi karena kejadian yang beruntun ia alami dalam satu malam.
"Jadi bukan kamu yang banting pintu?" tanya Firda kembali menegaskan.
Alea menggelengkan kepalanya seraya berucap, "Gak ada yang banting-banting pintu di jam segini, Fir. Stres kali. Udah, ah, aku mau mandi bentar lagi subuh."
Alea berdiri meninggalkan tepi ranjang, membuka lemari pakaian mengambil peralatan mandi juga seragam yang akan ia kenakan.
"Umh ... Fir, hari ini pakai seragam yang mana? Aku gak tahu," tanya Alea melongo dari balik pintu lemari yang terbuka.
"Seragam resmi, hari ini upacara bendera," jawab Firda melakukan hal yang sama seperti Alea.
Setelan jas berwarna khaki berikut rok dengan warna senada dan kemeja putih di dalamnya, hari itu untuk pertama kalinya Alea akan mengenakan seragam baru. Dipandanginya lipatan kain di tangan, lagi-lagi hatinya teriris mengingat semua teman-teman yang ia tinggalkan begitu saja tanpa pamit dan kabar berita.
Mereka nyariin aku gak, ya? Dio, gimana kabar kamu? Ah, pasti kamu seneng, 'kan, bisa berduaan sama Mila tanpa takut aku ganggu. Dari dulu, aku memang ditakdirkan sendiri.
Alea melepas sesak di dada lewat udara yang ia hembuskan. Pintu lemari ditutupnya seraya berjalan mengikuti Firda ke kamar mandi. Murid yang lain pun sudah terbangun, mereka menuju kamar mandi bersama-sama. Melakukan ritual pagi hari, sebelum menjalankan rutinitas sebagai pelajar.
******
Keadaan kelas seketika hening disaat langkah Alea perlahan masuk. Dia menemukan ketiga temannya di sana, melambaikan tangan pada mereka sambil tersenyum senang. Seorang guru wanita dengan garis wajah yang tegas, mempersilahkan Alea untuk memperkenalkan diri.
"Hallo, nama saya Alea Prasetyo. Kalian bisa memanggil saya Lea, atau Le. Saya dari Jakarta, mohon bimbingannya!" Alea menganggukkan kepala sopan.
Alea duduk sembari meletakkan tas di atas meja, mengeluarkan buku juga alat tulis tanpa peduli pada teman sebangku yang terus menatapnya dengan aneh. Jarak kelas dari asrama tidak begitu jauh karena masih berada di lingkungan yang sama. Dari bangunan sekolah mereka bisa melihat gerbang asrama putra yang tinggi menjulang.
"Kamu dari Jakarta?" tanya murid di sampingnya.
Alea menoleh dan menganggukkan kepala.
"Kenapa pindah sekolah?" Ia lanjut bertanya karena penasaran.
"Kau gak tahu, Mamah dan Papah yang menyuruhku pindah," jawab Alea dengan bahu terangkat.
"Mmm ... maaf, aku dengar ada murid baru yang kerasukan tadi sore di depan asrama, apa itu kamu?" Dahi murid laki-laki itu berkerut kedua maniknya memancarkan rasa ingin tahu yang menggebu-gebu.
Alea perlahan menoleh, ia terlihat biasa saja. Nampak ramah dan supel juga mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Akan tetapi, ada sesuatu di dalam dirinya yang mengusik ketenangan batin murid laki-laki itu.
"Aku gak tahu apa-apa, gak ada yang ngomong juga sama aku. Coba kamu tanya mereka, siapa tahu mereka punya jawaban," kilah Alea seraya menunjuk pada murid wanita lain.
"Hhmm ... ya udahlah, aku Regi senang bisa kenal sama kamu. Boleh aku jadi teman kamu?" ucapnya sembari menjulurkan tangan hendak berjabat.
Alea melirik tangan itu, sesuatu dalam dirinya menolak untuk menjabat. Akan tetapi, Zena mengabaikan bisikan itu. Ia angkat tangannya yang gemetar, teramat berat terasa. Sampai-sampai peluh menetes dari dahi dan merayap ke tulang pipi.
Dengan susah payah tangan itu berhasil membalas jabatan Regi.
"Alea."
Murid laki-laki itu meremas tangan Alea, pandangannya terpatri pada kedua manik coklat gadis itu. Ada sesuatu yang dilihatnya, mereka yang tak kasat mata ingin bersemayam di tubuh Alea.
"Lea, kamu gak boleh sendirian. Jangan pernah melamun apalagi membayangkan hal-hal yang bisa bikin hati kamu sedih. Kamu gak boleh murung, Lea. Itu bahaya buat diri kamu sendiri," ucap Regi seraya melepas tangannya dari Alea.
Ia menghadap ke depan, di bawah tatapan mata bingung Alea, Regi mengambil sapu tangan dan menyusut dahinya yang berkeringat. Hawa panas menjalar di pembuluh darahnya ketika melakukan kontak langsung dengan Alea.
Gadis itu tak acuh, tapi penasaran. Hanya saja, dia tidak bertanya sebab wajah Regi yang berubah gelisah. Tangannya memainkan pulpen mengusir gugup yang hinggap di hatinya.
"Maaf, kalo boleh tahu memangnya kenapa?" Takut-takut Alea bertanya. Tidak bertanya, bisa-bisa dia mati penasaran.
Regi menoleh lagi padanya, dia tersenyum tulis sambil berujar, "Gak ada, cuma harus lebih hati-hati dan jangan sendirian."
Regi tersenyum. Tak ada yang dilakukan Alea untuk menanggapi peringatan dari teman barunya itu. Dia menghadapkan wajah ke depan mencoba untuk fokus pada tulisan yang terurai di papan tulis. Alea mencatat sedikit demi sedikit apa yang menurutnya penting.
Guru di depan menerangkan materi pagi itu, sesekali akan menunjuk salah satu murid untuk mengulang penjelasannya. Begitu terus berlangsung hingga jam istirahat berbunyi. Tak ada hal aneh yang terjadi pagi itu, kecuali pertemuannya dengan murid laki-laki bernama Regi yang seolah-olah memiliki keistimewaan dalam dirinya.