Rasuk

Rasuk
Gangguan Nyata



"Al, ngapain kamu di sini?" sentak Nola untuk yang kedua kalinya tanpa tahu seperti apa perasaan temannya itu.


Ia buru-buru beranjak dan duduk tanpa mengalihkan pandangan dari sosok Al, sedangkan pemuda tanggung itu salah tingkah disaat menyadari posisinya yang begitu dekat dengan kursi tempat Nola tidur.


"Eh? Ng-nggak, kok. Nggak ada apa-apa, aku cuma mau mastiin aja tadi ... takut kamu jatoh," ucapnya terbata.


Nola mengernyit menatap bola mata Al yang bergerak liar.


"A-aku balik ke tempat duduk lagi," katanya semakin gugup.


Gegas ia berbalik dan duduk sambil membuang muka dari Nola. Wajahnya bersemu, antara malu dan takut. Entah apa yang terjadi? Hati Nola bertanya-tanya gelisah.


"Kamu kenapa? Kok, gugup kaya gitu ... jangan-jangan ...." Nola menduga-duga. Matanya memicing curiga pada Al yang dengan cepat menoleh.


Ia menggeleng-gelengkan kepala, menolak apa pun yang sedang dipikirkan Nola.


"Kamu-"


"Nggak, Nola! Sumpah! Jangan berpikiran macem-macem dulu," ucapnya gugup. Memohon lewat sorot mata yang penuh.


Nola bergeming, kedua matanya menyipit sempurna nyaris terpejam. Ia bersedekap dada, mengintimidasi remaja seusianya itu.


"Kamu mau ngapain aku tadi, hah? Kamu bilang nggak akan macem-macem, kamu juga bilang mau jagain aku, tapi kenapa tiba-tiba kamu berdiri di sini?" sentak Nola ketus.


Al bergeming, beberapa saat memaku tatapan pada manik gadis itu. Sebelum memilih berpaling pada tempat lain.


"Al?" panggil Nola penuh penekanan.


"No-nola ... maafin aku. Tadi itu aku benar-benar nggak sadar. Aku nggak tahu, tiba-tiba aja tubuhku bergerak sendiri. Aku juga nggak ngerti kenapa aku bisa ada di sana. Sumpah, La! Aku nggak bohong," ungkap Al sambil menggeleng saat sebuah peristiwa yang tak diinginkannya terlintas dalam bayang.


Al tetap memaku tatapan pada gadis di depannya, apa yang diucapkan lisannya sama persis dengan apa yang ada di hatinya. Tak ada kebohongan, tak ada tipu daya, apalagi muslihat. Semua itu benar-benar diluar kesadarannya.


Nola masih bergeming waspada pada seekor harimau jantan yang kapan saja bisa memangsanya. Namun, saat pandangnya jatuh pada kedua manik laki-laki itu, ia sadar semua yang dikatakannya adalah benar.


"Kamu ... beneran nggak bohong, 'kan?" tanyanya sedikit meragu.


Bukankah laki-laki itu pandai bermuslihat? Satu trik, dua trik tidak berhasil, ia masih memiliki ribuan trik demi mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Sumpah, La! Aku nggak bohong. Buat apa aku bohong? Kamu temen aku, kamu tahu gimana aku. Sebusuk-busuknya aku, seumur hidup aku nggak pernah ngelakuin perbuatan yang nggak bermoral kayak gitu. Nggak pernah, La," tegas Al lagi dengan segenap kesungguhan hatinya.


Nola memandang semakin dalam, mencari keyakinan lewat sorot mata tegas yang dimiliki laki-laki tanggung itu. Pada akhirnya, ia menarik napas panjang, mungkin untuk saat ini saja dia percaya padanya.


"Ya udah, aku maafin, tapi lain kali kamu harus bisa nguasain diri kamu sendiri. Jangan kayak aku yang tadi kamu ceritain itu. Kerasukan," ucap Nola dengan kelegaan hatinya.


Al tersenyum, ia merunduk dengan wajah bersemu disaat Nola terus menatapnya.


"Kenapa muka kamu merah kayak gitu?" selidik Nola dengan kedua ujung alis yang saling bertaut.


Al menggigit bibir, ia masih belum mengangkat pandangan untuk bertatapan dengan Nola. Gadis yang selama ini tanpa sadar telah mengisi hatinya.


"Mmm ... Nola!" panggilnya lirih. Kepala tetap menunduk sambil menyiapkan hatinya ia mulai menyusun kata untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya ia rasakan.


"Hmm ... kenapa?" tanya Nola sembari memiringkan kepala untuk dapat melihat wajah Al yang tersembunyi.


Hening. Al justru asik terbuai dalam kebisuan, ragu dan malu bergumul dalam hati menyingkirkan rencana yang disusunnya secara mendadak tadi. Dia ingin mengutarakan isi hatinya, tapi khawatir Nola akan merasa tak nyaman dengannya.


"Woy, kenapa? Kamu mau ngomong apa? Omongin aja," sentak Nola lagi sambil menendang kaki Al meski tak dapat ia gapai.


Al melirik sepatu sport yang dikenakan gadis itu. Apa pun yang dipakainya, itu sama sekali tidak mengurangi kecantikan pada parasnya. Ia tetap mempesona, dan selalu membuat jantung Al bertalu-talu tak menentu.


Al mengangkat pandangan, raut wajahnya berganti serius. Tersenyum jenaka yang biasanya terpasang di bibir bervolume miliknya.


"Sebenarnya udah lama aku pengen ngomong ini sama kamu, tapi aku takut bikin pertemanan kita justru renggang. La, aku nggak tahu kapan pertemanan ini dimulai? Yang aku tahu, kita udah deket aja. Udah jadi akrab dan jadi sahabat. Kamu tahu, La, meskipun kadang kamu nyebelin karena sikap sombong kamu, tapi aku nggak pernah ilfil sama kamu. Nggak sekali pun!"


Al menjeda, menarik napas panjang mempersiapkan segala kemungkinan yang akan ia terima.


"Maksud kamu ... apa?" Nola beriak bingung.


Tak mengerti ke mana arah tujuan pembicaraan remaja laki-laki itu. Sementara, Al tetap memaku pandangan pada wajah cantik sempurna ciptaan Tuhan.


Nola yang sempat serius bahkan bunga-bunga rasa hampir saja bermunculan dalam hatinya, memberengut kesal lantaran Al menyudahi ucapannya.


"Kamu itu, ya. Bikin kesel aja. Sekalian aja nggak usah ngomong tadi," sungutnya sambil mencebik jengkel. Ia melipat kedua tangan di perut, berpaling dari tatapan Al yang menggodanya.


Kereta kembali berhenti, mereka yang hanya duduk berdua, kini harus berbagi ruang bersama para penumpang yang baru saja naik. Sayangnya, semua orang yang berada di dalam gerbong tersebut, tampak tegang dan pucat.


Nola bergidik ngeri, ia beranjak dan memilih tempat duduk di samping Al. Matanya tak lepas dari lima orang yang baru saja naik ke gerbong tersebut. Kelimanya bergeming pada satu titik, menatap tanpa berkedip.


Nola semakin merapatkan tubuh pada Al, matanya tak lepas dari lima orang yang serentak menoleh disaat kereta mulai kembali berjalan. Mata mereka dingin dan kosong, memandang tajam Nola dan Al beberapa saat lamanya. Kemudian, kembali berbalik ke hadapan.


"Al, mereka, kok, aneh banget," bisik Nola lirih.


Al mereguk ludah saat sesuatu yang janggal ia rasakan. Teringat akan kejadian Nola kerasukan tadi, ia menduga mereka itulah yang tadi menganggu temannya.


"Baca doa aja, La. Apa aja yang kamu bisa." Al kembali berbisik, memberitahu Nola seperti yang diberitahukan laki-laki tua tadi.


Lagi-lagi lima kepala itu menoleh serentak tepat setelah Al menyempurnakan kalimatnya. Mereka berjengit kaget semakin merapat pada dinding kereta. Berselang, kepala mereka berpaling lagi membuat Nola meringkuk ketakutan.


Rasa takut yang dirasakannya bahkan sampai membuat bulir-bulir air berjatuhan dari pelupuk mata. Tubuh Nola berguncang hebat. Sampai-sampai Al dapat merasakan getarannya. Pemuda tanggung itu tak henti melafalkan doa-doa dan surat-surat pendek yang dia hafal.


Memohon perlindungan juga pertolongan pada sang kuasa untuk menjaga mereka dari gangguan semua makhluk yang tak dapat dilihat mata kasar mereka itu.


"Al, aku takut," lirih Nola sambil terisak-isak. Ia menelusupkan kepala di dada Al, tak ingin melihat manusia tanpa kehidupan itu.


"Tenang, La. Baca apa aja yang kamu bisa," bisik Al sambil memeluk tubuh gemetar Nola.


Pintu terbuka kasar, dua tubuh yang meringkuk di pojokan itu pun ikut tersentak. Seorang perempuan dengan barang bawaan yang banyak melangkah masuk kepayahan. Di belakang, menyusul dua orang anak kecil yang juga menenteng barang bawaan.


Nola dan Al sama-sama melongo, mengekor ke mana wanita itu berjalan. Dia berhenti tepat di kursi sebelahnya, menyuruh anak-anaknya untuk duduk di samping tanpa tahu makhluk tersebut tengah menatap ke arahnya.


"Al, apa Ibu itu nggak lihat mereka, ya?" tanya Nola tak menjauhkan tubuhnya dari Al.


"Aku nggak tahu, tapi kayaknya nggak," sahut Al berbisik pula.


Wanita itu menoleh, bibirnya yang membentuk senyuman seketika saja berubah cemberut dan sinis. Matanya memicing tajam, tak suka melihat kelakuan dua remaja di pojokan tersebut.


Nola yang sadar lekas melepaskan diri dari Al, menjaga jarak sembari membenarkan jaket yang ia kenakan. Meskipun Ketakutan masih bergelayut dalam dada, tapi ia tak enak dan malu karena di dalam gerbong tersebut ada dua orang anak kecil yang bergeming di tempat mereka berdiri.


"Anak zaman sekarang, kelakuannya nggak karuan. Makanya banyak terjadi kecelakaan, terus hamil duluan. Menjijikkan," cibirnya sedikit keras sengaja menyinggung dua remaja itu.


Nola menghela napas, tapi enggan menyahut. Begitu pula dengan Al, sengaja mengunci mulut agar tak keluar kata. Wanita itu mendengus, menarik kedua anaknya untuk cepat duduk di kursi. Akan tetapi, seolah-olah terpaku di lantai, dua anak itu sulit digerakkan.


Pandangan keduanya tertuju pada kursi penumpang di depan mereka. Tanpa berkedip, keduanya mulai membeku. Kelima makhluk itu serentak menatap mereka, menyeringai menampakkan deretan giginya yang hitam.


"Al, mereka kenapa senyum-senyum lihat anak-anak itu?" tanya Nola khawatir sesuatu yang buruk akan terjadi pada keduanya.


"Aku juga nggak tahu, tapi ibu mereka kayaknya nggak suka sama kita. Kita lihat aja, klo terjadi apa-apa, baru kita ngomong sama dia," ucap Al yang juga terus menatap ke arah mereka.


Nola tak lagi bicara, ia terperangah dikala kelima makhluk itu sama-sama berdiri dari duduk mereka.


"Ah, Bu, mendingan Ibu pindah tempat duduk aja ke sini. Anaknya nggak mau duduk di sana," sergah Nola memberanikan diri berbicara.


"Tahu apa kamu! Nggak usah ngatur-ngatur saja!" ketusnya sinis.


Lima kepala itu menoleh ke arahnya, Nola terperenyak. Dibantu Al, ia memberikan kekuatan. Berselang, kedua anak itu pun tersadar.


"Bu, kita pindah aja, yuk. Jangan duduk di sini," pinta salah satu anak sambil menggerak-gerakkan tangan ibunya.


Kepalanya terus menerus menoleh ke belakang dengan riak ketakutan. Seolah-olah melihat sesuatu yang mengerikan. Si ibu melihat gelagat aneh dari kedua anaknya itu pun, menarik tubuh mereka untuk lekas duduk di bangku.


"Udah di sini aja," sahut Ibu mereka sambil terus menarik keduanya untuk duduk.


"Bu, sebaiknya emang pindah tempat duduk aja. Khawatir ada yang Ibu nggak tahu, tapi mereka tahu," ucap Nola tak menyerah.


Salah satu kepala bergerak, melotot lebar ke arah dua sejoli itu.