Rasuk

Rasuk
Sendirian



"Kenapa kalian masih di sini?" sentak sebuah suara yang tak dapat ditolak telinga mereka.


Semua murid diam mematung, berhamburan menghadap sumber suara. Regi dan Firda pun bersama-sama menoleh, pada wanita berkebaya biru yang menatap tajam kelompok murid tersebut.


"Bu Ningsih! Alea ...."


Kalimat menggantung dari Firda menarik bola mata tajam Bu Ningsih untuk bergerak melirik gadis yang dimaksud. Alea terdiam, selayaknya sebuah patung yang tak bergerak apalagi hidup.


Alea tiba-tiba bangkit, terus berlutut di depan Bu Ningsih. Kedua tangan menangkup di dahi, kepalanya tertunduk dalam. Seperti seorang hamba menghormati tuannya.


"Salam, Nyai!" Suara serak yang keluar dari sela-sela bibir Alea, mencipta suasana lain yang dipenuhi kengerian. Tubuh mereka menegang.


Regi membeliak, pun dengan Firda dan yang lain. Lina dan Sofi bahkan merapat pada gadis berhijab itu, bulu roma di tubuh mereka seketika bangkit dan meremang. Sementara Regi, tak percaya pada apa yang disaksikan oleh matanya sendiri.


"Kenapa kamu masuk ke dalam tubuh anakku ini? Aku biarkan kamu menempati apapun yang kamu suka, tapi jangan mengganggu anak-anakku di asrama ini!" ucap Bu Ningsih tegas lagi tajam.


Wajahnya yang tegas khas putri seorang ningrat, memancarkan wibawa yang tak dapat ditolak siapapun jua. Termasuk makhluk yang sekarang hinggap di dalam tubuh Alea.


"Ampun, Nyai!" katanya masih memperdengarkan suara ngeri itu.


"Keluar! Pergi dan tinggalkan tubuh anak ini, jangan mengganggunya kalau kamu merasa kasihan!" titah Bu Ningsih tegas meski dengan suara pelan dan mendayu.


Regi meneguk ludah, antara takjub dan terkejut juga tak percaya. Matanya melirik Bu Ningsih, pemilik asrama itu memang misterius. Ada banyak hal aneh yang sering ia lakukan, tapi yang terjadi saat ini adalah kali pertama mereka lihat.


Timbul pertanyaan dalam hati, juga prasangka yang tidak-tidak mengenai sosok Ibu yang selama ini mengasuh mereka di dalam asrama.


"Baik, Nyai."


Alea menunduk semakin dalam, sampai-sampai dahinya membentur lantai kelas. Berselang, tubuh gadis itu terguling tak sadarkan diri.


"Lea!" Firda dan kedua temannya yang lain segera berhambur mendekati Alea.


Mereka membantu gadis itu untuk duduk, bergantian membangunkannya dari pingsan. Namun, tetap saja, mata itu terpejam dengan napas beraturan. Bu Ningsih memperhatikan dengan seksama, memindai kondisi Alea dari ujung kepala hingga ujung kaki.


Kedua matanya berpindah pada tiga orang teman gadis itu. Firda menepuk-nepuk lembut pipi itu sembari memanggil namanya. Berharap ia akan segera bangun.


"Sebaiknya bawa teman kalian ke kamar. Jangan biarin dia sendiri, itu nggak baik." Kepala Bu Ningsih beralih pada Regi yang masih mematung di tempatnya duduk, "juga buat kalian, bukannya tadi Ibu minta supaya kalian istirahat di kamar? Kenapa masih di sini?" tanyanya sambil memandang keempat murid laki-laki yang masih termangu itu.


"Ma-maaf, Bu. Tadi kita kecapean, jadi istirahat dulu di sini," sahut Jaka takut-takut.


Helaan napas halus terdengar dari arah Ibu kepala asrama, bibirnya yang selalu dipoles gincu berwarna merah tersenyum seperti biasa. Ia amat menyayangi semua anak di asrama, hanya saja terkadang tingkah lakunya tak biasa.


"Ya udah, sekarang Regi keliatan udah seger. Jadi kalian nggak usah lagi bantu dia jalan. Istirahat, Ibu tahu kalian pasti capek. Masalah cincin Ibu yang hilang Teh Marni yang nemuin di dapur. Ibu nggak tahu kalo jatuhnya di sana," ungkap Bu Ningsih lembut.


Itulah yang mereka suka dari sosoknya, jika berbicara tak pernah kasar. Apalagi membentak, beliau selalu berkata halus lagi lembut sekalipun siswa itu nakalnya luar biasa. Satu lagi, senyum keibuan yang diukirnya jika bertemu para murid cukup menenangkan hati mereka.


"Baik, Bu," jawab mereka patuh.


"Bu, gimana kalo aku bantu mereka bawa Alea ke kamarnya? Dia pingsan," ucap Regi sambil memandang wajah Ibu dengan seksama.


Lirikan Bu Ningsih tertuju padanya, tetap dengan senyum dia menyahut, "Nggak usah, bentar lagi dia juga bangun. Kamu istirahat aja di kamar, ya."


"Tapi-"


"Udah, tenang aja. Percaya sama Ibu, dia akan bangun sebentar lagi," sela Bu Ningsih dengan cepat.


"Ayo, Gi!" ajak Anto memanggil laki-laki yang masih terpaku pada sosok gadis itu.


Regi beranjak, berjalan terbungkuk saat melewati Bu Ningsih. Ia masih sempat melirik ke belakang, pada Alea yang belum beranjak sedikit pun.


Tarikan tangan Adit menyentak dirinya, dengan perasaan berat kakinya berayun lemah. Di tempatnya, Alea mulai membuka mata. Sosok Bu Ningsih yang pertama kali dilihatnya, tersenyum sambil mengangguk.


Ibu asrama berbalik dan pergi bersama dua orang yang selalu mengekor di belakangnya. Alea beranjak pelan-pelan, kepalanya terasa berdenyut nyeri dan pusing. Tubuhnya serasa remuk, di sana sini sakit yang ada.


"Le, kamu baik-baik aja, 'kan?" sambar Sofi segera setelah gadis itu duduk.


Alea meringis sambil memegangi kepalanya, ia mengangguk pelan seraya mengangkat wajah dan tersenyum.


"Baik-baik aja, kok. Cuma agak sedikit pusing aja. Kenapa kita ada di sini? Ke kamar aja, yuk!" ucapnya linglung.


Sofi dan Lina saling menatap satu sama lain, satu pertanyaan yang sama terbersit dalam benak mereka. Lina beringsut mendekatinya, teringin bertanya perihal yang sudah terjadi.


"Le, kamu beneran nggak inget yang barusan?" tanya Lina melihat penasaran wajah temannya itu.


"Emangnya tadi ada apa? Bukannya kita baru pulang dari belanja? Kok, ada di sini?" sahut Alea benar-benar lupa yang sudah terjadi. Dahinya terlipat saat menatap Lina dan Sofi.


Firda menarik napas, merasa lega Alea sudah kembali bangun.


"Udah, nggak usah dibahas lagi. Kita ke kamar aja, aku capek," ucapnya seraya berdiri.


"Bantuin! Badan aku lemes banget rasanya," pinta Alea sembari menyodorkan kedua tangannya pada mereka.


"Hhmm ... ayo!" Firda menariknya hingga ia berdiri sempurna. Ia juga membantu Alea berjalan, khawatir gadis itu akan tiba-tiba roboh.


Suasana asrama telah kembali ramai, semua murid berada di dalam asrama tepat pada waktunya. Mereka begitu patuh, tak pernah melebihi dari batas waktu yang telah ditentukan.


Ada yang duduk-duduk di taman, ada juga yang melanjutkan olahraga di lapangan. Pun ada yang pergi ke kantin untuk sekedar menghabiskan uang jajan. Menurut kabar, setiap bulan di Minggu terakhir orang tua murid akan datang menjenguk. Inilah Minggu yang telah ditunggu para murid itu.


"Mereka lagi apa? Kok, pada duduk di gazebo?" tanya Alea saat melihat beberapa gazebo dipenuhi murid. Tidak biasanya.


"Oh, hari ini orang tua murid akan datang ke asrama buat menjenguk anak-anak mereka," jawab Firda.


"Kalian juga?" Alea kembali bertanya.


Mereka mengangguk senang, selama satu bulan menunggu dan hari ini para orang tua akan datang membawa kebahagiaan untuk mereka.


"Kamu juga, Le. Bukan cuma kita?" Lina merangkul bahu gadis itu.


Namun, bukannya senang, Alea justru menunduk. Langkahnya terhenti seketika, ia terlihat murung dan sedih, hal itu membuat mereka mengernyitkan dahi bingung.


"Kenapa?" Ketiga orang itu mengurung Alea.


Gadis itu menggeleng seraya menjawab lirih, "Aku nggak yakin mereka akan datang. Aku mau di kamar aja."


Firda bisa merasakan seperti apa perasaan Alea, kali ini dia tahu masalah apa yang sedang dihadapi temannya itu. Ia memeluk tubuh Alea, disusul Sofi dan Lina. Persahabatan mereka terjalin erat seiring waktu berjalan.


"Nggak apa-apa, jangan di kamar. Kita kumpul aja bareng-bareng," ucap Firda diangguki Lina dan Sofi.


"Makasih."