
Malam datang seperti malam-malam sebelumnya. Keadaan asrama yang nampak sepi meski banyak murid yang berlalu-lalang, menaikkan bulu roma beberapa murid yang memiliki sifat tertutup.
Alea berdiri di depan asrama menunggu ketiga temannya, berhadapan langsung dengan pohon beringin tua yang masih nampak gagah dan menyeramkan. Akar-akarnya yang menjuntai menyentuh tangan, bagai rambut seseorang yang dibiarkan tergerai begitu saja.
Hembusan angin malam itu tak ada beda dengan malam-malam sebelumnya. Dingin menusuk, padahal hanya berupa sepoi-sepoi lembut. Alea mendekap tubuhnya sendiri, mengusap kedua bagian lengan sambil berdesis kedinginan.
Kulit keningnya bertumpuk tatkala daun-daun pohon beringin bergoyang seolah-olah sedang menunjukkan sebuah tarian kepadanya. Alea melirik pohon-pohon lain yang tumbuh di kanan dan kiri asrama. Tak satupun yang bergoyang intens seperti pohon tua itu.
"Le!"
"Eh, astaga! Bikin kaget aja," pekik Alea disaat sebuah tangan menyentuh pundaknya dibarengi suara panggilan yang tiba-tiba.
Sofi tersenyum lebar, sedangkan wajah Alea memucat pasi. Hatinya yang sejak tadi merasakan kejanggalan, tersentak hingga membuat detak jantung tak karuan. Alea mengelus-elus dadanya yang sesak seraya mengambil napas panjang.
"Makanya jangan ngelamun, pamali. Apalagi di depan kamu itu pohon beringin tua, nanti kesambet baru tahu," cibir Sofi asal.
"Hus, jangan sembarangan kalo ngomong." Firda menyambar cepat, bersama Lina baru saja keluar dari kamar.
"Kenapa kalian lama banget, sih? Cuma kaya gitu aja," sungut Alea sambil memanyunkan bibirnya kesal.
"Hah, lama?" Lina membentuk kerutan bingung di antara kedua alisnya. Ia melirik Firda yang menggelengkan kepala lemah, beralih pada Sofi dengan kedua aslinya yang terangkat tinggi.
"Emang kamu kira udah berapa lama nunggu di luar sini? Orang kamu baru aja keluar belum ada setengah menit," lanjut Lina lagi sambil tersenyum tipis.
Diangguki Sofi dan dibenarkan Firda, giliran Alea yang kebingungan. Ia sampai melirik jam di tangannya, sedikit tak percaya pada situasi tadi. Ia mendesah, seraya membanting tangan lemas. Keempatnya pergi ke dapur untuk makan malam.
"Jangan kaget, ya. Ini pertama kali kamu makan di dapur," bisik Sofi sebelum langkah mereka tiba di depan sebuah bangunan dengan tiga pintu berjajar.
Kedua pintu di kanan dan kiri yang mengapit satu ruangan dengan pintu berdaun dua yang besar. Melihatnya saja sudah dapat menebak ruangan itu paling besar dari dua ruangan lainnya.
Tiba di depan gedung riuh rendah suara murid mengusik telinga. Seperti ada pesta di dalam, tapi tak ada musik yang berdentam. Mereka melanjutkan langkah memasuki teras, berhadapan dengan pintu yang tertutup. Firda membuka pintu tersebut seraya memasuki ruangan disusul Sofi dan Lina juga Alea di paling akhir.
Eh?
Sekelebat bayangan seorang murid menyerobot langkahnya disaat kaki Alea baru saja akan melewati garis pintu tersebut. Bahu mereka bersenggolan, tubuh Alea terhenyak ke samping. Ia termangu melihat punggung gadis dengan rambut sebahu sama seperti dirinya itu, melenggang masuk tanpa meminta maaf terlebih dahulu.
Alea berdecak kesal, matanya tajam memicing terarah pada murid tadi. Gadis itu diam, memutar kepala melirik Alea dan terus melangkah lagi.
"Lea! Kenapa masih di situ?" tegur Sofi seraya menarik tangan Alea untuk memasuki ruangan besar dengan tiga buah meja panjang dan kursi yang berderet di kanan dan kirinya.
Itu ruang makan untuk para murid, sebagian sedang mengantri di meja panjang dekat tembok. Deretan makanan dan minuman disediakan untuk semua murid. Semacam parasmanan dengan tiga orang wanita paruh baya yang berjaga di baliknya.
Alea nampak kagum, matanya tak henti berputar menatap sekeliling ruangan. Dua buah lampu besar menggantung sebagai penerangan, satu lemari besar berisi peralatan makan dan memasak. Terlihat seperti dapur besar.
"I-iya, Teh," sahut Alea menerima piring tersebut. Ia mengambil nasi, dan melihat deretan lauk juga sayur terhampar di meja panjang tersebut.
Tak sengaja matanya melirik siswi yang tadi, ia juga tengah meliriknya. Alea memicing memperhatikan murid tersebut mengambil makanan. Tumis kangkung, ikan goreng, dan tempe yang digoreng tepung, itulah yang diambil murid tadi. Secara kebetulan, menu-menu tadi yang terlintas dalam benak Alea.
Kenapa dia ngambil menu yang mau aku ambil?
Hatinya bertanya-tanya sendiri, kerutan di dahi muncul dengan sendirinya tanpa diperintah. Namun, demikian, ia menghendikan bahu tak acuh. Mungkin hanya kebetulan saja.
"Gimana kabarnya, Neng? Udah betah di sini?" tanya Marni saat Alea tiba di depannya.
"Baik, Teh. Betah gak betah, sih, tapi aku suka tempatnya. Adem," jawab Alea sambil mengulas senyum manis.
Ia melanjutkan langkah menuju sebuah kursi kosong di samping Firda. Duduk berhadapan langsung dengan murid lainnya. Semua murid ada di sini, dari kelas bawah sampai kelas atas, hiruk-pikuk suara beraneka ragam pun menjadi hiburan tersendiri untuk Alea. Dia tidak pernah berada di tempat seramai ini.
Teh Marni dan kedua temannya membereskan meja usai semua siswa mendapatkan jatah makannya. Mereka pergi meninggalkan ruangan dan membiarkan semua siswa menikmati makan malam mereka.
Alea tersenyum saat seseorang menegurnya, ia tak banyak bicara kecuali kepada tiga orang teman yang sekamar dengannya. Alea menautkan kedua ujung alis ketika bertemu pandang dengan murid yang memiliki rambut pendek seperti dirinya.
Entah bagaimana tadinya, murid itu tiba-tiba saja muncul di hadapan. Matanya kosong dan dingin, bibirnya yang pucat tersenyum tajam, setiap gerakan yang ia lakukan menyerupai gerakan Alea. Gadis itu menoleh ke kanan dan kiri, semua orang asik sendiri seolah-olah tak peduli pada murid aneh di depannya.
Alea menjatuhkan pandangan pada sosok itu lagi, ia terdiam sama persis seperti dirinya. Otak Alea berpikir keras tentang murid tersebut, satu wajah yang tak asing dalam penglihatannya. Wajah yang amat familiar dalam benak, ia bertanya-tanya mencari jawaban.
"Lea? Kita ke perpus, yuk, abis makan ini," ajak Firda. Suaranya yang tiba-tiba terdengar menyentak lamunan Alea.
"Eh, i-iya," jawab Alea gagap.
Pelan-pelan kepalanya berpaling untuk memastikan murid aneh di depannya. Namun, murid itu tidak ada, hanya ada murid yang sedari tadi duduk di bangku tersebut sebelum ia mendekat.
"Eh, ke mana perginya?" gumam Alea terus menatap lurus pada bangku di seberangnya.
"Siapa, Le?" Sofi bertanya. Ia mendengar gumaman Alea tadi yang diucapkannya tanpa sadar.
"Eh? Bukan siapa-siapa, kok," ucapnya sambil tersenyum kikuk.
Hatinya masih mencari-cari sosok murid tadi, ingin bertanya dia khawatir tak ada yang melihatnya. Jadilah, dia hanya diam dan melanjutkan kembali makannya.
Tiba-tiba ....
Sesuatu membasahi kepalanya, terus berjatuhan ke depan wajah membuat Alea terperangah sambil berdiri.
"Kamu ...?"