Rasuk

Rasuk
Cermin



Selepas bu Ningsih datang, keadaan kembali normal. Alea dan Arya diberinya air jampi-jampi yang entah seperti apa bacaannya. Namun, kedua murid itu kembali tenang, seolah-olah tak terjadi apapun jua.


Bu Ningsih meminta guru untuk melanjutkan pelajaran, sedangkan ia dan dua pelayannya berniat menetralkan tempat yang baru saja disambangi makhluk halus. Hal itu sudah biasa dilakukan olehnya selaku kepala asrama. Mengusir roh jahat yang mengganggu aktivitas para murid di dalam asrama.


Ia tak sendiri, pak Selamet pun turut membantu dalam ritual tersebut. Mereka berkeliling asrama, menyusuri setiap tempat. Baik di lingkungan perempuan maupun lingkungan laki-laki. Pelayan di belakangnya membawa sebuah kendi yang mengepulkan asap terbuat dari tanah liat.


Di tempat-tempat tertentu, bu Ningsih akan meletakkan sebuah nampan kecil berisi aneka macam benda. Seperti sebuah sesajen, dan yang paling besar berada di bawah pohon beringin tua.


"Kenapa mereka menempatkan sesajen di tempat-tempat tertentu?" Regi bertanya saat tak sengaja melihat kegiatan mereka.


"Itu memang sudah biasa, menjelang hari-hari tertentu sekolah akan melakukan ritual pembersihan. Seperti yang dilakukan bu Ningsih itu, dengan harapan para murid dapat belajar dengan tenang tanpa gangguan," jawab salah satu siswa laki-laki yang duduk di belakangnya.


Regi tidak bertanya lagi, pandanganya fokus pada keempat sosok yang terus berkeliling menaruh nampan-nampan kecil di berbagai tempat. Kamar mandi, pohon-pohon besar, bahkan batu besar. Semuanya tak luput dari sesajen tersebut.


"Regi, tadi kamu ngapain waktu di kantin?" tanya Alea saat teringat Regi yang meruqyah Arya di kantin.


Remaja itu mengalihkan pandangan dari jendela, melirik Alea yang menunggu jawaban. Di depan mereka Lina dan Sofi berbincang dengan Firda. Membicarakan soal Arya yang kerasukan.


"Oh, tadi itu, ya. Itu ruqyah namanya. Aku belajar ruqyah di rumah kalau liburan sekolah," jawab Regi berkali-kali matanya kedapatan melirik jendela seolah-olah ada yang menarik perhatiannya.


Alea ikut memiringkan tubuh ingin melihat apa yang menjadi perhatian teman sebangkunya itu. Dahi gadis itu mengernyit saat pandangnya beradu dengan manik seorang murid di kejauhan. Ia berdiri di bawah sebuah pohon randu yang tumbuh di dekat asrama laki-laki. Bibirnya tersenyum, tapi matanya kosong dan hampa.


"Regi, kamu lihat murid perempuan yang di sana? Kamu kenal gak sama dia? Dia pernah ke kamarku kemarin," tanya Alea sembari menunjuk pohon randu yang sedang menggugurkan kapuknya.


Regi melirik arah yang ditunjuk Alea, tak ada siapapun di sana. Dia hanya melihat pucuk randu yang bergoyang tertiup angin.


"Di mana? Gak ada siapa-siapa di sana, cuma ada pohon randu aja," ucap Regi setelah benar-benar memastikan ucapan Alea.


"It-"


Eh?


"Ke mana dia? Kok, hilang?" gumam Alea sesaat matanya tertuju pada pohon randu, tapi sosok itu telah tiada.


"Emang gak ada siapa-siapa, kok, dari tadi juga. Kamu aja yang salah lihat kali," sahut Regi membuat bingung Alea.


Gadis itu berpikir keras hingga kulit dahinya menumpuk di tengah. Lalu, ia mengangkat bahu setuju dengan ucapan Regi. Kelas berlanjut sampai selesai, semua murid kembali ke asrama masing-masing beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan setelah makan siang nanti.


"Emang ada kegiatan apa kalau siang begini?" tanya Alea sembari menikmati makan siangnya.


"Ada-lah, ekskul. Terserah mau ikut apa, ada banyak, kok," jawab Lina dengan mulutnya yang penuh.


Tak ada lagi yang berbicara, semua diam termasuk Alea. Gadis itu tiba-tiba tercenung, tangannya berhenti menyuapkan nasi ke mulut. Berselang, kedua bibirnya terbelah membentuk senyuman aneh.


"Apa ada kelas tari?" tanya Alea dengan nada pelan dan lamban. Terdengar lirih hampir seperti bisikan.


Meremang tengkuk ketiga temannya saat mendengar suara Alea bertanya. Mereka menjeda makan, seraya melirik gadis yang tersenyum-senyum sendiri dengan mata yang dimainkan.


"Iya, aku suka sekali menari. Aku selalu menari sepanjang malam, hihi ...." Alea terkekeh sambil menutup mulut dengan sebelah tangannya yang gemulai.


Tingkahnya aneh, terlihat genit dan manja. Dalam hati mereka bertanya, apakah memang seperti itu sifat Alea yang sesungguhnya. Mata mereka saling melirik satu sama lain, Alea semakin bertingkah aneh. Ia mengibas-ngibaskan rambutnya yang sebahu seolah-olah memiliki rambut panjang menjuntai.


"Le? Kamu gak apa-apa?"


Firda memberanikan diri bertanya, ia bahkan memegangi tangan Alea yang terasa sedingin es. Mata genit Alea berputar ke arahnya, mengangguk manja sambil menarik tangannya pelan.


"Dihabiskan, Le, makannya. Sayang, bentar lagi kegiatan dimulai," tegur Lina setelah menghabiskan suapan terakhirnya.


Alea mengangguk pelan lagi, kemudian tangannya bergerak meliuk-liuk sambil menyuapkan makanan ke mulut. Mereka memang belum lama mengenal gadis itu, tapi sepanjang makan bersama, Alea tak pernah bertingkah aneh seperti saat ini.


Brugh!


Alea tiba-tiba jatuh dari bangku tak sadarkan diri. Ketiga temannya panik, lekas berhambur menghampiri gadis itu dan membantunya untuk duduk. Firda mengambil air, mengusapkannya ke wajah Alea. Berselang, mata indah itu terbuka dan menatap bingung ketiga temannya.


"Kenapa aku di bawah?" tanya Alea sembari mencoba untuk berdiri.


"Tadi kamu pingsan, terus jatuh. Kamu sakit, Le?" cecar Lina berkali-kali melipat bibirnya karena panik.


"Pingsan? Aku gak tahu, tapi aku ngerasa baik-baik aja," jawab Alea dibantu Sofi duduk di bangku.


"Aku kira kamu sakit tadi karena tiba-tiba aja jatuh. Ya udah, sekarang habisin, gih, makannya," timpal Firda seraya menyodorkan piring Alea ke depan wajahnya.


"Argh!" Alea menjerit sambil menyingkirkan piring itu sampai terjatuh di lantai. Tubuhnya cepat berdiri, wajahnya meringis ngeri.


"Kenapa, Lea?" Firda mendekat.


Urat-urat di wajah Alea menegang, keringat bercucuran hingga membasahi kemejanya. Dadanya kembang-kempis seiring napas yang memburu. Seketika saja wajah cantiknya berubah pucat.


"I-itu ... i-itu, ke-kenapa ada belatung di piring aku?!" pekik Alea menunjuk nasi dan lauk yang berhamburan di lantai.


Dalam pandangan matanya, nasi itu terlihat seperti binatang-binatang kecil berwarna putih yang menggeliat dan berlompatan. Ikan dan sayur membusuk mengeluarkan aroma tak sedap bagi indera pembau Alea. Sontak ia merasa mual dan memuntahkan isi perut tanpa sempat berlari ke kamar mandi.


Ketiga teman Alea menatap benar-benar makanan itu, tak ada yang aneh. Itu hanya nasi dan lauk yang berhamburan di lantai. Alea berlari ke kamar mandi, melanjutkan reaksi mual yang melanda perut. Wajahnya kian memucat, peluh terus membanjir.


Ia menarik napas pendek-pendek mengurangi sesak akibat rasa hebat yang melanda isi perutnya. Kedua tangan bertumpu pada wastafel, membasuh wajah dengan air.


"Alea!" Seseorang memanggil namanya.


Alea mendongak, berhadapan dengan dirinya di dalam cermin. Ada yang berbeda, sosok di dalam cermin itu menyeringai. Alea termundur beberapa langkah, dadanya bergemuruh hebat. Ketakutan mulai menghinggapi hatinya. Sosok itu mendekatkan wajah, seolah-olah akan keluar dari dalam cermin. Alea menjerit sambil terus mundur hingga tersandung kakinya sendiri dan jatuh.


"ARGH!"