
"Kamu malapetaka! Semua karena kamu yang egois, kamu yang maunya menang sendiri. Kamu yang iri sama dia, kamu yang mau jadi satu-satunya. Semuanya sudah terlambat! Hihihi ...."
Berdesir hati Nola mendengar kalimat yang diucapkan wanita berkebaya itu. Seluruh rasa bergejolak dalam jiwa, darah mendidih memberikan rasa panas yang tiada duanya. Tubuhnya kian gemetar, bunyi gemeratak gigi pun ikut terdengar nyaring. Tubuh Nola kaku, mata bulatnya melebar sempurna.
Gelegak tawa yang diperdengarkan sang wanita penari, membuat Nola semakin tak mampu menguasai diri. Perlahan tubuhnya menggelepar, hingga melorot di lantai. Kereta yang terus melaju tak dirasanya, gadis itu kejang-kejang di lantai.
Di bawah tatapan Al juga penumpang lain, Nola tak sadarkan diri. Bola matanya yang coklat menghilangkan ditelan warna putih yang menyeramkan. Nola, tak mampu melawan.
"Nola! Kamu kenapa, Nola?" Al mengguncang-guncang tubuh temannya itu.
Panik, itulah yang terlihat dari raut wajah remaja itu. Ia menggigit bibir, mengedarkan pandangan pada mereka yang berkerumun di sekitarnya.
"Nola! Sadar!" sentaknya lagi bertambah panik kala mulut Nola justru mengeluarkan bunyi gemeratak yang kuat.
"Siapa saja? Tolong! Tolong teman saya!" ucapnya memohon pada semua penumpang yang menatap iba sekaligus ngeri pada gadis itu.
Sontak mereka mundur beberapa langkah, menjauh karena selain takut, mereka juga tidak mengerti tentang apa yang terjadi pada Nola.
"Tolong teman saya! Tolong!" tangis Al meratap. Ia tak tahu harus apa, melihat Nola yang terus menggelepar dengan mata yang memutih membuatnya semakin panik dan cemas. Ia juga takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada gadis itu.
"NOLA!" Al berteriak dengan kuat. Ia menahan kedua tangan Nola agar berhenti bergerak, tapi tetap saja berkedut bahkan kekuatannya sebagai laki-laki tak mampu menahan.
Al menangis, meraung putus asa. Rasa bersalah mulai menghinggapi hatinya. Seharusnya dia tidak mengabulkan keinginan Nola untuk pergi. Seharusnya dia membawa Nola ke mana saja asal tidak pergi dari kota itu. Tidak! Semua itu tak akan terjadi jika saja dia menolak pergi dengan gadis itu.
"Nola! Sadar, Nola!" tangisnya terus menggema.
"SIAPA SAJA TOLONG! Tolong teman saya!" jeritnya diakhiri permohonan bernada putus asa dari hatinya.
"Astaghfirullah al-'adhiim! Innaa lillaahi wa Inna ilaihi raaji'uun." Seseorang tiba-tiba datang sambil berucap istirja dengan nada prihatin. Ia mengenakan sarung dan atasan koko berwarna putih lengkap dengan peci hitam melapisi rambutnya.
Ia berjongkok di hadapan Al yang tak henti menangis. Remaja laki-laki itu mendongak, dengan mata meleleh dia melayangkan permohonan pada laki-laki hampir tua itu. Wajah sejuk nan teduh, senyum ramah lagi bersahabat. Seketika hati Al merasakan kedamaian yang tak terbatas.
"Tolong teman saya, Pak. Saya nggak tahu kenapa dia jadi kaya gini. Saya mohon, tolong, Pak." Al menundukkan kepala dalam-dalam.
Memohon sambil terisak pilu. Laki-laki tua di depannya mengusap pelan bahu ringkih Al. Seketika saja pundak kokoh yang ia siapkan untuk seseorang bersandar padanya, tak mampu menahan derita yang dialami Nola saat ini.
Pak tua di hadapannya tersenyum, mengusap-usap bahu Al yang terguncang hebat.
"Saya coba bantu, ya. Tolong baca ayat apa saja yang kamu bisa. Itu akan sangat membantu saya," ucap laki-laki tua itu dengan nada ramah lagi lembut.
Al mengangguk patuh, mendengar suara lembut mengalun di telinganya, remaja itu merasakan kesejukan yang tak pernah ia dapatkan.
"Kamu bisa bacaannya, 'kan? Kalo nggak bisa, bacakan alfatihah saja terus menerus sampai saya selesai," ulang pak tua itu lagi seraya melepaskan tangan dari pundak Al.
Ia menoleh pada semua penumpang yang ada di dalam gerbong tersebut.
"Untuk Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, mohon bantuannya untuk membacakan ayat apa saja dari Al-Qur'an, bagi yang mampu, dan untuk yang hafal ayat kursi, tolong bacakan itu sampai saya selesai. Menolong saudara seiman itu hukumnya wajib," ujarnya lagi.
Lantas, ia duduk bersila di dekat kepala Nola. Mengeluarkan rangkaian tasbih dan mulai memutarnya. Bibirnya komat-kamit, mata terpejam rapat. Tubuhnya bergoyang bagai ilalang tertiup sang bayu.
Mungkin merekalah yang dimaksud rumput yang bergoyang. Ketika lidah berucap dzikir, tubuhnya secara refleks berayun ke kanan dan kiri. Seirama dengan alunan nada dzikir yang menguar dari sela-sela bibirnya yang basah.
Suara gemuruh dari bacaan ayat Al-Qur'an para penumpang kereta pun turut memenuhi gerbong di mana Alea terkapar dengan tubuh yang terus menggelepar. Beberapa laki-laki bahkan ikut duduk di kanan dan kiri si laki-laki tua tadi.
Al terbengong karenanya. Hal menakjubkan yang pernah dia lihat, laki-laki tua bagai sebuah magnet yang menarik besi-besi tersembunyi. Dia bersyukur, harapan untuk Nola dapat selamat pun kian mengisi hatinya. Berangsur rasa panik dan cemas, juga putus asa menyingkir meninggalkan tempatnya berpijak.
"Jangan melamun, anak muda! Temanmu butuh pertolongan, dia harus segera diselamatkan. Segera bantu dia keluar dari jerat iblis yang menahan jiwanya. Baca! Baca sekarang!"
Suara bisikan tepat di telinganya, menyentak tubuh Al hingga ia tersadar dari lamunan. Menatap ke bawah pada Nola yang mulai meronta, menggeram, menggeliat meminta dilepaskan. Gegas lidahnya membaca apa saja yang dia bisa.
Matanya menjegil lebar, seperti senjata sihir yang bisa mengeluarkan sinar laser dengan ketajaman luar biasa. Dia berdiri menghadang jalannya mendekati Nola yang terlilit selendang merah.
"Siapa pun aku, kamu nggak perlu tahu. Aku cuma mau kamu lepaskan anak itu. Dia masih terlalu muda, dan kamu tidak bisa menahannya. Lepaskan dia!" pinta pak tua dengan nada lembutnya.
Wanita tersebut tersenyum sinis, mencibir pak tua yang bergeming dengan tasbih di tangan. Bibirnya tak lekang mengucapkan kalimat-kalimat thoyiibah untuk memperkuat keyakinan.
"Hahaha ...." Wanita itu tertawa terbahak-bahak. Kedua tangan berkacak di pinggang, menantang si pak tua yang terus memutar biji tasbih di tangan.
"Kamu tua bangka nggak tahu diri, datang ke sini cuma mau mengantarkan nyawa. Coba aja kalo kamu bisa ambil dia dari aku!" geram sang wanita penari seraya memasang kuda-kuda bersiap menyerang pak tua itu.
"Sadarlah, Lastri! Aku tahu siapa kamu. Dia nggak bisa kamu jadikan pijakan buat menuruti apa yang kamu mau. Kamu udah nggak bisa kembali ke dunia lagi. Tempatmu bersama mereka karena perjanjian yang kamu buat sendiri. Sekali lagi aku pinta baik-baik, lepasin dia!" ungkap pak tua itu lagi menunjuk Nola yang kesulitan bernapas akibat lilitan selendang itu.
"NGGAK! Aku nggak akan lepasin dia. Dia harus menerima ganjaran atas apa yang dia lakukan. Manusia serakah dan hanya mementingkan diri sendiri saja. Ada baiknya kamu pergi dan biarin dia di sini jadi budakku karena aku nggak bisa dapetin jiwa yang di sana," ujar wanita tersebut dengan geram.
Dia melayangkan serangan, layaknya seseorang yang jago dalam dunia persilatan, wanita penari itu bergerak dengan lincah dan agresif. Mencakar, meninju, memukul, semua dia lakukan untuk membuat laki-laki tua itu pergi dari dunianya.
Namun, seperti halnya sehelai ilalang yang tertiup angin, laki-laki tua itu dapat dengan mudah menghindari semua serangan. Melengos ke kanan dan kiri, merunduk, juga melompat dilakukannya sambil terus membaca dzikir dan kalimat-kalimat thoyiibah.
Laki-laki tua itu menggerakkan tangan, tasbih yang melilit di sana, menyala terang sebelum menghantam dada Lastri. Ia termundur beberapa langkah sambil memekik kesakitan. Lastri memegangi dada, tak lama cairan berwarna merah kehitaman menyembur dari mulutnya.
"Kalo kamu keras kepala ...," ucap laki-laki itu seraya menegakkan jari telunjuknya menuding Lastri, "aku akan menariknya dengan paksa dan jangan salahkan aku kalo kamu sampai terluka!" sambungnya mengancam.
Ia melipat kedua tangan di dada, mata terpejam rapat. Cahaya kebiruan muncul mengelilingi tubuhnya. Lastri yang merasa ada kesempatan untuk balas menyerang, segera berlari menerjang. Akan tetapi, dirinya terpental sebelum berhasil menggapai tubuh laki-laki tua itu.
"ARGH! Sial!" umpatnya usai mendarat kasar di atas lantai.
"Pulang, Lastri! Kamu nggak akan bisa ngelawannya, dia bukan tandingan kamu!" Sebuah suara tanpa wujud menggema di telinganya.
Lastri termangu, sambil menahan gejolak amarah dia pun memudar dan hilang bersama selendang yang melilit leher Nola.
"Nola!" panggil Al ketika melihat mata gadis itu mulai kembali seperti semula.
Tubuh yang sejak tadi menggelepar, perlahan berhenti dan diam tak bergerak. Kelopak matanya terpejam, berselang batuk cukup hebat melandanya.
Nola beranjak duduk sambil memegangi dada dan lehernya yang terasa sakit juga terhimpit. Napasnya memburu berat, belum sepenuhnya menyadari keadaan yang menimpa diri.
Pengumuman pada pengeras suara dalam gerbong menggema, beberapa menit lagi kereta akan berhenti di sebuah stasiun. Laki-laki tua bersama berapa penumpang yang duduk bersila membaca doa-doa tadi beranjak. Mereka berdiri mengambil posisi, beberapa bersiap untuk keluar.
"Kenapa aku duduk di bawah kayak gini? Leher aku sakit, Al," keluh Nola sambil menatap linglung keadaan sekitarnya.
"Duduk di atas dulu, yuk. Nanti aku ceritain," sahut Al seraya membantu Nola untuk duduk di kursi kembali.
"Badan aku sakit banget, Al. Dada aku sesak, kenapa, sih? Kok, tiba-tiba ada di bawah aja," ucap Nola lagi sembari memeluk tubuhnya sendiri.
Jari jemarinya meremas kedua lengan yang berdenyut, meringis dan terus berdesis. Al benar-benar dibuat bingung, muncul satu pertanyaan dalam benak apakah Nola tak sadar apa yang telah terjadi?
"Kamu beneran nggak tahu apa-apa?" tanyanya menelisik wajah Nola yang nampak kuyu.
Gadis itu menoleh, lalu menggeleng lemah.
"Emangnya kenapa, sih? Kok, kamu kayak yang bingung kayak gitu?" Nola balik bertanya. Kerutan di dahinya, selain karena menahan nyeri di kepala, ia juga heran dengan sikap Al yang terlihat kebingungan.
Al termangu, seumur hidupnya baru kali ini melihat fenomena aneh yang terjadi pada manusia.
"Mmm ... maafkan saya, tapi boleh saya duduk di sini?"
Nola dan Al serentak menoleh pada sumber suara tersebut.