
"Ngapain kamu ke sini?" ketus Alea sembari melipat kedua tangan di perut. Posisinya menghadap jendela memunggungi Nola.
Nola bergeming menatap punggung sang Kakak yang sedikit gemetaran, mungkin gadis itu juga sedang menahan emosi yang meluap-luap dalam dirinya. Beruntung, Alea tidak menghempaskan tubuhnya ketika tiba di dalam ruangan yang sekarang.
Setelah meneguhkan hati tadi sebab bujukan Firda dan kedua temannya yang lain, Alea membawa Nola ke sebuah ruang kelas. Berbicara berdua di tempat tak ada orang, tapi Al membuntuti mereka dan menunggu di bangku taman tak jauh dari kelas.
"Bukannya kalian udah buang aku di sini? Apa kamu mau ngetawain aku karena terlihat menyedihkan kayak gini?" lanjut Alea tetap bergeming pada jendela kelas yang hampa. Menatap pohon-pohon randu yang bergoyang karena sapuan angin.
Nola menggeleng lemah, menggigit bibir dengan kuat, tak kuasa mendengar ucapan tajam sang Kakak. Matanya telah basah oleh air yang tiba-tiba turun tanpa dapat ia tahan. Bahunya berguncang, isak tangis pun turut menguar dari sela-sela bibir.
"Nggak, Kak. Aku datang ke sini mau minta maaf sama Kakak. Aku mau minta maaf sama Kakak, maafin aku, Kak." Nola menangis semakin menjadi.
Hatinya amat teriris apalagi saat mendengar tawa sumbang dari sang Kakak. Alea sendiri pun tengah menahan sesak di dalam dada. Ia tak menampik ada sebagian kecil dari hatinya yang merasa senang mendengar Nola meminta maaf padanya.
Namun, ia tak ingin lekas termakan oleh sesuatu yang masih bersifat fatamorgana, yang hanya akan berakhir pada sebuah rasa sakit yang tiada tara.
"Minta maaf? Apa kamu yakin sudi ngelakuin itu? Aku ngerasa aneh dengar kamu minta maaf," sarkas Alea masih memunggungi sang adik.
Tak ada tanda-tanda ia akan berbalik dan menatap pada Nola dengan tatapan penuh kasih sayang seperti yang sering ia lakukan padanya meskipun sang Adik kerap melakukan kesalahan, ataupun menyakiti perasaannya.
Tangis Nola kian merebak, sikap Alea yang ketus dan dingin semakin membuat ulu hatinya nyeri. Sakit kian menghimpit rongga dada hingga kedua kaki tak mampu menopang beban tubuh.
Nola jatuh bersimpuh di lantai, tangisannya kian lantang terdengar. Menggema di ruangan sempit itu. Tangan kiri memegangi dada yang terasa sesak, sakit dan nyeri menusuk-nusuk.
Mungkin begini perasaan Kakak waktu dia nggak dianggap? Mungkin begini sakit yang Kakak rasakan saat dia dikucilkan. Sakit! Tuhan!
Merintih hatinya, meringis teriris sembilu yang tak kasat mata. Lebih sakit daripada pengkhianatan seorang kekasih. Ingin rasanya ia remukkan gumpalan daging dalam dada agar rasa sakitnya tak terus memanjang.
"Maafin Nola, Kak. Maaf ... Nola tahu, Nola salah sama Kakak. Nola menyesal, Kak. Maafin Nola, Kak. Maafin Nola. Nola bener-bener nyesel. Kakak ...."
Nola meracau menyebut kesalahan yang sering dia lakukan bahkan membawa-bawa sikap orang tua yang tak adil terhadap mereka.
Alea menitikan air mata, sakit itu semakin menghujam dadanya. Rasa sakit karena tak dianggap, perih karena diperlakukan tak adil. Ingin mengadu? Tapi pada siapa? Percuma, tak ada yang mendengar, juga tak ada pembelaan. Yang harus dia lakukan hanyalah mengalah dan mengalah walaupun tak pernah dihargai.
Buru-buru disapunya air itu, dia harus kuat seperti biasa. Tak perlu menunjukkan air mata yang membuatnya terlihat lemah di mata orang-orang yang kerap merendahkannya. Ia harus setegar karang meski deburan ombak terus menghantamnya.
Jangan nangis, Lea. Jangan! Kalo kamu nangis, mereka akan semakin menindas kamu. Terus tersenyum, Lea. Tersenyum, agar hati kamu diliputi bahagia.
Demikian batinnya bergumam menyemangati. Dekapan tangan di tubuhnya semakin mengerat, meremas rasa sakit yang dirasakan segumpal daging dalam dadanya.
"Kakak, tolong maafin Nola. Nola nggak akan pergi sampai Kakak mau maafin Nola. Nola tetap mau di sini, biarpun Kakak menolak. Maafin Nola, Kak," mohon Nola lagi dengan pilu.
Semakin deras air yang mengalir dari mata Alea, sesuatu memberontak. Menolak kenyataan hatinya yang merasa senang mendengar permohonan sang Adik. Dia benar-benar berbunga, sekalipun itu hanya muslihat terlebih jika itu memang dilakukan Nola dengan tulus.
Nola mendongak, dengan matanya yang basah memaku tatapan pada sang Kakak yang diam tak berkutik. Melirik saja rasanya tidak ia lakukan. Sebegitu sakitkah yang dirasakan hatinya?
Namun, Nola tidak menyerah, bagaimanapun dia harus mendapatkan maaf dari Kakaknya itu. Nola beringsut mendekat, memeluk kaki Alea sambil tersedu-sedan.
Alea hampir memekik, tubuhnya sedikit tak imbang dan nyaris saja terjatuh jika tangan tak segera mencari pegangan. Ia merunduk menatap kedua tangan Nola yang melingkari betisnya.
"Nola mohon, Kak. Maafin Nola. Maaf, Kak," rengeknya lagi semakin histeris.
"Lepas!" Alea menggerakkan kakinya agar pegangan Nola terlepas, tapi tetap saja kedua tangan itu justru semakin erat mencengkeram.
"Nggak! Nola nggak mau lepasin sebelum Kakak maafin Nola," tolak Nola dengan tegas.
Alea menggeram, kedua tangannya terkepal di samping tubuh, ia juga memejamkan mata menahan gelenyar aneh yang merangsek dalam rasa. Ada senang, bercampur terkejut. Sungguh tak dinyana, Nola akan sampai rela bersimpuh di kakinya demi mendapat maaf.
Alea pun terus menggerakkan kaki, ada rasa tak nyaman menjalar dalam dada. Asing, aneh, tapi membuatnya bahagia walaupun sedikit.
"NGGAK!" pekik Nola dengan kuat, "Nola nggak akan lepasin kaki Kakak. Nola nggak akan bangun sebelum Kakak maafin Nola. Nola benar-benar minta maaf, Kak."
Tangis Nola semakin histeris, beriringan dengan air mata Alea yang tumpah kian deras. Gadis berambut sebahu itu menarik napas panjang, dihembuskannya secara perlahan demi mengurai sesak yang memenuhi rongga dadanya.
Ia tak kuasa menahan diri, ingin merengkuh tubuh ringkih di bawah kakinya itu. Alea membungkuk, melepas kedua tangan Nola dengan lembut.
"Udah, bangun. Jangan kayak gini, malu," ucapnya sambil membantu Nola berdiri, tapi gadis kecil itu menggeleng sembari menatap wajah sang Kakak.
"Nggak apa-apa, bangun dulu. Kakak maafin kamu," ucap Alea lagi dengan segenap ketabahan hati yang ia miliki.
"Beneran, Kakak maafin Nola?" Ia bertanya penuh harap. Sisa isak tangis masih terdengar lirih, Nola masih sesenggukan.
"Iya. Ayo, bangun!" sahutnya sambil menahan diri agar tidak menangis.
Nola beranjak dipegangi Alea, berdiri berhadapan saling mematri pandangan satu sama lain. Air mata Alea luruh begitu saja melihat kesungguhan yang terpancar di kedua manik sang Adik.
Alea menarik tubuh Nola ke dalam pelukan, menjatuhkan air matanya tanpa ditahan lagi. Rasa hangat seketika mengalir memenuhi rongga dada. Sesuatu menjerit, meronta-ronta menolak rasa baru yang hadir.
Terlebih saat tangan Nola pun membalas pelukan itu, rasanya hangat. Berbeda sekali dari rasa pelukan yang diberikan Siska. Sentuhan Alea benar-benar terasa lembut dan menghangatkan jiwanya.
Sesuatu yang bertabur bunga menjejali ruang kosong dalam hati mereka. Tanpa sadar menguatkan Alea dan memutuskan salah satu ikatan yang menjerat tubuhnya.
"Nggak! Ini nggak boleh terjadi!"