Rasuk

Rasuk
Mengejar Waktu



"Jangan dekati dia!"


Regi menoleh dengan pasti, pandanganya menyiratkan ketegasan tak ada gentar atau takut yang memancar.


"Kamu pikir bisa nakutin aku begitu? Aku tahu siapa kamu, jangan kamu ganggu lagi Alea!" tegasnya.


Pandang mereka beradu, saling mengantarkan ancaman dan tantangan. Regi, remaja seusia Alea itu dengan berani menantang wanita yang berbalut pakaian penari. Wanita yang sama yang dilihatnya tempo hari di bawah pohon randu.


"Coba aja kalo kamu emang bisa. Asal kamu tahu, aku dan gadis itu adalah satu. Nggak ada yang bisa misahin kami termasuk kamu!" Ia menuding Regi dengan jari telunjuk berbalut selendang.


"Bangsa jin, adalah makhluk terlemah yang Allah ciptakan. Mereka bisa melihat, tapi tak dapat melakukan apapun yang mereka inginkan. Tidak seperti manusia, diberi keinginan dan kemampuan untuk menggapainya. Untuk itu, kalian memanfaatkan kelemahan manusia untuk memperdaya sesama dan untuk mencapai tujuan kalian. Jangan harap itu akan berlaku padaku," ungkap Regi tanpa keragu-raguan.


Ia melafalkan bacaan ta'awwudz, disambung Al-fatihah dan dilanjutkan dengan ayat kursi. Wanita di bawah pohon ceri itu mulai terlihat gelisah, tapi ia berpura-pura kuat menahan serangan yang diluncurkan remaja bau kencur itu.


Ia memutuskan pandangan, sebuah ayat yang dibaca Regi memunculkan tali rantai bercahaya yang melilit kedua kakinya. Wanita penari itu mulai panik, mencoba menggerakkan tubuh yang tiba-tiba diam terpaku.


"Apa yang kamu lakukan? Ingat, aku nggak akan menyerah. Aku akan datang membalas, lihat aja! Kamu cuma anak muda bau kencur yang nggak tahu apa-apa!" bentaknya dengan murka.


Dia tertawa panjang lebar meskipun hampir sebagian kakinya terikat rantai, tetap saja wanita itu bisa tertawa terbahak. Seolah-olah itu bukanlah ancaman mematikan untuknya.


"Woy! Ngapain, sih, kamu liatin pohon ceri sampe segitunya? Udah kaya liatin cewek aja," tegur teman Regi yang datang tiba-tiba sambil menepuk bahu remaja itu.


Bacaannya buyar, rantai yang membelenggu kedua kaki wanita itu terlepas. Dia menatap tajam pada Regi, berencana membalas apa yang dilakukan anak itu padanya. Regi berdecak, sedikit kesal karena kedatangan mereka sungguh mengganggu.


"Eh, ditanya malah bengong. Ngapain kamu liatin pohon ceri kaya gitu? Kamu suka sama tuh pohon, iya?"


Sekali lagi temannya itu menepuk bahu Regi, apa yang dilihat mereka hanya Regi yang berdiam termangu di depan pohon ceri. Mereka tak dapat melihat juga mendengar komunikasi antara Regi dan wanita penari itu. Dalam pandangan mereka, tak ada siapapun di bawah pohon sana. Hanya daun-daun buah itu saja yang bergoyang tertiup angin dan sebagian ada yang jatuh berguguran.


"Eh, nggak ada apa-apa, kok. Cuma lagi nyari buah kali aja ada buah yang mateng dan enak dimakan," ucap Regi menolehkan kepala sambil tersenyum canggung seraya merangkul bahunya.


Mengajaknya pergi meninggalkan tempat tersebut diikuti dua yang lain memasuki gerbang asrama. Regi berbalik, menatap posisi wanita tadi berdiri. Ia sudah tak nampak lagi.


"Regi, kok, aku kepikiran soal Lastri tadi, ya. Emangnya siapa Lastri itu, sih?" tanya salah seorang teman sembari berjalan menuju taman asrama.


Regi menoleh, ia pun sama penasarannya seperti dia.


"Mungkin kita bisa nemu sesuatu di perpus," celetuk yang lain.


Sesuai namanya perpustakaan, pastilah menyimpan semua berita yang mereka inginkan. Begitu pikirnya.


"Bener juga, tumben encer tu otak. Ayo lah!" Regi berputar arah menuju perpustakaan.


Sebuah bangunan yang didesain mirip rumah adat Banten khas suku Baduy, Sulah Nyanda namanya, memang sengaja dibangun khusus untuk perpustakaan. Suasana di perpustakaan mulai lain terasa, angin dingin berhembus menerpa kulit mereka.


Lokasinya berada di antara asrama putra dan putri sama seperti kelas. Hanya saja, harus melewati taman asrama juga perkantoran guru. Di belakang perpustakaan, adalah bangunan asrama untuk para guru.


Berbeda dengan asrama para murid, asrama untuk guru lebih seperti rumah biasa yang banyak dijumpai. Berjejer layaknya hunian modern dengan gaya minimalis. Pohon-pohon mangga dan rambutan menjadi pembatas antara perpustakaan dan asrama tersebut.


"Nggak usah nakutin diri sendiri!" Regi mendengus.


Sama seperti perpustakaan lainnya, di dalam bangunan tersebut berjejer rak-rak yang berisi ribuan buku dengan rapi dan bersih. Tak jauh dari pintu masuk, ada meja dan kursi tempat si penjaga duduk menunggu. Ia akan tersenyum ramah sekilas menyambut murid yang datang sekaligus menunjukkan peraturan yang terpampang di dinding khawatir mereka akan lupa.


Regi dan teman-teman mengangguk dikala penggaris besar dan panjang terbuat dari kayu menuding papan peraturan tersebut. Mereka memasuki perpustakaan semakin dalam. Ada beberapa murid juga di dalamnya yang sedang asik membaca.


"Kita mau nyari apa di sini?"


"Apa aja, mana tahu ada yang berkaitan dengan nama itu," jawab Regi sambil melihat-lihat buku di dalam rak.


Keempat laki-laki itu mulai mencari-cari informasi, apa saja mereka ambil. Buka dan baca. Hanya itu yang mereka lakukan tanpa tahu apa yang sebenarnya mereka cari.


"Ah, sial! Apa yang mau dicari?" sentak Regi sambil membanting buku yang terakhir dibaca ke tempatnya semula.


Suara sabetan penggaris kayu membuatnya terhenyak, ia lupa sedang berada di mana saat ini. Takut-takut Regi menoleh, dan sialnya tatapan elang penuh ancaman diterimanya dari sang penjaga perpus itu.


Regi tersenyum kikuk, mengangguk sambil menangkupkan kedua tangan di dada. Ia kembali pada deretan buku di rak sambil menggaruk-garuk kepala yang tak gatal, mengambil buku demi buku, lembar demi lembar untuk mencari informasi tentang wanita bernama Lastri.


"Reg, aku kira kita nggak akan nemu di sini. Gimana kalo kita keluar tanya-tanya ke masyarakat? Siapa tahu mereka bisa kasih kita informasi," saran seorang teman sembari menepuk bahu remaja itu.


Regi tercenung, memikirkan segala kemungkinan. Jika tidak berkaitan dengan asrama, maka bisa jadi berkaitan dengan nama salah seorang penduduk setempat.


"Bener juga. Ya udah, kita keluar sekarang mumpung masih ada waktu dua jam," sahutnya sambil melirik jam di pergelangan tangan seraya berjalan keluar diikuti yang lain.


"Ekhem!"


Suara deheman dari penjaga perpus menghentikan langkah keempat murid yang hendak menggapai pintu itu. Mereka menoleh dengan bingung, bertatapan dengan sosok yang tak ramah dalam bangunan tersebut.


"Kenapa, Bu?" tanya Regi sambil menautkan kedua ujung alis.


Ia-nya tidak menjawab, melainkan mengangkat penggaris kayu menunjuk salah satu aturan dalam perpustakaan tersebut. Peraturan paling akhir nyaris tak pernah terlihat para murid.


Wajib meminjam buku minimal satu.


Begitu bunyi tulisan tersebut. Regi dan teman-teman serentak mendongak, gerakan kepala si penjaga menjadi perintah lanjutan untuk mereka. Mau tidak mau, mereka kembali ke dalam mengambil satu buku untuk dipinjam.


Ada harga yang harus dibayar, sebesar sepuluh ribu rupiah untuk setiap buku yang dipinjam. Seperempat waktu dihabiskan hanya dengan begitu, belum lagi harus menempuh jarak yang tak dekat dari perpus menuju gerbang asrama.


"Nggak ada waktu lagi, kita harus cepat!" umpat Regi sembari berlari di lapangan depan kelas menuju gerbang utama.


Seolah-olah dikejar waktu, mereka berlomba menuju gerbang lebih dulu.


"Mau ke mana kalian?!"


Suara penuh tekanan itu sontak menghentikan laju kaki mereka.