
"Apa mungkin berkaitan dengan apa yang aku alami?" celetuk Regi mengaitkan peristiwa yang dialami Alea juga dirinya.
Ia mengangkat wajah bersitatap dengan Alea, gadis itu menggeleng lemah. Bukan ranahnya mengerti hal-hal yang seperti itu. Pancaran matanya tak berisi apapun, hampa tak memiliki cahaya dan harapan.
"Di mana kaitannya?" tanya Firda jelas ia nampak bingung dengan ucapan Regi.
"Aku juga nggak ngerti, tapi kayaknya emang bersangkutan. Cuma belum ketemu aja," sahut Regi yang lagi-lagi melirik Alea.
Gadis dengan rambut sebahu itu hanya diam mematung, tanpa menyahut setelah mengurai cerita malam itu. Sebuah ingatan yang terkuak dengan sendirinya menyiratkan misteri.
Di sisinya Firda dan Sofi tercenung berpikir apa yang berkaitan dengan kejadian Regi juga Alea, sedangkan teman mereka, Lina. Sibuk dengan kegelisahannya.
"Lin, kamu kenapa?" tanya Adit yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Lina.
"Emangnya kenapa?" tanya Lina gugup.
Ia menunduk menghindari tatapan semua orang yang serentak menoleh kecuali Alea. Namun, kegelisahan yang tengah ia rasakan, tak dapat disembunyikan jua dari tatapan semua orang.
Matanya berputar liar kian kemari, meski dalam keadaan tertunduk, tetap saja semua temannya dapat melihat itu.
"Dari tadi kamu celingak-celinguk, kayak orang gelisah. Emang ada apa?" tekan Adit dengan tautan alis yang nampak jelas.
Lina menggigit bibir, kepalanya bergerak sedikit-sedikit ke kanan dan kiri. Ada yang mengganggu rasanya, tapi ia tak dapat mengatakan itu pada semua orang.
"Ng-nggak ada apa-apa, kok. Beneran," kata Lina sambil memasang senyum canggung yang memperlihatkan kegugupannya.
Firda melirik, digenggamnya jemari Lina bertujuan untuk menenangkannya. Akan tetapi, ia sendiri sedikit terkejut saat merasakan telapak tangan Lina yang dingin dan lembab.
"Kenapa, Lin? Tangan kamu dingin kayak gini?" tanya Firda dengan lembut.
Demi kenyamanan Lina, ia mendekat nyaris menempel dengan tubuh gadis itu. Lina beringsut mendekatkan bibirnya di telinga Firda, takut-takut melirik Alea yang hanya diam terpaku.
"A-aku ... kayak ada yang dateng, aku merinding, Fir," bisiknya lirih seraya melirik ke belakang tubuh mereka.
Tak ada apapun di sekitar kelas tersebut, hanya ada mereka juga pohon-pohon bunga yang bergoyang di depan kelas. Lengang karena semua murid memang sedang menikmati hari libur mereka.
Firda yang mendengar turut merasakan keanehan, melirik Alea karena hanya dia yang sering mengalami kerasukan tanpa tahu waktu dan tempat. Tubuhnya meremang, sesuatu memang terjadi. Hanya saja, ia belum pasti.
Lina dan Firda berjauhan, dilirik Sofi yang mengernyit. Lewat tatapan mata ia bertanya pada Firda. Sofi mengerti disaat gadis berhijab itu menunjuk pada Alea.
"Le, kamu nggak apa-apa?" Sofi memberanikan diri untuk bertanya. Tangannya gemetar menyentuh pundak temannya itu.
Alea menggeleng lemah, tapi tak menyahut. Terus diam dengan tatapan yang tiba-tiba terpaku pada sosok Regi.
"Kita ke kamar, yuk!" ajak Firda ragu-ragu.
Alea kembali menggeleng sambil terus menatap Regi yang perlahan menyadari sesuatu.
"Regi!"
Remaja itu mengangkat tangan menahan Firda untuk tidak bertanya apapun dulu. Ia menatap balik manik Alea dengan berani, tanpa segan apalagi takut. Bayangan Alea terikat akar beringin muncul di kedua maniknya sendiri, membuatnya terhentak. Kedua manik Regi yang teduh itu membelalak, menghujam sisi lain dari Alea.
"Siapa kamu? Kenapa kamu kurung Alea kayak gitu?" tanya Regi penuh tekanan.
Alea tak menyahut, bunyi gemeratak gigi nyaring terdengar. Wajah Alea berubah merah berikut kedua bola matanya. Selayaknya seseorang yang tengah dikuasai oleh amarah. Jemari mengepal erat, tubuhnya tiba-tiba saja membeku.
"Sekarang aku tahu apa kaitannya peristiwa Alea sama yang aku alami. Kenapa kamu menempati tubuh teman kami? Ini bukan tempat kamu, bukan punya kamu. Lepaskan Alea! Ada banyak orang yang sayang sama dia, termasuk kami!" sentak Regi lagi sembari menggenggam tangan kanan Alea yang mengepal kuat.
Garis bibir gadis berambut sebahu itu terbentuk lurus, salah satunya terangkat membentuk senyum sinis yang tajam.Tak lama lengkingan suara tawa menggelegak, tawa yang tak biasa. Tawa lain yang tak pernah didengar mereka.
Serentak semua orang menjauh kecuali Regi dan Firda. Tak akan mungkin mereka meninggalkan Alea sendirian dalam kondisi seperti itu.
"Lea!" panggil Firda, tapi tak menghentikan tawa gadis itu.
"Dia bukan Lea, Fir. Sukma Alea diikatnya di pohon beringin, dan makhluk ini menggantikan tempatnya. Kita harus nolong Alea!" ucap Regi.
Firda mengerti, jin yang merasuki tubuh Alea teringin mendiaminya. Memanfaatkan kesedihan hati gadis itu yang perlahan menjadi rapuh. Dendam terus tumbuh setiap harinya dikala mengingat perlakuan kedua orang tua yang tak adil. Jiwa yang semakin rapuh itu, akan menjadi tempat ternyaman bagi makhluk seperti 'mereka'.
"Terus kita harus gimana?" tanya Firda bingung.
Regi sendiri pun tidak tahu, hanya satu yang dia ingat. Sang Kakak yang sudah lebih mengerti tentang semua itu. Hanya saja, dia berasal dari jauh sulit untuk menghubunginya.
"Aku juga nggak tahu, kita coba aja dulu," saran Regi sembari mengurai kepalan jemari Alea yang terasa lengket.
Gadis itu menggeram marah, tertawa lagi, lalu menangis.
"To-tolong! Sakit!" Suara lirih Alea meminta tolong.
"Lea! Cuma kamu yang bisa melawan! Sebut nama Allah, Lea! Allah! Allah!" ucap Regi dibantu Firda yang ikut berbisik di telinga temannya itu.
Ketiga teman Regi bergidik ngeri menyaksikan secara langsung orang yang kerasukan. Sofi dan Lina saling berpelukan menangis tak tega melihat kondisi Alea.
"Sukma ieu budak ngeunah jasa, ho'ok aing ninggalkeun-na, geh. Loba makhluk nu ngarebutkeun ieu budak, moal teuing ku aing ditinggakeun. Di dieu aya loba kadaharan ngeunah tina rasa dendam anu terus subur unggal waktu. Hihihi ...."
(Jiwa anak ini terlalu nyaman, sayang untuk aku tinggalkan. Banyak makhluk yang memperebutkannya, nggak akan aku tinggalkan begitu saja. Di sini ada banyak makanan enak dari rasa dendam yang terus tumbuh subur setiap waktu.)
Suara Alea sudah lain terdengar, serak dan parau nyaris seperti bisikan. Ia terus tertawa senang, menyiksa jiwa rapuh Alea yang semakin hari semakin lemah.
Mendengar kalimatnya, Firda dan Regi saling menatap satu sama lain. Alea membutuhkan kasih sayang, perhatian, juga cinta agar jiwanya hidup kembali dan tumbuh harapan dalam hatinya.
"Kamu nggak bisa seenaknya kayak gitu, bangsa jin kayak kamu ini nggak akan bisa nempatin sukma manusia. Jadi, keluar sebelum aku bakar jiwa kamu dengan ayat-ayat Allah!" tegas Regi lagi sembari memegangi kepala Alea.
Wajah gadis itu berhadapan dengannya, mata itu melotot marah, seringai penuh dendam mencuat dari bibir tipis Alea.
"Sia moal bisa ngaluarkeun aing. Bisa naon sia, hah? Budak kamari ngalunjak ka aing. Aing kolot, pang kolotna aing di dieu. Ngalalunjak sia kabeh ka aing!" hardik Alea lewat bisikan.
(Kamu nggak akan bisa ngeluarin aku. Bisa apa kamu, hah? Anak kemarin sore ngelunjak sama aku. Aku ini tua, paling tua aku di sini. Ngelunjak kalian semua sama aku!)
"Aku nggak peduli mau kamu tua atau lebih tua, kamu harus tinggalin tubuh Alea. Dia teman kami, dia berharga buat kami. Kami menyayanginya!" bentak Firda berapi-api.
Jengkel setengah mati mereka dibuatnya. Jin itu benar-benar menggoda keimanan mereka.
"Kenapa kalian masih di sini?" sentak sebuah suara membuat mereka membeku termasuk Alea sendiri.