Rasuk

Rasuk
Kedatangan Nola



Mobil terus melaju tanpa hambatan, jalan tol baru itu masih sangat mulus hingga tak ada cacat sedikit pun. Pembangunannya masih berlanjut, mereka harus keluar tol jauh sebelum memasuki Ujung Kulon.


"Kemaren perasaan aku nggak lewat sini sama Mamah Papah," celetuk Nola disaat menyadari jalanan yang ia lalui berbeda dari jalan sebelumnya.


"Mungkin kemarin Adek lewat Serang bukan Rangkasbitung. Emang lain jalur, tapi arah tujuan tetap sama," sahut sang supir saat mendengar gumaman Nola yang lirih hampir seperti bisikan.


"Oh, aku nggak tahu, sih. Masih lama nggak, Pak?" tanya Nola begitu melihat pintu keluar tol.


"Masih lumayan kalo dari sini, tapi jalanan nggak macet kayak di kota kalo ke sini," jawabnya.


Mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki kawasan desa, melintasi jembatan, terus berlanjut ke jalanan yang lebih kecil. Di kanan dan kiri perkebunan masyarakat, jarang sekali rumah warga terlihat.


"Di sini masih jarang rumah, ya." Al bergumam sambil menatap kanan dan kiri jalan.


Deburan ombak tertangkap indera pendengaran mereka, sontak keduanya melongo pada salah satu jendela mobil. Kemarin Nola sama sekali tidak menemukan adanya laut.


"Emangnya ada laut di sekitar sini, Pak?" tanyanya penasaran.


"Ada, Dek. Klo lewat sini kita emang ngelewatin pinggiran laut. Padahal, asrama itu juga deket ke laut, lho," sahut sang supir tetap dengan nada ramahnya.


"Eh? Beneran, Pak? Kok, saya nggak denger ada bunyi ombak waktu masuk ke sana?" Nola mengernyit tak yakin.


"Emang agak jauh, sih, makanya nggak kedengaran. Ini sebentar lagi kita nyampe." Pak supir berbelok ke jalan yang lebih kecil lagi.


"Emangnya kalian mau ngapain ke sana? Mau sekolah di sana juga?" lanjutnya bertanya sedikit ingin tahu karena mereka tak didampingi orang tua.


"Kita mau jenguk Kakak kita, Pak," jawab Al sembari melirik Nola yang tiba-tiba diam setelah mendengar ucapan supir tadi.


"Oh, kenapa nggak sama orang tua? Saya sering nganter murid di sini kalo mereka abis pulang. Nah, kalo jenguk itu biasanya sama orang tua," ucapnya memberitahu.


Al tersenyum kaku, ia hanya mengikuti ajakan Nola untuk menemaninya pergi. Tanpa tahu sama sekali aturan yang berlaku di sekolah asrama tersebut. Hening. Sang supir tidak bertanya lagi. Terus melaju di jalanan mulus, tapi kecil itu.


Pesawahan juga kebun milik warga kembali menyambut kedatangan mereka. Padi-padi yang masih hijau menyegarkan pandangan. Para penduduk berduyun-duyun pulang ke rumah sambil membawa peralatan bertani mereka.


Tak lama, gema adzan Dzuhur berkumandang. Samar-samar tertangkap telinga mereka. Perjalanan terasa begitu panjang dan berat dengan segala cobaan yang harus mereka hadapi.


Mobil menepi tak jauh dari gerbang asrama, Nola tak yakin Kakaknya itu akan menerima kedatangannya. Ia duduk tertunduk belum ingin beranjak. Al yang telah bersiap turun, urung menarik pegangan pintu. Menoleh pada temannya dan duduk kembali.


"Kenapa? Kamu nggak mau turun? Kita udah nyampe, lho," ucap Al sambil menyentuh punggung gadis itu.


Kepala Nola menggeleng, ada nyeri yang tengah menghantam dadanya. Sebak pun merebak, membuat mata terasa panas. Nola menggigit bibir, menahan semua rasa yang bergejolak.


"Aku takut Kakak masih marah sama aku. Aku takut Kakak nggak mau lihat aku," lirihnya bergetar.


Sang supir melirik dari spion, ia tahu ada masalah di antara gadis itu dan seseorang yang mereka sebut Kakak di dalam asrama tersebut. Namun, ia tetap bungkam, enggan berkomentar. Menunggu keduanya selesai menyiapkan hati sebelum turun dari mobil.


"Kak Alea orang yang baik, selama ini juga dia selalu baik sama kamu, 'kan? Aku yakin Kak Alea pasti seneng kamu datang buat jenguk dia. Ayo, kasihan Pak supirnya mau narik penumpang lagi," ucap Al dengan sabar meyakinkan hati Nola.


Gadis itu mengangguk lemah, menarik udara sebanyak-banyaknya dan melepaskannya secara perlahan. Mereka berdua beranjak turun, membayar ongkos dan berdiri mematung di depan gerbang, di bawah pohon ceri.


Tengkuk Al meremang, disapunya sambil menatap sekeliling. Pandangnya jatuh pada pohon ceri yang rimbun, daunnya bergoyang lembut tertiup angin, tapi Al tidak merasakan adanya angin menyentuh kulit.


Ia berpaling seraya merapatkan jarak dengan Nola. Tak ingin rasanya berlama-lama di sana. Semakin lama berdiri di sana, semakin membuat tubuhnya gemetar. Terlebih, saat ia melongo ke dalam. Sebuah bangunan tua langsung saja menyapa matanya.


"La, kamu yakin mau masuk ke sana?" Al meneguk ludah sendiri, membayangkan sesuatu yang tidak-tidak membuat rasa takutnya kembali datang.


Nola tidak menyahut, melainkan berjalan pelan memasuki gerbang yang terbuka. Mungkin karena itu hari Minggu, gerbang tersebut sengaja dibuka lebar. Ada banyak mobil berderet di sebuah lapangan begitu mereka melangkah lebih dalam.


Gazebo-gazebo di depan asrama terisi penuh oleh para orang tua dan murid di sana. Hal itu merubah pemikiran Al tentang asrama yang seram.


"Di mana kamar Kak Alea?" bisik Al bertanya disaat mereka berdiri menatap sebuah bangunan dengan banyak pintu dan jendela.


Nola menggeleng lemah, terbesit rasa sesal yang dalam saat mengingat waktu itu. Mereka terburu-buru kembali pergi dan pulang tanpa mengantar Alea terlebih dulu ke kamarnya.


"Aku nggak tahu, aku nggak sempet nganter Kakak ke kamarnya karena Mamah sama Papah buru-buru ngajak aku pulang," katanya dengan getaran lisan yang tak dapat ditutupi.


"Wah, kalian emang bener-bener keterlaluan, ya. Emangnya salah Kak Alea itu apa sampai-sampai dia dibuang gitu aja ke sini," sarkas Al benar-benar tak habis pikir dengan sikap mereka terhadap gadis baik hati itu.


"Eh, Adek berdua ini mau ke mana? Mau daftar?" tegur Teh Marni sopan disaat melihat keduanya hanya berdiri di depan asrama.


Al tersentak, segera menoleh dan tersenyum pada wanita paruh baya itu. Sementara Nola, lekas berpaling dan mengusap air matanya.


"Eh, maaf, Bu. Kami lagi nyari kamar Kakak kami," ucap Al mengambil alih bicara.


Teh Marni mengernyit, melongo ke belakang mereka mencari keberadaan orang tua.


"Orang tua kalian di mana?" tanya Teh Marni setelah tak mendapati siapapun lagi selain mereka berdua.


"Kita cuma berdua, Bu. Maaf, apa Ibu tahu kamar Kakak kita?" Al kembali menjawab apa adanya.


Nola terus terdiam mencoba menenangkan hati sebelum bertemu dengan Kakaknya.


"Seharusnya kalian datang sama orang tua. Jangan sendirian kayak gini, nggak baik. Apalagi saya lihat kalian dari jauh kayaknya," ucap Teh Marni tanpa menjawab pertanyaan Al.


Pemuda tanggung itu melirik Nola, tak ada apa pun yang dilakukannya selain diam dengan kepala tertunduk. Melihat gelagat keduanya yang tak menyahut, Teh Marni menghela napas.


"Ya udah, emangnya siapa nama Kakak kalian?" tanya Teh Marni merasa kasihan pada keduanya.


Al lekas menoleh, ada binar harapan timbul di wajahnya yang beriak cepat.


"Kak Alea, Bu. Kakak kami Kak Alea, bisa tidak Ibu antar kami ke kamarnya?" jawab Al dengan cepat.


Kerutan di dahi wanita itu terbentuk banyak, bukan karena bingung.


"Neng Alea?"


Al dan Nola sama-sama mengangguk, teringin cepat bertemu dengan sang Kakak. Binar-binar harapan bermunculan di sepasang manik mereka. Teh Marni lagi-lagi menghela napas, ia kira tak akan ada yang datang menjenguk gadis itu.


"Saya lihat tadi Neng Alea lagi kumpul sama teman-temannya, di gubuk sana. Coba aja ke sana, rasanya mereka masih ada," jawab Teh Marni menunjuk pada deretan gazebo di dekat lapangan sekolah.


"Oh, makasih, Bu. Kalo gitu kami permisi dulu," pamit Al seraya menarik tangan Nola setelah Teh Marni menganggukkan kepala.


Keduanya terus berjalan sambil memperhatikan setiap orang yang duduk di gubuk tersebut. Tepat, di gubuk ke lima Alea duduk bersama sekumpulan orang dewasa juga tiga remaja seusianya.


Mata dan hidung Nola memanas, melihat sang Kakak yang tersenyum, tapi terlihat menyedihkan. Tak terasa air mata jatuh, buru-buru ia menyekanya. Al, diam tak melakukan apapun. Membiarkan Nola mengatasi sendiri perasaannya.


"Apa dia baik-baik aja?" Al bergumam lirih.


Nola menggelengkan kepala, tahu bahwa Kakaknya sedang tidak baik-baik saja. Ia menggigit bibir kuat-kuat sampai rasa asin mengalir di permukaan lidahnya.


Gadis dengan lengkungan alis bak bulan sabit itu melangkah perlahan, mendekati sang Kakak yang belum sadar ada dirinya di sana.


"Kak!" panggilnya lirih dan bergetar.


Lagi-lagi air mata itu jatuh dari pelupuk dengan cepat disekanya. Alea menoleh, senyum yang diukirnya raib berganti mendung yang bergumul di wajahnya.


Ia mengatupkan bibir rapat-rapat, pandangannya sendu mendapati sang adik berdiri dengan mata basah. Rasa panas menjalar di sekitar wajahnya, sesuatu tiba-tiba dirasa menikam ulu hati. Ketiga teman Alea tercenung, mereka sudah bisa menebak yang berdiri di sana adalah adik dari temannya itu.


Sekilas saja wajah mereka memang serupa, hiruk-pikuk obrolan pun berhenti seketika. Semua orang membiarkan Kakak dan Adik itu bertemu, memberi mereka berdua ruang untuk berbicara dari hati ke hati.


"Ka-kakak!" panggil Nola lagi kali ini air matanya sukses jatuh membasahi pipi.


Alea membuang wajah menolak bertemu dengan sang adik, tapi sebagian kecil hatinya merasa senang melihat gadis kecil itu. Nola meremas tali ransel dengan kuat, menahan sebak di dada saat Alea justru membuang wajah darinya. Sakit. Itulah yang sedang dia rasakan.


"Le!" Firda mengusap-usap lengan Alea, memberikan kekuatan padanya untuk menyambut sang Adik.


"Itu ... Adik kamu, 'kan?" tanyanya hati-hati.


Alea tidak menyahut, terlintas dalam bayang saat orang tua itu memberinya kalung yang dia inginkan. Juga Dio yang datang membawa seikat bunga untuknya. Sakit.


"Dia jauh-jauh, lho, datang ke sini. Dari Jakarta, sendirian. Nggak sama orang tua kalian," bisiknya lagi menyadarkan Alea bahwa tak seharusnya ia bersikap demikian pada Nola.


Mendengar itu, Alea perlahan menoleh. Tatapannya bertemu dengan kedua manik Nola yang basah. Gadis kecil itu menggigit bibirnya yang terus berkedut ingin menangis.