Rasuk

Rasuk
Situasi Aneh



"Alea!"


Panggilan lirih itu membuat Alea mendongakkan kepala. Ia tertegun, tubuhnya membeku seolah-olah terpatri di lantai yang dia pijak. Seluruh tubuhnya memanas kedua mata pun ikut merasakan aliran hangatnya. Bibir Alea berkedut-kedut ingin menangis, tapi ia menahan dengan menggigit kuat-kuat bibir bawahnya.


"Sayang!"


Sebuah suara rayuan mendayu-dayu di telinga. Kedua tangan yang membentang di sana membuatnya tak bisa menahan diri.


"Kemari, sayang! Mamah dan Papah kangen sama kamu," ucap suara lirih itu lagi dengan matanya yang berkaca-kaca meyakinkan hati Alea untuk mendekat.


"Mamah, Papah!" lirih Alea seraya beranjak dari tempatnya berdiri.


"Alea! Kamu mau ke mana?" teriak Firda seraya mencegah Alea untuk pergi ke bangunan belakang tersebut.


Keadaan tiba-tiba berubah, seperti yang dia katakan sebelumnya bahwa bangunan itu adalah sebuah gudang tempat menyimpan barang-barang bekas dan rusak. Kini, dalam penglihatannya semua telah kembali seperti semula.


"Mamah!" Alea berjalan mendekat, air matanya jatuh menganak sungai.


Sebuah pelukan hangat yang ia rindukan selama bertahun-tahun lamanya kembali menyapa hati. Belaian lembut di rambutnya, membuat Alea hanyut. Kedua matanya terpejam, menikmati setiap kehangatan dan rasa damai yang mengalir dalam aliran darahnya.


"Maafkan Mamah, sayang. Maafkan Papah juga. Kamu mau memaafkan kami, 'kan?" Siska melepas pelukan, membelai rambut sebahu Alea sambil menatapnya dengan sendu.


Alea menganggukkan kepala, terlalu senang hingga lidahnya kelu tak dapat berucap sepatah kata pun.


Sementara di luar pagar, Firda dan kedua temannya yang lain tak henti memanggil-manggil Alea. Firda berlari mendekati pintu pagar tersebut berniat mengambil Alea, tapi secara tiba-tiba pintu itu tertutup dan terkunci dengan sendirinya.


"Astaghfirullah!" pekik Firda tanpa sadar.


Ia memegangi gembok tersebut dan meremasnya. Kedua mata membelalak tak percaya, dadanya bergemuruh hebat melihat keanehan yang terjadi. Alea terkurung di dalam area bangunan tak terpakai itu.


"Lea! Sadar, Le! Kamu mau ke mana?" teriak Firda dibarengi Sofi dan Lina yang juga mulai panik.


Alea mematung di tengah tempat tersebut, keadaan secara berangsur-angsur mulai menggelap. Tak ada penerangan, kecuali dari cahaya rembulan yang remang-remang mengintip dari balik awan.


Di tengah kepanikan mereka, bu Ningsih tiba-tiba muncul bersama dua orang yang selalu setia mengekor di belakangnya.


"Ada apa?" tanyanya pada ketiga teman Alea.


Sontak mereka menoleh dan seolah-olah mendapatkan harapan untuk Alea akan segera sadarkan diri. Hanya saja ada keanehan yang jelas terlihat pada diri bu Ningsih, beliau mengenakan kebaya merah dengan sebuah selendang tersampir di lehernya. Itu tidak terlihat seperti kepala asmara mereka, tapi mereka tidak peduli.


"Bu, Alea di dalam sana. Kami gak bisa masuk karena pintunya tiba-tiba terkunci. Gimana ini, Bu? Dipanggil-panggil Alea gak denger sama sekali," adu Firda dengan segera pada wanita setengah abad lebih itu.


Kening bu Ningsih yang masih nampak kencang itu mengkerut, kedua alisnya hampir bertaut satu sama lain. Pandang matanya begitu lekat menghujam manik lebar Firda yang jelas-jelas penuh kecemasan.


"Kamu yakin Lea di sana? Ibu lihat dia tadi ada di depan asrama, lagian udah mau malam gini kenapa kalian masih di luar?" ucap bu Ningsih dengan tenang.


Firda tertegun, riak di wajahnya menegang. Kedua bibir berkedut ingin menolak apa yang baru saja dikatakan bu Ningsih. Refleks kepalanya menggeleng, menolak pernyataan itu.


"Gak, Bu. Lea sama kita di sini, tadi kita mau ke kelas menari karena katanya ada guru baru dan semua murid wajib ikut," gumam Lina melangkah ke depan dan berhenti di samping Firda.


"Emang kalian gak lihat langit, udah mau gelap kaya gini. Gak baik berkeliaran di waktu senja kaya gini, ayo kembali ke asrama kalian. Alea sendirian di sana," ucap bu Ningsih semakin membuat akal mereka tak berguna.


"Tapi Alea-"


Eh?


Ucapan Sofi menggantung bersamaan dengan tangannya yang mengudara menunjuk pada posisi Alea berdiri. Ia tertegun saat menyadari lembayung senja memayungi bumi. Tak hanya Sofi, Firda dan Lina pun ikut merasakan keanehan yang mereka alami. Seketika saja bulu kuduk mereka meremang, tubuh mereka bergidig ngeri. Jika bukan Alea, siapa yang bersama mereka tadi?


Ketiganya hampir menangis, membayangkan kejanggalan saat melintasi lorong dan perkataan Alea tentang seseorang yang mengikuti mereka, hal itu membuat seluruh sendi dalam tubuh mereka melemas.


"Udah, tunggu apa lagi? Di sini gak ada orang, sepi. Cuma kalian aja yang ada," ucap wanita berkebaya merah itu lagi sambil mengulas senyum di bibirnya yang semerah batu delima.


"I-iya, Bu."


Tanpa menunggu lebih lama, ketiganya mengambil langkah seribu berlarian di dalam koridor sekolah yang remang-remang.


Lina terjatuh secara tiba-tiba.


"Argh! Firda, Sofi, tolong aku!" jerit Lina gemetar. Ia menangis histeris tatkala mencoba untuk berlari lagi, tapi tak dapat menggerakkan kakinya sama sekali.


"Firda! Jangan tinggalin aku!" Lina kembali menjerit sambil terus menggerakkan kakinya untuk berlari.


"Astaghfirullah!" pekik Firda seraya berbalik dan mendapati Lina yang tak dapat bergerak.


Derai air mata membanjiri wajah pucat Lina, gegas Firda menarik tangan Sofi untuk kembali ke lorong. Keduanya memegangi tangan Lina dan menariknya bersama-sama.


"Allahuakbar!"


Kaki Lina terlepas dari sesuatu yang menjeratnya.


"Ayo, cepat!"


Terburu-buru memacu kedua kaki untuk segera keluar dari lorong tersebut. Napas mereka tersengal hampir habis, tapi kaki tak dapat berhenti begitu saja. Tiba di depan asrama, barulah mereka menghentikan laju lari, membungkuk sambil menarik napas pendek-pendek untuk mengisi paru-paru mereka yang kekeringan.


"Lho, kalian kenapa masih di luar?"


Sebuah teguran dari suara yang tak asing di telinga mereka, sontak membuat mata mereka membelalak.


"Bu Ningsih!" pekik ketiganya secara bersamaan.


Sosok wanita berkebaya itu menatap bingung mereka, ia hanya sendirian dan warna kebaya yang dikenakan pun berbeda. Saat ini, wanita yang berdiri di depan mereka mengenakan kebaya berwarna hijau dan dia sendirian. Tidak mungkin dia berganti pakaian secepat itu, bukan?


Ketiganya meneguk saliva, rasa ngeri meliputi hati mereka. Bu Ningsih nampak bingung.


"Kenapa ka-"


"Hei, Firda, Sofi, Lina, kenapa kalian tinggalin aku?"


Suara bu Ningsih tercekat saat sebuah teriakan cukup nyaring terdengar di kejauhan.


"Alea!"


Gadis itu baru saja muncul dari jalanan sekolah sambil melambai-lambaikan tangan, dia berlari dengan napas tersengal.


"Kalian ninggalin Alea?" bentak bu Ningsih dengan kedua matanya yang melotot lebar.


Serasa berada di film horror, ketiganya menahan napas tak percaya. Situasi yang mereka alami benar-benar tidak masuk akal. Alea di sana berlari sendirian, tapi katanya dia di kamar menunggu mereka. Situasi macam apa yang sedang mereka alami saat ini?


"I-itu ... bu-bukan begitu, Bu. Tadi Ibu bilang Lea ada di kamar," ucap Lina terbata. Meskipun takut, tapi ia ingin memastikan bahwa yang tadi itu benar-benar bu Ningsih.


"Jangan konyol! Ibu baru aja keluar rumah karena mau mengambil ponsel Ibu yang ketinggalan, terus Ibu lihat kalian di sini. Jangan bohongi Ibu!" sentak bu Ningsih serius.


Lina termangu, dalam hati ketiganya bertanya siapa yang mereka jumpai di depan bangunan gudang itu?


"Kenapa kalian tinggalin aku?" Alea datang dengan napas hampir habis. Peluh membanjiri wajahnya yang terlihat memucat. Ia ambruk di lantai, kedua kakinya lemas tak dapat berdiri.


"Kalian tahu gak, tadi aku diikutin perempuan pake kebaya merah. Aku panggil-panggil kalian gak denger malah ninggalin aku," keluh Alea terputus-putus karena napasnya yang belum normal.


"Kebaya merah?" Bu Ningsih berjengit.


"Iya, Bu."


Tubuh ketiga teman Alea kembali meremang, mungkin saja itu adalah wanita yang tadi menyerupai bu Ningsih.


"Udah, cepat masuk ke asrama. Ini udah gak baik," titah bu Ningsih yang tanpa dibantah mereka tunaikan.


Benar-benar membingungkan.