
"Pohon beringin?!" seru semua orang secara serentak.
Berpasang-pasang mata itu melotot kaget pada sepasang manik coklat milik Regi. Remaja itu meneguk saliva, seolah-olah sedang dihakimi karena sebuah kesalahan.
Grasak-grusuk.
Mereka semua ikut duduk mengelilingi. Alea bergeser sedikit menjauh dan bergabung dengan teman-temannya.
"Maksud kamu pohon beringin depan asrama?" tanya Firda memastikan.
"Iya, di sana," jawab Regi meski lemas.
"Ngapain Alea di sana? Orang dia sama kita, kok, baru aja pulang dari minimarket," sungut Sofi sambil mengangkat kantong plastik belanjaannya.
Regi melirik, ia pun terlihat bingung. Apa yang dialaminya serasa nyata, bekas darah di mulut adalah bukti bahwa dia tidak sedang mengarang cerita.
"Aku lihat Alea diikat akar beringin, aku mau coba nyelamatin, tapi kayak ada tembok tembus pandang yang halangin. Aku nggak tahu pokoknya kayak gitu, entah mimpi atau bukan?" ucap Regi menundukkan wajah tak ingin lagi terkenang dengan kejadian tadi.
"Tapi kalau itu cuma mimpi, kenapa kamu bangun terus muntah darah coba?" sambar Anto yang dibenarkan Adit dan Jaka.
"Aku nggak tahu, waktu itu ada makhluk apa aku nggak bisa lihat. Dia kayak nendang dada aku sampe nabrak pohon beringin, tapi tiba-tiba aja aku bangun di gudang. Aneh," ucap Regi sambil menggelengkan kepala.
"Jadi, darah itu beneran? Pantes aja muka kamu pucet, Gi." Sofi berkomentar.
Desas-desus pun menguar dari bibir semua orang, saling membicarakan keanehan sekaligus pengalaman yang baru mereka alami. Perihal hajatan, makanan enak yang dihidangkan, juga penari jaipong lincah yang mereka lihat.
"Penari jaipong? Pake baju merah? Selendang merah?" tanya Regi seakan-akan diingatkan kembali pada sosok wanita penari yang dilihatnya di bawah pohon ceri.
Mendengar itu ketiga temannya saling menatap bingung.
"Kok, kamu tahu? Bukannya kamu nggak ikut sama kita?" tanya Adit heran. Anto dan Jaka mengangguk kecil.
Regi menganga, tapi tak ada kata yang terucap. Tak akan mungkin dia katakan bertemu secara langsung dengannya.
"Ah, itu ... aku sempat lihat sebelum pergi ke pohon beringin," katanya sambil meringis.
"Pohon beringin lagi? Ngapain?" Lina bertanya.
"'Kan, tadi aku bilang lihat Alea diikat di sana. Dia minta tolong," sahut Regi lagi.
Alea tercenung, mengingat kembali disaat ia terbangun di bawah pohon beringin itu.
"Tunggu, aku kayak keingetan sesuatu, deh," gumam Alea sembari tertunduk mengingat-ingat sebuah peristiwa.
Sontak mereka semua menoleh ke arahnya, menatap penasaran apa yang diingat gadis itu.
"Inget apa, Le?" tanya Regi penasaran. Berangsur keadaannya semakin membaik, wajah pucatnya kembali normal dan segar.
Alea menatapnya sekilas, kemudian beralih pada Firda yang tertegun menunggunya berbicara.
"Kamu inget nggak waktu aku masuk kamar subuh-subuh?" tanya Alea pada temannya itu.
Firda merenung, matanya bergulir ke kiri mencari-cari ingatan tersebut. Ia ternganga saat mengingat kejadian hilangnya Alea dari tempat tidur dan datang tiba-tiba sambil membanting pintu.
"Oh, waktu baju tidur kamu banyak tanahnya itu, ya?" katanya. Alea mengangguk, "emangnya kenapa?" lanjut Firda lagi bertanya.
Alea menarik napas dalam-dalam, melepasnya secara perlahan. Ingatan yang membawanya pada sebuah peristiwa membingungkan.
"Waktu itu ...."
Flashback on.
Alea membuka mata perlahan, di ambang pintu itu berdiri dua sosok yang amat dikenalnya. Melambaikan tangan sambil tersenyum ramah. Pandangan kedua orang itu penuh cinta, hanya tertuju padanya.
"Mamah! Papah!"
Alea bergumam, keduanya mengangguk pelan. Terasa aneh, tapi membuatnya senang bukan kepalang. Kedua orang tua itu tak pernah tersenyum meskipun sebuah prestasi ia raih. Alea mengedarkan pandangan menatap semua temannya yang terlelap.
Ia menyibak selimut perlahan bangkit dan turun dari ranjang. Membenarkan selimut Firda sebelum berbalik berhadapan dengan kedua sosok yang masih berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Sayang, maafkan Mamah dan Papah. Ayo, ikut Mamah dan Papah!" ajak keduanya sembari membentang tangan hendak memeluk.
Alea tersenyum haru, perlahan melangkah menyambut uluran tangan keduanya. Melangkah keluar kamar sambil menatap mereka berdua yang mengapit dirinya. Terus berjalan tanpa tahu akan ke mana.
"Kita mau ke mana, Mah, Pah?" tanya Alea tak lekang senyum dari bibirnya.
Sebuah sapuan lembut ia rasakan di rambutnya, sentuhan hangat yang tak pernah ia terima hampir seumur hidupnya. Ia memejamkan mata seraya mengeratkan rangkulan tangannya pada kedua lengan mereka.
"Kita pulang, sayang. Kita kumpul sama-sama kayak dulu lagi," sahut sang Mamah lembut mengalun.
"Beneran?"
Keduanya mengangguk saat Alea bertanya memastikan. Ia bersorak senang. Langkah mereka terhenti di depan sebuah bangunan. Rumah yang ia rindukan sewaktu dulu hingga kini masih berdiri kokoh di depan matanya.
Jatuh air mata Alea tanpa sadar, ia benar-benar merindukan suasana saat dulu. Saat-saat di mana kedua orang tua itu menyayanginya, mengasihinya, dan memperlakukannya dengan penuh cinta. Tak ada amarah, tak ada bentakan kasar, tak ada kebencian.
"Aku pulang? Aku pulang ke rumah?" lirihnya seraya melangkahkan kaki memasuki gerbang rumah.
Sejuk udara dari pohon cemara yang tumbuh di halaman rumah menyambutnya, harum segar bunga-bunga yang tumbuh dan bermekaran berjejer di kanan dan kiri memanjakan mata saat memandang. Ia tersenyum, detik berikutnya sebuah jari mendarat di pipinya. Menghapus jejak air mata yang jatuh dengan lembut, Alea menoleh disambut sebuah senyum hangat penuh cinta.
Kakinya melintasi pintu rumah dengan segenap perasaan rindu yang menyeruak. Terobati sudah, segala rasa dalam hati mulai menghangat. Kebencian dan dendam sirna seketika saja.
Siska membawa Alea ke ruang makan, makanan kesukaannya telah terhidang di atas meja. Ia tersenyum sumringah sebelum mendaratkan bokong di atas kursi kayu jati yang ditarik Ayahnya.
Kedua orang tua itu bahkan melayani Alea selayaknya seorang putri raja yang manja. Siska dan Prasetyo bergantian menyuapi anak gadis mereka makan. Inilah yang dirindukan Alea dari sosok kedua orang tua tanpa sadar itu semua hanyalah sebuah fatamorgana.
"Udah kenyang, Mah, Pah," ucap Alea setelah menerima suapan terakhir dari sang Mamah.
Prasetyo memberikan Alea segelas air yang segera ditenggaknya. Ia memeluk kedua orang tua itu dengan senang.
"Sebaiknya kamu istirahat, ini udah waktunya tidur siang," ucap sang Mamah sembari membelai rambut sebahu Alea.
Gadis itu mengangguk manja seraya berucap, "Bisa nggak Mamah dan Papah temenin aku tidur? Udah lama banget aku nggak tidur sama Mamah dan Papah." Ia menatap mereka bergantian.
"Tentu, sayang. Ayo!"
Siska beranjak seraya menggenggam jemari Alea bersama Prasetyo. Langkah kaki gadis itu mengayun ringan, menggerakkan genggaman tangannya ke depan dan ke belakang dengan riang gembira.
Keduanya merebahkan Alea di atas ranjang bahkan gadis itu dibiarkan memeluk pinggang Siska. Ia terpejam sambil mengukir senyum, kebahagiaan membuncah dari hatinya. Tidur dalam pelukan orang tua selalu memberikan rasa hangat dan tak ingin terbangun dari mimpi indah itu.
Flashback off.
"Tapi pas bangun, aku ada di bawah pohon beringin. Dibangunin Pak Selamet waktu itu, aku juga bingung. Benar-benar bingung, tapi aku nganggepnya cuma mimpi aja waktu itu karena kata Pak Selamet kemungkinan aku berjalan sambil tidur. Mungkin saking rindunya pada mereka dan ... yah, begitulah ...." pungkas Alea tanpa dapat memberitahu keadaan yang sebenarnya.
Ia terisak, hanya seperti itu saja mereka mengerti apa yang telah terjadi pada hidup Alea.
"Yang sabar, Le!" Firda mengusap-usap punggung gadis itu. Menyalurkan kekuatan juga kesabaran pada hati rapuhnya. Berselang, sebuah pelukan ia dapatkan dari ketiga temannya.
"Apa mungkin berkaitan dengan apa yang aku alami?"