Rasuk

Rasuk
Selamat Datang Di Gantarawang



Mamah, Papah?


Alea termangu, senyum yang terbit di bibirnya pudar secara berangsur. Gelak tawa terbawa tiga teman dan satu remaja menggemaskan, raib entah ke mana. Di sana, di lapangan tepat di depan gubuk mereka duduk, dua sosok orang tua dan satu anak gadis remaja sedang berbincang sambil menikmati secangkir teh di depan masing-masing yang masih mengepulkan asap.


Celotehan juga tawa dari orang-orang yang duduk bersamanya, sama sekali tak tertangkap indera pendengaran. Dunia seolah-olah menjadi sepi, hanya ada dirinya juga tiga orang yang duduk di sebuah meja bundar tempat favorit mereka menghabiskan waktu senja hari.


Hatinya merasa tercabik, senyum mereka begitu akrab dan hangat. Tak sama seperti senyum terhadap dirinya. Siska mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah muda, ia berikan benda tersebut kepada Nola dengan senyum penuh cinta.


Alea tahu apa itu, tapi ia tak dapat memalingkan wajah darinya. Nola menerima hadiahnya dengan riang gembira, ia bahkan tak segan membukanya di depan mereka. Sebuah kalung berbandul berlian kecil merah muda sukses membuat Nola berbingkrak riang.


Namun, berbeda dengan Alea, air matanya jatuh dengan deras. Kalung itu, adalah kalung yang dia inginkan pada saat ulang tahun ke tujuh belas kemarin, tapi Siska dan Prasetyo menolak membelikannya dan sekarang justru Nola yang mendapatkan benda itu.


"Ini nggak adil! Ini semua nggak adil! Kalian cuma mentingin dia, kalian sama sekali nggak inget aku! Kalian jahat, kalian orang tua yang jahat!" lirih Alea, bibirnya berkedut ingin menangis kuat-kuat.


Air mata menganak sungai, tersedusedan seiring sebak merebak dalam dada. Alea melangkah perlahan, niat hati ingin menghampiri mereka. Namun, apalah daya, kedua kaki tiba-tiba terpaku di tempat kala seorang pemuda berparas tampan lagi jangkung datang dengan seikat bunga di tangan.


"Dio! Ngapain dia di sana?" gumam Alea, jantungnya bertalu tak karuan menunggu kejutan yang luar biasa menikam.


Air matanya kian deras mengalir, melihat laki-laki jangkung itu menyerahkan bunga di tangannya pada Nola. Lagi-lagi remaja itu berjingkrak senang bahkan tanpa segan memeluk kekasih kakaknya itu.


"Kalian ... kenapa?" Alea terisak.


Ia memegangi dadanya yang bergemuruh hebat, sesak terasa menghujam jantung. Sakit yang diberikan oleh mereka meremukkan harapan dalam dirinya. Alea benar-benar hancur, tak ada lagi keinginan untuk berkumpul bersama mereka.


Dunianya telah direnggut secara paksa, mati adalah obat paling mujarab untuk rasa sakit yang didera hatinya kini. Alea mengusap air mata, tapi tetap saja berjatuhan dan membuatnya semakin sakit. Ia gelengkan kepala berharap semua itu hanyalah ilusi.


Kenyatannya, tak satu pun dari mereka yang peduli. Ia telah dibuang, dicampakkan dari kehidupannya sendiri. Semakin lama guncangan di bahunya semakin kuat, isak tangisnya semakin pilu terdengar.


"Kalian jahat! Kalian semua jahat! Aku nggak terima kalian bahagia, aku mau kalian juga ikut merasa sakit sama kayak aku! Aku ... aku ...." Alea terjatuh di atas hamparan rumput hijau.


Jemarinya meremas rumput hingga beberapa helai ikut tercabut. Tanah lapangan itu mengisi penuh kuku panjangnya, meski sakit ia terus menahannya. Darah mulai rembes dari daging terpisah secara paksa dengan kuku.


Alea tidak peduli, rasa sakit itu tak sesakit yang dirasakan hatinya.


"Jika ada kehidupan yang lebih baik dari ini, aku ... aku nggak mau tinggal di sini. Aku nggak sudi hidup di dunia yang sama dengan mereka. Aku benci mereka!" raungnya sembari memukul-mukul tanah lapangan dengan kuat.


"AAAAHHHH!"


Kepalanya menengadah menantang langit yang bergemuruh, awan-awan putih berganti kelabu. Sama seperti hatinya yang hitam dipenuhi dendam dan kebencian.


"AKU BENCI MEREKA!"


Gelegar petir menyambar, kilat cahaya memenuhi seantero jagat. Raungan Alea mengguncang penghuni langit, rintik hujan turun seolah langit ikut menangis. Ia tak peduli, tetap duduk di sana bersama hatinya yang pilu.


"AKU NGGAK SUDI MEREKA BAHAGIA! AKU MAU MEREKA SEMUA MENDERITA!" teriaknya lagi dengan kuat.


Alea kembali tertunduk air mata dan keringat berbaur bersama air yang turun dari langit. Guntur saling menyambar bersahutan, hujan semakin deras mengguyur bumi. Tangisnya tak kunjung reda, ia menjerit-jerit di dalam hujan. Tak peduli siapa saja akan mendengar.


Tak lama dua buah tangan asing ia rasakan mendarat di kedua bahunya. Alea menengadah, melirik bergantian dua sosok yang sebelumnya tak pernah ia lihat.


"To-tolong! To-long aku! Kumohon!" ucap Alea bersimpuh di kaki salah satu dari mereka.


Sapuan lembut menyentuh kepalanya, sebuah rasa hangat yang begitu ia inginkan untuk saat ini.


"Ikutlah sama kami, kamu pasti bahagia. Ayo, bentar lagi di kampung kami akan ada pesta. Ada banyak hajatan, makanan enak, juga pakaian bagus. Ada mahkota Puteri juga yang bisa kamu pake," ajak orang itu seraya berjongkok di hadapan Alea.


Dia tersenyum misterius, sentuhan tangannya terasa dingin saat menyentuh kulit Alea. Gadis itu tertegun, menatap dalam-dalam manik berkabut milik wanita di depannya. Tak ada kebohongan, dia mengangguk sekali lagi.


Alea memegangi kedua tangan itu seraya berdiri tanpa berucap. Air mata surut dengan sendirinya, kaki mulai melangkah mengikuti jejak wanita itu. Ke mana mereka akan membawa Alea? Yang pasti, mereka akan membebaskan gadis itu dari rasa sakit yang mendera hatinya.


Jiwa yang rapuh kehilangan pegangan. Harapan yang menghidupkan hati, tak lagi dirasakan. Hanya ada hampa dan kekosongan yang mengisinya, sepi dan sunyi tiada bahagia. Hanya satu pohon yang terus tumbuh dengan subur, pohon dendam kian rindang di hatinya.


"Kita mau ke mana?" tanya Alea lirih.


"Sebentar lagi kamu akan tahu," jawabnya misterius.


Ketiganya terus berjalan meninggalkan tempat semula. Suara tabuh-tabuhan gendang juga kidung sinden yang melengking tinggi, mengisi ruang kosong di telinganya. Sebuah pintu gerbang terbuat dari pahatan kayu dengan ukiran aneh berdiri tegak di hadapannya kini.


Laksana sebuah perkampungan di film-film kolosal, semua yang ada di hadapan matanya kini tampak kembali ke masa lalu. Pakaian mereka, gaya rambut wanita yang disanggul, kemben dan jarik yang menutupi tubuh mereka, khas peradaban sebelum era modern.


"Di mana ini?" tanya Alea bingung.


Namun, sebelum dijawab, seorang wanita sepuh yang masih tampak segar meski keriput menghiasi wajah ayunya muncul dari dalam gerbang. Garis bibirnya terbentuk teduh lagi hangat, seketika saja membuat hati Alea ikut menghangat.


Gadis itu masih terlihat bingung, ia tidak tahu sekarang ada di mana. Suasana dan keadaan manusianya sangatlah berbeda dengan tempat di mana dia tinggal. Ada banyak janur yang terpasang, sepertinya akan ada pesta di kampung tersebut.


Dua orang yang membawanya tadi menundukkan kepala, pegangan mereka di tangan Alea terlepas. Keduanya melangkah mundur dan berdiri di belakang gadis itu. Alea melirik keduanya, terasa aneh dan bingung, tapi ia tidak terlalu mempedulikan semua itu.


"Selamat datang di kampung Gantarawang, anakku!"