
"Le!"
Firda memanggil-manggil Alea sembari mengetuk pintu kamar mandi. Ketiganya menyusul gadis itu karena sudah terlalu lama di dalam sana. Setelah berkali-kali mengetuk masih tak ada sahutan dari dalam.
"Gimana ini? Apa kita minta tolong aja buat dobrak pintunya?" ucap Lina. Wajah gadis itu berkerut panik, memikirkan Alea yang sendirian di dalam kamar mandi dengan pintu yang terkunci.
"Lagian Lea kenapa lama banget, sih, di kamar mandi? Ngapain aja coba?" sungut Sofi tak kalah gelisah dengan kedua temannya.
Firda kembali mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil-manggil nama Alea. Dalam hati masih berharap temannya akan keluar dalam keadaan baik-baik saja.
"Lea! Kamu ngapain di dalam? Kenapa lama banget? Keluar, yuk!" Seru Firda menaikkan suaranya lebih tinggi.
Sret-sret!
Bunyi seseorang merobek kain terdengar dari dalam, ketiga gadis itu saling menatap dengan mata mereka yang menjegil lebar. Ramai-ramai mendekatkan telinga pada daun pintu, mendengarkannya dengan saksama suara-suara itu.
Tiba-tiba pintu terbuka.
"Argh!"
Ketiga orang itu jatuh tersungkur di lantai dalam kamar mandi. Alea yang terkejut mundur beberapa langkah, menatap bingung ketiga temannya itu.
"Kalian ngapain?" tanya Alea. Bola matanya berputar pada ketiga gadis di lantai sambil menunggu mereka beranjak.
Mereka mendongak, tersenyum malu seraya berdiri dengan pelan.
"Eh, Lea. Kenapa gak bilang-bilang kalau mau buka pintu? 'Kan, kita bisa mundur dulu tadi," sungut Lina sambil membenarkan pakaiannya yang berantakan.
"Lagian kamu lama banget, sih, di kamar mandi? Emangnya ngapain aja?" Sofi menimpali tak kalah cemberut.
"Kamu gak apa-apa, 'kan, Le?" sambar Firda setelah membenarkan kerudungnya yang hampir terbuka.
Alea menaikkan salah satu alisnya sambil melirik mereka bertiga sebelum tawa geli pecah darinya. Tawa yang tak pernah mereka lihat sebelumnya, tawa yang tak pernah mereka dengar sebelumnya. Hal itu membuat mereka bergidik tanpa sadar.
"L-Lea?" Firda memanggil takut-takut.
Alea menghentikan tawa, menjatuhkan pandangan pada ketiga teman yang kini terlihat tegang dan ketakutan. Sofi dan Lina bahkan berkali-kali meneguk saliva, menatap Alea dengan pandangan membesar.
"Kenapa kalian jadi kaya takut gitu, sih? Aku gak apa-apa, kok. Nih, lihat!" Alea menunjukkan seluruh tubuhnya yang masih utuh.
Pakaian yang dikenakannya bahkan terlihat bersih dan baik-baik saja. Ketiganya menghela napas lega setelah memindai tampilan teman mereka itu.
"Ya udah, ayo! Katanya bentar lagi mau mulai, nanti terlambat lagi," ajak Alea sembari mendorong ketiganya dari belakang.
Menyusuri lorong sekolah yang nampak sepi, keempatnya merasa sedikit aneh. Biasanya suasana tak akan sesepi itu, tapi perasaan mereka mengatakan hal lain.
"Lea!"
Firda menarik tangan Alea, mengajaknya untuk berjalan berdampingan diapit Sofi dan Lina. Dalam hati tak henti melantunkan bacaan doa-doa meminta perlindungan kepada Allah untuk menghindarkan mereka dari segala yang tak ingin mereka jumpa.
"Alea!"
Alea menghentikan langkah, sontak ketiga temannya juga ikut berhenti. Menatap bingung padanya yang tiba-tiba termangu.
"Kenapa, Le?" tanya Firda sambil menelisik riak wajah temannya itu.
"Ada yang manggil aku," jawab Alea sambil berbisik.
"Jangan!" sergah Firda disaat kepala mereka hampir menoleh ke belakang, "jangan lihat ke belakang, kita terus aja jalan jangan dengerin suaranya," lanjut Firda seraya menarik tangan Alea untuk kembali melangkah.
"Kamu jangan nakut-nakutin, Fir. Aku jadi merinding," gumam Lina sembari mengedarkan mata ke langit-langit lorong sekolah.
Firda tidak menyahut, melainkan mempercepat langkah begitu ujung lorong terlihat. Cahaya matahari menyambut kedatangan mereka, helaan napas lega terhembus dari mulutnya.
"Kamu kenapa, sih, Fir? Kok, sampe lari-lari kaya tadi? Capek tahu gak?" tanya Sofi dengan napas tersengal.
"Ada yang liatin kita, tapi aku gak tahu siapa? Gak berani nengok," jawab Firda sambil menatap sekeliling seolah-olah memastikan keberadaan mereka saat ini.
"Kamu juga liat? Aku liat soalnya dia ngikutin kita, tapi gak berani keluar dari lorong," sambar Alea sembari menunjuk lorong yang baru saja mereka lintasi.
Ketiga gadis itu menatap ngeri lorong sekolah, berdiri mematung karena keadaan yang sepi. Benar-benar hanya ada mereka berempat, ke mana perginya murid yang lain?
"Kenapa jadi sepi banget?"
"Gak biasanya."
Gumaman kecil terlontar dari bibir Firda, Lina, dan Sofi kecuali Alea yang hanya diam tak memperhatikan sekitar.
"Anak-anak!"
"Argh!"
Keempat gadis itu refleks menjerit disaat suara seorang guru tiba-tiba terdengar. Mereka terlonjak sambil berbalik, beberapa detik menahan napas karena kondisi jantung yang berpacu tanpa berkompromi.
"Ibu? Murid yang lain ...?"
Eh?
Kalimat yang diucapkan Lina terputus saat suara riuh rendah siswa terdengar telinga mereka. Mata keempatnya seolah-olah terbuka dan dapat melihat semua murid hilir-mudik di lapangan.
"Ada apa? Kenapa kalian kelihatan tegang begitu?" Dahi guru wanita itu bergelombang, memandang bingung keempat murid yang baru saja datang.
"Gak ada apa-apa, Bu. Gak ada, Kok," sahut Firda kikuk.
"Ya udah, ayo masuk! Hari ini kita kedatangan seorang guru dari kelas menari, semua murid diminta ikut," ucap sang guru seraya berbalik dan berlalu lebih dulu.
"Tari? Guru baru?" gumam Firda bingung.
"Fir, perasaan tadi gak ada murid, deh. Kenapa sekarang mereka semua ada," celetuk Sofi.
Firda mengangkat bahu tak tahu. Mereka berjalan menuju kelas yang biasa dijadikan tempat latihan menari. Ada banyak murid hilir-mudik di depan ruang kelas, tapi mereka terlihat sibuk dengan dunia mereka sendiri. Keadaan yang lain dan tak biasa terjadi.
"Eh? Kalian mau ke mana?" tegur guru lain membuat langkah mereka terhenti.
Alea dan ketiga temannya menoleh, lalu mendekat ke depan guru yang menegur mereka.
"Tadi katanya ada kelas menari, Bu. Semua murid diminta ikut," jawab Sofi.
"Oh, kelasnya pindah ke belakang. Mereka semua udah di sana, gurunya udah datang. Udah cepat ke sana, kalian gak mau dihukum, 'kan?" ucap guru tersebut sembari menunjuk bangunan yang terletak di belakang kelas.
Firda meneguk saliva, sepengetahuannya bangunan itu adalah gudang yang telah lama tak terpakai. Banyak barang-barang bekas di dalam sana, tempat murid menyimpan peralatan sekolah yang telah rusak.
"Itu, 'kan, gudang, Bu. Kenapa pindah ke sana?" tanya Firda memastikan dia tidak salah mengingat.
Guru itu terlihat bingung, ia menatap lekat gadis yang bertanya tadi sebelum mendesah.
"Gudang ada di sebelah sana, coba kamu lihat ke sana. Mungkin kamu lupa saking banyak pikiran, ya?" guraunya sambil terkekeh.
Firda memutar kepala begitupun yang lainnya, benar saja. Di bagian belakang bangunan lain terdapat sebuah bangunan yang tak asing di mata Firda. Akan tetapi, Alea memiliki firasat lain. Ia sama sekali tidak melihat ada bangunan di sana hanya tembok pagar yang mengelilingi asrama saja yang ada.
Guru itu pergi setelah menunjukkan keberadaan tempat tersebut. Keempatnya pun melangkah ke arah tempat latihan.
"Alea! Jangan pergi!"
Suara bisikan mengusik telinga gadis itu, langka Alea terjeda, tapi tidak dengan ketiga temannya.
"Jangan pergi!"
Suara itu terdengar lagi, entah dari mana datangnya. Ia mendongak, ketiga temannya telah menjauh dan hampir tiba di bangunan tersebut.
"Firda! Sofi! Lina! Tunggu!" panggil Alea seraya berlari menghampiri ketiganya.
"Tunggu!"
Tangannya dengan cepat menarik tubuh mereka, ia menggeleng ketika mereka menatapnya.
"Jangan pergi ke sana!"
"Kenapa?" Sofi bertanya bingung.
"Pokoknya jangan. Kita balik aja ke kamar, yuk!" Alea menegaskan.
Deg!
Alea termangu saat melihat dua sosok yang tak asing di matanya.