
"Mau ke mana kalian?"
Laju lari Regi dan teman-teman sontak berhenti, tubuh mereka menegang. Peluh pun mulai merembes, berjatuhan membasahi kaos olahraga mereka.
"Keliatannya kalian lagi buru-buru, ya?" ucap suara itu lagi terdengar lebih ramah dari sebelumnya.
Regi dan teman-temannya menoleh, membentuk senyum canggung lagi segan saat wanita berkebaya itu datang mendekat.
"Bu Ningsih! Ada apa? Apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Jaka teman Regi yang polos dan selalu merasa tak enak hati.
Bu Ningsih tersenyum lebih lebar seolah-olah ada angin segar yang menyentuh Padang tandus.
"Kebetulan Ibu emang lagi butuh bantuan. Kalian bisa, 'kan, tolongin Ibu?" ujar Bu Ningsih menatap penuh harap.
Regi merapatkan bibir menahan kesal, sebagian meringis, dan ada pula yang tetap tersenyum meski canggung.
"Bi-bisa, Bu," jawab Jaka lagi tanpa tahu dalam hati Regi dan yang lainnya tengah menahan geram.
"Bagus kalo begitu. Ayo, ikut Ibu!" ajaknya seraya berbalik hendak pergi.
"Cuma Jaka aja, Bu?" Adit memastikan.
"Kalian semua!" Suara Bu Ningsih kembali tak ramah, terlebih saat ia melirik ke samping dengan tajam. Tak ada senyum yang biasa diperlihatkannya setiap bertemu dengan siswa.
Helaan napas panjang terdengar, dengan langkah gontai mereka mengekor di belakang Bu Ningsih.
"Kamu, sih, Jak. Nggak jadi, 'kan, kita perginya," sungut Adit sambil menyenggol bahu Jaka.
Remaja berparas tanah Pasundan itu menggaruk kepala tak enak, wajahnya meringis sedih karena mereka tak jadi pergi.
"Abis gimana, aku nggak enak ama Ibu," katanya memberengut sedih.
"Udahlah, mungkin belum waktunya. Lagian bantu Ibu juga nggak ada salahnya, 'kan?" tutur Regi menengahi.
Tak ada lagi yang berbicara, mereka menguntit langkah Bu Ningsih menuju lorong sekolah. Terus saja berjalan hingga tiba di paling ujung. Bu Ningsih bediri di depan pagar yang menjadi pintu gudang. Bangunan yang sangat jarang didatangi murid kecuali untuk menyimpan barang-barang rusak.
"Kenapa kita ke sini, Bu?" tanya Anto bingung.
Wanita setengah abad dengan gayanya yang seperti ningrat itu mengulas senyum ramah seperti biasa. Ia menautkan kedua tangan di perut, kepalanya melirik ke arah gudang. Rasa tak nyaman berdesir dalam diri mereka. Prasangka pun datang tanpa diminta.
"Yah, Ibu minta kalian buat bersihin gudang di sini. Ibu kehilangan cincin di dalam sana. Kalian tahu cincin Ibu, 'kan? Yang bentuknya bunga melati itu?" ungkap Bu Ningsih menatap satu per satu manik murid laki-laki tersebut.
Semuanya melirik persis pada tangan Bu Ningsih, di mana di salah satu jarinya memang selalu tersemat cincin berbentuk bunga melati kecil. Cincin yang antik, dan mungkin hanya Bu Ningsih yang memilikinya.
"Oh, ci-cincin yang itu, ya, Bu. I-iya kami tahu, Bu," sahut Jaka lagi-lagi tak enak.
Wanita itu mengangguk senang, sekali lagi ia meminta keempat anak itu untuk mencarinya di gudang sekalian saja dibersihkan. Jika ada yang masih layak, maka akan dikeluarkan dari gudang.
Dengan terpaksa mereka mengangguk dan lekas pergi ke tempat yang sama sekali tak ada dalam rencana liburan mereka. Bu Ningsih masih berdiri di sana, memperhatikan keempat anak yang berjalan saling senggal saling senggol sambil sesekali melirik ke belakang.
Pintu gudang yang tak pernah dibuka itu, terlihat sudah lapuk dan sudah seharusnya diganti. Regi mengucap basmalah sebelum membuka pintu tua berdaun dua tersebut. Debu-debu berterbangan menyambut kedatangan mereka. Regi menutup mulut sambil terbatuk-batuk, juga yang lainnya.
"Eh, tunggu!" sergahnya dikala Adit hendak menerobos masuk.
"Kenapa?" tanyanya heran.
"Ucapin salam dulu sebelum masuk," jawab Regi masih membentangkan tangan mencegah teman-temannya untuk masuk.
"Assalamualaikum! Udah, 'kan?" Anto menyahut cepat sambil memegang tangan Regi yang menghalangi jalannya.
Sebuah jawaban berikut desiran angin aneh menyerbu dari dalam gudang tersebut. Darah mereka berdesir hebat, saling menatap dengan takut. Ingin lari, tapi wanita itu masih berdiri di sana. Tersenyum di kejauhan mengawasi.
Tenggorokan mereka tercekat, seolah-olah saliva menjadi bulir keras dan tajam menusuk saat diteguk. Jaka bahkan berkeringat dan kakinya gemetar hebat.
"Kok, ada yang jawab perasaan nggak ada orang, deh," celetuk Adit sambil mengedarkan pandangan ke dalam gudang.
"Itu jin penunggu gudang ini, ngucapin salamnya itu bukan begitu, tapi assalaamu 'alainaa wa 'alaa 'ibaadillaahi-shoolihiin. Yok, masuk!" sahut Regi tanpa segan dan takut mulai melangkahkan kaki kanan memasuki gudang tersebut.
Diikuti yang lain dengan langkah takut-takut mengekor sambil berpegangan tangan. Tumpukan meja dan kursi, juga lemari yang dipenuhi buku usang lagi rusak, menjadi pemandangan yang tak dapat ditolak netra.
Di dalam sana pula sudah tersedia kemoceng, sapu dan pengki untuk mereka gunakan.
"Gimana nyarinya? Benda itu kecil, sedangkan di gudang ini banyak benda rusak. Duh, ada-ada aja, sih," gerutu Anto menatap malas tumpukan benda rusak yang hampir memenuhi gudang.
"Yah, cari aja dulu. Disapu-sapu kali aja ada," sambar Adit sembari meraih gagang sapu dan mulai menyapu.
Uhuk-uhuk!
"Pelan-pelan, dong! Udah tahu debu semua, nyapu kaya orang lagi putus cinta aja." Anto mengibas-ngibaskan tangan mengusir debu yang berterbangan di depan wajahnya.
"Iya, maaf. Nggak sengaja, lagian bukannya cepet-cepet kerja malah bengong aja." Adit terkekeh kecil sambil berpaling wajah.
Regi menggelengkan kepalanya, ia mengambil kemoceng, membersihkan debu yang menempel pada buku-buku di dalam lemari. Sekalian saja mana tahu ada yang menarik dan dapat mengantarkannya pada sebuah misteri nama asing yang mengganggu.
Bersih-bersih gudang pun dimulai, dua orang menyapu dan dua orang lagi membersihkan debu. Bahu-membahu mencari benda kecil yang entah ada atau tidak di tempat tersebut.
Brak!
Brugh!
"Eh, apa tuh? Woy!"
Anto berteriak karena terkejut, tubuhnya terlonjak dan hampir menabrak Adit yang berada di belakangnya. Jantung berdegup tak karuan, sedikit sesak dalam dada.
"Apaan?" Adit melongo ke depan tubuh Anto.
Sebuah kotak tiba-tiba terjatuh, isi di dalamnya berserakan. Bekas dekorasi sebuah pesta sekolah, tapi terlihat sudah lama sekali.
"Beresin lagi sono! Lagian kenapa bisa jatuh, sih? Kamu nggak hati-hati kali, ya," ucap Adit melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat tertunda.
Anto berjongkok dan memungut benda-benda berserakan tersebut dengan bingung. Satu per satu dia perhatikan sebelum memasukkannya ke dalam kotak kembali. Ada banyak pita bekas, dan beberapa pita terdapat sebuah noda merah seperti darah yang sudah mengering.
Anto menggosoknya menggunakan kuku, noda itu tak hilang, tapi sedikit berterbangan. Benar, itu noda darah yang menggumpal. Ia tak berpikir macam-macam, memasukkannya bersama pita lain dan membungkusnya kembali.
Kotak tersebut diletakkan di tempat semula seraya melanjutkan acara menyapunya. Setelah hampir satu jam lamanya mencari, mereka tak jua menemukan benda yang dimaksud Bu Ningsih. Bahkan sekarang, gudang tersebut sudah terlihat rapi dan bersih. Tetap saja cincin itu tak mereka temukan.
"Kita udah cari di mana-mana, tapi nggak ketemu juga. Gimana, dong?" Jaka melempar kemoceng di tangan. Ia bersandar pada dinding lelah.
"Yah, mau gimana lagi? Gudangnya juga udah bersih, tapi nggak ada cincin Ibu. Kita bilang aja," sahut Regi sembari menyimpan kemoceng di tempatnya semula.
Anak itu memang selalu sopan di mana pun berada, menjunjung tinggi adab dan etika yang berlaku di masyarakat. Ia mengajak semua temannya untuk keluar, melapor pada pemilik asrama bahwa mereka tak menemukan cincin tersebut.
Eh?
"Kok, udah gelap aja? Perasaan kita cuma satu jam di dalam gudang?"