Rasuk

Rasuk
Pembullyan



Alea terperangah tak percaya, ia berdiri sambil membentang kedua tangan yang dijatuhi sayuran. Dari kepalanya mengalir kuah sayur yang disiramkan berikut daun-daun sayur yang sebagian menyangkut di sela-sela rambut.


Brak!


Firda menggebrak meja cukup keras, berdiri dengan rahang yang mengetat melihat seorang murid yang tertawa setelah menyiramkan makanan ke kepala Alea.


"Kamu apa-apaan, sih? Kenapa kamu nyiram Alea pake sayur? Apa salah dia ke kamu, hah?" bentak Firda berapi-api.


Asri melingkarkan tangan di perut, melangkah angkuh mendekati Firda. Tersenyum miring dengan tatapan mengejek gadis berhijab di depannya itu.


"Kenapa? Kamu gak terima?" sengitnya dengan angkuh. Hampir tak ada jarak di antara mereka.


"Iya, aku gak terima. Dia gak salah apa-apa sama kamu, tiba-tiba kamu siram kepalanya pake sayur. Jelas aku gak terima!" sentak Firda tak kalah sengit.


"Mau kamu apa?" Asri mendorong tubuh Firda hingga termundur beberapa langkah.


"Eh, jangan dorong-dorong, dong!"


Sofi menarik tangan Asri menjauhkannya dari Firda. Gadis sedikit tomboi itu melangkah cepat, tapi Asri tak kalah cepat menjegal kakinya hingga ia jatuh tersungkur mencium lantai. Sofi menoleh, kedua matanya melotot lebar mengancam sosok angkuh yang tersenyum tipis mengejeknya.


Suara tawa menggema membuat geram ketiga sahabat itu. Lina datang membantunya untuk berdiri, tatapan mata mereka menyalang pada sosok primadona asrama tersebut.


"Kenapa kalian melotot? Mau aku cungkil mata jelek kalian itu, hah?" hardik Asri sembari menjulurkan dua jarinya seolah-olah hendak benar-benar menusuk mata mereka.


"Emang kamu pikir kamu siapa? Sok kecantikan, sok berkuasa, sok jadi tukang bully. Mau jadi apa kamu, hah? Mau jadi penjahat?!" bentak Sofi berapi-api.


Ia merangsek maju hendak menjambak rambut Asri, tapi gerakan Firda lebih cepat. Menarik tangan Sofi mencegahnya agar tidak melakukan tindak kekerasan.


Asri mencibir seraya mengejek, "Gak berani, 'kan, kalian? Dasar pecundang!"


Ia berbalik dan memerintah ketiga dayangnya untuk memblokir jalan mereka bertiga. Dibantu para murid yang menobatkan diri sebagai fans setia seorang Asri. Murid yang memiliki paras cantik juga kulit yang putih, dielu-elukan para murid laki-laki. Disanjung, dipuja dan dipuji sebagai ketua tim cheers berpasangan dengan Arya kapten tim basket di asrama putra.


"Jangan ganggu Lea! Asri, jangan sentuh Alea!" teriak Firda saat Asri mendekati Alea yang masih tercengang dengan kondisi tubuhnya.


Asri mendorong bahu Alea hingga terduduk kembali di kursinya. Berjalan memutar dan bersandar pada meja samping Alea duduk. Tak lupa melipat kedua tangannya di perut, melirik Alea yang tertunduk dengan air mata berjatuhan.


"Aku dengar kamu menggoda Arya. Kamu anak baru yang gak tahu diri, ya. kamu tahu siapa Arya? Dia pacar aku, awas aja kalau kamu berani menggodanya. Aku jamin hidup kamu di asrama gak bakalan tenang!" kecam Asri sambil mendorong kepala Alea menggunakan jari telunjuknya.


Gadis itu bergeming, dengan kepala tertunduk tak menyahut sepahat katapun.


"Asri, jauhin Alea! Jangan ganggu dia!" teriak Sofi sambil menggeliat melepaskan diri dari cekalan dayang si Asri.


"Berani kamu siram dia lagi, awas kamu Asri. Aku bakal buat perhitungan sama kamu!" ancam Firda tidak main-main.


"JANGAN GANGGU ALEA!" Jeritan panjang dari Lina membuat seisi ruang makan itu membeku.


Mereka terdiam beberapa saat lamanya, sebelum gelak tawa pecah membahana. Sebuah pemandangan yang menggelikan melihat Lina berteriak dengan wajahnya yang memerah bagai diperah.


Asri menghendikan bahu, salah satu tangannya memegang gelas berisi air teh hangat. Memainkannya di udara yang semakin lama semakin ia dekatkan pada kepada Alea. Suara teriakan ketiga temannya tak digubris gadis tersebut, Lina bahkan menangis histeris dengan air matanya yang bercucuran.


Sedikit lagi gelas itu dituangkan pada kepala Alea, tapi sebelum ia dapat melakukannya tangan Alea dengan cepat menyambar pergelangan tangan Asri. Sontak hal tersebut membuat semua orang tercengang. Alea meremas tangan itu hingga nampak gemetaran. Gelas yang dipegangnya terjatuh dan pecah.


Perlahan tubuh gadis itu berdiri, kepalanya yang tertunduk membuat rambut itu menghalangi wajah. Alea menggerakkan kepalanya, bunyi otot-otot kaku terdengar mengerikan. Tak lama, kepala itu menegak, dari sela-sela helai rambut yang menutupi, sebuah seringai jahat mencuat.


"Le-lepaskan aku! Dasar wanita penggoda!" umpat Asri sembari menggerakkan tangannya berharap akan terlepas dari cengkeraman Alea.


Berselang, tawa lepas Alea membahana memenuhi seisi ruang makan. Tawa yang mengerikan, membuat tubuh mereka menggigil ketakutan. Alea menggerakkan tangannya yang lain, jendela dan pintu tiba-tiba terkunci dengan sendirinya. Bersambut jerit ketakutan dari semua murid.


Ia kembali tertawa sembari mengalihkan cekalan tangannya pada leher gadis angkuh itu. Alea mengangkat tubuh Asri hingga melayang. Tawa yang digemakan gadis itu menerbangkan peralatan makan mereka. Piring-piring, sendok dan garpu juga gelas berikut kursi yang mereka duduki, beterbangan dan berputar-putar di langit-langit ruangan.


Jerit ketakutan semakin histeris dari semua murid yang ada termasuk ketiga dayang Asri yang ikut berkumpul bersama murid yang lainnya.


"Asri!" pekik mereka sambil menangis.


Alea mencekik leher gadis itu dengan sangat kuat, membuat wajahnya membiru karena tak ada pasokan udara. Kedua tangan Asri memukul-mukul tangan Alea berharap ia akan melepaskan cekikikannya, tapi dia sudah bukan lagi Alea. Sesosok jin merasuki jiwanya.


"Le-pas-kan a-a-ku! Aaakhh!"


Alea memiringkan kepala mendengar pekikan tertahan dari Asri. Bola matanya semerah darah, melotot lebar mengancam sosok dalam cekalan. Alea menyeringai, dalam pandangan Asri dua taring tajam mencuat ke permukaan.


"Ka-kamu bu-bukan ma-nu-sia!" ucapnya lagi terbata.


"Kamu juga sama! Hahahaha ...."


Suara Alea berubah, menjadi banyak dan serak. Seolah-olah ada ribuan manusia yang mengeluarkan suara secara bersamaan. Suara orang tua, laki-laki dan perempuan, juga suara anak-anak yang menguar dari mulutnya.


"Alea! Berhenti, Le! Itu bukan kamu! Kamu gak akan ngelakuin itu, Lea. Lawan! Jangan biarkan dia menguasai jiwa kamu!" teriak Firda usai mendapatkan kembali kesadarannya.


"Iya, Lea! Kamu kuat, Lea! Lawan!" Sofi ikut menimpali.


Mereka bertiga bersisian, menatap Alea yang masih berdiri sambil mencekik leher Asri.


"Hai, kamu jin yang ada di dalam tubuh teman kami, keluar dan tinggalkan tubuh itu! Keluar!" jerit Firda sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Alea.


Ia mulai membaca ayat kursi dengan lantang, tak ada yang berani mendekat selain mereka bertiga.


"Jangan menggangguku!" bentak Alea masih dengan suara yang mengerikan.


"Keluar! Kalian mahkluk lemah tidak dapat menguasai manusia!" balas Firda semakin lantang dan berani.


Ia melanjutkan membaca ayat demi ayat dari Al-Qur'an yang dia hafal. Perlahan mendekat, dan mencekal tangan Alea yang mencekik leher Asri. Sofi dan Lina sigap memegangi tangannya yang lain, bersama mereka membebaskan Alea dari cengkeraman para jin yang menguasai jiwanya.


"Kalian tidak akan bisa mengusir kami!"


Sebuah hantaman yang tak terlihat, memukul mundur ketiga teman Alea. Termasuk Asri yang lepas dari cengkeraman. Mereka menabrak meja dan bangku, juga dinding ruangan. Meringis merasakan sakit, sementara Alea tiba-tiba melayang tinggi sambil tertawa keras. Bumi yang mereka pijak seolah-olah berguncang, mencari pegangan ke mana saja.


Tepat saat itu, sebuah suara mengusik telinga Alea.


"Bangun, jangan biarkan mereka menguasai jiwa kita! Bangun, lawan mereka!"


"ARGH!"