Rasuk

Rasuk
Aneh



Malam yang terasa mencekam bagi sebagian murid, tapi tidak untuk yang lainnya. Lina yang baru saja menyelesaikan hajatnya di kamar mandi merasa aneh sendiri. Ia tak lagi mendengar suara Sofi dan suara-suara yang lainnya.


Hening yang ada, bahkan suara binatang malam pun tak terdengar meramaikan suasana sepi. Dahinya bergelombang, bola mata berputar-putar mencari tahu keadaan. Kepala perlahan bergerak mendekati pintu, memasang telinga tajam-tajam.


Tap-tap-tap!


Suara langkah pelan menggema dalam sepi, kening Lina semakin menyempit. Itu tak terdengar seperti suara langkah Sofi yang cepat.


Brak!


Dia tersentak segera membalik badan saat gayung yang diletakkannya di bibir bak mandi terjatuh begitu saja. Wajahnya mendongak menatap langit-langit kamar mandi yang nampak normal. Tak ada apapun di sana, tak ada angin ataupun binatang jatuh, tapi kenapa gayung itu bisa berada di lantai.


Sret-sret!


Suara gesekan kain berasal dari bak mandi membuatnya waspada. Lina semakin menempelkan tubuhnya pada pintu, tangan meraba-raba papan kayu itu mencari gagang untuk membuka tanpa mengalihkan pandangan dari bak mandi yang terus mengeluarkan bunyi robekan kain.


Krak-krak!


Bunyi patah tulang semakin menambah ketakutan dalam dirinya. Mata Lina membelalak awas, dadanya kembang-kempis bergemuruh hebat. Peluh sudah pun merembes dari pori-pori kulit wajah berjatuhan dengan deras.


Berkali-kali ia meneguk ludah, tenggorokannya tercekat. Terlebih saat sesosok makhluk yang menyeramkan muncul dengan perlahan dari dalam bak mandi tersebut. Mulut Lina megap-megap tak karuan ingin berteriak, tapi dia kesulitan.


Gagang pintu seolah menjauh, sulit sekali tergapai. Makhluk itu mengangkat wajah, ia menyeringai menyemburkan cairan hitam yang berbau busuk.


Lina membalik tubuh, menggedor-gedor pintu dengan kuat.


"Sofi, Sof! Buka pintunya! Aku takut, Sofi!" teriak Lina dibarengi air mata yang jatuh menganak sungai.


Kepalanya kembali menoleh, mengawasi makhluk menyeramkan itu agar tidak mendekat ke arahnya. Lina terperenyak disaat makhluk menyeramkan itu membuka mulutnya lebar-lebar. Cairan hitam semakin banyak menyembur memenuhi bak mandi.


Lina berbalik masih di posisinya duduk di lantai, memukul-mukul pintu meminta bantuan. Pintu kamar mandi terkunci dengan sendirinya, padahal Lina sama sekali tidak menguncinya.


"Sofi, kenapa pintunya dikunci? Tolong bukain, Sof! Aku takut!" Lina meraung di depan pintu.


Ke mana dia akan lari jika saja makhluk itu mulai beranjak meninggalkan bak mandi dan menghampirinya.


"SOFI!" Teriakan Lina semakin kuat terdengar.


Makhluk itu mulai merayap turun dari bak mandi, perlahan dan menjijikkan. Dia tidak menggunakan kakinya untuk melangkah, melainkan dengan kedua tangan merangkak seperti bayi.


"Sofi! Firda! Tolong aku! Siapa aja, Tolong!" teriak Lina lagi semakin gencar.


Merasa putus asa dengan usahanya meminta tolong, Lina beringsut ke samping. Kepalanya menggeleng cepat, rasa takut semakin membuat dadanya sesak.


"Gak! Jangan ganggu aku! Pergi! Jangan ganggu aku!" Lina menjulurkan tangan ke depan, terus beringsut menjauhi pintu.


Makhluk itu mengeluarkan suara patah tulang saat kepalannya bergerak ke kanan dan kiri. Dari mulutnya keluar suara geraman yang menyeramkan. Membangunkan bulu kuduk di seluruh tubuh. Kuku-kukunya yang tajam lagi runcing mencuat kapan saja bisa mencabik tubuh Lina.


"Gak! Pergi! Jangan ganggu aku! PERGI!"


Lina menutup wajah dengan kedua tangan saat makhluk itu merayap semakin cepat.


"PERGI!"


Brak!


Pintu kamar mandi terbuka cukup keras, Firda berhambur masuk dan melihat Lina yang sedang meringkuk di dekat bak mandi.


"Lina!" Firda mendekat, memegangi tubuh Lina yang mengibas-ngibaskan tangan mengusir sesuatu.


"Lina! Ini aku Firda!" ucap Firda sambil mengguncang pelan tubuh temannya itu.


"Gak! Jangan ganggu aku, pergi!"


"Lina, Lina! Sadar, ini aku. Firda!" Firda dengan cepat membuka kedua tangan Lina yang menutupi wajahnya.


Mata gadis itu terpejam rapat, menolak untuk melihat.


"Buka mata kamu, Lin! Lihat aku, ini aku Firda," pinta Firda lagi sambil mencengkeram kedua pergelangan tangan Lina.


Gadis itu memberanikan diri membuka matanya, langsung menubruk tubuh Firda sambil menangis.


"Aku takut, Fir. Sofi mengunci pintu kamar mandi dari luar, tadi ada ... ada ... makhluk ... aku takut, Firda!" racau Lina tak berhenti menangis sesenggukan.


Mendengar nama Sofi disebut, Firda melepas pelukan dengan cepat. Menatap Lina dengan bingung.


"Kamu yakin Sofi yang ngunci pintu kamar mandi?" tanya Firda teramat tak percaya.


"Aku yakin, karena dia yang nungguin aku di depan kamar mandi. Kalo bukan dia siapa lagi coba?" tegas Lina dengan yakin.


Firda menggelengkan kepala tak percaya. Dia menarik tangan Lina untuk segera bangun dan pergi meninggalkan kamar mandi.


"Kayanya kamu harus lihat keadaan Sofi sendiri," katanya sambil terus berjalan diikuti Lina yang terseok-seok mengikuti tarikan tangannya.


Firda membawanya ke kamar, di atas ranjang Sofi sedang berbaring sambil menangis ditemani Alea yang tak henti mengelus lengannya.


"Sofi? Kamu ...?" Lina tidak mengerti. Dia menunjuk Sofi, tapi tak dapat mengatakan apapun.


Lina memandang Firda menuntut penjelasan darinya.


"Tadi ada murid di kamar sebelah yang bilang sama aku kalo Sofi kejang-kejang di depan kamar mandi. Aku dan Lea langsung nyusul ke kamar mandi, dan ... yah, kamu lihat sendiri sekarang," jelas Firda.


Lina melangkah pelan, Alea beranjak berdiri digantikan olehnya. Wajah Sofi nampak pucat, matanya terpejam, tapi menangis.


"Sofi?" panggilnya lirih.


Gadis itu membuka matanya, dan langsung memeluk Lina.


"Kamu gak apa-apa? Kenapa kamu kunci pintunya? Kamu bilang pintunya gak dikunci," sambar Sofi sambil menangis.


Ini aneh. Lina termangu sendiri, ia melihat Firda dan Alea bergantian dengan bingung. Sofi melepas pelukan, rasa cemasnya hilang setelah melihat Lina datang.


"Aku gak ngerti, aku kira kamu yang ngunci pintu dari luar. Aku didatangin makhluk seram di dalam kamar mandi, pas mau buka pintunya gak bisa. Pintu terkunci sendiri. Ini gak masuk akal, aneh," ucap Lina masih tak percaya dengan kejadian tadi.


Benar-benar diluar nalarnya. Semua yang terjadi tadi, tak pernah terbayangkan akan dia alami.


"Ya udah, yang penting sekarang kita semua udah di kamar. Gak usah mikirin yang macam-macam, kita tidur aja karena besok kita harus sekolah," ujar Firda menyudahi semuanya.


Mereka menurut, mulai membenahi tempat tidur masing-masing bersiap pergi ke alam mimpi. Dua ranjang tingkat yang masing-masing diisi oleh satu anak, Alea berada di bawah Firda. Sofi di bawah Lina.


Malam yang cukup menegangkan yang baru saja mereka lalui. Kejadian janggal yang tak pernah terjadi sebelumnya mulai mengusik ketenangan hidup mereka.


"Lina, bisa gak kamu tidur di bawah aja. Aku takut sendirian," pinta Sofi pada Lina.


Mengerti keadaan temannya, Lina beranjak turun dan berbagai ranjang dengan Sofi. Firda yang tak ingin sendiri melongo ke bawah berharap Alea juga berkenan membagi ranjangnya.


Gadis Jakarta itu bergeser sambil tersenyum, Firda turun dan berbaring di sampingnya. Keempat remaja itu terlelap tanpa rasa takut yang menghantui. Tak ada apapun yang terjadi, mereka hanya tidur dengan tenang dan lelap. Tanpa sadar, sesuatu terjadi.