Rasuk

Rasuk
Tolong Kakak! (TAMAT)



"Ini kamar Kakak?" tanya Nola disaat kedua kakinya baru saja menapak di dalam sebuah kamar yang lebih sempit dari kamarnya.


Ruangan sempit itu diisi dengan dua ranjang susun, empat lemari kecil dengan meja belajar dan kursinya. Rak sepatu tersimpan di sudut kamar dekat pintu, di sampingnya sebuah lemari kotak tempat menyimpan peralatan mandi dan handuk.


Sekilas memang pengap, tapi terasa nyaman dan sejuk. Meski tak dilengkapi dengan AC ruangan tersebut tetap terasa sejuk. Mungkin karena pepohonan yang tumbuh di sekitarnya menjadikan asrama itu tempat yang nyaman dan terbebas dari polusi kota.


"Iya, ranjang Kakak yang di sana," sahut Alea sembari menunjuk ranjang di bagian kanan ruangan.


"Yang kedua itu?" pekik Nola dengan binar yang tak dapat dijelaskan. Ada bingung juga takjub sekaligus.


"Iya, mau coba? Kamu bisa nyentuh langit-langitnya," ujarnya antusias.


"Mmm ... boleh." Ragu, tapi Nola ingin sekali mencobanya. Ia melangkah pelan, memegang tangga kecil yang berdiri. Mulai menapak naik sesuai arahan Alea.


"Wah, Kakak bener. Di sini nyaman banget!" seru Nola sambil menggerakkan tubuhnya yang duduk di kasur dan melilau ke segala arah.


Alea tersenyum, tapi senyum yang diukirnya tercetak lain. Dingin, tajam, dan penuh dendam. Matanya menyipit, memicing tajam. Namun, Nola tidak menyadari itu, ia terus meracau soal kenyamanan ruangan tersebut.


"Kakak, boleh aku menginap di sini?" tanyanya setelah puas bermain di kasur Alea.


"Tapi cuma ada ini di sini, apa nggak apa-apa kamu seranjang sama Kakak?" ucap Alea teringat kembali akan Nola yang enggan berbagi dengannya. Apapun.


Nola cemberut, tak senang mendengar ucapan sang Kakak.


"Nggak apa-apa, Kak. Aku senang bisa tidur bareng lagi sama Kakak," sahutnya dengan sumringah.


Alea tersenyum, lantas mengangguk dan menaiki tangan menuju ranjangnya. Mereka duduk berdua, berbincang ringan mengenang masa-masa bahagia saat dulu. Lebih banyak Nola sebenarnya yang bercerita.


"Kenapa nggak dari dulu, ya, kita akrab kayak gini. 'Kan, seru bisa curhat sama-sama soal apa aja," ujar Nola mengakhiri ceritanya di senja hari yang tak terlihat.


Keduanya berbaring di atas ranjang, menatap langit-langit yang tak seberapa jauh bahkan mereka dapat menggapainya. Alea lebih banyak diam, dan terkesan hanya mendengarkan meskipun sesekali akan menanggapi juga.


Tak lama suara banyak langkah terdengar di depan asrama, riuh rendah suara semua murid pun ikut menjejali indera pendengaran mereka. Nola yang tak biasa tersentak, ia bangkit dan melihat pada jendela dengan bingung.


"Kenapa ramai sekali, Kak?" tanyanya tak lepas dari menatap jendela itu.


Alea menggerakkan kepalanya ke samping, menatap Nola dengan aneh. Semua yang ia lakukan terasa aneh hanya saja Nola yang tidak menyadari itu semua.


"Udah biasa, klo mau malam kayak gini, semua murid harus ke kamar," jawab Alea dengan nada suara yang lain.


Deg!


Mendengarnya, membuat Nola terhentak. Tubuhnya meremang, debaran dalam dada terasa berdentam-dentam. Ia menoleh dengan cepat ingin memastikan bahwa yang di belakang tubuhnya masih sang Kakak.


Nola bernapas lega ketika Alea tersenyum. Tak lama suara pintu mengalihkan perhatiannya, buru-buru melihat siapa yang datang. Firda, Sofi dan Lina masuk sambil berbincang. Ketiganya terdiam tatkala melihat Nola duduk di atas ranjang Alea.


"Hallo, Kak. Maaf, ya," katanya seraya turun menemui mereka.


Ia memperkenalkan diri pada ketiganya dan mengatakan bahwa akan menginap di sana. Hari telah senja tak akan mungkin ia kembali ke Jakarta. Biarlah dua orang tua itu kelabakan mencarinya.


"Nginep?" Serentak mereka bertiga memekik. Saling tatap satu sama lain karena selama ini belum pernah ada orang dari luar asrama yang menginap.


Nola mengangguk, garis bibirnya tertarik ke atas membentuk senyuman senang.


"Terus temen kamu yang laki-laki di mana?" Lina teringat Nola datang tidak sendirian.


"Nggak tahu Kak Alea, katanya udah dititipin sama temennya yang laki-laki," jawab Nola sambil menghendikan bahu tak tahu.


"Lea?" Firda memanggil namanya ingin memastikan apa yang dikatakan Nola.


"Sama Regi, aku titip sama dia," jawab Alea tanpa memperlihatkan dirinya pada semua orang.


"Lea, kamu baik-baik aja?" tanyanya.


Mendengar itu, Nola yang kini mengernyit. Ia berbalik dan menatap ranjang ketika suara deritan terdengar. Alea memiringkan tubuh, menopang kepala dengan tangan Kanan menatap sambil tersenyum pada semua temannya.


"Aku baik-baik aja, emangnya kenapa?" Alea balik bertanya seraya membanting dirinya kembali.


Hening. Tak ada lagi yang mengatakan apapun, tiba-tiba suara lirih senandung terdengar dari arah Alea. Ia bernyanyi entah apa. Sepanjang berteman dengannya baru kali ini mereka mendengar Alea bernyanyi.


Lina meneguk ludah ngeri, mereka memiliki satu pemikiran yang sama. Mungkinkah dia kembali kerasukan. Firda mengalihkan pandangan pada Nola yang juga ikut terdiam.


"Nola, emang Alea suka nyanyi?" tanyanya.


Nola mengangguk cepat sambil berkata, "Kakak emang hobi nyanyi. Di mana pun pasti nyanyi, cita-citanya juga jadi penyanyi. Emangnya kenapa?"


Oh~


Ketiganya hanya membulatkan mulut, tak menyangka ada sisi lain yang menarik dari sosok Alea.


"Nggak apa-apa, kita baru denger aja dia nyanyi soalnya," sahut Sofi tersenyum-senyum.


Sekarang giliran Nola yang membulatkan mulut. Keempatnya terlibat obrolan, duduk di lantai sambil menunggu waktu Magrib tiba. Menikmati aneka makanan yang dibawa orang tua mereka.


"Jadi, Alea itu printer, ya?" Lina antusias bertanya.


"Iya, Kakak selalu dapat juara. Ada banyak piala di rumah, dan itu semua punya Kakak," jawab Nola tak kalah antusias.


Ada decak kagum dan bangga yang menguar dari arah mereka, hal itu membuat Nola semakin bersemangat bercerita tentang Kakaknya yang hebat. Sementara Alea tak terganggu terus bersenandung tanpa peduli pada obrolan mereka yang di bawah.


Namun, berikutnya, lagu yang dinyanyikan Alea membuat mereka semua bungkam seketika. Itu bukan lagi lagu, tapi suara seorang sinden yang melagamkan kidung sunda.


"Emang, ya, dia juga ternyata bisa nyinden," ucap Sofi bangga tak menyangka.


"Tapi aku nggak pernah denger Kakak nyanyi kayak gini. Aku juga nggak tahu apa yang Kakak nyanyiin. Kenapa rasanya aneh, ya?" ucap Nola sambil mengingat-ingat kembali semua kenangan pada saat mereka di rumah.


Sekalipun ia tak pernah mendengar Alea melagamkan kidung tersebut. Sedikit heran dan berpikiran mungkin saja di asrama diajarkan lagu-lagu seperti yang sekarang Alea nyanyikan.


Firda merasa ada yang tak beres, selain aneh itu juga terdengar seperti bukan suara Alea. Suara orang lain. Mereka terhenyak disaat Alea tiba-tiba melongo ke bawah. Hawa dalam ruangan berubah seketika.


"Eh, makan bangkerok kayaknya enak, ya?" katanya sambil tersenyum dan menji*la*t bibirnya sendiri.


"Hah! Bangkerok!" Mereka memekik.


Alea mengangguk cepat dan kembali berbaring. Keempat orang di bawah sana saling menatap bingung, dari mana Alea tahu soal bangkerok ini.


******


Malam merangkak menelan siang, Nola benar-benar menginap dan mereka tidur di ranjang yang sama. Sayup-sayup dia mendengar suara seseorang minta tolong.


"Nola, tolong Kakak!"


Nola membuka mata, melirik pada Alea yang terlelap. Mungkin dia salah mendengar.


TAMAT.


******


Terima kasih banyak pada semua yang telah mengikuti kisah Alea dari awal, aku end di sini, ya. Sebenarnya pengen nerusin, tapi aku lagi nggak semangat nulis. Salam hangat buat kalian semua. Semoga terhibur.