Rasuk

Rasuk
Khawatir



"Mereka cuma sekelompok makhluk yang nggak sengaja melintas di sekitar rumah kalian, tapi udah saya tangani. Sekarang, yang harus kalian lakukan adalah melakukan ritual rutin setiap malam Jum'at Kliwon. Nanti akan saja kabari apa saja yang perlu kalian siapkan. Saya pamit pulang," ucap Mbah Jago seraya bangkit dari duduk dan melenggang keluar disusul Prasetyo yang berjalan tergesa.


Ijah tergolek lemas di sofa, napasnya lemah beraturan. Kedua mata terpejam rapat, bibir terbuka sedikit. Siska dan Nola takut-takut melihat, ada Sugi yang menemani duduk di sofa samping Ijah.


"Pak Sugi, Bi Ijah beneran udah nggak apa-apa, 'kan?" tanya Nola meringis ngeri jika membayangkan bagaimana rupa Ijah saat kerasukan tadi.


"Udah nggak apa-apa, Non. Cuma Ijah belum sadar aja," jawab Sugi menatap Nola sekilas dan lanjut melihat Ijah lagi.


"Emangnya kenapa Bi Ijah bisa kerasukan kayak gitu, Pak? Sebelumnya nggak pernah," tanya Nola jiwa muda ingin tahunya timbul spontan melihat sesuatu yang baru.


"Bapak nggak tahu kayak apa pastinya, ada banyak masalah yang memicu seseorang kerasukan. Salah satunya mungkin Ijah lagi ada masalah atau apa yang buat dia melamun. Bapak cuma tahu sedikit aja, sih," jawab Pak Sugi dengan sedikit pengetahuan yang ia miliki.


Keduanya asik terlibat tanya jawab seputar Ijah yang kerasukan. Sementara Siska, bola matanya mengikuti langkah sang suami yang membuntuti Mbah Jago. Ia mengernyit dikala melihat Prasetyo memberikan sebuah amplop coklat cukup tebal pada laki-laki aneh itu. Suaminya itu juga mencium tangan si dukun tanpa segan.


Muncul beberapa pertanyaan dalam benak tentang siapa Mbah Jago itu. Dari mana asalnya dan siapa yang mengenalkan. Siska sibuk dengan hatinya sampai-sampai obrolan dua orang di sana tak ia dengar.


Prasetyo menunggu si dukun di teras rumah, di depan sebuah mobil telah menunggunya. Hebat sekali, hanya seorang dukun, tapi dia menaiki mobil mewah sekelas Alphard. Prasetyo kembali ke rumah, mengunci pintu rumah, tak berniat keluar lagi.


Ia membanting diri di sofa samping sang istri sambil melepas napas dengan kuat. Sontak semua orang menoleh ke arahnya, menatapnya datar kecuali pak Sugi.


"Pah, Mamah lihat tadi Papah kasih amplop tebal sama dukun itu. Berapa tuh, isinya?" selidik Siska mengurai rasa penasaran dalam hatinya.


Prasetyo menghela napas, melirik Siska lelah, tapi melihat wajah penasaran sang istri ia merangkulkan tangan di bahu wanita itu.


"Uang nggak jadi masalah, Mah. Yang penting rumah kita ini bisa aman dari gangguan semua makhluk itu," jawabnya tanpa sadar kesalahan yang telah dia perbuatlah yang mendatangkan semua masalah.


Siska merenung, menatap wajah suaminya penuh selidik. Sapuan lembut di bahu yang dia terima dari laki-laki itu, menenangkan hatinya yang sempat ragu. Dia menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.


Lantas menganggukkan kepala, seraya menjatuhkannya di pundak sang suami. Mencoba percaya pada semua yang dilakukan laki-laki itu.


"Pah, kenapa aku ngerasa semua ini terjadi sejak Kakak pergi. Apa nggak sebaiknya kita tengok Kakak di asrama?" celetuk Nola seraya menggigit bibir disaat kedua orang tuanya menoleh dan melayangkan tatapan datar tanpa ekspresi.


"Maksud kamu gimana?" tanya Prasetyo sembari melepas rangkulan tangannya dari pundak sang istri. Siska juga turut beranjak mendengar ucapan sang anak.


"Mmm ... maksud aku, mungkin aja Kakak ngerasa sedih karena harus pindah ke sekolah asrama. Terus Kakak juga ngerasa dibuang karena kita nggak ada nengokin. Bisa aja, 'kan, semua gangguan berasal dari situ," terang Nola meski gugup, tapi ia tetap melanjutkan isi pikirannya.


"Jangan ngada-ngada, dia baru seminggu di sana. Nggak mungkin punya perasaan kayak gitu. Udahlah, semua ini nggak ada kaitannya sama Alea di asrama," tegas Siska seraya beranjak dari sofa dan meninggalkan ruang tamu menuju kamarnya.


"Mah!"


Siska mengibaskan tangan menolak obrolan lebih lanjut tentang Alea. Ia terus melangkah menapaki anak tangga menuju lantai dua.


"Pah, Papah dengerin aku, 'kan? Kenapa kita nggak ke asrama Kakak?" adu Nola mengalihkan pandangan pada sang Papah yang diam melihat istrinya.


"Mamah kamu benar, Alea baru satu Minggu di sana. Bulan depan Papah berencana jenguk dia, udah pantas. Kalo sekarang, rasanya terlalu cepat buat kita jenguk," papar Prasetyo yang dibenarkan sedikit hatinya.


Nola tak lagi bicara, wajahnya berpaling dengan bibir yang digigit. Cemas dan khawatir mulai merayap di hatinya, sekarang ia sedang memikirkan perasaan Alea yang dipaksa untuk tinggal di sekolah asrama.


Suara rintihan Ijah mengalihkan perhatian mereka. Serentak semuanya menoleh, dan menunggu apa yang dirasakan wanita itu. Ijah membuka mata dengan bingung, satu tangannya memegangi kepala. Seperti habis dihantam gada besar, sebagian kepalanya berdenyut nyeri.


"Pak Sugi, kenapa di sini? Apa yang terjadi? Kenapa semuanya berantakan kayak gini?" racau Bi Ijah setelah melihat keadaan ruang tamu yang tak karuan.


"Kamu beneran nggak tahu apa-apa? Nggak sadar?" tanya Pak Sugi sedikit heran.


Ijah menatapnya seraya menggeleng lemah, raut wajah juga maniknya memancarkan kebingungan yang nyata.


"Bi Ijah, gimana perasaan Bibi sekarang?" tanya Nola menyelidik.


Pelan-pelan kepalanya menoleh, dari garis wajahnya menyiratkan bahwa ia tidak baik-baik saja.


"Badan Bibi sakit semua, kayak abis digebukin se-RT. Kepala Bibi juga pusing, kayaknya Bibi nggak enak badan, tapi siapa nanti yang beresin semuanya ini, ya."


Bi Ijah tampak prihatin, itu adalah tanggung jawab yang harus dijalankannya. Sedangkan tubuhnya saat ini begitu lemas tak bertenaga.


"Udah nggak apa-apa, Bibi tenang aja. Nanti saya sewa orang buat beresin semuanya. Sekarang, Bibi istirahat aja di kamar. Tenangin hati Bibi, kalo ada masalah jangan dipendem sendiri. Jangan ngelamun," ujar Prasetyo begitu bijak dan penuh pengertian.


Bi Ijah mendongak, rasa tak percaya jelas terlihat di wajahnya yang pucat. Ia tersenyum, senang benar diperhatikan seperti itu.


"Terima kasih, Tuan. Terima kasih atas kebaikan Tuan. Saya memang lagi ada masalah, Tuan, tapi udahlah semuanya itu masalah saya sendiri. Saya juga nggak akan mikirin lagi," ucapnya sambil memegangi dada yang terasa sesak.


Prasetyo turut tersenyum, kali ini dia menggunakan hatinya.


"Pak Sugi, antar Bi Ijah ke kamar," titahnya yang diangguki Sugi.


Laki-laki itu sigap berdiri, membantu Ijah beranjak dan menuntunnya menuju kamar.


"Kamu juga sebaiknya istirahat, sayang. Papah lihat kamu capek, jangan terlalu banyak pikiran," ucapnya sebelum beranjak meninggalkan Nola dan menemui istrinya.


Remaja itu tercenung sendiri, nama Alea kian memenuhi hatinya. Ia ingin melihat keadaan sang Kakak walau sebentar saja.


"Gimana keadaan Kakak, ya? Apa sebaiknya aku pergi aja liat Kakak. Perasaan aku nggak enak kayak gini," gumam Nola.


Ia melipat bibir, menatap tangga di mana orang tuanya pergi. Sebuah ide muncul tiba-tiba, dia bergegas menuju kamar, menguncinya dari dalam dan membanting diri di ranjang.