Rasuk

Rasuk
Hati-hati Kamu Diincer



"Teh Minah!" pekik keempat anak yang berdiri berdampingan sambil berpegangan tangan di tengah kamar.


Minah, si penjaga kantin tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamar mereka. Asri melotot lebar, sejak beberapa saat lalu jantung mereka seperti mau lepas dari tempatnya. Kejadian aneh yang terjadi secara runut, menimbulkan rasa takut yang tidak main-main ditambah kedatangan teh Minah yang sebelumnya berlagak menakuti.


"Oh, jadi rupanya Teh Minah yang nakut-nakutin kita. Maksud Teteh apa? Pake ketuk pintu terus manggil-manggil nama kita kaya setan begitu? Teteh niat banget, ya, nakutin kita," hardik Asri sembari bertolak pinggang marah.


Gadis itu berdiri tepat di depan wajah Teh Minah yang masih berada di atas lantai. Wanita dewasa itu tidak mengerti, ia mendongak menatap bingung Asri yang menyalang padanya.


"Teteh hebat juga, ya. Bisa nakut-nakutin kita sampe kaya gitu. Nggak tahu apa, tadi tuh ada ... a-ada ... i-itu!" Lita menunjuk pintu yang terbuka lebar.


Bayangan hitam yang dilihatnya di ujung asrama kembali muncul. Sontak semua orang menoleh pada pintu, termasuk Teh Minah yang sigap berdiri dan menutup pintu dengan kuat. Lekas menguncinya, kemudian bergabung dengan keempat anak itu.


"Tadi itu apa?"


"Sssttt!"


Teh Minah meletakkan jari telunjuknya di bibir, menahan Asri yang ingin bertanya perihal makhluk hitam yang muncul di depan asrama. Mereka semua bungkam, ketakutan jelas tergambar di wajah empat gadis itu dan sekarang ditambah penjaga kantin.


Hening. Tak ada lagi suara-suara yang mereka dengar. Malam kembali tenang, mereka memutuskan untuk duduk di ranjang berkumpul bersama-sama.


"Jadi, yang nakutin kita beneran bukan Teteh?" Chia memastikan menatap ngeri sosok penjaga kantin yang wajahnya pucat pasi seperti mereka.


"Buat apa Teteh nakutin kalian. Orang Teteh aja diganggu di kamar makanya Teteh ke sini. Takut," jelas Teh Minah bersungut-sungut.


Chia meneguk saliva, itu semua nyata mereka alami. Asri yang mengira dikerjai Teh Minah pun, nampak gelisah dan cemas. Asrama mereka tak lagi aman sejak kedatangan murid baru dari Jakarta itu.


"Terus itu tadi apa, Teh? Aku lihat itu juga tadi waktu ditinggal sendirian," sambar Lita bertanya perihal bayangan hitam yang kian menjulang tinggi.


"Kamu lihat di mana?" Teh Asri nampak terkejut.


"Di ujung asrama, bayangannya makin lama makin tinggi," jawab Lita bergidik ngeri ketika membayangkan sosok yang dilihatnya.


"Kamu itu pasti lihat ke atas terus, ya? Makanya 'dia' makin tinggi. Makin kita lihat ke atas, 'dia' terus aja makin tinggi. Namanya jurugulan kaung, seperti namanya kaung alias pohon aren itu tinggi, tegak, lurus ke atas. Harusnya kamu kalo liat itu langsung nunduk, 'dia' bakalan hilang," terang Teh Minah sembari menekan rasa takutnya.


"Ih, serem banget, sih. Kok, asrama kita sekarang jadi serem gini, Teh. Kenapa, ya?" Chia merapatkan tubuh pada Asri.


Rasa takut karena dikerjai 'mereka' masih ada dan nyata. Seolah-olah tembok asrama memiliki mata juga telinga yang mengawasi mereka setiap saat.


"Aku ngerasa sejak murid itu datang ke asrama, banyak hal aneh terjadi. Apa ada sangkut pautnya sama dia, ya? Menurut Teteh gimana?" Asri menyambar setelah berpikir dan menimbang.


Ia menatap Teh Minah menanti jawaban juga dukungan atas argumen yang baru saja ia ucapkan.


"Eh, bener juga, ya. Sebelumnya, 'kan, nggak pernah ada kejadian aneh kaya gini. Teteh juga ngerasa heran, tapi kalian tenang aja. Nanti Teteh tanyain sama Bu Ningsih, mana tahu Ibu tahu sesuatu," ucap Teh Minah menenangkan.


"Beneran, lho, Teh. Kita jadi takut, tahu nggak."


Teh Minah mengangguk pasti. Malam itu terasa panjang untuk mereka. Hal-hal aneh yang menimpa sungguh tak dapat diterima nalar. Semua adalah misteri yang butuh penjelasan.


"Udah malam, kita tidur, yuk. Malam ini tidur bareng-bareng aja, ya. Aku takut," ucap Chia. Matanya tampak sayu dan berat, lelah membawa mereka pada kantuk berat.


"Ya udah, kita tidur barengan aja," sahut Asri setuju.


"Eh, Teteh boleh nginep di sini, ya. Teteh takut mau ke kamar lagi soalnya," pinta Teh Minah penuh harap.


Ia sama sekali tidak berani melangkahkan kaki keluar kamar. Berharap semua anak-anak itu akan mengizinkannya menginap di kamar mereka.


"Ya udah, deh, tapi jangan lasak. Kasurnya sempit, jangan ngorok juga. Jorok!" tegas Asri sebelum berbaring di ranjang bersama Lita.


Teh Minah nampak setuju, ia ikut berdesakan di ranjang sempit bersama kedua teman Asri.


Matahari menyapa pagi semua orang, geliat kehidupan di masyarakat pedesaan nampak segar dipandang mata. Berbondong-bondong para penduduk jalan beriringan mengenakan seragam tempur mereka. Tak lupa alat-alat yang biasa mereka gunakan pun, turut diangkut.


Pagi yang cerah, akhir pekan yang selalu dinanti para murid di asrama. Pagi itu, mereka akan diizinkan keluar asrama untuk sekedar menikmati keindahan pagi di desa Ujung Kulon. Desa yang jarang terjamah kendaraan kota kecuali pada waktu libur kerja.


"Kita mau ke mana?" tanya Alea usai melaksanakan ritual pagi hari. Mandi, dan membereskan kamar, tapi kali ini mereka lakukan lebih awal.


"Ini Minggu, Lea. Semua murid boleh olah-raga keluar asrama sampai jam sepuluh. Kita mau ajak kamu jalan-jalan di desa sekitar asrama. Penduduk di desa sini ramah dan baik," sahut Firda sembari mengenakan sepatu sport di lantai.


Sofi dan Lina pun melakukan hal yang sama, mereka telah bersiap dengan seragam olahraga milik asrama Melati Putih. Salah satu syarat agar diizinkan keluar harus memakai seragam asrama.


"Eh, tungguin, dong!" Alea melempar sisir asal, menyambar sepatu dan dengan cepat mengenakannya.


Mereka keluar asrama dengan perasaan lega. Udara segar pedesaan sudah memenuhi rongga hidung, tak hanya mereka hampir semua murid keluar dengan seragam yang sama.


"Rame juga, ya. Kita mau ke mana?" tanya Alea sembari tersenyum cerah.


Keempatnya berlari santai, mereka juga berjumpa dengan murid laki-laki. Keluar gerbang asrama menjadi hal yang paling menyenangkan untuk semua murid di asrama.


Suasana desa segera saja menyambut mereka, kabut tipis menyelimuti jalanan menghalangi pandang mata. Di kanan dan kiri pesawahan dengan padi yang sudah menguning dan siap dipanen.


"Selamat pagi, Neng. Olahraga, ya," sapa salah seorang penduduk yang berpapasan dengan mereka.


Dari penampilan yang dikenakan, para penduduk pastilah akan pergi ke ladang. Mungkin akan memanen padi di sawah.


"Pagi, Pak, Bu. Iya, biasa hari Minggu," sahut Firda yang terlihat akrab dengan para penduduk di desa Ujung Kulon tersebut.


"Ya udah, hati-hati!"


Mereka mengangguk seraya melanjutkan kegiatan berlari kecil dan santai. Kebun-kebun singkong tumbuh subur di kanan jalan, ada juga kebun pisang yang sebagian siap panen.


"Aku nggak mau lari, mau jalan aja. Udaranya enak, nggak bikin paru-paru menjerit," ucap Alea seraya mulai berjalan sambil membentang tangan menikmati kesegaran udara di pedesaan.


Jalan desa yang sangat jarang sekali dilintasi kendaraan kecuali sepeda milik penduduk setempat juga roda dua. Itupun bisa dihitung jumlahnya. Jadilah, ketiga temannya itu pun turut melangkah pelan.


Mereka kembali berpapasan dengan sekelompok penduduk, bertegur sapa dengan ramah. Namun, seorang gadis di dalam kelompok tersebut, menyita perhatian Alea. Ia berhenti dan berbalik memastikan penglihatannya tak salah. Secara kebetulan gadis itu pun menoleh, tersenyum dan mengangguk kecil tanpa menghentikan langkah.


Siapa dia? Kok, kayanya aku pernah lihat, tapi di mana?


"Lea! Ayo!"


Eh?


"Iya!"


Alea menoleh lagi sebelum menyusul temannya, tapi gadis itu tidak ada di dalam rombongan. Ia terhenyak, tak ingin berlama-lama segera berlari dan bergabung dengan kelompoknya.


"Kita duduk di sana, yuk!" ajak Firda menunjuk sebuah gubuk yang sengaja dibangun di pinggir sawah.


Mereka beristirahat sejenak, menikmati hamparan padi yang menguning. Ada beberapa penduduk di tengah sawah, berjalan di pematang. Sungguh, pemandangan seperti ini tak akan ia jumpai di Jakarta.


"Hei, kalian di sini, aku cariin," tegur Regi dengan napas tersengal-sengal. Ia datang bersama tiga temannya. Mereka berkenalan, nyatanya Alea terkenal di kalangan murid tak hanya di asrama putri, tapi juga di asrama putra.


"Hati-hati, Neng. Kamu lagi diincer!"


Sebuah suara serak dan berat menyentak mereka semua. Sontak saja memutar kepala dan melihat seorang Kakek tua bungkuk melintasi gubuk tersebut.