Rasuk

Rasuk
Mbah Dukun



"Pah, dia siapa?" tanya Nola begitu melihat seorang laki-laki berpakaian serba hitam membawa dupa di tangan sedang menuruni anak tangga rumahnya.


Prasetyo menoleh sebentar sebelum memandang anaknya lagi.


"Dia Papah bawa buat meriksa rumah kita, akhir-akhir ini Papah ngerasa nggak nyaman di rumah," katanya gelisah.


Nola mengerutkan kening, ini kali pertama ia mendengar laki-laki itu mengeluh soal rumah dan sejak Alea meninggalkan rumah. Berbeda dengan dirinya dan Siska yang kerap bercerita soal keanehan yang mereka rasakan.


"Jadi, Papah juga ngerasain itu? Bukan cuma kita?" tekan Nola memastikan.


Prasetyo nampak gelisah, bola matanya bergerak liar, sesekali menggigit bibir cemas. Sesuatu mengusik ketenangan hati dan hidupnya.


"Kenapa, Pah?" tanya Nola lagi semakin penasaran.


Siska masih tak sadarkan diri, wajahnya pucat pasi tak ubahnya seperti mayat. Terbaring di sofa tanpa tahu kapan akan bangun.


"Bukan cuma di rumah ini yang Papah alami, tapi di kantor juga Papah mengalami hal yang sama. Makanya Papah bawa Mbah Jago supaya menetralisir rumah kita ini," jawab Prasetyo setelah sekian lama terdiam.


"Beneran, Pah?" Nola mengangkat alis sambil mencondongkan tubuh ke arah Papahnya.


"Yah ... Papah juga nggak terlalu ngerti, sih, tapi emang ngerasa aneh aja." Prasetyo nampak ragu.


Lenguhan pendek dari Siska mengalihkan perhatian mereka berdua. Wajah wanita itu mengernyit, kelopak mata berkedip-kedip, bibir berdesis pelan.


"Mah!" panggil Nola sembari mengguncang pelan tubuh mamahnya.


"Hah!"


Siska menarik dirinya dengan cepat, meringkuk di ujung sofa dengan wajahnya yang ditutupi kedua tangan.


"Pergi! Jangan sakiti aku!" katanya mengibas-ngibaskan tangan mengusir.


"Mah!"


"PERGI!"


"Mah, ini Papah! Sadar, Mah!" ucap Prasetyo mengambil posisi berdiri di samping istrinya. Tangannya menyentuh bahu Siska dan sedikit menekannya.


"Mah!" panggil Nola lagi. Gadis itu memegangi kedua tangan Siska yang tak henti bergerak mengusir.


Perlahan Siska membuka mata, air mata meleleh di kedua pipi, menatap bingung pada suami juga anaknya.


"Papah! Mamah takut, Pah. Mamah takut!" adunya dengan cepat menyambar tubuh Prasetyo. Dia menangis tersedu-sedu, menumpahkan segala rasa takut yang didera hatinya.


Nola meringis sedih melihat keadaan sang mamah, dia mulai berpikir apakah semua ada kaitannya dengan kepergian sang Kakak.


"Tenang, Mah. Udah nggak ada apa-apa, Mamah tenang, ya." Prasetyo mengusap-usap punggung istrinya dengan pelan.


Siska menggeleng, merasa semua belum berakhir. Ketakutan itu masih meraja di hatinya, sampai dia benar-benar melihat sang asisten yang kembali normal.


"Nggak, Pah. Ijah ... dia jadi aneh, Pah. Dia nyerang Mamah, terus ... Mamah nggak tahu lagi kelanjutannya. Mamah takut, Pah," ucap Siska masih sesenggukan hingga air matanya membasahi kemeja sang suami.


Prasetyo mengerti, sekilas tadi Nola menceritakannya. Ia mengurai pelukan, mengusap-usap bahu sang istri dengan lembut. Menyalurkan rasa aman dan nyaman pada hatinya yang genting.


"Udah nggak ada apa-apa, Mah. Ijah ada di kamarnya lagi tidur. Mamah tenang, ya." Prasetyo memaku tatapan di manik sang istri.


Berharap ia akan tenang dan menceritakan semuanya dari awal juga penyebab kenapa semua bisa terjadi. Secara berangsur tangis Siska mereda, mencoba menenangkan hati. Menumbuhkan rasa yakin semuanya akan baik-baik saja karena laki-laki yang selama ini melindungi ada di hadapan matanya.


"Mamah udah tenang? Sekarang, ceritain sama Papah apa yang terjadi?" tanya Prasetyo lembut seraya meraih tangan sang istri dan menggenggamnya.


"Mamah nggak ngerti gimana awalnya. Ijah yang lagi masak di dapur tiba-tiba aja teriak. Dia bilang liat Alea di rumah di tamannya, Pah. Bukannya Alea ada di asrama, Pah?" Siska menatap balik manik suaminya.


Rasa terkejut tak dapat disembunyikan Prasetyo dari istrinya.


"Papah juga pastinya nganggep Ijah mengada-ada, 'kan? Mana mungkin Alea ada di rumah," lanjut Siska menekan setiap kata yang diucapkan lisannya.


Meyakinkan hati bahwa putri sulungnya memang berada di asrama, dan itu semua bukan hanya mimpi.


"Dia emang di asrama, Mah. Kita juga belum ke sana lagi, tapi Papah pengen mastiin apa yang dilihat Ijah sebenarnya," ucapnya gelisah.


"Mah, Papah juga ngalamin keanehan yang sama kayak kita," ucap Nola tiba-tiba menyambar obrolan kedua orang tuanya.


Siska menganga lebar, rasa tak percaya segera saja mengisi hatinya. Dia mengalihkan pandangan pada sosok laki-laki yang kini berjongkok di hadapannya. Seolah-olah ditanya, Prasetyo mengangguk.


"Apa yang Papah alami?" tanyanya teringin tahu.


"Pagi tadi, ada karyawan Papah yang lapor sambil ketakutan. Katanya dia liat Alea di kantor nggak pakai sandal, yang bikin mereka takut wajahnya yang pucet nggak ramah kayak biasanya," terang Prasetyo sembari mengingat-ingat kejadian pagi tadi di kantornya.


"Kok, sama kayak Bi Ijah, ya. Bi Ijah juga bilang liat Kakak di rumah," gumam Nola membayangkan saat melihat Ijah yang meringkuk ketakutan di bawah kolong meja.


"Sebaiknya kita tanya persisnya kayak apa sosok yang mereka liat. Kenapa Papah yakin, Ijah yang lebih jelas liatnya." Prasetyo berpikir.


Ia menunggu sang supir yang membawa Ijah ke kamarnya. Duduk di tengah anak dan istri sambil memeluk keduanya. Dalam hati tersadar, akan sikapnya pada si sulung yang selama ini tersisih dari kehidupan mereka.


Tak lama merenung, sosok yang ditunggu pun akhirnya muncul. Laki-laki setengah baya itu melangkah pelan, ada cemas yang tertangkap netra mereka di wajah hampir keriput itu.


"Pak Sugi kenapa? Gimana keadaan Ijah? Udah bangun?" cecar Prasetyo begitu laki-laki itu hampir mendekat.


Dia gegas berdiri berhadapan dengan sang supir yang terlihat semakin gelisah.


"Anu, Pak. Ijah, kayaknya ketakutan banget. Saya coba tanya, dia cuma geleng-geleng kepala aja," jawabnya bingung.


"Panggilkan dia kemari, ada sesuatu di rumah ini, tapi saya belum tahu itu apa," sambar sebuah suara serak dari belakang Siska dan Nola.


Siska yang belum melihatnya, terlonjak kaget. Ia yang tenang kembali menegang saat menoleh dan mendapati seorang laki-laki hampir tua berpakaian serba hitam di belakangnya.


"Si-si-siapa kamu?" tanyanya menarik tubuh Nola dan mendekapnya erat.


Laki-laki itu hanya melirik sekilas, lantas membuang wajah sambil melengos tanpa menjawab pertanyaan Siska. Prasetyo bertanggungjawab untuk mengenalkan sosoknya pada mereka.


Ia memberi perintah pada Pak Sugi untuk memanggil Ijah sebelum berbalik mendekati anak dan istrinya.


"Silahkan duduk, Mbah!" katanya sambil menyodorkan tangan pada sofa singel, sedangkan ia duduk di samping Nola.


"Mah, Nola, ini Mbah Jago. Papah yang bawa buat meriksa keadaan rumah kita. Mbah Jago juga tadi meriksa kantor, tapi nggak ada apa-apa di sana. Papah cuma mau mastiin aja kalo di rumah kita ini nggak ada apa-apa," ucap Prasetyo memperkenalkan dukun yang katanya sakti pada mereka.


Laki-laki itu manggut-manggut sambil mengusap-usap dagunya yang tak ditumbuhi janggut. Entah apa yang diusapnya.


Mendengar penjelasan sang suami, Siska mengendurkan rasa takut di hatinya. Ia mencoba untuk percaya pada ucapan laki-laki itu.


"Mmm ... gimana, Mbah?" tanya Prasetyo penasaran.


Mata laki-laki itu bergulir, menatap ketiga pasang manik di depannya.


"Ada, tapi nggak jelas."