Rasuk

Rasuk
Menginap di rumah pak RT



" Adik-adik darimana?" Pak RT berpapasan dengan mereka di jalan.


"Ini pak mau balik ke kota. Tapi ban mobil kami bocor jadi kami mau menginap dulu di rumah pak RT." Pak RT tersenyum.


"Silahkan ke rumah saja, mumpung sekarang ibu lagi ada di rumah." Mereka mengangguk serempak.


"Permisi ya pak," pak RT mengangguk, mereka melanjutkan perjalanan mereka.


"Liv, berapa lama kita menginap di tempat ini?" Joshua menatap Livia tak sabar.


"Setelah mobilnya bagus, gue yakin apa yang diomongin Abah itu bukan main-main. Lo semua bagaimana pendapatnya?" Livia menatap Clara dan teman-temannya yang lain.


"Gue sih, tidak terlalu percaya begituan. Yang penting Lo jangan lupa berdoa sama Tuhan biar selalu dilindungi." Clara menatap Livia serius.


"Gue sepakat dengan Clara, kita harus selalu berdoa pada Tuhan biar kita selalu dilindungi, jangan terlalu percaya omongan orang yang menakutkan." Arga ikut menimpali.


"Benar banget, lo jangan terlalu parno Liv, kita pasti akan baik-baik saja." Joshua menatap Livia tersenyum, Livia memutar bola matanya.


"Benar sih, tapi Lo semua lupa? Kalau dia harus dengan usaha. Memercayai Abah itu salah satu contoh dari usaha." Ketiga sahabatnya mencibir Livia.


"Lo sih, kebiasaan suka film horor." Livia mendengus melirik Arga.


"Serah lo deh," Semuanya tidak bersuara lagi, karena mereka sudah sampai di rumah pak RT. Bu RT terlihat merapikan daun-daun bunga yang sudah tinggi.


"Permisi Bu," Mereka berempat tersenyum pada ibu RT.


"Eh, ini anak-anak yang dari kota kan?" Mereka mengangguk.


Bu RT melepaskan gunting rumputnya, dan menghampiri anak-anak itu.


"Sini-sini masuk." Bu RT membukakan pagar, Livia dan teman-temannya masuk dan mengikuti ibu itu. Mereka duduk dan mulai menceritakan tujuan mereka.


" Kalian bersihkan gudang yang ada dibelakang rumah ibu, disitu ada dua kamar yang bisa kalian gunakan." Joshua mengangguk.


"Gila, gudangnya seperti rumah hantu. Sarang laba-labanya banyak banget." Arga mulai membersihkan sarang laba-laba itu menggunakan sapu ijuk.


"Lumayan lah, cuma debu-debu bandel aja yang ada." Livia mulai melepaskan tasnya dan mulai membersihkan kamar yang akan mereka tempati sementara.


" Liv, lo merasa aneh tidak?" Livia menghentikan tangannya yang menyapaku dan menoleh pada Clara.


"Aneh? Biasa saja. Kenapa memang?" Livia menatap Clara yang terlihat gelisah.


"Gagak tadi? Yang tadi kita lewat. Ingat tidak?" Clara membersihkan debu-debu yang menempel pada jendela. Livia melanjutkan sapuannya dan melirik Clara.


"Oh yang itu. Kenapa memang? Lo berdoa saja sama Tuhan biar kita semua baik-baik saja." Livia tersenyum, Clara menggeleng.


"Gue sudah berdoa, tapi gue masih gelisah. Gue tidak tahu kenapa sejak datang kesini firasat gue makin kuat." Livia menatap Clara tidak mengerti.


"Kaitannya dengan gagak?" Clara tersenyum sedih.


"Ancaman yang dimaksud Abah itu benar, maksud aku. Aku melihat di tempat itu akan ada kematian, orang itu akan menghabisi dirinya dengan memutilasi dirinya sendiri sebelum ditemukan. Rumah itu akan dipenuhi darah, dan dia akan mengusir semua keluarganya. Dia mati mengenaskan sendirian." Clara menerawang, Livia melotot tajam.


"Lo jangan ngarang Clara, ini bahaya lo jangan nakutin gue." Livia meremas mukanya, frustasi menatap Clara.


"Gue serius, gue minta ini cuma kita berdua yang tahu seperti kata Abah." Livia mengangguk.


"Clara, setelah ini kita benar-benar pergi dari kampung ini. Janji." Clara mengangguk dan kembali membersihkan jendela.


Di rumahnya Keyla pamitan pada ibunya yang mengantarnya ke stasiun kereta api.


"Hati-hati nak, jaga kesehatanmu. Jangan lupa berikan titipan ibu ya, nak!" Keyla mengangguk, kemudian memeluk ibunya.


Hal yang paling mengejutkan pagi tadi ibunya tiba-tiba mengijinkan Keyla untuk pergi ke kampung oma Darti.