Rasuk

Rasuk
Mereka Adalah



Detik jam yang berlalu begitu lambat terasa, beberapa saat menunggu seperti ribuan jam terlewati. Decakan lidah kesal, gerak tubuh yang tak lagi nyaman, menanti kedatangan tersangka utama di rumah besar tersebut.


Sang dukun pun ikut cemas, mengetuk-ngetukkan telunjuknya pada pegangan sofa dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.


Langkah kaki yang tergesa mengalihkan perhatian mereka semua. Di sana, Ijah dituntun Sugi berjalan memasuki ruang tamu di mana semua orang berkumpul menunggunya.


Serentak semua kepala menoleh, Prasetyo bahkan membenarkan posisi duduknya agar nyaman saat mendengar cerita dari asistennya itu. Semua orang menunggu dengan tegang, kecuali sang dukun yang hanya melirik sekilas ke samping tubuhnya.


Melihat semua orang berkumpul, Ijah yang dipapah Sugi mendongak. Ia terhenyak kaget saat semua mata majikan tertuju ke arahnya. Sontak langkahnya terhenti, ada cemas tersirat di wajahnya yang kuyu lagi pucat.


"Nggak apa-apa, Tuan sama Nyonya udah nungguin kamu dari tadi," ucap Sugi seraya mendorong pelan tangan Ijah untuk segera mendekat ke arah semua orang.


Wanita itu menoleh sekilas, melihat anggukan kepala Sugi ia melanjutkan langkahnya.


"Eh, Jah. Duduk di sana aja, jangan di bawah. Pak Sugi juga," sergah Prasetyo disaat Ijah hendak duduk melantai di ruang tersebut.


Sugi mengangguk seraya menuntun Ijah untuk ikut duduk di sofa bersamanya. Keduanya mengangguk sopan, sebelum mendaratkan bokong di kursi mewah tersebut. Ijah bahkan terus menunduk tak berani mengangkat wajahnya.


Seperti seorang terdakwa yang akan dihakimi, jantungnya bertalu-talu tak menentu. Air telah menggenang di pelupuk mata, sekuat mungkin menahan nyeri di seluruh tubuh.


"Mmm ... Bi Ijah nggak usah tegang kayak gitu, Nola sama Mamah minta maaf soal tadi. Kita kira Bi Ijah tadi bercanda. Maaf, ya, Bi." Meski diucapkan dengan lisan yang bergetar, tapi remaja itu memiliki etika yang baik dibanding kedua orang tuanya.


Bi Ijah mengangguk pelan, sepuluh jemarinya saling bertaut, ia mainkan dengan gelisah. Keringat mendera permukaan kulit, hingga telapak tangan terasa lembab dan basah.


Prasetyo mengambil alih pembicaraan, sementara sang dukun diam memperhatikan. Menunggu giliran berucap sepatah dua patah kata sebagai orang yang paling didengarkan.


"Mmm ... Bi Ijah, mohon maaf sebelumnya. Saya hanya mau bertanya sama Bibi tentang kejadian di rumah ini. Apa benar Bibi lihat Alea di rumah ini?" tanya Prasetyo dengan hati-hati.


Bi Ijah semakin gelisah, ia meremas semua jemari dengan gemas. Menggigit bibir gugup, sekaligus takut yang menyertai dikala mengingat kejadian beberapa saat lalu.


"Jawab aja, Jah. Nggak apa-apa, Tuan cuma mau mastiin aja, kok," bisik Sugi memberi dukungan pada rekan sejawatnya.


"Aku takut, Gi." Bi Ijah berbisik lirih.


"Apa yang Bibi takutin? Nggak apa-apa, di sini ada Mbah Jago dia yang akan menangkal semua hal negatif di rumah ini. Bilang aja, Bi. Jangan takut," sela Prasetyo dengan cepat saat mendengar keluhannya.


Bi Ijah menarik napas dalam-dalam, membuangnya secara perlahan. Untuk mendongak, ia sama sekali tidak berani.


"Tadi waktu saya lagi masak, saya dengar suara Non Alea minta tolong di taman belakang rumah." Pembuka cerita yang membuat mereka semua menegang.


Mendengar sepenggal saja, cukup membawa mereka pada situasi yang sedang dihadapi sang asisten waktu itu.


"Pas lagi masak, suara Non Alea ada lagi, tapi saya cuekin karena saya pikir ... ya, itu tadi. Saya lanjut aja masak." Ia kembali menjeda.


Saat memulai bercerita, Bi Ijah terlihat lebih tenang. Namun, ketika memasuki bagian tengah, ia mulai terlihat gelisah. Tangan kanannya bahkan mengusap tengkuk tanpa sadar, seolah-olah kejadian tersebut akan ia alami sekarang juga.


"Kemudian gimana, Bi? Apa yang terjadi?" tuntut Prasetyo semakin tak sabar ingin mendengar kelanjutan cerita dari asisten rumah tangganya itu.


"Mmm ...." Terkesan bertele-tele, tapi Bi Ijah sedang menyusun kata yang tepat untuk menerangkannya.


Decakan lidah dari Siska semakin menambah gugup di hati, tangannya gemetar, lidahnya kelu secara tiba-tiba. Sang dukun melirik, masih diam belum melakukan apapun.


"Jah!" Teguran dari Sugi menyadarkan dirinya.


Ijah mendongak, menatap semua orang dengan perasaan kalut.


"U-un-tuk ketiga kalinya s-s-saya mendengar suara Non Alea minta tolong. Suaranya sangat dekat sekali, seperti berbisik di telinga saya. Takut-takut saya melihat ke arah pintu, di sanalah sosok yang mirip sama Non Alea berdiri. Pakaiannya basah kuyup, kakinya penuh lumpur. Dia menangis, melihat ke arah saya dengan mata basah."


"Saya ketakutan setengah mati, terus menjatuhkan spatula tanpa sadar. Sosok itu masuk, saya yang takut terus mundur sampai menabrak dinding. Dia bilang, ke-na-pa ka-li-an ja-hat sa-ma sa-ya? Begitu," ucap Bi Ijah menekan rasa takutnya.


Prasetyo berjengit mendengar kalimat terbata yang diucapkan Bi Ijah saat menirukan gaya bicara Alea.


"Terus apa lagi, Bi?" tekan Prasetyo gemas.


"Non Alea juga bilang, mau pergi dari rumah ini juga dari hidup Tuan dan Nyonya kalo emang nggak diinginkan, tapi Non Alea nggak bisa lihat kalian tersenyum bahagia, sedangkan dia terus menangis. Yang bikin saya takut, waktu wajahnya berubah jadi seram. Saya sembunyi di kolong meja untuk menghindarinya," pungkas bi Ijah dengan keadaan tubuh yang semakin menggigil.


Prasetyo ternganga, ada sesuatu yang menyentil hatinya. Bagai teriris ribuan sembilu, hatinya berdenyut lara. Ucapan Alea yang disampaikan Bi Ijah benar-benar menohok rasa dalam dadanya. Rasa sakit itu menyerang dikala kenangan indah saat Alea kecil bermunculan silih berganti.


Begitu pula dengan Siska, tercenung setelah mendengar kalimat itu. Teringat kembali ucapan makhluk yang merasuki tubuh Bi Ijah bahwa dia adalah seorang Ibu yang jahat.


"Ekhem! Sepertinya saya mengerti kenapa 'mereka' bisa ada di sini dan mengganggu kalian."


Ucapan Mbah Jago menyita perhatian semua orang termasuk Prasetyo dan Siska sendiri yang sedari tadi merenungkan sikap serta kelakukan mereka terhadap si sulung.


"Maksud Mbah. Siapa 'mereka' itu?" tanya Prasetyo takut-takut.


Ingin menduga-duga, tapi tak tahu ke mana arah dugaan. Mereka? Siapa mereka? Nola nampak bingung, tak mengerti apa yang sedang dibicarakan para orang tua.


Ia sendiri tak tahu seperti apa perasaan di hatinya, dikala mendengar Alea yang akan pergi dari kehidupan mereka. Ada perasaan membuncah, juga sedikit cemas yang datang memenuhi relung jiwa.


"Mereka itu adalah ...."