
"Alea!"
Seseorang berlari mengejar Alea dan kelompoknya, ia melambai-lambaikan tangan meminta mereka untuk menjeda langkah. Gadis itu berbalik, diam menunggu kedatangan siswi perempuan yang menyusul mereka.
"Ada apa? Kenapa kamu lari-lari kaya gitu?" tanya Alea.
Siswi itu membungkuk, mengurai sesak yang menghimpit rongga dada. Peluh menetes dari dahinya, napas tersengal-sengal tak karuan. Ia mendongak, berkali-kali meneguk ludah karena tenggorokan serasa kering usai berlari tadi.
"A-arya, dia ... dia kesurupan. Iya, dia kesurupan," jawabnya terbata sambil terus meraup udara sebanyak-banyaknya.
"Kesurupan?" ulang ketiga wanita itu dengan kerutan bingung di dahi.
Siswi tadi mengangguk-anggukkan kepalanya dengan cepat. Lantas, melangkah mengikuti Alea dan kawan-kawan yang lebih dulu berlalu. Mereka kembali berlari ke kantin, berbondong-bondong semua siswa mendatangi kantin setelah mendengar kabar tentang Arya.
Regi menarik cepat tangan Alea disaat gadis itu hendak menembus kerumunan siswa. Pandang mereka beradu, ada hal yang tidak bisa dimengerti gadis itu, tapi Regi mengetahuinya.
"Jangan dekat-dekat! Tetap di sini, biar aku yang lihat," titah Regi serius.
Ia tak membutuhkan jawaban karena ucapannya bukan hanya sebuah perintah, melainkan sebuah keharusan untuk diri Alea. Regi membelah siswa membuka jalan untuknya. Di lantai itu, Arya sedang mencakar-cakar lantai sambil menggeram. Matanya tertutup, tapi mulut terbuka dengan liur menetes tiada henti.
Regi berdiri di hadapannya, seolah-olah melihat Arya membuang wajah padanya. Tubuhnya menggeliat seperti seekor harimau, suara yang keluar dari bibirnya pun terdengar persis seperti suara kucing besar itu. Semua siswa yang menonton bergerak menjauh, kecuali Regi yang tetap berdiri tegak memandang tajam Arya yang memejamkan mata.
Para guru berdatangan setelah mendengar laporan dari siswa. Di tengah kerumunan itu, Regi mulai mengangkat tangan, jari telunjuknya lurus mengarah pada wajah Arya yang beringas. Seolah-olah sedang mengeluarkan jurus tak kasat mata untuk menyerang makhluk yang menghinggapi tubuh Arya.
"Apapun jenis makhluk yang ada di dalam tubuh anak ini, keluar! Keluar sebelum aku bacakan ayat-ayat Allah yang akan membakar hangus jiwamu!" ucap Regi dengan lantang.
Dia nampak gagah dan berani, sosok yang tak dikagumi itu seketika menjadi pusat perhatian. Mencuri rasa semua orang terutama siswi perempuan.
"Gak!" tolak Arya dengan suara parau dan serak, "aku gak mau keluar dari tubuh anak ini. Aku suka tubuhnya yang penuh dengki, rasanya nyaman buat aku tinggali. Haha ...."
Tawa meggelegak kuat, mengguncang sisi rapuh semua orang. Mereka kembali memundurkan tubuh semakin membentang jarak dengan lokasi Arya yang mengamuk.
"Baik, kalau itu yang kamu mau, bersiaplah menerima takdir kamu!"
Regi bersedekap dada menggunakan sebelah tangannya, tangan yang lain masih menuding lurus ke wajah Arya yang semakin terlihat beringas. Kedua matanya bahkan sudah terbuka, lebar dan merah menyala.
"Kamu gak akan bisa ngalahin aku! Haha ... gak akan bisa!"
Kedua kaki depan Arya terangkat, perlahan berdiri tegak dengan kuda-kuda terpasang kuat. Tangannya bergerak-gerak memperagakan gerakan silat dengan jari-jemari membentuk cakaran.
Regi tak gentar, ia seorang aktivis muda yang bergerak di bidang ruqyah. Mendalami metode ruqyah setiap liburan sekolah bersama para ahli di kampungnya. Regi membuka mata, mulutnya komat-kamit membaca ayat demi ayat dari Kalamullaah yang suci. Di antara siswa yang mengerti termasuk Firda di dalamnya, ikut membantu Regi membaca penggalan ayat-ayat ruqyah.
"اَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ...."
"A'uudzu billaahi minasy-syaithoonir-rojiim ...."
Regi memulai bacaannya, tawa Arya masih saja menggema seolah-olah ia tak takut apapun. Bacaan-bacaan yang dilantunkan Regi tak ayal hanya sebatas gigitan semut yang membuat gatal pun tidak.
"Argh!"
"Lea!"
Regi sempat melirik, tapi ia harus memfokuskan target pada Arya yang tak henti menggeram dan tertawa. Sosok Arya melompat, menyerang Regi dengan cakarnya. Remaja itu bergeser menghindari terkaman Arya.
"Wahai kalian yang mendiami tubuh anak Adam ini, atas izin Allah, keluarlah! Laa Haula wa laa quwwata Illaa billaahil-'aliyyil-'adhiim!"
"Argh!" Arya mulai menjerit, bercampur dengan jeritan Alea yang semakin keras terdengar. Dia mengamuk tak terkendali. Menyerang Regi secara brutal, tapi remaja itu tak gentar.
Hampir seluruh siswa perempuan memekik sambil berpelukan. Wajah-wajah meringis kengerian tak lepas dari mereka, di antara mereka bahkan ada yang menangis termasuk Asri, kekasih Arya.
"Ayo, kita bantu dia. Kenapa kita cuma diam aja?" Seorang guru berinisiatif membantu Regi.
Guru laki-laki di sekolah itu beramai-ramai memegangi tubuh Arya agar tidak mengamuk berlebihan. Juga guru wanita mendatangi tempat Alea yang masih mengerang dan menjerit terkadang menangis lirih.
Tubuh Arya digulingkan di lantai, lima orang guru laki-laki memegangi tangan dan kakinya. Regi berjongkok sambil meneruskan bacaan, meletakkan jari telunjuk di perut teman sejawatnya itu.
"Atas izin Allah, keluarlah!" seru Regi dengan lantang.
"GAK! Aku gak mau keluar!" jerit jin yang mendiami tubuh Arya.
Regi menggerakkan jari telunjuknya ke atas seolah-olah mendorong sesuatu untuk naik. Hal tersebut berlangsung sampai jari itu tiba di leher.
"Panas! Sakit! Ampun! Sakit!" jerit jin tersebut saat Regi memberi tekanan pada ayat yang dibacanya.
Arya menggelinjang, berbalik dan memuntahkan lendir bening yang cukup banyak. Regi menyudahi bacaannya, ia mengusap wajah seraya mengucapkan hamdalah. Menekan-nekan tengkuk Regi sambil membacakan ayat-ayat untuk membuatnya sadar dan tenang.
Para guru membantu Arya untuk duduk, memberinya sebotol air mineral. Arya merasa seluruh tubuhnya memanas dan terasa ngilu. Dadanya pun menjadi sesak, tenggorokan serasa sempit dan sakit. Dia masih belum menyadari apa yang terjadi, menoleh saat suara jeritan Alea menggema memenuhi ruang kantin.
Dia menangis histeris, terkadang lirih dan pilu. Dua orang guru wanita memegangi tangannya, sedangkan Firda dan Sofi memegangi kedua kakinya.
"Aku benci mereka, aku benci orang tua itu. Mereka pilih kasih, mereka jahat. Mereka buang aku ke tempat jauh. Aku benci mereka!" jerit Alea disambut tawa yang menggelegar membuat bulu kuduk merinding. Suaranya berubah serak, berat terdengar.
"Lea! Sadar, Nak," ucap seorang guru sembari menguatkan pegangannya.
"Mereka jahat, aku benci mereka. Aku gak pernah boleh pergi ke mana-mana, aku selalu dikurung di rumah. Aku harus ngerjain pekerjaan rumah, aku capek. Aku capek!" keluh Alea lagi dengan jeritan yang memekakkan telinga.
Ia kembali menangis, jin yang menguasai jiwanya mengungkap semua yang tak dapat diungkapkan Alea. Regi berhambur mendekat, ia menatap iba sosok cantik, tapi lemah itu.
Ia yang hendak mendekat, urung karena kedatangan bu Ningsih bersama dua pelayannya. Semua siswa membuka jalan untuk sang kepala asrama.
Wanita yang selalu terbungkus kebaya itu mendekat, riak di wajahnya tetap elegan. Tak terlihat cemas apatah lagi panik. Ia berjongkok di samping Alea, mengusap dahi gadis itu dengan lembut.
"Kenapa, Neng? Tenang, sayang. Kalau kamu capek, istirahat aja. Sudah, ya. Kamu pergi!" ucap bu Ningsih dengan lembut.
Alea berhenti menjerit, tangannya yang semula keras perlahan lunglai. Tangisnya reda, ia manut pada perintah bu Ningsih.
"Baik, Nyai," ucap suara serak itu sebelum tubuh Alea terjatuh.