
Teh Minah bersenandung ria di dalam kantin. Sambil mengumpulkan uang hasil penjualan hari itu, ia memisahkan setiap lembar mengikuti nominal. Duduk menumpuk kaki di kursi putar tempatnya biasa melayani.
"Hmm, apa anak-anak itu udah nggak pada punya uang, ya? Kok, banyakan receh uangnya hari ini. Hmm ... disyukurin ada, deh," gerutunya sembari menghela napas berat dan panjang.
Seperti biasanya, jika akhir bulan maka uang anak-anak pastilah tersisa receh. Menunggu tanggal muda orang tua mereka akan datang menjenguk. Seperti sekolah asrama kebanyakan, orang tua murid di asrama Melati Putih pun akan datang menjenguk setiap bulannya. Itu merupakan peraturan yang dibuat asrama untuk orang tua.
Teh Minah memasukkan uang recehan tersebut ke dalam sebuah kantong plastik. Tanpa sengaja sudut matanya menangkap sesosok tubuh yang berdiri di dekat etalase kaca di samping kiri tubuhnya.
"Perasaan kaya ada orang, ya," gumamnya pelan.
Ia melirik dengan cepat, kemudian menghela napas lega saat tak ditemukan apapun di sana.
"Huh, cuma perasaan doang." Ia tersenyum, lantas bangkit dan keluar dari warung.
Semilir angin tiba-tiba berhembus menerpa kulit tengkuknya. Teh Minah menjeda langkah, mengusap belakang leher dengan pelan. Matanya melirik kian kemari, sesuatu yang asing sontak saja menyapa rasa dalam dirinya.
"Kok, tiba-tiba merinding gini, ya?" Minah bermonolog sendiri sembari menatap sekitar.
Ia bergidik ngeri, malam sepi terasa mencekam. Buru-buru Minah melanjutkan langkah menepis rasa aneh yang mendera ketakutannya. Ia membuka pintu dengan cepat, menguncinya, kemudian bersandar pada daun pintu sambil mengatur napas yang tersengal.
"Untung aja, syukurlah gak ada apa-apa," gumamnya sambil mengurut-urut dada yang kembang-kempis.
Tiba-tiba suara gendang mengusik indera rungu Minah, tubuhnya kembali menegang, mata menjegil awas. Ia menahan napas agar dapat mendengarkan suara musik jaipong yang sedang dimainkan.
Tak hanya suara gendang yang terdengar, sorakan dan suara pengiring musik pun ikut teraba telinganya. Seperti sedang ada pesta yang menampilkan tarian jaipong yang memang digemari masyarakat Sunda kebanyakan.
"Emangnya ada yang lagi hajatan, ya? Kok, suaranya kenceng banget," gumam Minah bergeming di dekat pintu tak berani beranjak selangkah pun.
Mata Minah tertuju pada jendela kamar, gorden berwarna ungu tua itu melambai-lambai tertiup angin. Kilap-kilap lampu tampak benderang di luar kamar. Penasaran, Minah mendekat. Suara tabuhan gendang juga kidung merdu sang sinden semakin jelas di telinganya.
"Apa Bu Ningsih yang ngundang mereka, ya? Tapi ini, 'kan, udah malam banget. Kalaupun iya pasti ganggu anak-anak yang lagi istirahat." Minah terus bergumam sambil melangkah pelan-pelan.
Sesekali kepalanya akan dimiringkan untuk dapat melihat dari celah gorden yang berkibar. Remang-remang dalam penglihatan kerlip lampu juga keramaian masih terlihat. Minah berhenti di dekat gorden, kain itu tak lagi berkibar. Diam seperti keadaannya semula.
Suara musik juga lengkingan sinden tak lagi terdengar, hening. keadaan tiba-tiba saja berubah mencekam. Minah mengusap kedua lengannya, memeluk tubuh sendiri saat rasa dingin membuat permukaan kulitnya meremang.
Ia mengangkat tangan pelan, menggenggam sisi gorden sambil menguatkan hati. Matanya terpejam rapat, rasa takut dalam hatinya terus saja mengikis keberanian yang ia miliki. Gorden disibaknya dengan cepat, kedua mata Minah terbuka sempurna.
Lalu kemudian, keningnya mengerut menyaksikan hening dan gelap di tempat ia melihat pesta sepersekian detik lamanya.
"Kok, sepi? Bukannya tadi ada banyak orang, ya? Aku, kok, jadi takut gini," ucapnya pada diri sendiri.
Tergesa menutup gorden dan berlari mendekati ranjang. Melompat ke atas kasur seraya menarik selimut menggelung dirinya sendiri. Ia tak tidur, bernapas pendek-pendek karena rasa takut. Di dalam selimut matanya menatap awas.
"Kenapa, sih? Malam ini, kok, lain? Aku nggak biasanya ketakutan kaya gini, tapi malam ini beda," umpatnya sambil menggenggam ujung selimut dengan erat.
"Duh, mana sendirian lagi. Ke mana lagi si Marni ini, kok, nggak dateng-dateng?" gerutunya lagi tak henti memutar bola mata menatap sesuatu di luar selimut.
Deg!
Jantung Minah berdentam-dentam tak karuan, ia menahan napas saat suara gendang justru terdengar di dalam kamarnya sendiri. Suara sabetan sampur alias selendang jelas terdengar di telinganya.
Wanita itu kini menghadapnya, tersenyum manis tanpa memandang Minah. Wajah yang tak asing itu terus mengikuti gerakan tangannya.
Itu bukannya murid baru itu, ya? Dari mana dia masuk? Terus kenapa pake baju kaya gitu? Bikin merinding aja.
Minah membeku di kasurnya, memandang tak percaya sosok Alea yang terus meliuk-liukkan tubuh. Wanita penjaga kantin itu terhenyak tatkala Alea melihat ke arahnya sambil melemparkan senyuman tajam. Seperti diancam, tubuhnya mengirimkan signal bahaya membuat Minah waspada.
Alea berputar sambil terus menari seolah-olah musik mengiringi. Padahal, sepi. Selayaknya seorang pencuri yang ingin melarikan diri dari kepungan sang tuan rumah, Minah pelan-pelan beranjak turun dari ranjang.
Merayap pelan sambil tak lepas menatap Alea yang tak memperhatikan. Tangannya meraba dinding, terus menjalar hingga memegangi kunci. Buru-buru Minah membukanya.
Ceklak!
"Mau ke mana?" tanya Alea dengan suaranya yang parau lagi hampa.
Minah membeku, terpatah lehernya menoleh dan mendapati Alea berdiri di belakangnya sambil tersenyum. Wajah gadis itu terlihat dingin dan kaku, meski bibirnya membentuk senyuman. Tetap saja tak menutupi ancaman yang dipancarkan lewat sorot matanya.
"Ja-ja-ja-ngan ga-ga-gang-gu saya. Pergi! Pergi!" jerit Minah seraya berlari keluar kamar tanpa peduli pada uang yang ditinggalkannya di atas ranjang.
"Hihihihi ...."
Suara lengkingan tawa mengiringi setiap laju kakinya. Minah menjerit-jerit sambil terus berlari, meminta tolong pada siapa saja. Sayang, tak ada siapapun yang terlihat meronda di asrama termasuk pak Selamet yang biasanya akan berkeliling di malam hari.
"Jangan lari! Mau ke mana?"
Suara itu kembali terdengar semakin mendekat. Dibarengi dengan tawa cekikikan yang menyeramkan, melengking tinggi dan panjang. Minah semakin ketakutan, kakinya semakin cepat mengayuh.
Ia mendatangi kamar-kamar para murid, menggedor pintu meminta bantuan dari kamar ke kamar. Tak satupun yang membukakan pintu untuknya. Semua seolah-olah terlelap tak mendengar suara teriakan Minah di luar.
"Tolong! Buka pintunya, tolong saya! Buka!" jeritnya di depan pintu ketiga yang ia ketuk.
"Minah! Mau lari ke mana?"
Suara Alea kembali terdengar, Minah berpindah ke pintu berikutnya. Menggedor pintu tersebut semakin kuat sambil menjerit meminta tolong. Air mata bercampur keringat membasahi tubuhnya.
"Buka pintunya!" Jeritannya semakin kuat sampai-sampai suaranya berubah serak.
Namun, tetap saja pintu-pintu itu tak terbuka walau hanya sedikit saja. Semua orang bergeming di dalam kamar mereka, terlelap dibuai alam mimpi yang indah.
"Hihihihi ...."
Suara tawa itu lagi, Minah semakin putus asa. Akan tetapi, terus mencoba menggedor pintu-pintu asrama berharap salah satu dari pintu itu akan terbuka dan membiarkannya masuk.
"Buka! Tolong aku!"
Brak!
Ia menabrakkan diri pada daun pintu dengan cukup kuat, berkali-kali sampai pintu itu terbuka dan Minah jatuh tersungkur di dalam kamar.
"Teh Minah!" jerit Asri dan ketiga temannya yang berdiri tegang di tengah kamar.