Rasuk

Rasuk
Alea Terikat



Keempat murid itu dibuat linglung, pasalnya begitu keluar gudang hari sudah petang. Padahal, ketika mereka masuk matahari barulah naik sepenggalan.


Regi menengadah menatap tak percaya pada matahari yang sekejap lagi akan hilang di peraduan. Saliva diteguknya, tak akan mungkin dalam waktu beberapa detik saja, langit sudah berubah.


"Coba lihat jam, kali aja salah. Mana tahu ini mau hujan," saran Anto pada Regi karena hanya dia yang selalu mengenakan jam tangan.


Remaja itu menurunkan pandangan seraya melirik jam di tangan, jarum jam tak berdetak. Tiba-tiba mati tak bergerak. Regi memukul-mukul jam tangannya dengan geram, ia mengumpat juga berdecak.


"Kita pergi aja, rasanya aku nggak percaya. Ini nggak masuk akal!" Setengah berlari Regi meninggalkan gudang, diikuti tiga temannya.


"Ya ampun! Gerbangnya dikunci. Ke mana lagi Bu Ningsih? Kok, nggak nongol tadi di sini aja sekarang malah hilang," gerutu Jaka setengah mati menahan kesal pada pemilik asrama itu.


"Sial!" umpat Adit sembari menendang gerbang tersebut.


"Terus gimana ini? Apa kita lompat aja?" saran Anto sambil memperhatikan tinggi gerbang yang tak seberapa itu.


"Ya udah, ayo!"


Satu per satu mereka melompati gerbang tersebut, dan segera berlarian. Waktu terus berlanjut, perlahan lembayung di langit berubah muram. Sedikit demi sedikit langit pun berubah gelap.


Suara gendang di kejauhan samar tertangkap telinga mereka. Adit membentang tangan bersamaan dengan kedua kakinya yang berhenti bergerak.


"Kalian denger nggak?" bisiknya pada yang lain.


"Iya, kaya ada hajatan. Apa Bu Ningsih lagi bikin acara, ya?" sambut Anto sembari melirik yang lainnya.


"Kita liat, yuk!"


"Hei!" Regi mencegah, tapi terlambat.


Tangannya mengudara tak dihiraukan, semua temannya telah pergi berlarian menuju suara pesta meriah tersebut.


"Bodoh!" umpat Regi seraya menyusul ketiga temannya.


Ia berjalan perlahan, lampu-lampu berpendar di kejauhan. Riuh rendah suara manusia mengusik kesunyian malam. Jelaga malam telah diturunkan, kedua bola mata coklat itu melirik peraduan sang pemilik cahaya terang benderang.


"Kenapa malam datangnya cepet banget? Ini, aneh. Pasti ada yang salah," gumam Regi memikirkan semua kejadian yang ia alami.


Kidung suara sinden mengusik telinga, Regi yang penasaran pun kembali mengayunkan langkah mendekati tempat tersebut. Matanya memicing kala mendapati banyak manusia di halaman rumah Bu Ningsih.


"Pesta? Dari kapan? Tadi siang nggak ada janur di halaman rumah Bu Ningsih? Kapan masangnya?" Lagi-lagi ia bergumam lirih.


Langkahnya berhenti beberapa meter dari lokasi pesta. Mengawasi dibalik pohon bunga mawar, hanya Regi seorang yang bisa merasakan semua kejanggalan itu.


"To-tolong!"


Sebuah suara lirih dan bergetar menyentak lamunan Regi. Tak urung rasa penasaran pun menyelimuti hatinya, pandangan mengedar ke segala arah mencari sosok pemilik suara yang meminta tolong.


"Siapa?" tanya Regi takut-takut.


Ia berbalik memunggungi pesta, menatap pohon beringin yang berada cukup jauh dari kediaman Bu Ningsih. Alisnya bertaut sempurna hingga hampir mempertemukan kedua ujungnya.


"Re-regi! To-tolong!" Suara lirih itu kembali terdengar, Regi merasa seolah-olah mengenal suara yang tak asing di telinganya.


"Re-regi!"


"Alea!"


Regi tersentak, berlari mendekati pohon beringin yang rimbun. Akar-akarnya yang menjuntai, seperti sebuah tangan yang menari-nari. Meliuk-liuk ke sana kemari mengikuti suara gendang yang ditabuh.


"To-tolong!"


"Alea! Di mana kamu?" teriak Regi semakin mendekat ke pohon beringin itu.


Pohon yang berhadapan langsung dengan asrama putri, tempat yang tak pernah dikunjungi murid laki-laki kecuali pada acara-acara tertentu saja.


"Alea! Di mana kamu!" Regi kembali berteriak sambil mengelilingi pohon tersebut.


"Re-regi! Apa itu ka-kamu?" tanya Alea terbata dan terdengar payah.


"Iya, ini aku. Kamu di mana, Le?" jawab Regi lagi sembari terus berputar mengelilingi pohon tersebut, tapi sosok Alea tak kunjung nampak.


"Di sini, Gi! Aku di sini, to-tolong!" ucap Alea lagi dengan napas tersengal.


"Di mana? Aku nggak bisa liat kamu, Lea!" Regi linglung.


"Aku bisa lihat kamu, Gi. Aku ada di depan kamu, Regi! Tolong aku!" ucap Alea lagi begitu dekat, tapi tak terlihat.


Alea menangis sesenggukan, melihat Regi di depan mata sama sekali tak melihat ke arahnya. Remaja laki-laki itu berputar-putar, menyibak setiap akar yang menjuntai. Terus merangsek hingga semakin dekat dengan pohon besar tersebut.


"Lea!"


"Argh!"


Bruk!


Regi jatuh terjerembab, sesuatu yang tak kasat mata mendorongnya cukup kuat. Perlahan, sosok Alea yang terikat akar beringin mulai nampak dalam pandangnya. Gadis itu menangis sesenggukan tanpa dapat melakukan apapun.


"Regi!"


"Alea!"


Pandang mereka beradu untuk beberapa saat, tersirat keputusasaan juga penderitaan di manik gadis yang terikat di atas pohon tersebut. Ia mengenakan gaun putih bersih, akar-akar beringin melilit kaki hingga lehernya.


Regi beranjak menatap Alea dengan dalam. Gegas berlari ke arah pohon beringin itu untuk menyelamatkannya. Namun, sebelum ia sampai mendekat, sebuah dinding tak kasat mata menghalangi jalannya.


Regi meraba-raba, tak ada apapun yang nampak, tapi dia benar-benar terhalang. Ia berdiri linglung, memukul-mukul dinding tersebut dengan kuat.


"Apa ini? Alea! Apa kamu baik-baik aja?" teriak Regi.


Kedua tangannya terus memukul-mukul penghalang yang tak terlihat itu.


"Sakit! Aku mau keluar dari sini, Regi. Tolong aku!" ucap Alea sambil terus terisak lirih.


"Kamu tenang aja, aku pasti akan keluarin kamu dari sini!" sahut Regi seraya mengedarkan pandangan ke tanah mencari kayu atau apapun itu untuk menghancurkan penghalang tersebut.


Ia berlari ketika mendapati sebuah balok kayu, memungutnya dan terus kembali ke tempat Alea terkurung. Sekuat tenaga, Regi memukulkan balok tersebut pada dinding tak terlihat itu.


Bugh!


Balok kayu tersebut terpental berikut tubuh Regi yang bergeser beberapa langkah. Ia tidak menyerah, kembali memukulkan balok tersebut dengan lebih kuat lagi.


"Cepat, Regi! Sebentar lagi dia datang! Aku takut," pinta Alea semakin pilu isak tangis yang ia lakukan.


"Siapa? Dia siapa?" jerit Regi sambil terus memukul-mukul dinding tersebut dengan kuat.


Suara tangis Alea semakin membuatnya bertekad untuk mengeluarkan gadis itu dari kurungan. Sayang, jangankan hancur, retak saja tidak.


"Re-regi! Di-dia da-datang!" ucap Alea bergetar.


"Aku nggak peduli siapa dia yang kamu maksud. Aku harus berhasil ngeluarin kamu dari sini!" ucap Regi sambil terus menghantam sesuatu yang tak terlihat.


"Regi! Hati-hati!" Peringatan dari Alea kembali terdengar, tapi laki-laki itu tidak menyerah.


Regi terus saja memukulkan balok di tangan sampai sesuatu menahannya. Balok tersebut tak dapat digerakkan, terus berada di udara. Regi mendongak, lagi-lagi tak ada apapun yang dia lihat.


"Siapapun kamu, aku minta lepasin Alea!" pinta Regi berteriak.


Sekuat tenaga menarik balok tersebut hingga terlepas, ia memukul udara tak tahu apa yang ada di hadapannya.


"Nggak akan! Hahaha ...."


"Regi! Regi!"