Rasuk

Rasuk
Ijah Kerasukan Lagi



"Mereka siapa, Mbah?" tuntut Prasetyo tak sabar saat dukun tersebut justru menggantung kalimatnya.


Belum terjawab rasa penasaran di hatinya, lirikan mata sang dukun menjadi tajam dan waspada. Bibirnya berkedut-kedut seolah sedang membaca sesuatu. Tak ada yang menyadari kecuali dirinya.


"Mbah-"


"Diam! Mereka datang," tukasnya berbisik.


Suaranya semakin parau seperti ada ribuan ton beban yang menimpa kedua pundaknya. Semakin cepat kedua bibirnya komat-kamit, kedua mata bahkan terpejam rapat. Tangannya terangkat membentuk sebuah simbol, entah apa tujuannya.


Siska dan Nola memeluk Prasetyo karena ketegangan yang terjadi pada sang dukun. Sugi sendiri tak tahu harus apa disaat Ijah meremas lengannya kuat-kuat.


"Pah, dia kenapa?" lirih Nola gemetar.


"Nggak tahu Papah juga, tadi di kantor nggak kayak gini." Prasetyo tak kalah bingung.


Brak!


"Argh!"


Pintu dan jendela terbuka secara spontan, daun-daunnya tak henti membentur dinding rumah menimbulkan suara bising yang mencekam. Disambut jerit ketakutan dari semua wanita, diikuti isak tangis Nola.


Swush!


Angin kencang berhembus menerbangkan benda-benda yang menggantung di dinding.


Prang!


Brak!


Semua benda berjatuhan di lantai, bingkai-bingkai foto berserak. Kaca-kaca pecah berantakan, hiasan lain pun ikut terbang dan menghantam pilar serta dinding.


"Papah!" Nola dan Siska semakin kuat memeluk Prasetyo.


Wajah mereka benamkan ke tubuh laki-laki itu, tanpa tahu ia sendiri pun tengah menahan ketakutan yang teramat. Kedua tangannya memeluk dua wanita itu, membawa mereka merunduk khawatir akan terkena hantaman benda yang berterbangan.


Sugi menarik Ijah untuk bersembunyi di bawah sofa, tapi wanita itu bergeming. Duduk tegak menatap kepulan angin yang membentuk tornado kecil di dalam rumah. Sang dukun tak henti membaca mantra-mantra, terus komat-kamit hingga air liurnya menyembur dari sela-sela bibir.


Kedua tangan diangkatnya tinggi-tinggi, melebihi tinggi kepalanya. Entah apa yang sedang dia lakukan, mungkin ingin menghalau kedatangan 'mereka' yang dia maksud.


Berselang, tubuh Ijah membeku kedua mata melotot lebar. Tak lama, ia menggelepar di sofa. Secara perlahan, bola matanya terus naik hingga tak bersisa. Hanya putih terlihat, sungguh menyeramkan.


"Papah, Ijah, Pah!" Siska kembali teringat kejadian sebelum suaminya datang.


"Tenang, Mah. Tenang! Mbah Jago pasti bisa ngelawannya," sahut laki-laki yang tengah menekan rasa takutnya itu.


"Hihihihi ...."


Tawa menggelegak itu berasal dari Ijah yang secara perlahan tubuhnya berdiri tegak. Tawa itu terus menggema memenuhi seisi rumah. Keadaan semakin mencekam, mereka semua meringkuk di sofa tanpa tahu harus melakukan apa.


Sang dukun berdiri, memasang kuda-kuda sekuat mungkin agar tetap dapat berdiri di lantai.


"Garam! Ambilkan garam!" perintahnya tenggelam di dalam pusaran angin.


Sugi yang mendengar lekas merayap keluar dari lingkaran sofa.


"Jangan ganggu saya! Kenapa kamu mengganggu saya?!" geram suara Bi Ijah.


Rambutnya yang bergelombang dengan panjang sepinggang berkibar-kibar tertiup hembusan angin. Kesepuluh jari terbuka seolah-olah sedang menunjukkan kuku-kukunya yang panjang mencuat.


"Ini, Mbah!" Sugi datang memberikan apa yang dia minta.


Dukun tersebut mengambil tempat garam itu, menjumputnya sedikit dan mendekatkannya ke mulut. Dimantari sebentar sebelum ia lemparkan ke arah Ijah.


"Keluar kamu! Kenapa kamu mengganggu keluarga ini. Keluar! Tinggalkan tubuh wanita itu juga rumah ini!"


Dia mencipratkan garam di tangan pada Ijah, suara jeritan yang melengking membumbung tinggi hingga ke langit-langit.


Sang dukun terus melempar garam, berjalan mengelilingi tubuh Ijah yang menggeliat kesakitan. Raungan penuh derita menguar dari mulutnya, Ijah menengadah ke langit-langit.


"Berhenti! Cukup!" jeritnya lagi terdengar kesakitan.


Kengerian pun tercipta dari adegan yang seumur hidup tak pernah mereka lihat kecuali di film-film. Ijah kembali menggelepar, suara patah tulang membuat tubuh mereka bergidik ngeri. Ijah dibuat tak karuan olah makhluk yang merasuki tubuhnya.


"JANGAN GANGGU AKU! KALIAN BENAR-BENAR KERAS KEPALA!"


Suara yang keluar dari bibir wanita yang masih menggeliat kuat itu terdengar aneh dan banyak. Jeritan anak kecil, juga tangisan orang dewasa, berpadu dengan suara tawa yang menggelegak sungguh diluar nalar mereka.


Prasetyo membawa kedua wanita itu mundur dan berdiri di belakang sang dukun. Saling berpegangan, Nola dan Siska tak henti merengek sambil terisak-isak, pegangan keduanya di lengan Prasetyo mengetat.


Termasuk Sugi yang lekas menjauh dari tempatnya semula, dan berdiri tak jauh dari dukun tersebut.


"Kamu yang keras kepala, datang dan ganggu keluarga ini! Cepat keluar! Sebelum aku bakar jiwa kamu sampai gosong!" ancam sang dukun sambil terus menebar garam ke arah Ijah.


"Pegangi dia! Kalo perlu ikat dan dudukkan di kursi!" perintah Mbah Jago pada Sugi.


Sugi belum bergerak, mencari cara bagaimana supaya dia dapat memegangi Ijah agar berhenti menggeliat.


"CEPAT!"


Namun, teriakan sang dukun yang cukup mengejutkan, membuat Sugi tak dapat berpikir. Dia berlari menghampiri Ijah, mencari-cari celah agar bisa menangkap tubuh yang terus menggeliat itu.


Prasetyo tak tinggal diam, ia meninggalkan anak dan istrinya ikut membantu Sugi menenangkan Ijah. Prasetyo berhasil menangkap salah satu tangan Ijah, tapi dengan mudah disingkirkan wanita itu.


Tubuhnya terpelanting hampir membentur dinding. Akan tetapi, dia tidak menyerah, kembali bangkit dan memeluk perut Ijah. Sugi pun berhasil memegangi kedua tangannya, tapi wanita itu terus berontak tiada henti.


"LEPASKAN AKU! KALIAN KEPARAT!" jerit makhluk yang mendiami tubuh Ijah.


"Ambil tali, CEPAT!"


Perintah Mbah Jago membuat linglung kedua wanita itu. Nola dan Siska sibuk mencari keberadaan tali, cukup lama mereka mencari karena semua itu disimpan Ijah.


"Ini, Mbah!"


Nola memberikannya pada sang dukun dengan tangan gemetar. Ia menerima dengan cepat, dibacakannya mantra-mantra pada tali tersebut dengan kedua mata yang terpejam. Prasetyo dan Sugi tampak kepayahan memegangi tubuh Ijah yang tiga kali lebih kuat dari biasanya.


"Dudukkan dia di kursi kayu!" pinta sang dukun usai memantrai tali tambang tersebut.


Nola bergegas mengambil sebuah kursi di dapur, membawanya ke tengah ruangan. Berdua, Sugi dan Prasetyo bahu-membahu mendudukkan tubuh Ijah yang terasa kaku dan berat. Lepas itu, sang dukun melilitkan tambang di seluruh bagian tubuh sampai leher.


"KURANG AJAR KALIAN! BERANI-BERANINYA MELAKUKAN INI PADAKU! AKU NGGAK TERIMA, AKU NGGAK TERIMA! AWAS AJA KALIAN!" teriak Ijah lagi makin membahana di segala penjuru rumah.


"Aku nggak berhenti sampai kamu keluar dari tubuh wanita ini!" balas sang dukun sambil menaburkan garam di pucuk kepalanya.


"ARGH! SAKIIIIT! CUKUP! CUKUP!" mohon makhluk tersebut dengan napas terputus-putus karena garam terus ditabur di atas pucuk kepalanya.


"Aku akan berhenti kalo kamu mau menjawab pertanyaan aku. Siapa kamu dan kenapa kamu ganggu keluarga ini?!"


Makhluk itu terdiam disaat sang dukun berhenti menaburkan garam. Matanya yang memutih menghadap ke depan, mengarah pada tiga orang penghuni rumah yang kini telah berkumpul.


"Mereka ... mereka jahat! Bukan aku ... bukan! Tapi mereka!"


Kepala Ijah lunglai tersandar pada sandaran. Dukun itu pun berhenti, lantas mengusap wajah sendiri.


"Udah, mereka udah pulang. Lepasin dia!" titahnya pada Sugi yang siaga menjaga di belakang Ijah.


Hati-hati dibukanya ikatan tali, Ijah meringis kesakitan. Sugi memberikan air minum yang didapatnya dari Mbah Jago membantu Ijah untuk meminumnya.


"Gimana, Mbah? Siapa mereka tadi?" tanya Prasetyo tak sabar ingin tahu.


Mbah Jago melirik tajam, tak ada kata yang terucap. Mungkin dia terlalu lelah.