
"Regi! Regi!"
"Siapa!" teriak Regi kuat-kuat.
Matanya menyalang, menengadah pada langit. Mencari-cari suara yang memanggil namanya.
"Regi, awas!"
Terlambat. Remaja laki-laki itu terpental jauh dan menabrak pohon beringin. Cairan merah menyembur dari mulutnya, Regi terbatuk sebelum tak sadarkan diri.
"Regi!" Alea menjerit, memberontak sekuat tenaga, tapi tetap saja tak dapat melepaskan diri dari cengkeraman akar beringin tersebut.
Entah apa yang terjadi.
"Regi! Regi! Bangun, Nak!" ucap suara Bu Ningsih sambil menepuk-nepuk pipi remaja itu.
Tak hanya ada Bu Ningsih, tapi juga asistennya, pun Pak Selamet sang pawang asrama di malam hari turut hadir di tempat tersebut. Mereka datang berbondong-bondong ke gudang karena diminta Bu Ningsih membangunkan empat orang murid yang tertidur di dalam gudang.
"Nak Regi, bangun!" Sekali lagi Bu Ningsih menepuk pipi itu.
Ketiga temannya dalam kondisi yang sama, tapi ekspresi wajah mereka berbeda. Jika ketiganya tersenyum sumringah, maka Regi justru tegang dan berkeringat. Perasaan panik juga takut jelas tergambar di wajahnya, hal itulah yang membuat panik semua orang.
Pak Selamet datang membawa ember kecil berisi air yang sudah dibacakan doa-doa sebelumnya. Satu per satu ia usap wajah anak-anak itu dengan air tersebut. Secara serentak ketiga teman Regi membuka mata dengan linglung.
"Mana pestanya?"
"Lho, kok, masih di gudang?"
"Iya, bukannya kita lagi asik makan enak, ya?"
Ketiganya terlihat bingung, menggaruk-garuk kepala sendiri sambil berpikir. Wajah menengadah menatap langit-langit gudang yang dipenuhi sarang laba-laba.
"Emang kalian abis ngapain?" tanya Pak Selamet teringin tahu.
Adit, Anto, dan Jaka kompak menolehkan kepala pada sosok laki-laki tua yang menatap mereka.
"Abis dari ... lho, masih siang? Bukannya tadi udah malam?" celetuk Adit saat melihat sinar matahari masuk melalui pintu yang terbuka.
"Peuting naona?! Sakieu panon poe meuni ruhay, bolor sia peuting?! Boga bolor eta dipake nu bener. Ulah molor di tempat teu paruguh jiga kieu. Dasar balegug sia, teh! Malah malolor di gudang. Amit-amit!" hardik teman Teh Marni dengan wajah memerah marah.
(Malam apanya? Segini matahari nyengatnya, matamu malam?! Punya mata itu dipakai yang bener. Jangan tidur di tempat nggak jelas kaya gini. Dasar bodoh kamu, itu! Malah tidur di gudang. Amit-amit!)
(Mohon maaf, bahasa Sunda kami memang seperti itu)
Teman Teh Marni dibuat kesal oleh tingkah keempat murid yang tertidur di gudang tersebut. Keadaan gudang sendiri sebagian telah bersih dan rapi, tapi masih ada juga yang berdebu dan berantakan. Wanita paruh baya itu terlihat emosi, bukan karena marah, tapi lebih tepatnya cemas.
Mendapat teguran keras dari wanita itu, ketiga teman Regi menundukkan kepala. Mereka saling pandang, tanpa tahu bagaimana menjelaskannya pada semua orang. Mungkin jika Regi bangun nanti, semuanya akan terungkap. Akan tetapi, teman mereka itu tidak ada dalam pesta.
Adit takut-takut mengangkat wajah, menatap Bu Ningsih yang juga melihat ke arah mereka.
"Bu, bukannya tadi ada pesta di depan rumah Ibu? Kita makan hidangan enak, lho, tadi. Kita juga lihat ada tiga orang penari jaipong yang lincah. Apa kami cuma mimpi?" tanyanya memastikan.
Bu Ningsih menggelengkan kepala, helaan napas halus ia lakukan sambil mengurai senyum tipis.
"Lagian kalian kalau emang capek kenapa nggak istirahat aja? Malah terus kerja sampe ketiduran, sampe mimpi lagi. Hadeuh!" ucap Bu Ningsih kembali menggelengkan kepalanya.
Mendengar itu, mereka yakin apa yang mereka alami hanyalah sebuah mimpi. Ketiganya melirik Regi yang masih tak sadarkan diri meski Pak Selamet sudah memercikkan air doa pada wajahnya.
"Regi!" gumam Jaka pelan.
"Teman kalian yang satu itu kayanya ngalamin mimpi buruk, mukanya keringetan. Coba bantu Pak Selamet buat bangunin dia," pinta Bu Ningsih seraya melepas napas panjang.
Ketiganya beringsut mendekat, menopang tubuh Regi untuk didudukkan. Teman mereka itu lemah tak berdaya, rambutnya lembab karena keringat yang tak henti mengucur.
Pak Selamet menekan kedua pelipis Regi sambil membaca doa-doa untuk membangunkannya. Wajah Regi mengernyit, menyusul dirinya yang memuntahkan cairan merah dari mulut. Pak Selamet terlonjak.
Hal itu membuat terkejut semua yang ada termasuk Bu Ningsih. Rasa tak percaya jika Regi akan memuntahkan cairan berbau amis itu memenuhi hati mereka.
Bu Ningsih nampak bingung, ia meminta Teh Marni dan temannya untuk membersihkan darah tersebut dan meminta ketiga teman Regi membawanya ke kamar.
Sementara Alea dan ketiga temannya baru saja memasuki gerbang asrama. Tertawa sambil bercerita tanpa tahu apa yang terjadi. Di lain arah, teman-teman Regi tengah bersusah payah membawa remaja itu.
"Lea, lihat itu bukannya Regi?" bisik Firda sembari menyenggol Alea.
Gadis itu mengangkat wajah ke depan, ia termangu melihat kondisi Regi yang dibantu dua orang temannya. Rasa cemas seketika saja meliputi hati, kedua kakinya berlari dan berhenti di depan rombongan itu.
"Regi? Dia kenapa? Itu kenapa ada darah di mulutnya?" cecar Alea tak menyembunyikan rasa cemasnya.
"Kita juga nggak tahu, panjang ceritanya," sahut Jaka melirik Adit yang berada di sisi lain.
"Regi!" Alea menangkup wajah laki-laki itu, menegakkannya agar bertatapan dengannya.
"Alea!" lirih Regi lemas.
Gadis itu mencari tempat untuk duduk, ia meminta pada teman Regi untuk mendudukkannya di depan kelas.
"Iya, kita juga udah capek. Istirahat aja dulu di sini," ucap Adit seraya mendudukkan Regi di lantai kelas.
Alea berjongkok di depannya, air mata menggenang di pelupuk. Tak tega hati melihat kondisi Regi yang lemas. Ia mengeluarkan sapu tangan, menyapu sisa cairan merah yang menempel di bibir dan dagunya.
Sesaat sebelum Alea menarik tangannya, Regi menggenggam tangan tersebut. Kelopak matanya terbuka perlahan, mata sayu dan penuh kecemasan jelas memancar di maniknya.
"Alea, kamu di sini? Kamu nggak kenapa-napa, 'kan?" tanya Regi sambil memandang wajah cantik yang beberapa saat lalu menderita.
"Maaf, tapi aku baru datang. Emangnya kenapa? Aku baik-baik aja, kok," jawab Alea tertunduk hampir menangis.
Tanpa terduga Regi menarik Alea ke dalam pelukan. Semua teman mereka terhenyak tak percaya, serba salah harus berbuat apa. Jadilah mereka memalingkan wajah, malu sekaligus iri melihat adegan di depan mata.
Regi tiba-tiba saja menangis, Alea yang tidak mengerti teringin melepaskan pelukan, tapi tak bisa karena laki-laki itu justru mengeratkannya.
"Eh, kenapa tuh anak? Kok, tiba-tiba nangis aja?" celetuk Anto.
"Tahu."
Mereka semua berpaling mendengar suara isak tangis Regi. Laki-laki itu benar-benar menangis, terdengar pilu dan menyayat hati. Firda, Sofi dan Lina merasa tak biasa dengan hal itu. Namun, mereka tak melakukan apapun, hanya diam menunggu sambil mengawasi.
"Kenapa?" lirih Alea di telinganya, ia balas memeluk Regi sambil memberikan sapuan lembut di punggungnya.
Regi melepas pelukan, keadaannya sudah lebih baik setelah melihat Alea. Ia menyibak rambut gadis yang menutupi wajahnya itu, memastikan keadaannya memang benar-benar baik. Kedua ibu jari Regi menyapu lembut air yang menggenang di pipi.
Demikian pula Alea, sambil tersenyum menghapus jejak air mata yang tergenang di kedua pipi laki-laki itu.
"Kenapa?" Sekali lagi dia bertanya.
"Gimana kamu bisa lepas dari sana?"
Pertanyaan dari Regi membentuk kerutan di dahi Alea. Tatapannya penuh tanya tidak mengerti maksud dari pertanyaannya.
"Dari mana?" tanya Alea semakin ingin tahu apa yang terjadi.
"Dari pohon beringin itu?" sahut Regi menunjuk arah asrama putri.
"Pohon beringin?!"