Rasuk

Rasuk
Curiga



"Sumpah, tadi itu serem banget. Seumur-umur baru lihat orang kesurupan kaya gitu, bikin merinding tahu nggak," seloroh salah satu teman Asri sambil bergidik ngeri.


Keempatnya sedang berjalan menuju asrama bersama anak-anak lain yang selalu mengekor di belakang mereka.


"Bener, aku sampe sekarang aja masih merinding. Lihat, bulu tangan aku pada berdiri begini, kenapa coba?" Yang lain ikut menimpali sambil membeberkan bulu di tangannya yang berdiri.


Tak sengaja berpapasan dengan rombongan Firda, kedua kubu berhenti di dua sisi. Saling menatap satu sama lain, tatapan yang menyiratkan kebingungan juga kebencian yang terlihat meskipun tak kentara.


"Lihat, dia biasa aja, 'kan? Tadi aja kaya penyihir sekarang langsung jadi lugu. Kalian curiga nggak, sih?" bisik salah satu teman Asri sambil menatap Alea yang berdiri bersisian dengan Firda.


Gadis itu tiba-tiba menyeringai menampakkan deretan giginya yang putih, bukan senyum yang ramah, tapi lebih mengancam.


"Iih, kok, dia tiba-tiba senyum aneh gitu? Kenapa tuh?" Teman Asri tersebut bersembunyi dibalik tubuhnya, sambil berbisik mengatakan bahwa Alea menyeringai pada mereka.


"Kamu apa-apaan, sih! Mana ada senyum, dia cemberut gitu kaya yang benci ama kita," sungut Asri setelah rombongan Firda berlalu ke lain arah.


Keempatnya masih berdiri di sana menatap punggung mereka yang kian menjauh. Asri memegangi lehernya yang sempat dicekik Alea, menyimpan dendam dalam hati teringin menuntaskan masalah tadi.


"Kita ke kantin, yuk. Masih laper, tadi nggak sempet makan." Asri menyetujui sambil meminta yang lain untuk pergi lebih dulu ke asrama mereka.


Malam terus merangkak hingga ke puncak. Meninggalkan gurau senja yang terasa hingga gelap menghapusnya. Keempat gadis itu baru saja keluar dari ruang kantin setelah mengisi perut mereka yang kosong. Sudah sepi memang karena selain malam telah larut semua murid tak diizinkan lagi berkeliaran di luar kecuali yang berkepentingan.


Asri dan ketiga temannya tergolong dalam murid yang berkepentingan. Mengisi perut. Sayangnya bablas dan tak tahu waktu. Mengobrol dengan penjaga kantin yang tukang gosip.


"Eh, kalian itu tahu nggak sama murid baru dari Jakarta?" tanyanya saat mereka masih berada di dalam kantin.


"Emangnya kenapa, Teh?" Asri menautkan alis bingung.


"Dia itu kaya yang punya ilmu hitam gitu. Di kampung saya ada orang yang begitu, nuntut ilmu hitam, tapi nggak sampai. Sering kesurupan, terus jadi gila," ucap penjaga kantin memprovokasi empat murid tersebut.


Asri dan teman-temannya saling menatap satu sama lain, mereka bergidik ngeri membayangkan Alea yang kerasukan.


"Beneran, Teh? Emang ada yang kaya gitu?" sambar Asri seolah-olah tak percaya pada apa yang diucapkan penjaga kantin tersebut.


"Ih, kamu, mah. Sok teu percaya ka Teteh, nya bener atuh, masa boong (Ih, kamu. Suka ga percaya sama Teteh, ya benerlah, masa bohong)," sungutnya dengan bibir yang dimajukan ke depan.


Asri mengusap tengkuknya yang meremang, tiba-tiba sesuatu membuat bulu kuduknya berdiri. Matanya melirik kian kemari mencari sesuatu yang seharusnya tak berada di dekat mereka.


"Udah, ah. Kita balik, yuk. Aku tiba-tiba merinding denger cerita si Teteh," ucap Asri seraya beranjak dari duduk dan pergi meninggalkan kantin.


"Ih, dasar kalian itu, ya. Emang udah tutup juga kantinnya, kalo kalian nggak maksa buat bikin mie," cibirnya bersungut-sungut.


Ia segera mengunci pintu kantin yang sebenarnya sudah tertutup itu. Membereskan semua barang juga membawa sejumlah uang hasil hari itu untuk dihitungnya di kamar. Yah, sama seperti pekerja yang lain, ia juga tinggal di asrama di kamar yang disediakan oleh Bu Ningsih.


Keadaaan asrama yang sepi, terasa mencekam. Mata mereka tak henti memindai sekitar, khawatir ada sesosok makhluk yang tak mereka inginkan hadirnya.


"Sri, yang diucapin Teh Minah bener nggak, sih? Aku, kok, jadi takut gini," celetuk teman Asri sambil merapatkan tubuh padanya.


"Iya juga, sih."


Tak ada lagi pembicaraan yang terjadi, mereka merasa sedikit merasa lega saat melihat pak Selamet melintas di depan bangunan sekolah. Laki-laki sepuh itu memang kerap meronda di setiap malam. Memastikan gerbang asrama terkunci, jendela-jendela kelas juga pintu-pintu ruangan lain tak terbuka. Setelah itu akan beristirahat atau terus meronda sampai subuh tiba.


Langkah mereka mulai terlihat pelan dan santai, wajah-wajah tegang yang semula tergambar berangsur menghilang. Seolah-olah angin segar menghalau semua rasa takut yang menghinggapi hari mereka.


Keempatnya mulai bercanda, tertawa dan saling menggoda. Saling senggal dan senggol, berbicara tentang laki-laki juga guru yang tak menyenangkan di sekolah. Seolah lupa bahwa mereka berada di bawah kegelapan malam, berselimut angin malam yang tak bersahabat.


Sampai mata mereka menangkap dua sosok yang berjongkok di depan asrama, tepatnya di depan selokan. Memakai piyama dengan rambut yang tak diikat. Langkah mereka terhenti, memastikan apa yang sedang mereka lakukan di depan selokan.


"Bukannya itu si murid baru, ya. Terus itu tumben banget si Firda nggak pake kerudung? Udah insaf dia," tanya salah seorang teman Asri menunjuk pada dua sosok di depan selokan itu.


"Mereka lagi ngapain, ya? Kok, malam-malam jongkok di selokan kaya gitu." Yang lain ikut bertanya keheranan.


"Nggak tahu, udah lah. Kita lanjut aja, lagian ini udah malam juga," sahut Asri ikut merasa kebingungan.


"Ihhh ...." Serempak mereka berjengit saat Alea mengangkat seekor cacing di tangannya.


Samar terlihat bibir gadis itu menyeringai, tapi tak tahu jika aksinya sedang dilihat Asri dan rombongan.


"Mungkin kata Teh Minah bener, dia itu nganut ilmu hitam. Ih, serem juga, ya."


"Yuk, ah. Aku jadi takut. Biasanya, 'kan, ilmu hitam itu harus ada tumbal."


Semakin bergidik mereka berempat, mau tidak mau mereka harus melewati tempat Alea dan Firda berjongkok jika ingin ke asrama. Mengambil langkah pelan nyaris tanpa suara, keempatnya mengayuh kaki. Tak ada jalan lain selain harus melewati mereka berdua.


Tak satu pun di antara dua orang itu yang berbicara, terus menunduk menatap selokan yang kering.


"Fir, Lea, kamu lagi ngapain? Kok, malam-malam jongkok di sini, sih? Nggak takut kalian?"


"Iya bener, mending balik ke kamar, deh. Tidur dari pada di sini nanti ketahuan Bu Ningsih bisa repot, loh."


Dua orang teman Asri memberanikan diri bertanya, mereka berhenti di samping dua orang yang berjongkok itu. Menunggu jawaban kata dari keduanya, tapi setelah beberapa saat dan beberapa pertanyaan, tak satu pun jawaban mereka dapatkan dari dua orang itu.


"Udah, yuk. Mereka nggak jawab juga, kaya ada yang aneh," ajak Asri seraya menarik tangan salah satu temannya untuk segera meninggalkan selokan itu.


"Ja-ja-ja-ngan ga-ga-gang-gu ...."


Suara lirih dan terbata yang tak tahu datang dari siapa sukses membangkitkan rasa takut mereka kembali. Jantung mereka berdebar tak karuan, terlebih saat kepala dua orang itu perlahan mulai menoleh. Kedua kaki mereka tak dapat digerakkan secara tiba-tiba, mati rasa dan kaku, seolah-olah terpaku di atas tanah itu.


Mata keempatnya membelalak tatkala dua wajah itu berbalik sempurna. Mulut mereka terbuka ingin berteriak, tapi tenggorokan tercekat tak ada suara yang keluar. Kedua sosok itu tersenyum lebar.


"Argh!"