Rasuk

Rasuk
Jahat



"M-m-maahh!" Nola meneguk ludah takut, tubuhnya gemetar hebat, peluh bercucuran merembes membasahi gaun yang ia kenakan.


Tangannya yang lembab meremas jemari Siska dengan kuat, wanita paruh baya itu pun tak kalah gemetar. Seluruh tubuhnya berguncang, kedua kaki serasa tak menapak lantai.


"No-nola, si-siapa di belakang?" lirih Siska gentar.


Nola membeku, melirik pun enggan ia lakukan. Hanya diam dengan kaki bergetar hebat. Pelan-pelan ia membalik badan diikuti Siska yang juga penasaran.


Asisten yang tadi pingsan berdiri dengan rambut terurai ke depan. Diam tak bergerak.


Nola terperanjat sembari memegang dada. Jantung bertalu-talu tak menentu, nyaris saja kunci hidupnya itu terlepas dari tempatnya. Begitu pula dengan Siska, wanita paruh baya itu tampak syok melihat sosoknya yang berdiri mematung.


Detik berikutnya, ia berkacak pinggang kesal. Bukan lagi ketakutan yang terlihat, tapi rasa marah yang membuncah hebat.


"Oohh, jadi sekarang kamu nakut-nakutin saya, begitu? Kamu pikir saya takut, hah!" Dia menggulung lengan baju bersiap memberikan pukulan.


Namun, suara lirih nyaris seperti bisikan, menghentikan laju aksinya.


"Ka-li-an ja-hat! Ka-li-an ja-hat!" Suara parau yang menguar dari bibirnya menghantarkan rasa takut yang perlahan menjalar di tubuh mereka.


"B-b-bi-bi!" panggil Nola seraya meremas kepalan tangannya sendiri.


Siska mengernyitkan kening, masih ada rasa tak percaya di hatinya. Dugaan sementara asisten rumah tangganya itu sedang berpura-pura demi menghindari hukuman. Kepala wanita itu mendongak, mata merah menyala, gigi-giginya beradu kuat. Nola dan Siska terperenyak, beruntung mereka berpegang pada sandaran kursi.


"KALIAN JAHAT!" Teriakan yang sangat kencang mengguncang sekitar mereka.


Nola dan Siska terhempas hingga membentur dinding, kursi dan peralatan dapur berserak tak beraturan. Keduanya meringis merasakan sakit yang mendera sekujur tubuh.


Sementara sang asisten, melayang di langit-langit ruangan. Kedua tangan terangkat, jari-jemarinya membentuk cakaran seolah-olah ingin mencabik-cabik mangsa empuk di hadapannya.


"Maaahh!" Nola merayap menghampiri Siska yang terduduk di lantai. Kondisinya lebih parah, satu kursi kayu patah karena terbentur tubuhnya.


"Kamu Ibu yang buruk! Kamu nggak pantes jadi Ibu, biar aku ambil anak kamu. Dia pasti bahagia kalau tinggal sama aku!" ucap asisten itu menampakkan seringai jahat yang mencengangkan.


"Hahaha ...." Lengkingan tawa menggema memenuhi ruang dapur rumah mewah itu.


Siska semakin gemetaran, air mata bahkan rembes dari pelupuk terurai membanjiri kedua pipi. Hatinya bergelut dengan rasa takut, pun rasa tak percaya.


"A-apa maksud kamu?" Terbata dia bertanya.


"Maksudku ...?" sengit suara itu meremehkan Siska.


Nola meringkuk takut di ketiak mamahnya. Menangis tersedu, takut pada dia yang melayang-layang di langit ruangan. Tangannya mencengkeram erat pakaian Siska, wajah ia benamkan pada dada wanita itu.


"Hahaha ... kamu sudah membuang milikmu yang paling berharga, Siska, tapi kami rela memungutnya. Kamu tenang aja, kami akan merawatnya dengan baik," ucapnya lagi sembari tersenyum mengancam.


Siska semakin tidak mengerti, menatap sang asisten yang tiba-tiba menggeram. Kepalanya berputar-putar seram, kedua mata semakin lebar melotot. Ludah yang direguknya terasa sebesar biji salak. Mengganjal dan sulit untuk ditelan.


"JAHAT! KALIAN EMANG JAHAT!" geram suara lain.


Sosok di langit-langit ruangan semakin seram terlihat, kesepuluh jarinya terbuka lebar. Kedua bahu berguncang naik dan turun, dia benar-benar marah.


"KAMU APAKAN CUCUKU, SISKA! DI MANA CUCUKU? DI MANA DIA?" sentaknya marah.


"Cucumu siapa? Saya tidak tahu siapa kamu!" balas Siska meski tak percaya.


"KAMU MEMANG JAHAT, SISKA! JAHAAAATT!" Dia meraung hebat.


"Mah!" Nola merintih. Semakin dalam membenamkan wajahnya di ketiak Siska.


Dalam kondisi ketakutan seperti sekarang ini, teringin rasanya seseorang datang menyelamatkan mereka. Namun, sikap mereka yang tak ramah, tak akan mungkin mendatangkan tetangga di kanan dan kiri rumah.


Dia meluncur dengan kedua tangan terjulur. Begitu cepat hingga tak ada jeda untuk sekedar bergeser.


"Argh! Tolong!"


"Mamah!"


Nola dan Siska serentak berteriak, kedua tangan mereka gunakan untuk menutupi wajah. Percuma, semua yang mereka lakukan tak akan bisa menghalau makhluk yang merasuki tubuh wanita itu.


"Mamah!" jerit Nola disaat tubuh Siska terseret dan terhempas pada sisi lain ruangan itu.


Siska terbatuk, cairan merah merembes dari sela bibirnya. Ia beranjak sambil memegangi dada yang terasa sesak. Dia kembali melayang menghampiri tempat Siska mengumpulkan tenaga.


Namun, belum juga tangan itu menggapai tubuh Siska, sesuatu menghantam dan menjauhkan sosoknya dari Siska. Lalu, ambruk tak sadarkan diri.


"Mah! Nola! Di mana kalian?" teriak Prasetyo dari depan rumah. Laki-laki itu datang bersama seorang pria berpenampilan seperti dukun. Menerobos masuk ke dalam rumah mencari keberadaan anak dan istrinya.


Sang dukun membawa dupa yang mengepulkan asap, menyebarkannya hingga ke seluruh ruangan sambil membaca mantra-mantra yang tak dapat dimengerti oleh orang awam.


Mendengar suara papahnya, Nola beringsut mendekati Siska yang juga tak sadarkan diri.


"Mah! Mamah! Bangun! Bangun, Mah!" Nola mengguncang-guncang tubuh sintal itu sambil sesekali memukul-mukul pipinya.


"Mah! Nola!" Teriakkan Prasetyo memberikan secercah harapan pada hatinya.


"Papah! Tolong, kita di sini, Pah!" balas Nola sekuat mungkin.


"Mah, bangun! Papah udah pulang, Mah," ucap Nola lagi terus mengguncang tubuh lunglai tak sadarkan diri itu.


Suara langkah cepat memasuki dapur membuat hati Nola merasa lega. Buru-buru dia berdiri dan berlari ke arah pintu. Menabrakkan dirinya pada tubuh Prasetyo berharap perlindungan.


"Papah! Mamah, Pah. Mamah!" adu Nola tersedusedan dalam pelukan Prasetyo. Laki-laki paruh baya itu membalas pelukan, tak berapa lama setelah mendengar aduan Nola, ia melepaskannya.


Menatap dalam manik coklat milik gadis bungsunya itu.


"Mamah ke mana? Kenapa dapur kayak abis perang begini?" tanya Prasetyo melilau ke lantai dapur juga meja yang biasa digunakan untuk menyortir makanan sebelum masuk ke dalam lemari pendingin.


Nola berbalik menunjuk tubuh Siska yang masih meringkuk di pojokan. Prasetyo terperangah tak percaya, lekas berlari menghampiri Siska dan membawanya ke dalam gendongan.


"Mah, Mamah! Mamah kenapa?"


Risau terdengar suara tanya darinya. Ia meletakkan tubuh sang istri di atas sofa seraya duduk di bawahnya. Menggenggam tangan dinginnya seraya menyeka cairan merah di sudut bibir.


"Pah, Bibi ... dia kerasukan dan menyerang Mamah," lapor Nola takut-takut.


Prasetyo mengangkat wajah, menatap bingung pada putrinya itu.


"Maksud kamu?" Bertanya bingung.


"Bibi kerasukan, dia bilang Mamah jahat. Mamah bukan Ibu yang baik." Ia terdiam mengingat kembali sikapnya terhadap si sulung.


"Di mana Bibi?"


Seolah-olah diingatkan, ia terhenyak.


"Bibi masih di dapur, Pah. Bibi juga pingsan," ucap Nola tak berani kembali ke dapur.


"Pak, tolong angkat Bibi dan bawa ke kamarnya," pintanya pada sang supir.


"Pah, dia siapa?"