
Kereta berhenti di stasiun, Nola dan Al sama-sama diam tak bicara. Penumpang berganti, yang turun digantikan yang naik.
"Mmm ... maafkan saya, tapi boleh saya duduk di sini?"
Suara parau dan serak seorang laki-laki mengalihkan perhatian mereka berdua. Tepat saat kereta kembali bergerak melanjutkan perjalanan. Keduanya serentak menoleh, Nola mengernyit seperti pernah melihat sosok itu, tapi ia tak ingat.
Al bereaksi cepat, berdiri membungkuk sembari mempersilahkan laki-laki itu untuk duduk bersama mereka. Beberapa pasang mata yang menyaksikan kejadian tadi, tak lepas dari menatap dua sejoli yang kini duduk bersama laki-laki tua itu.
Hal itu tentu saja membuat Nola merasa tidak nyaman, tapi dimaklumi oleh Al. Ia tahu di antara mereka ada rela duduk bersama membantu Nola keluar dari jerat iblis.
"Kalian berdua ini dari mana dan mau ke mana?" Pertanyaan yang dilayangkan laki-laki tua tadi semakin membuat Nola merasa tidak nyaman.
Al melirik temannya, Nola merunduk gelisah. Bola matanya bergerak liar, kaki dan tangan gemetaran juga terlihat basah. Al mengerti apa yang sedang dirasakan temannya itu.
"Kami dari Jakarta mau ke Rangkasbitung," jawab Al seadanya. Ia tak tahu ke mana arah yang akan mereka tuju, di mana letak Ujung Kulon itu sendiri saja ia tidak tahu. Yang Al tahu mereka akan turun di stasiun Rangkasbitung.
"Rangkasbitung?" Laki-laki itu memastikan. Al menjawab dengan anggukan kepala, sekali lagi melirik Nola yang terus gelisah. Mata gadis itu melotot memberi isyarat pada Al untuk tidak memberitahu tujuan mereka.
"Kebetulan saya juga mau turun di sana, Adek ini cuma berdua aja apa gimana?" tanya pak tua lagi melirik bergantian Nola dan Al.
Pemuda tanggung itu lagi-lagi melihat ke arah Nola, ia tak bisa mengabaikan pertanyaannya, tapi juga tak enak pada Nola yang melarang lewat sorotan mata.
"Cuma berdua aja, Pak. Emangnya kenapa?" Al sedikit heran saat mata tua itu melirik Nola yang bergeser menjauhinya.
"Nggak ada apa-apa, saya cuma pesen aja buat hati-hati. Jangan sampe kejadian kayak tadi terulang lagi," ujarnya penuh perhatian.
Nola geram, memejamkan mata menahan kesal yang bergejolak dalam hati. Basa-basi laki-laki tua itu benar-benar membuatnya jengah.
"Baik, Pak, terima-"
"Kami sudah besar, Pak. Nggak diingetin juga kami udah tahu kalo harus hati-hati. Bapak nggak usah sok peduli sama kami," ketus Nola tanpa menoleh pada sosoknya.
Al tersentak mendengar nada ketus yang dilayangkan temannya itu. Tarikan napasnya berhenti demi melihat sikap Nola yang tidak tahu terima kasih.
Nola beranjak sambil menarik tangan Al untuk segera pergi dari gerbong tersebut. Al yang bingung, terpaksa menoleh pada laki-laki tua tadi seraya menundukkan kepala tanda pamit padanya. Si pak tua mengangguk sambil terus tersenyum. Betapa ia mengerti dengan kondisi Nola yang tak suka berinteraksi dengan orang asing.
"Kasihan sekali kamu, Nak. Semoga Allah selalu melindungi kalian di mana pun kalian berada," gumamnya sambil menatap pintu yang baru saja dilewati dua anak muda itu.
Ia melirik tangannya sendiri, tersenyum lega disaat tasbih kecil yang ia genggam menghilang. Selanjutnya, laki-laki tua tadi duduk bersandar dengan tetap memutar tasbih melafazkan dzikir.
Sementara Nola terus menarik tangan Al untuk melewati gerbong demi gerbong menjauh dari tempat mereka semula. Al menghempaskan tangannya saat tiba di salah satu gerbong yang tak berpenghuni.
Nola menjatuhkan tubuh di kursi, duduk bersilang tangan dengan kedua kaki yang menumpuk. Wajahnya ditekuk kesal, terlihat sekilas kemarahan di gadis ayu ciptaan Tuhan itu.
"Kamu bener-bener nggak tahu terima kasih, La. Bapak itu udah nyelamatin kamu, tapi kamu malah ketus kayak gitu. Sumpah, aku nggak tau gimana perasaannya sekarang," ujar Al menumpahkan kekesalannya pada Nola.
Ia menyugar rambut sambil melipat bibir, menjatuhkan kepala pada salah satu tiang dalam kereta, menyesali tindakan Nola yang begitu tak tahu diri.
"Emang apa yang udah dia lakuin? Tiba-tiba datang minta duduk di dekat kita, terus nasihatin yang nggak jelas kayak gitu. Apanya yang nggak tahu terima kasih!" sungut Nola sambil menyentak lipatan tangannya di dada.
Wajahnya tetap berpaling dari Al, tak ingin bertatapan dengan temannya itu. Al beranjak, berbalik menatap Nola sedih. Rasa tak percaya muncul di garis wajahnya yang lelah lagi kuyu.
"Kamu beneran nggak sadar apa yang tadi kamu lakuin?" selidik Al sekali lagi.
Ini diluar nalar, seharunya Nola sadar apa yang sudah terjadi padanya tadi. Jika bukan karena laki-laki tua tadi, kemungkinan besar dia tak akan berada di sini saat ini.
Nola menoleh, kerutan tipis di dahinya pertanda yang ia tak mengerti dengan pertanyaan temannya itu.
"Emang aku ngapain tadi? Aku tadi cuma tidur, terus jatuh ke lantai saking pulesnya. Itu aja, 'kan?" ucap Nola menunjuk lantai sambil memperagakan yang dia tidur terus jatuh tanpa sadar.
"Kamu kerasukan, La!" pekik Al sambil menunjuk Nola.
Kedua mata gadis itu membelalak, tubuhnya tersentak tak percaya. Berikutnya, dia tertawa garing. Merasa Al telah membual dan mengada-ada. Tak akan mungkin dia kerasukan, untuk seumur hidupnya dia tak pernah berdekatan dengan hal mistis apa pun.
"Nggak mungkin! Konyol! Kamu ... kamu lagi bohongin aku, 'kan? Udahlah, permainan kamu nggak akan ngaruh sama aku." Nola mengibaskan tangannya tak percaya.
Dia kembali berpaling dari Al sambil menarik salah satu sudut bibirnya. Kepalanya menggeleng-geleng, tak percaya pada apa yang diucapkan Al.
"Kamu beneran nggak sadar, ya. Ternyata emang bener, orang yang kerasukan itu sama kayak orang gila. Mereka nggak sadar kalo mereka itu gila, kamu juga nggak sadar kalo baru aja kamu kerasukan. Awalnya aku nggak percaya tentang ini, tapi sekarang aku percaya setelah lihat kamu kejang-kejang di lantai terus sekarang nggak sadar," ungkap Al seraya mendaratkan bokong di salah satu kursi penumpang berhadapan dengan Nola.
Gadis itu terhenyak, ucapan Al membawanya kembali pada ingatan pagi tadi di mana Ijah kerasukan dua kali dan tak sadarkan diri. Pelan-pelan dia berpaling, bersitatap dengan pemuda tanggung di depannya yang juga tengah memandang dirinya.
Pemberhentian selanjutnya telah digemakan dalam pengeras suara. Berselang, kereta pun berhenti dan penumpang kembali berganti. Tak ada yang mereka bicarakan sampai kereta kembali berjalan.
"Bisa nggak kamu ceritain gimana tadi waktu aku kerasukan?" tanya Nola.
Teringin tahu apa yang terjadi, apakah sama seperti yang Ijah lakukan. Melayang dan menyerang Mamahnya di rumah.
"Aku nggak ngerti gimana awalnya, tapi tiba-tiba aja kamu kejang-kejang waktu duduk di kursi. Mata kamu yang bikin serem, putih semua nggak ada itemnya. Aku bergidik takut, tapi mereka nggak ada yang bisa nolong. Kamu lihat ini! Nih!" Al menunjukkan kedua matanya yang sembab bekas menangis.
Nola tersentak, ia baru menyadari setelah Al menunjukkannya.
"I-itu ... apa kamu abis nangis?" tanyanya ragu.
Kedua tangan terkulai, menunjuk mata Al bergetar.
"Iya. Aku nangis karena nggak tega lihat kamu yang kayak ayam dipotong mau meregang nyawa. Aku nggak bisa bantu, semua yang ada di sana juga nggak bisa bantu. Aku nggak tahu lagi harus apa, putus asa. Aku takut kamu kenapa-napa, aku takut bawa kamu pulang. Aku takut sama Mamah Papah kamu, La," ungkap Al dengan ekspresi serius di wajahnya.
Ia tidak main-main, pemuda tanggung itu tidak sedang berbohong. Dia bersungguh-sungguh mengatakannya. Nola termangu, menatap manik Al yang memancarkan kejujuran. Tak ada kebohongan sama sekali yang terlihat di kedua netra coklat itu.
Ia menunduk, meremas jemarinya sendiri. Ada yang bergolak, tapi bukan amarah. Rasa dalam hati menyeruak ke permukaan, menimbulkan rasa tak nyaman.
"Dan kamu tahu siapa laki-laki tua tadi? Bapak tua tadi yang nolongin kamu, La. Dia yang udah nyelamatin nyawa kamu. Aku nggak tahu apa yang akan terjadi sama kamu, kalo aja Bapak itu nggak ada. Aku nggak tahu, La," tutur Al mengakhiri ceritanya.
Ia memaku tatapan pada Nola yang tampak semakin gelisah. Rasa bersalah seketika mencuat ke permukaan, mendengar cerita Al, sikapnya tadi memang keterlaluan. Jika saja ia tahu lebih awal, tak akan ia bersikap ketus seperti tadi padanya.
"Al-"
"Apa? Masih nggak percaya? Terserah!" sengit Al memangkas ucapan Nola sambil berpaling darinya.
"Kamu keterlaluan, La. Bukannya terima kasih, malah ngomong ketus kayak tadi sama dia. Kamu harus minta maaf sama dia," lanjut Al tanpa menolehkan kepala pada gadis itu.
"Aku tahu kamu anak orang kaya, dimanja, disayang, semua yang kamu mau diturutin, tapi nggak kayak gitu juga sikap kamu sama orang tua. Bapak itu emang bukan siapa-siapa kita, tapi tetep aja dia itu orang tua. Orang yang harus kita hormati sama kayak orang tua sendiri." Al mendengus kesal.
Seperti apa kehidupan Nola, dia sangat tahu betul. Di sekolah, semua temannya dari kalangan atas yang suka memamerkan apa yang mereka miliki. Barang-barang mewah lagi berkelas, tak pernah ia datang ke sekolah dengan berjalan kaki. Naik motor saja baru dilakukannya hari itu bersama Al, itupun karena terpaksa.
Mendengar kalimat Al yang terakhir, Nola merasa tertohok. Ia berdiri dan berjalan cepat menghampiri temannya itu. Mengambil tempat duduk di sampingnya, tak peduli meskipun Al tak ingin melihat wajahnya.
"Aku tahu, aku udah keterlaluan. Aku juga mau minta maaf sama Bapak itu, Al. Makanya kita balik ke gerbong itu lagi, aku mau minta maaf sama dia, Al," ucap Nola memegangi tangan pemuda itu sambil mengguncang-guncangnya.
Al diam mencerna ucapan gadis angkuh lagi sombong di sekolah itu. Tangan Nola masih menggoyang-goyangkan lengannya, merengek meminta ditemani. Isak tangis pun mulai terdengar dari arahnya, baru hari ini Al mendengar dan melihat gadis itu menangis.
"Kamu yakin mau minta maaf?" Al memastikan.
"Iya, Al. Tolong temenin, ya. Aku nggak mau terlambat, aku nggak mau kayak Kak Alea. Aku ...." Nola tak mampu melanjutkan kalimatnya, ia semakin terisak-isak mengingat tentang Kakaknya.
"Tunggu, La!"