RAIDEN

RAIDEN
9 - Akhir dari Ujian Labirin



Raiden tidak banyak berkomentar saat kelompok ke-tujuh mulai bermain. Dia hanya memperhatikan bagaimana kelompok tersebut menyelesaikan ujian labirin tanpa kesulitan yang berarti.


Yun sendiri mengedarkan pandangannya pada kelompok pemain yang belum mengambil bagian dari ujian labirin ini. Dia bisa melihat wajah-wajah tiap pemain yang seakan dipenuhi dengan rasa percaya diri.


Raiden mulai berujar, dia seperti tahu apa yang sedang dipikirkan temannya. "Ujian ini tidak akan sulit bagi mereka yang benar-benar memahaminya."


Yun mengangguk, "Ya, aku setuju. Setiap kelompok di ruangan ini terus melakukan riset. Mereka menganalisa bagaimana cara kelompok lain menyelesaikan ujian labirin, memperbaiki apa yang perlu diperbaiki dan meningkatkan apa yang bisa ditingkatkan."


"Mn, benar. Tapi permainan yang sudah dikuasai dengan baik adalah permainan yang membosankan. Aku bahkan sudah tidak tertarik menyaksikan ini." Raiden sejenak mengedarkan pandangannya sebelum kembali berbicara.


Dia mengembuskan napas, "Aku menyukai permainan berdarah, namun bila diperhatikan--tidak ada lagi anggota dari kelompok lain yang dipenuhi kegugupan dan rasa takut. Mereka semua terlihat yakin dapat melewati ujian kali ini. Rasanya aku tidak bisa lagi menghibur diri,"


Yun menatap temannya, "Kau mulai lagi. Pendapatmu tidak dibutuhkan saat ini, kawan. Jika sudah bosan, maka sana. Pergi di pojokan sana dan tidurlah. Tidak ada yang memaksamu melihat pemainan ini sampai selesai."


"Hoamm.. Mm.. Baiklah.." Raiden merenggangkan tangannya sedikit, ".. Aku akan mencari tempat yang nyaman dulu, dan jangan lupa untuk membangunkanku saat aku peduli."


Yun menggeleng pelan, "Kau tahu tidak? Aku ingin menendang dan menampar bokongmu karena sikapmu ini, Rai."


Raiden tidak menggubrisnya, dia benar-benar berjalan pergi dan menunggu di pojokan. Pemuda tampan bermata merah itu berada di sudut ruangan paling strategis untuk beristirahat. Hanya dalam waktu lima detik, dia sudah larut dalam tidurnya.


Ada beberapa pemain yang menoleh ke belakang, menatap Raiden dalam diam. Mereka tidak mengatakan apa pun, tetapi dari raut wajah yang terlihat---para pemain itu seperti mempunyai pikiran yang sama. Pemuda bermata merah itu adalah sosok misterius yang menarik dan layak diperhitungkan. 


Meski terlihat menutup mata dan seperti larut dalam tidurnya, namun Raiden sebenarnya tetap mampu mendengar keributan dari luar, utamanya ketika salah satu pemain menyerukan berbagai perintah pada rekannya yang sedang melewati rintangan di dalam labirin.


Pertarungan itu berlangsung sengit, menegangkan, namun juga sangat menarik perhatian. Setelah kelompok ke-tujuh selesai tanpa kesulitan berarti, kelompok selanjutnya pun mulai mengambil giliran mereka.


Kelompok yang tersisa terus menggali banyak informasi saat menyaksikan kelompok lainnya bergelut dengan Ujian Labirin. Sama seperti yang dikatakan Yun, mereka menganalisa cara pemain lain melewati setiap rintangan dalam labirin tersebut. Dan alhasil, makin mendekati akhir---para pemain di kelompok selanjutnya tidak lagi menemukan kesulitan yang berarti.


*


*


*


Ujian labirin masih berlangsung dan bahkan sangat sengit di beberapa ruangan yang ada. Barulah setelah malam sangat larut---satu persatu ruangan telah selesai dengan permainan labirin mereka.


Yun dan Lulu sendiri nampak berjalan mendekati Raiden. Keduanya menggelengkan kepala pelan dan mendengus ketika menyaksikan bagaimana pemuda tampan tersebut masih tetap tidur.


"Raiden, Rai..! Ayo bangun, mau sampai kapan kau tidur? Hei..! Kawan..!" Yun menepuk-nepuk lengan temannya, "Saatnya berkumpul Rai, ayo bangun.."


Raiden awalnya memang masih setengah sadar dan dapat mendengar banyak suara pertarungan, namun lambat laun dirinya benar-benar mampu tertidur pulas. Jadi saat dibangunkan oleh Yun, dia nampak memperlihatkan mata ngantuk khas seseorang yang baru bangun tidur.


"Tsk, tsk, tsk.." Lulu mendecak sambil menyilangkan tangan, "Dia benar-benar bisa tidur di mana saja. Kalau tempat ini dalam kekacauan, aku yakin Raiden hanya akan bangun untuk mencari tempat lain dan kembali melanjutkan tidurnya."


Raiden menguap dan merentangkan kedua tangannya, dia mengambil napas dalam tanpa menggubris ucapan Lulu. Dari yang terlihat, dia nampak masih setengah sadar.


"Bagaimana permainannya? Apa sudah selesai..?" suara Raiden pelan, terdengar seperti orang yang mengigau.


"Kau ini, bangunlah..!" Yun kesal, dia mencubit keras lengan temannya itu hingga Raiden merintih.


Dia kemudian melemparkan sebuah benda dari kulit hewan yang rupanya adalah kantong air minum, "Basuh wajahmu dan segera ikuti kami. Pemain yang lain sudah berkumpul sejak tadi dan kau benar-benar menarik banyak perhatian dengan tingkahmu ini."


"Tenanglah, Yun. Menjadi pusat perhatian bukanlah dosa besar, lagipula aku memang tampan. Jadi sangat pantas mendapatkannya," Raiden membasuh wajahnya menggunakan air yang diberikan oleh temannya. Dia begitu percaya diri mengucapkan kata-kata semacam itu hingga membuat Yun dan Lulu menggelengkan kepala pelan.


Dari 15 kelompok, rupanya ada empat kelompok yang pemimpinnya memilih menyerah melanjutkan Ujian Labirin karena tidak ingin teman setimnya tewas. Sementara ada lima kelompok yang anggota timnya tidak lengkap, sisanya sendiri merupakan pemain yang berhasil menyelesaikan Ujian Labirin kali ini.


Roku berdiri sambil mengedarkan pandangannya dan menatap setiap wajah para pemain. Postur tubuhnya yang tegap dengan sorot mata tegas menjadikan dirinya begitu berwibawa.


"Kita langsung saja. Seperti peraturan awal yang kusebutkan bahwa pemain yang anggotanya tidak lengkap akan tereliminasi. Maka dari itu, lima kelompok yang di sana dianggap gagal dan sisanya bisa kembali melanjutkan permainan ke ronde yang berikutnya."


!!


Banyak pemain yang terkejut dengan ucapan Roku barusan, tidak sedikit dari mereka yang merasa heran dan beberapa bahkan memperlihatkan wajah tidak percaya.


"Tunggu." seorang gadis berpakaian hijau muda mengangkat tangannya dan membuat dirinya langsung menjadi pusat perhatian.


Dengan gugup gadis tersebut berusaha bertanya kepada Roku, "Tim kami tidak menyelesaikan permainan, apa.. Maksudmu kami yang menyerah ini masih bisa melaju ke babak berikutnya?"


"Bukankah sudah jelas?" seorang pemain lain bersuara, "Kalian menyerah di tengah permainan sama saja dengan gagal, lalu untuk apa mempermasalahkannya?"


"Perhatikan Kemari..!" Roku angkat bicara, dia melerai perdebatan di antara pemain dengan seruannya. Seketika seluruh pandangan mengarah padanya.


"Inti dari Ujian Labirin ini ditujukan pada bagaimana setiap pemimpin dalam kelompok mengambil keputusan. Misi yang kalian lihat dari permainan ini adalah melewati segala rintangan dalam labirin, tapi karena terlalu terpaku pada penyelesaian misi tersebut---kalian melupakan sesuatu yang terpenting. Keselamatan dan nyawa kalian harusnya ada di atas segalanya."


!!


Banyak pemain yang tersentak, bahkan Yun pun nampak memperlihatkan raut wajah yang buruk. Dia menunduk dan agak kesulitan menelan ludah, "Aku sendiri juga benar-benar melupakannya. Dalam game ini nyawa seorang pemain hanya satu, begitu berbahayanya jika informasi sepenting ini dilupakan begitu saja."


Raiden mendengar ucapan dari Yun, namun dibandingkan dengan raut wajah buruk temannya tersebut---dirinya justru terlihat begitu tenang dan sama sekali tidak terpengaruh.


"Kau itu masih muda untuk jadi pelupa, Yun. Bukankah saat memakai V-Gear, sistem sudah memberi tahu padamu bahwa nyawa pemain dalam game ini hanya satu? Harusnya kau tanamkan informasi seperti itu jauh di dalam hati dan pikiranmu."


"Rai, kau.." Yun mengembuskan napas pelan, dia tidak tahu harus berkata apa untuk mendebat temannya yang satu ini.


Roku sendiri kembali menjelaskan, "Menyerah bukan berarti kalah dalam permainan ini. Jika harus gagal karena menyerah, kalian bisa mencobanya lagi. Tapi bila kehilangan nyawa, maka segala yang kalian miliki dan ingin kalian raih juga akan menghilang. Inilah mengapa setiap keputusan perlu pemikiran dan pertimbangan yang matang. Dan yang kulihat banyak dari kalian yang lebih dikendalikan oleh ambisi berlebihan."


Pandangan Roku mengarah pada setiap pemain, termasuk Raiden. Dia tidak menerima ada pemain yang keberatan atau membantah ucapannya. Namun tentu beberapa pemain nampak berwajah buruk, utamanya mereka yang anggota timnya tidak lagi lengkap.


Rex yang merupakan pria berotot dan sejak awal terlibat masalah dengan rekan setimnya nampak mengepalkan kedua tangan karena menahan amarah. Tatapan matanya sungguh tidak menyenangkan, dia seperti sebuah gunung yang siap meledak.


Di sisi lain, Kla sudah berjalan lebih dahulu menuju pintu keluar. Dia tidak mengatakan apa pun dan benar-benar seperti sudah tidak ingin terlibat apa pun dalam hal ini. Dia membawa serta dendamnya terhadap Rex dan tidak seorang pun dari rekan Roku yang menghentikan dirinya pergi.


"INI TIDAK BENAR..!!" Rex sudah tidak bisa lagi menahan amarah, dia berteriak lantang dan menunjuk Roku. "Kau tidak bisa berbuat semacam ini..! Mereka juga harusnya dieleminasi. Mereka memilih menyerah dalam permainan, jadi bagaimana bisa mereka melaju ke babak berikutnya?!"


Roku begitu tenang menjawab Rex, "Sudah kukatakan permainan ini adalah untuk melatih kepercayaan anggota tim pada ketua mereka dan sekaligus menilai bagaimana kepemimpinan seorang ketua. Aku juga mengatakan bahwa anggota yang timnya tidak lengkap akan tereliminasi dan tim yang memutuskan menyerah akan mendapat denda sebesar 100 ribu poin. Apa aku pernah berkata mereka yang menyerah juga akan tereliminasi?"


!!


Rex terkejut bukan main saat kilasan tentang ucapan Roku dalam ruangan sebelumnya tiba-tiba terlintas di benaknya.


Tidak hanya dia, tetapi juga para pemain yang lain kecuali Raiden. Pemuda dengan mata merah itu nampak tersenyum tipis sebagai bentuk dari rasa tak percayanya.


"Ah, jadi rupanya begitu. Roku memang tidak mengatakan bahwa tim yang menyerah akan tereliminasi, itu artinya.."


Yun juga kini bisa menebaknya, "Kurasa hanya sebagian pemain yang menyadari hal itu, namun tidak mengatakan apa pun. Kita benar-benar bodoh,"


Raiden mendengus, "Kau yang bodoh. Aku dan Lulu sudah sejak awal menyadarinya. Kurasa kepekaanmu berkurang setiap kali kau bertambah usia, Yun."


"Rai, kau..!" Yun berusaha menarik napas dan menenangkan dirinya. Sungguh, ingin sekali rasanya dia menendang bokong pemuda di sampingnya ini karena sangat keterlaluan.


"Tidak.. Tidak mungkin.." Rex tidak terima, "Aku harus masuk ke dalam salah satu Guild terbesar. Tidak.. Ini tidak bisa berakhir di sini saja,"


Dari sekali pandang saja, Roku bisa melihat Rex adalah sosok dengan aura ambisius dan keangkuhan tertinggi. Sosok tersebut dapat membawa banyak masalah di tempat ini bila tidak segera ditangani.


Dirinya pun kemudian berkata, "Kalian yang tidak terpilih masih memiliki kesempatan di kota lain. Tentu saja, hal ini dapat kalian jadikan pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sementara itu, kelompok yang melaju ke babak berikutnya langsung ikuti aku. Ujian selanjutnya akan segera dimulai,"


Raiden bisa melihat wajah-wajah para pemain yang tidak terpilih. "Mereka kesal karena baru saja disadarkan tentang akibat dari terlalu berambisi. Pemandangan yang sempurna,"


"Raiden, kau ini jahat ya." Lulu mendengar ucapan datar namun terkesan meledek dari temannya, dia pun memberi peringatan. "Kalau mereka mendengarmu, kau bisa terkena masalah."


"Hmph, aku tidak keberatan. Justru akan kusambut mereka yang datang padaku dengan tangan terbuka. Lagipula hariku tidak akan sempurna bila tak menghajar seseorang."


Yun mendengarnya, "Bukankah kau lebih suka bila dihajar seseorang?"


"Hei, rasa sakit membuatku ingat bahwa aku ini masih manusia. Lagipula tidak setiap kali aku mengalah pada lawanku, hanya saat aku ingin saja."


Lulu, "Itulah sebabnya kau dianggap masokis."


"Terserah kau menyebutku apa, yang jelas aku tetap tampan."


"Raiden..!!"


***