
Restoran yang Hanny datangi masih berada dalam lingkungan perusahaan besar tempatnya bekerja. Dia memesan dua cangkir kopi dan duduk seperti sedang menunggu seseorang datang.
Tidak butuh waktu lama, Kenshin Yanji benar-benar mengikutinya dan kini pria tampan itu mulai ikut duduk di depannya. Dengan ramah, Hanny tersenyum dan lantas berujar. "Profesor Yanji, kau ingin memesan apa? Biar aku yang membayar semuanya untukmu,"
"Langsung saja. Apa yang mau kau katakan?" suara Kenshin Yanji begitu ketus dan dingin. Dia tidak punya waktu untuk berbasa-basi dengan Hanny meski wanita ini termasuk sosok yang populer.
Menarik perhatian seorang Kenshin Yanji ternyata sangat sulit. Pria ini merupakan sosok yang mudah mengabaikan wanita seperti Tiffani. Gadis itu nampak tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya kepada cucu tertua dari tuan Hiro.
Hanny mengembuskan napas, beruntung dia tidak sama dengan Tiffani. Dirinya juga memang tertarik pada Kenshin Yanji, tetapi untuk mendekati pria ini---dia butuh cara yang tidak biasa.
Hanny pun bersuara, "Sebenarnya... Aku tertarik pada sesuatu dan ingin bertanya pada Profesor Yanji. Apa... Kau memiliki saudara laki-laki lain?"
Kening Kenshin Yanjin mengerut, "Apa maksudmu?"
"Sebenarnya akhir-akhir ini aku dengar berita tentang cucu laki-laki tuan Hiro yang ternyata adalah pewaris tunggal dari seluruh kekayaannya. Berita itu tidak menyebutkan namamu dan setahuku, tuan Hiro hanya punya kau dan nona Sila sebagai cucunya..." Hanny mengusap pelan cangkir kopinya dan kembali berujar, "... Nona Sila tentu tidak mungkin karena dia seorang perempuan. Jadi jika berita itu juga tidak menyebut namamu, maka bukankah ini berarti tuan Hiro memiliki cucu laki-laki yang lain?"
"Kenapa kau sangat ingin tahu?" Kenshin Yanji mulai meminum kopi yang ada di atas meja. Kopi yang sebelumnya telah dipesan oleh Hanny untuknya.
"Mm... Anggap saja aku sudah mulai memikirkannya. Pekerjaanku sangat baik, aku dipindahkan ke perusahaan yang penuh banyak rahasia ini dan sejak itu mulai ada yang diam-diam mengikutiku, bahkan sampai ke rumah. Awalnya aku tidak peduli, tapi sekarang mereka sudah berani menemuiku dan menanyakan tentang perusahaan ini. Saat kutelusuri, mereka semua adalah orang-orang dari media. Jadi bisa dibilang... Karena mereka, aku juga mulai memikirkannya. Aku tidak ada masalah sama sekali dengan game ini, tapi yang membuatku penasaran justru adalah pewaris dari tuan Hiro. Anehnya, itu orang lain dan bukan dirimu, Profesor Yanji..."
Hanny kembali berkata, "Bila dipikirkan secara sepintas. Tidak ada hubungan antara kehidupan keluargamu dengan pengembangan game ini. Aku juga tidak rugi sama sekali. Namun kau tahu apa yang membuatku penasaran? Itu adalah kabar bahwa pewaris tua Hiro terjebak di dalam game dan ada orang yang menjadi penyebabnya. Game yang harusnya ditujukan bagi sampah masyarakat justru digunakan untuk menyingkirkan musuh politik, termasuk tentang adikmu ini."
Kenshin Yanji bisa langsung mengambil maksud dari ucapan Hanny. Dia juga banyak mendengar beritanya, apalagi dalam beberapa hari belakangan ini----kakeknya pernah menyebutkan tentang cucu ketiganya di depan media.
Harusnya berita itu akan terdengar lebih sederhana andai tidak ada kata bahwa cucu ketiga Kenshin Hiro adalah pewaris kekayaan tunggal. Akibat kejadian itu, banyak orang yang membicarakannya.
"Nona Hanny," Kenshin Yanji bersuara. Tatapan matanya masih sangat dingin. Meski raut wajahnya tidak mengalami perubahan, namun di dalam hati dia jujur saja kesal. Jika bukan Sila, maka dirinya-lah yang akan dituduh melakukan hal buruk pada saudaranya sendiri.
Kenshin Yanji mengembuskan napas, "Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tapi yang ingin kukatakan adalah sebaiknya kau fokus saja pada pekerjaanmu dan jangan melibatkan diri pada apa pun yang bisa saja menjadi masalah untukmu."
Hanny melihat Kenshin Yanji bangun dari tempat duduknya dan lantas pergi begitu saja. Dia pun mulai bersandar sambil menyeruput kembali kopinya. Dia melihat punggung Kenshin Yanji yang semakin menjauh.
"Aku yakin... Game Elvort Garden tidak bisa membawa kembali orang yang hidup. Buktinya selama lima tahun terakhir ini, tidak ada seorang pun pemain yang dapat keluar dari sana dengan nyawa mereka. Dan lagi... Siapa pun itu jika telah dihadapkan dengan nafsu kekuasaan----mereka bisa mengorbankan apa pun, termasuk saudara sendiri."
*
*
Yun menggigil ketika memasuki sebuah bangunan putih yang merupakan tempat berkumpulnya para pemain Elvort Garden untuk mengambil misi.
Pemain yang ada di tempat ini berasal dari berbagai Guild dan juga merupakan para pemain pengelana. Yun sendiri datang kemari untuk berteduh bersama dengan temannya, Raiden.
"Dingin sekali... Aku benar-benar kedinginan," Yun berjalan ke salah satu pegawai dan meminta handuk. Hujan terlihat masih deras di luar sana dan sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda akan mereda.
Tubuh Yun basah kuyup, sama seperti Raiden. Untunglah pegawai di tempat ini ramah sehingga keduanya bisa memakai handuk untuk mengeringkan rambut dan tubuh mereka walau tidak seberapa.
Yun memperhatikan temannya dari atas sampai bawah dan lalu menggelengkan kepala. Tangan kanan Raiden terlilit oleh pita putih dan menutupi bahkan setiap jemarinya. Dia mengembuskan napas karena saat pemuda bermata merah ini melilit pita tersebut----dia melihat tangan temannya berwarna sangat hitam.
Rasanya pasti sangat sakit sampai-sampai tidak bisa dijelaskan. Tetapi yang terlihat di wajah Raiden justru ekspresi mabuk seolah sudah terbiasa. Yun dalam hati telah memutuskan bahwa temannya ini benar-benar seorang 'M' sejati.
"Tidak perlu kutanyakan kondisinya, dia ini orang yang kurang waras," Yun mengembuskan napas dan mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Banyak orang di tempat ini. Dia juga melihat warga biasa yang berprofesi sebagai pedagang. Yun bisa tahu bahwa mereka juga sedang berteduh.
Di belakang Yun dan berjarak cukup jauh dari pemuda itu----terdapat sebuah layar besar dengan berbagai informasi misi di dalamnya. Banyak pemain yang berdiri dan nampak mengerumuni layar itu, mereka kemungkinan besar sedang memilih misi yang cocok untuk diambil.
Yun lantas bersuara, "Kurasa kita bisa mengumpulkan banyak poin jika mengambil beberapa misi. Coba lihat itu, hadiahnya lumayan juga."
Raiden menoleh dan memperhatikan ke mana arah pandangan temannya. Dia pun berkata, "Yaah... Tapi saat ini aku tidak tertarik membantu banyak orang. Aku lebih tertarik pada pertandingan antar pemain. Apa kau juga akan ikut?"
"Mn, tentu saja. Tujuan utamaku adalah mengungkap rahasia game ini dan untuk jawabannya hanya bisa didapatkan di wilayah tengah. Aku pasti akan ke sana,"
"Aku akan mendukungmu," Raiden dapat melihat Yun yang sangat bersemangat. Dia masih mengeringkan rambutnya memakai handuk saat seorang pegawai memanggilnya.
"Tuan Raiden?"
Yun dan Raiden menoleh. Suara barusan berasal dari wanita berambut pendek dengan seragam berwarna ungu muda. Yun keheranan sebab pegawai tempat ini tahu nama temannya. Padahal sejak awal datang kemari, mereka meminta handuk tanpa mengenalkan diri terlebih dahulu.
Yun bertanya, "Rai. Kau mengenalnya?"
Raiden menggeleng, pertanda bahwa dia tidak mengenal wanita cantik ini. Dia pun melangkah mendekat, "Nona? Apa kau baru saja memanggilku?"
"Ya, tolong ikut denganku." Wanita itu menjawab dengan pasti seolah yakin pada pemuda yang dipanggilnya.
Raiden menoleh ke arah Yun dan saling bertatapan dengan temannya itu. Mereka lantas mulai berjalan mengikuti wanita tersebut sambil melihat-lihat sekeliling.
Bangunan putih itu sebenarnya cukup luas, apalagi memiliki dua lantai. Raiden dan Yun sendiri dibawa ke lantai atas. Itu juga merupakan ruangan terdalam yang pintunya terbuat dari kayu berukiran ular.
Sepanjang jalan di lantai dua, Raiden dan Yun sama sekali tak berpapasan dengan orang lain. Rasa penasaran Yun tidak bisa ditahan lagi dan akhirnya bertanya.
Yun, "Maafkan aku Nona. Tapi apa boleh aku tahu kenapa temanku dibawa kemari?"
!!
Yun dan Raiden terkejut bukan main. Keduanya saling berpandangan saking tak percayanya. Mereka tahu bahwa orang-orang yang ada di dunia luar bisa melakukan panggilan ke dalam Game Elvort Garden, tapi hal yang perlu disiapkan sangatlah banyak.
Anggota keluarga pemain harus pergi ke perusahaan pengembangan game. Langsung ke HD Corporation, mengisi banyak dokumen dan dengan diawasi oleh pengawalan yang ketat. Benar-benar hal yang merepotkan untuk melakukan sebuah panggilan kepada mereka yang telah dianggap sampah masyarakat.
Saat tiba di depan pintu, wanita itu mulai berbalik dan menatap Yun. "Maaf, tapi sekarang hanya Tuan Raiden yang bisa masuk. Anda harus menunggu di luar,"
Raiden sebenarnya keberatan, namun Yun menepuk pundaknya dan menggeleng pelan. Yun pun menatap pegawai di hadapannya dan berkata, "Tidak masalah. Aku akan menunggu temanku di luar sini,"
Raiden, "Yun..."
"Kau masuklah, aku baik-baik saja."
Raiden pun mengangguk dan mulai mengikuti pegawai tersebut yang nampak membuka pintu. Yun melihat pintu itu tertutup kembali saat Raiden sudah masuk ke dalam bersama wanita cantik itu.
*
*
Pakaian, rambut dan tubuh Raiden masih basah. Tetapi dia tidak memikirkannya. Dia di minta duduk pada sebuah kursi yang berhadapan dengan sebuah meja.
Di atas meja tersebut ada benda berbentuk telpon rumah yang sebenarnya jarang ditemukan dalam rumah-rumah NPC di berbagai kota di Elvort Garden.
Hanya bangunan yang memiliki hubungan komunikasi langsung dengan sistem pengembang game yang punya benda semacam ini. Sementara sistem sendiri tahu lokasi dari setiap pemain.
Raiden menjadi gugup, dia dengan hati-hati mengambil telpon tersebut dan menempelkannya di telinga. Rasanya seakan dia merupakan narapidana yang tengah menerima telpon anggota keluarga setelah sekian lama.
"Ha-halo...?" Raiden bersuara. Dia mengawali pembicaraan sebab di seberang telpon tidak terdengar suara satu orang pun.
"Halo..." masih tidak ada jawaban. Namun sedetik berikutnya Raiden tersentak kala mendengar suara seseorang yang sama sekali tidak asing baginya.
["Jadi kau masih hidup?"]
Raiden tersentak. Suara di seberang telpon adalah milik seorang pria, hanya saja dia kurang ingat pernah mendengar nada suara ini. Dia melupakannya.
"Maaf, apa aku mengenalmu-"
["Langsung saja, Rai."] suara itu menyela, ["Apa saja yang sudah kau lakukan di tempat itu?"]
Nada suara yang didengar Raiden begitu dingin dan terkesan ketus padanya. Dia akhirnya tahu pemiliki suara ini dan jujur merasa rindu. Dia bahkan tanpa sadar menutup mata sambil memfokuskan pendengarannya.
["Tidak peduli apa yang kau lakukan di sana, kau jangan pernah berpikir untuk pulang kembali. Dunia ini tidak menerima manusia sepertimu... Mengerti?"]
"Sudah lama..." Raiden akhirnya bersuara, "Sudah lima tahun... Kenapa kau baru menghubungiku setelah sekian lama? Kau tidak rindu padaku...?"
!!
Terdengar bunyi 'bip' yang membuat suara pada telpon Raiden terputus. Pemuda bermata merah itu yakin sosok di seberang sanalah yang memutuskan telponnya. Dia pun meletakkan telpon itu kembali sambil bernapas pelan.
Raiden bangun dari kursinya, dia mengucapkan terima kasih kepada pegawai wanita tersebut dan mulai melangkah keluar. Yun sendiri tersentak karena temannya ternyata tidak butuh waktu lama di dalam ruangan itu.
"Yun, ayo pergi." Raiden mendahului Yun, ekspresi wajahnya sulit diartikan.
"Rai, tunggu." Yun berujar, dia terlihat penasaran. "Ada apa? Di dalam sana kau bertemu siapa?"
Raiden hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Orang yang menelponnya tidak lain adalah Kenshin Yanji. Tidak ada yang tahu bahwa dia merupakan cucu dari tuan Hiro, termasuk Yun sendiri.
Hubungannya dengan Kenshin Yanji tidak terlalu baik. Ini sebenarnya karena Raiden sendiri yang suka membuat masalah dan bahkan harus membuat Kenshi turun tangan membersihkan perbuatannya.
Raiden sudah sejak kecil dikenal oleh keluarganya sebagai anak berandalan. Jadi bisa dipastikan kelakuan apa saja yang sering dia lakukan hingga bahkan melibatkan Kenshin Yanji di dalamnya.
Yun memperhatikan wajah temannya dengan seksama dan kemudian berkata, "Ini pertama kalinya aku menemui ada panggilan langsung dari sistem. Apa menurutmu orang-orang di luar sana bisa bebas melakukan panggilan dengan kita?"
"Sebelum datang ke Elvort Garden, aku memang membaca buku panduan game ini. Orang di dunia nyata bisa menelpon para pemain, namun tidak sembarangan. Mereka harus pergi ke perusahaan pengembang game dan perlu melalui banyak prosedur. Ada perjanjian juga yang harus disepakati. Dan sama seperti dugaanmu... Ini memang panggilan pertama yang langsung dari sistem."
Yun berkedip, dia semakin penasaran. "Tidak banyak orang yang melakukan itu, bahkan kupikir masyarakat di luar game ini sudah menganggap para pemain seperti kita sebagai sampah. Mereka secara tidak langsung sudah memutuskan hubungan dengan kita. Tapi kenapa kau justru berbeda?"
"Aku tidak tahu. Aku memakai V-Gear milikku tanpa paksaan siapa pun. Aku memainkan game ini tanpa adanya desakan dan aku tidak pernah merasa dibuang ke tempat ini. Aku datang karena kehendakku sendiri,"
"Keluargamu pasti sangat kaya dan mereka begitu menyayangimu. Buktinya kau menerima panggilan untuk pertama kalinya. Mereka pasti melewati berbagai prosedur yang sulit agar bisa membuat satu panggilan kepadamu. Hanya saja sepertinya durasi panggilan itu terlalu singkat,"
"Tidak, bukan begitu... Elvort Garden adalah penjara untukku." Raiden mengingat pesan terakhir yang didengarnya.
Tidak peduli apa yang dia lakukan di tempat ini, dia jangan pernah berpikir pulang kembali. Dunia tidak menerima manusia seperti Raiden. Kenshin Yanji menganggapnya monster dan dia harus mengerti hal itu.
***