
Nona Melinda yang duduk di kursinya terlihat sedikit mengerucutkan bibir, dia pun mulai bergerak dan menoleh ke arah Hamada yang berada di samping Atsui.
"Senior, kenapa kau sangat tertarik dengan pemuda tampan itu hingga aku bahkan tidak boleh angkat tangan untuk memilihnya? Aku menyukai anak itu.."
Hamada begitu tenangnya menjawab, "Bukankah sudah kukatakan, pemuda itu lebih cocok dengan Guild-ku. Dan lagi, dia punya masalah yang harus diselesaikan dengan orang di belakangku ini."
"Cih~ Aku lebih percaya pada kalimat kedua dari ucapanmu." Nona Melinda lantas menoleh ke arah pemuda yang berdiri di belakang Hamada, "Memang apa yang sudah dilakukan si tampanku itu hingga kau sangat menginginkannya, Hide? Apa dia menodaimu?"
!!
Hide tersentak, namun tidak menjawab ucapan Nona Melinda. Hanya saja, kedua tangannya nampak terkepal kuat.
Hamada yang sadar lantas meminta Nona Melinda untuk fokus saja ke depan, lagipula urusan antara Hide dengan Raiden jauh lebih baik bila tidak melibatkan banyak orang.
Raiden sendiri tidak tahu apa yang sedang dibahas oleh dua Ketua Guild di atas sana, dia fokus memperhatikan satu persatu pemain yang dipanggil oleh Orochi. Pemilihan anggota Guild saat ini masih sedang berjalan.
Yun mulai membuka pembicaraan, "Sepertinya setelah ini kita tidak akan bertualang bersama lagi. Kita kini menjadi anggota dari Guild yang berbeda-beda."
Raiden, "Yaah.. Kau benar. Tapi masih ada kemungkinan pertemuan terjadi antara kita, jadi kau jangan terlalu pedulikan sesuatu semacam itu. Lihat Lulu, dia bahkan biasa saja. Dasar menyebalkan,"
Lulu yang berdiri di samping Raiden mulai menoleh ke arah pemuda itu, "Aku juga memikirkannya. Setelah keluar dari sini, kita mungkin saja akan bersaing satu sama lain. Namun aku pasti tidak akan segan,"
Yun, "Kau keterlaluan. Kita sahabat selamanya, apa kau tega melukai Rai dan aku?"
Lulu, "Kenapa tidak? Kita hanya berteman selama beberapa bulan, mana bisa hubungan sesingkat itu dianggap bersahabat?"
Yun tidak menyangka, "Astaga..! Setelah melewati hidup dan mati bersama.. Kau bahkan tanpa hati mengatakan itu?! Ya ampun, Lulu.. Kau ini tidak hanya pelit, tapi juga jahat. Haiih.."
"Ayolah kalian.." Raiden melerai kedua temannya, "Lulu sudah biasa begitu, Yun. Kau seperti tidak tahu sifat anak ini saja.. Selain itu, bagus juga kita berbeda-beda Guild. Akan ada banyak orang yang kita temui, banyak teman baru, petualangan yang baru, bukankah itu menyenangkan?"
Yun berkedip, "Woah. Sejak kapan kau punya sikap yang begitu positif, Rai? Apa salju akan turun di tempat ini? Aku tidak menyangka orang sepertimu akan memikirkan pertemanan, benar-benar mustahil."
"Yun. Walau aku suka berkelahi, tapi aku ini orang yang baik. Kenapa kau seakan tidak percaya padaku? Apa aku pernah membohongimu?" Raiden tidak percaya dengan ekspresi yang ditunjukkan teman di sampingnya ini.
Yun, "Kau tidak terlihat seperti orang yang jujur, Rai. Dan kau tahu, tidak pernah ada orang yang dengan percaya dirinya mengatakan bahwa dia orang yang baik. Lagipula apa ada orang baik yang sangat mudah membunuh sepertimu? Apa jadinya dunia ini jika kau dianggap orang yang baik. Tidak.. Dunia tidak akan selamat,"
Lulu mengembuskan napas kala mendengar perdebatan kedua temannya. Dia lantas fokus memperhatikan pemain terakhir yang dipanggil oleh Orochi. Pemain tersebut adalah seorang anak laki-laki, berusia sekitar 14 Tahun dan merupakan satu-satunya pemain termuda di tempat ini.
Anak itu mempunyai rambut berwarna hitam jabrik dengan mata biru yang indah. Wajahnya bersih dan bila dewasa nanti---dia mungkin akan tumbuh menjadi sosok pemuda yang amat tampan.
Nona Melinda, Gomoru, Atsui, Hamada, termasuk perwakilan dari Guild Phoenix Api mengangkat tangan mereka. Dan khusus untuk Guild Phoenix Api---ini adalah kali kedua mereka mengangkat tangan. Yang pertama adalah saat giliran Lulu.
Anak laki-laki itu dengan tenang memilih Guild Phoenix Api. Dia menjadi penutup dari keseluruhan kegiatan di stadion pelatihan ini.
*
*
Setelah saling berpamitan dengan kedua temannya, Raiden kini terlihat mengikuti Hamada dan Hide dari belakang. Dia tidak mengatakan apa pun sejak tadi dan hanya terus mengikuti kedua pemuda dengan warna rambut yang nyaris sama.
"Mereka berdua ini apa kakak-beradik? Jika benar, maka aku seperti masuk ke dalam kandang singa." Raiden membatin, dia sangat yakin hari-harinya pasti tidak akan berjalan mudah.
"RAIDEN..!!"
!!
Hamada dan Hide mendengar teriakan kasar, keduanya lantas berhenti melangkah dan lalu berbalik untuk melihat siapa yang berteriak tadi.
Raiden pun demikian, dia berkedip ketika melihat ada sekitar enam orang pria yang berjalan ke arahnya. Salah seorang di antara mereka adalah Giryuu.
Raut wajah dan sikap mereka seperti tidak datang dengan maksud yang baik, hanya saja dibandingkan panik--Raiden justru berdiri tenang sambil tersenyum.
"Wah, wah, wah. Aku tersanjung. Apa kalian semua datang untuk mengantar kepergianku?"
!?
Hide menatap Raiden, alisnya berkerut ketika mendengar salah seorang pria yang begitu kesal pada pemuda ini. "Sebenarnya apa yang sudah dia lakukan? Kenapa banyak sekali orang yang disinggungnya?"
Hamada, "…"
Raiden menyilangkan kedua tangannya di depan dada, dia sekilas menatap Giryuu sebelum akhirnya memperhatikan pria yang nampak berusia 32 Tahun di hadapannya.
Dia pun bicara, "Di antara kalian hanya satu orang yang aku kenal. Jadi kau sendiri ini, siapa namamu?"
"Untuk apa kuberi tahu? Kau bahkan tidak layak mendapat kehormatan itu."
Raiden memperhatikan postur tubuh pria berotot di hadapannya. "Tubuh yang kekar, wajah garang, tatapan mata yang tajam, serta penuh aura keangkuhan. Kau sempurna. Jadi di mana kau ingin bertarung?"
Tidak perlu Raiden mencari tahu tentang alasan orang lain datang padanya dengan tingkah seperti ini. Yang hanya perlu dirinya ketahui adalah---siapa pun mereka, dia dengan senang hati akan menerima tantangan.
Giryuu menatap Ketua Guild Singa Emas, "Tuan Hamada, maaf atas kelancangan kami. Tapi ini adalah masalah antara kami dengan Raiden, kuharap Anda tidak membelanya."
"Hmph. Aku tidak peduli dengan urusan kalian," suara Hamada dingin, dia lantas berbalik dan berjalan pergi. Hanya saja dia sejenak melirik ke arah Raiden, "Kalau kau masih hidup setelah berurusan dengan mereka, maka pergilah ke Kota Cahaya dan datang ke Guild-ku."
!
Raiden menoleh, dia menatap Hamada yang mulai menjauh darinya. Belum sempat berekspresi--dirinya merasakan sebuah sentuhan kasar dibahu kanannya.
Hide mencengkeram pundak Raiden, dia tersenyum. "Kau dalam masalah, tapi kupikir ini yang terbaik. Kau bisa mati di tangan mereka daripada hingga tidak perlu lagi mengalami penderitaan di tanganku."
Raiden, "Kau jahat, namun tenang saja. Aku masih ingin melihat bagaimana kau dapat memberiku penderitaan, Pirang."
Hide mendecih dan kemudian pergi menyusul Hamada. Dia meninggalkan Raiden bersama dengan Giryuu dan kawanannya. Hide tidak memperhatikan perubahan pada mata pemuda yang diajaknya bicara tadi.
Meski Raiden bicara pada Hide dan menatap punggung Hamada yang semakin menjauh--tetapi kepekaannya terhadap lingkungan sekitar tidak pernah berkurang.
"Kalian ingin bertarung secara formal dengan mengirarkan sumpah atau langsung dan di tempat ini?" Raiden memegang belati yang belum dia tarik dari sarungnya.
Jika mereka bertarung tanpa mengikrarkan sumpah, maka pertarungan ini tidak hanya merusak gedung yang ada--tetapi juga kemungkinan besar akan melibatkan orang lain.
Salah seorang pria yang memiliki luka parut di hidungnya nampak berjalan maju. Dia pun mengangkat tangan disusul oleh teman-temannya, mereka menyerukan kata 'Arshen Gardien!' secara bersamaan.
Ikrar telah diucapkan, Raiden pun ikut melakukannya. Suasana di sekeliling mereka lantas berubah. Meski gedung dan tempat mereka berpijak tetap sama, namun selain yang mengucapkan ikrar--semua orang akan seperti menghilang.
Sebuah titik cahaya muncul, memadat, dan lalu membentuk seorang tua bangka berusia sekitar 50 Tahun.
Kakek tua itu mempunyai tubuh yang pendek, berkumis, dan bertelinga seperti musang. Dia adalah wasit dalam pertarungan kali ini.
"Akan kujelaskan aturannya secara singkat. Pertarungan akan berhenti bila lawan mengaku kalah atau mati," Tua Bangka itu bicara, "Kalian belum menentukan hadiah yang menjadi simbol kemenangan dari pertarungan ini."
Giryuu, "Bukankah sudah jelas? Yang menang akan hidup, dan yang kalah akan mati. Itu hadiah kemenangan yang sepadan."
"Tapi aku menolak," Raiden menyahut. "Aku tidak mau hadiah kemenangan yang semacam itu. Pemenangnya akan memiliki seluruh token dan poin dari mereka yang kalah."
"Hmph, terserah kau saja. Yang jelas aku pasti akan menebasmu!" salah seorang pria melesat tanpa peringatan, pedang di tangan kanannya telah terayun kuat.
!!
Raiden mampu bergerak cepat, dia menangkis serangan yang datang dengan mengandalkan belati miliknya. Keempat pria lain kemudian ikut maju, pertarungan di antara mereka seketika pecah.
Giryuu sendiri tersentak dengan alur yang tiba-tiba berubah sedrastis ini, namun dirinya tidak tinggal diam. Giryuu menarik senjatanya dan bergabung bersama teman-temannya untuk menghadapi Raiden.
***