RAIDEN

RAIDEN
23 - Gluttony



Yun dan Ogiwara membeku, keduanya terdiam apalagi saat sosok di hadapan mereka mengeluarkan suara yang aneh.


Sosok bermata hitam itu mempunyai postur tubuh wanita dengan rambut yang tergerai panjang. Kulit tubuhnya putih pucat dan memiliki kuku jari runcing berwarna semerah darah.


!!


Yun berusaha menelan ludah, tetapi tenggorokannya tiba-tiba saja terasa sakit. Sosok itu menoleh ke arahnya dan memperlihatkan senyuman yang tertarik hingga merobek pipinya.


"Dia.."


"Gluttony..!" Shoyo berseru, dia baru saja sampai di tempat Yun dan Ogiwara. Seruannya mengagetkan kedua rekannya itu, sekaligus membuat sosok yang dilihatnya mengeluarkan suara cekikikan.


Sosok bermata hitam tersebut langsung melesat ke arah Shoyo tanpa aba-aba. Hanya saja sebuah serangan datang dari arah samping tubuh remaja laki-laki itu, pelakunya tidak lain adalah Mei.


Shoyo kaget, "Hei..! Kau mendahuluiku..!"


!!


Yun tidak tahu lagi harus bagaimana dengan kedua rekannya. Dalam sekejap saja, pertarungan antara Mei dan Shoyo melawan monster tersebut berlangsung sengit.


"Kalian jangan gegabah..!" Yun memperingatkan, tetapi sepertinya Mei dan Shoyo tidak mendengarnya.


Gluttony sebenarnya adalah nama umum bagi makhluk yang dilihat Yun. Sosok itu bukan makhluk sembarangan dan jujur sangat sulit diatasi jika dibandingkan dengan monster kelelawar yang pernah dilawannya dalam Ujian Labirin.


Mei dan Shoyo terlalu percaya diri, keduanya melawan Gluttony dengan cara yang sama saat menghadapi para serigala sebelumnya. Mereka terlalu meremehkan kemampuan lawan.


"Anak yang nakal.." suara Gluttony terdengar serak, dia menangkap tangan Shoyo dan memberi serangan hingga membuat remaja itu menghantam dinding dengan keras.


"Shoyo..!" Mei berseru, tetapi sebelum dia melawan---sebuah uluran tangan meraih dan mencengkeram lehernya.


!!


Yun dan Ogiwara melesat membantu, mereka menyerang Gluttony dan berusaha melepaskan Mei dari cengkeraman monster itu.


"Penyusup tidak diterima di sini, tapi aku suka. Kalian akan menjadi santapan malamku..!" Gluttony mengeluarkan tawan nyaring yang memekakkan telinga, dia menyerang secara membabi buta dan berhasil memberi cakaran pada lengan kanan Ogiwara.


"Sial..! Dia monster yang kuat," Vit menyelimuti pedang besar Ogiwara, dirinya pun membalas serangan yang dialamatkan padanya. Sayang tempat ini tidak sesuai untuk petarung sepertinya.


Ogiwara membutuhkan ruang yang luas. Jika pertarungan dengan di kelilingi oleh dinding batu dan berlangsung sengit, dia khawatir akan meruntuhkan sesuatu yang membuat dirinya dan rekan-rekannya terkubur hidup-hidup.


Kekuatan serangan Yun sendiri tidak terlalu besar, dia mengandalkan kartu-kartu miliknya yang dilemparkan ke arah Gluttony. Namun memang, dirinya juga tidak bisa mengerahkan kemampuan lebih dari ini. Bila nekat, yang ada justru akan meledakkan dinding dan membuat atap batu di atas mereka runtuh.


Benar-benar tidak bisa diterima. Mereka mempunyai kekuatan, tetapi keadaan telah mendesak mereka untuk tidak mengerahkan segalanya. Sementara di sisi lain, kondisi ini justru mendukung lawan.


Gluttony bisa bergerak lincah, dinding dan atap batu adalah keuntungannya. Dia dapat menempel di dinding dan bahkan bisa merangkak naik. Tidak hanya serangan dari cakarannya, rambut panjangnya pun dapat menjadi senjata.


Shoyo terlihat terbatuk, punggungnya sakit karena benturan. Syukurlah Yun dan Ogiwara turun tangan hingga dirinya memiliki kesempatan untuk bangun dan meminum sebuah Potion.


Mei juga demikian, lehernya sangat sakit. Dia pikir sudah tewas sekarang, tetapi untung Ogiwara dan Yun melindunginya. Dia pun bangun, meminum sebuah Potion, sebelum akhirnya kembali menyerang Gluttony membantu rekannya tersebut.


Suara tawa nyaring Gluttony terdengar lagi, kali ini lebih memekakkan dari yang tadi hingga menganggu konsentrasi keempat lawannya.


Dia tersenyum lebar hingga darah di pipinya mengalir dan terjatuh menodai lantai, "Manusia payah, kalian semua sudah tidak bisa berbuat apa pun lagi. Tempat ini adalah wilayah milikku, kalian kalah."


!!


Setelah mengatakan itu, dinding bahkan lantai yang dipijak Yun seketika berubah menjadi tumpukan rambut. Kakinya dililit kuat hingga tubuhnya tidak bisa bergerak.


Bukan hanya dia, tapi juga Ogiwara, Mei, dan Shoyo. Mereka terkejut mendapat serangan tiba-tiba yang membuat tubuh ketiganya sulit digerakkan. Sejak awal, mereka ternyata telah masuk ke dalam perangkap Gluttony.


"Aku paling tidak suka bermain-main dan menunda waktu. Sekarang saatnya kalian semua menjadi makananku," Gluttony kembali tertawa. Lilitan pada rambutnya semakin mengencang hingga membuat Mei menjerit kesakitan.


"Kau..! Aku pasti akan membunuhmu..!" Ogiwara mengalirkan Vit ke seluruh tubuhnya, dia bermaksud memutuskan kumpulan rambut yang mengikat kaki, tangan, dan bahkan pinggangnya.


Hanya saja ketika dia mengalirkan Vit, justru rambut-rambut itu kian menguat dan seakan mengisap Vit miliknya. Dia benar-benar terkejut sebab sejauh yang dirinya ketahui, monster ini harusnya tidak mampu berbuat demikian.


"Senior, hentikan!" Yun memperingatkan, "Jangan mengeluarkan Vit lagi. Rambut tersebut tidak biasa, tubuhmu dapat terpotong karenanya.."


Yun menatap Mei dan Shoyo, ".. Kalian juga jangan coba-coba melakukan tindakan gegabah. Sebelumnya sudah kuperingatkan, dan lihatlah hasilnya! Ini akibat kalian tidak mendengarkan."


Mei dan Shoyo cemberut, tetapi di sisi lain juga sangat kesakitan. Apalagi sekarang, Gluttony mulai menggerakkan jari-jari tangannya.


Monster itu menarik Mei, dia menangkap gadis itu dengan sangat sempurna. Yun berusaha mengalihkan perhatian dengan memprovokasi monster tersebut, tetapi Gluttony sama sekali tidak terpengaruh.


"Mei..!" Shoyo berusaha memberontak, hanya saja semakin kuat dirinya ingin melepaskan diri---maka semakin kencang juga lilitan rambut yang mengikatnya.


Yun sendiri memejamkan mata, dia mengatur napas dan mencoba tenang. Di saat semacam ini, penting baginya untuk berpikir jernih. Di sisi lain, Gluttony mulai menentukan bagian tubuh mana dari Mei yang akan dimakannya lebih dahulu.


"Kau terlihat sangat menggiurkan.." Gluttony tersenyum lebar, air liur nampak menetes di sela-sela gigi taringnya.


Mei memang merasakan tubuhnya sakit, tetapi dia memasang wajah yang sama sekali tidak takut mati. "Jika kau ingin memakanku, sebaiknya cepat lakukan. Karena jika kau terlambat atau justru aku dapat membebaskan diri--maka itu akan menjadi akhir dari riwayatmu."


Gluttony tertawa, "Kepercayaan dirimu terlalu tinggi, benar-benar tidak bisa mengukur kemampuan diri sendiri.." dia mengulurkan tangan dan meraih dagu Mei, ".. Kau tidak akan pernah lolos dari cengkeramanku. Bahkan kurasa saat ini aku sudah memutuskan akan memakan kepalamu lebih dahulu,"


!!


Ogiwara terkejut mendengar ucapan monster itu, dia menggeram keras dan berusaha mengulur waktu dengan mendebat Gluttony, dirinya bermaksud memprovokasi monster itu agar nyawa Mei dapat terselamatkan meski hanya sementara.


Sayang sekali Gluttony tidak terpengaruh. Dia mengayunkan tangannya dan nyaris membelah kepala Mei andai sebuah ledakan tidak terjadi tepat di atasnya.


!!


Suara ledakan tersebut mengejutkan tidak hanya Gluttony, tetapi juga Ogiwara, Mei, dan Shoyo. Mereka kaget, apalagi ledakan berikutnya membuat kumpulan rambut yang menutupi atap itu terbakar.


"Siapa yang menyerang itu?!" Gluttony menggeram, dia tidak merasakan kehadiran manusia selain yang telah dirinya taklukkan. Dirinya pun segera mengibaskan tangannya dan api yang membakar rambutnya perlahan memudar.


"Kau pikir saat menyerangmu tadi, aku melemparkan kartuku begitu saja?"


?!


Suara Yun seakan menjadi jawaban atas rasa terkejut yang dialami Gluttony. Dia segera mendapat tatapan tajam dari monster itu.


"Jadi rupanya kau. Dasar bedebah..!" Gluttony melesat ke arah Yun ketika ledakan yang lain kembali terjadi. Kali ini berasal dari dinding di sampingnya, dia pun spontan menghindar.


Kartu-kartu yang sebelumnya digunakan Yun untuk menyerang Gluttony memiliki sifat bagai bom waktu, namun dengan efek yang tidak terlalu besar.


Yun tidak perlu menggunakan Vit, karena sejak melesatkan kartu tersebut--dirinya sudah lebih dahulu melakukannya. Hanya saja memang butuh waktu sampai kartu miliknya dapat aktif dan meledak.


!!


Ledakan demi ledakan terus mengalun, saling bersambung satu sama lain, ini membuat Gluttony kerepotan karena tidak dapat memprediksi titik ledakan selanjutnya.


"Dia mencoba menjauhkanku dari gadis itu," Gluttony tahu tujuan dari Yun, dia pun mengibaskan tangannya dan sepuluh cakaran melesat di udara bersamaan dengan ledakan selanjutnya membebaskan Ogiwara dari kumpulan rambut yang melilitnya.


"Junior, kau bagus." Ogiwara memuji Yun, detik berikutnya dia menebas rambut yang mengikat pemuda itu dan juga membebaskan Shoyo. Dia pun melesat dengan pedang besar yang ditarik dalam ruang hampa.


!!


Ogiwara kini mampu menghindari dan menebas lesatan dari rambut-rambut milik Gluttony. Dia tidak lupa membebaskan Mei dan kali ini---dirinya memberi arahan agar para juniornya tidak sampai menyerang sembarangan.


Semakin lama keempatnya bertarung melawan monster itu, semakin keras dan besar juga dampak yang terlihat. Bahkan Raiden sekarang bisa merasakan getaran pada lantai Dungeon yang dipijaknya.


"Sepertinya ada yang sedang bertarung,"


"Aku juga merasakannya,"


Hide menoleh saat mendengar ucapan kedua junior yang berjalan di belakangnya. Dia juga merasakan hal yang sama. Liyan yang berjalan di sampingnya menggeram, singa berbulu emas itu seakan mengatakan bahwa mereka harus segera bergegas. Jelas bahwa sekarang ada yang butuh bantuan.


***