RAIDEN

RAIDEN
15 - Yuna



Awalnya Raiden berpikir dia pasti akan mati, namun ketika mendengar suara asing yang terasa memberi perhatian padanya--dia jadi memiliki harapan untuk memastikan bahwa nyawanya selamat. Karena itulah ketika perlahan matanya terbuka dan pandangannya menjadi jelas, dia tidak nampak terkejut sama sekali.


"…"


Raiden mulai bangun, dia tidak lagi merasakan sakit di seluruh tubuhnya--keadaannya begitu baik dan sehat seperti sebelumnya.


Pandangan matanya lantas menelusuri ke setiap sudut ruangan dan dirinya yakin berada di dalam sebuah kamar. Bahkan terlihat ada tempat tidur lain di seberang tempat tidurnya.



Nuansa kamar yang penuh kehangatan tradisional, tidak terlalu banyak hiasan, anggun dengan warna ungu muda pada tirai yang menjadi penghias tempat tidur dan pintu, dinding yang terbuat dari kayu beraroma lembut---jelas sekali ini tempat yang nyaman.


Raiden menguap, dia menggaruk pelan kepalanya dan baru akan melanjutkan berbaring lagi saat terdengar suara pintu dibuka.


Seorang gadis yang nampak berusia 23 Tahun dengan paras cantik berambut panjang berwarna ungu pudar yang senada dengan warna pakaiannya terlihat memasuki ruangan. Gadis itu berjalan mendekati Raiden, ekspresi wajahnya datar dan terkesan dingin.


"Kau baik-baik saja?"


Raiden mengerutkan keningnya, namun raut wajahnya tetap seperti biasa. Dia memperhatikan gadis ini dengan cermat dan akhirnya teringat, "Ah. Kau yang membentak dan mengataiku 'mesum' kan? Kau juga yang sangat pelit bahkan ketika kutanya namamu,"


Gadis itu mendengus, dia menyilangkan tangannya, "Hmph. Siapa yang mau berkenalan saat kondisi sedang tidak baik? Kau sendiri bicara hal semacam itu dengan temanmu dan di saat keadaan darurat, kalau bukan menyebut kalian mesum, lalu apa?"


"Ya ampun, kau ini gadis yang kasar. Tidak baik bersikap ketus, apalagi kepada pemuda setampan diriku. Kau bisa-bisa tidak punya pacar,"


"Siapa yang peduli..! Lain kali jika kau ingin sekarat, cari tempat yang lain. Jangan berada di sekitar penglihatanku. Kau jadi merepotkanku dengan harus membawamu kemari,"


Gadis itu bersungut-sungut, pipinya terlihat memerah karena marah. Sesuatu yang unik sekaligus menggemaskan di mata Raiden, rasanya jadi ingin mencubit dan menarik pipi gadis ini.


"Haah.. Benar-benar menyebalkan.." Gadis cantik itu masih melanjutkan, "..Kau tahu tidak bahwa kau itu sangat berat. Sulit membawamu kemari dan keadaanmu yang luka parah begitu menakutkan. Kau nyaris membuatku menjadi pembunuh,"


"Ehm.. Nona?" suara Raiden pelan, "Tidak ada yang akan menuduhmu sebagai pembunuh meski aku mati, itu--"


"Siapa yang bisa mempercayaimu?" gadis itu menyela, "Aku pasti akan dituduh melakukan sesuatu yang tidak kulakukan, dan semua itu adalah salahmu!"


"Aah.. Mm.. Baiklah, aku minta maaf." Raiden menjadi agak gugup, "Gadis ini kasar, dingin, dan ketus. Kenapa dia begitu menyebalkan? Biasanya gadis sepertinya akan luluh dengan wajah tampanku, tapi dia ini... Mungkinkah dia belum memperhatikan wajahku dengan baik?"


Raiden mengembuskan napas sebelum kembali bicara. "Biar bagaimanapun juga, aku sangat berterima kasih karena Nona sudah menyelamatkanku. Aku Raiden berhutang satu padamu, tapi apa kau masih tidak mau mengatakan namamu?"


"Yuna."


"Baiklah, setidaknya sekarang aku jadi tahu namamu.." Raiden menggeleng, dia memang menanyakan nama gadis ini--tetapi bukankah jawaban itu terlalu singkat? Dan dari ekspresi wajah si cantik ini---rasanya seakan dia tidak mau menjawab pertanyaan yang lainnya lagi.


Yuna sendiri sebenarnya adalah gadis yang baik dan lembut, hanya saja dia dingin dan ketus pada orang asing. Dia menyelamatkan Raiden semata-mata karena rasa kemanusiaan, tetapi siapa yang menyangka setelah diingat-ingat lagi.. Pemuda ini rupanya adalah orang yang merebut semua perhatian di arena pertarungan. Itu artinya sosok yang ditolongnya merupakan orang yang punya banyak masalah.


"Di mana pedang dan belatiku..?" Raiden baru teringat, dia mencari-cari senjatanya dan mengembuskan napas lega ketika melihat benda itu berada di atas meja yang terletak di samping tempat tidurnya.


Yuna, "Jika kondisimu sudah baik--maka turun dan makanlah. Aku tidak mau mengantar makanan kemari dan menjadi pelayanmu."


Raiden tidak menjawab, justru dia terlonjak kaget ketika menyadari pakaiannya berubah. Ini bukanlah pakaian yang dirinya kenakan, apalagi tubuhnya seperti---sudah dibersihkan!


"Nona Yuna.. Apa aku boleh menanyakan sesuatu? Siapa yang mengganti pakaianku?" tatapan mata Raiden terlihat serius, namun raut wajahnya agak pucat.


Yuna mendengus, "Siapa lagi yang kau rasa bisa mengganti pakaianmu? Kau pemuda mesum, apa kau pikir aku akan meminta para pelayan di tempat ini untuk melakukannya?"


"Tunggu. Tapi bukan kau, kan?"


"…"


Kebungkaman gadis di hadapannya membuat Raiden seperti mendengar sambaran petir. Dia lantas bersikap menutupi tubuhnya ketika melihat tatapan Yuna yang begitu intens menatapnya dari kaki sampai kepala.


"A-apa yang kau lihat?" Raiden gugup, seumur hidup dirinya baru bertemu gadis yang begitu mengerikan. "Meskipun aku berandalan, tetapi aku ini tidak pernah dijamah gadis mana pun. Astaga.. Dia ini sangat berbahaya,"


Untuk kesekian kalinya Yuna mendengus, "Tidak ada yang layak dilihat dari tubuh bagian bawahmu, meski tahi lalat di paha kananmu itu cukup menarik perhatian. Ah, dan walau kau punya roti sobek di perutmu, itu sama sekali tidak membuatku tertarik."


!!


Raiden tidak akan percaya jika tidak mendengarnya sendiri. Ucapan gadis di depannya ini sudah membuktikan bahwa Yuna benar-benar yang telah melepas pakaiannya dan juga membersihkan tubuhnya.


Dia teramat syok, "Kau.. Kau parah! Bagaimana kau bisa melakukan itu pada seorang laki-laki?!" Raiden menunjuk Yuna, "Kau cantik tapi bahkan lebih mesum dariku! Sialan-Ah"


Yuna menjitak kepala Raiden hingga pemuda itu merintih, "Siapa yang kau sebut 'sialan'? Kondisimu terluka parah dan apa kau mengira dalam keadaan yang panik itu aku masih bisa berpikir untuk mengirim pelayan laki-laki kemari dan membantumu?"


Yuna tidak bisa menahannya lagi, "Memanggil satu orang tabib saja sudah sangat mahal, membayar satu kamar juga, apalagi jika aku harus menyewa pelayan pribadi. Aku ini tidak punya poin yang banyak, menyebalkan! Kau sangat menyusahkan!"


Raiden tidak pernah dimarahi sampai seperti ini, dia jadi tidak tahu harus mengatakan apa selain meminta maaf lagi. "Aku.. Sungguh tidak bermaksud membuatmu repot. Aku.. Minta maaf,"


Yuna mengembuskan napas, "Tidak masalah. Jika kau sudah membaik, maka segeralah turun. Aku akan menunggu di bawah."


Raiden tidak mau menyinggung gadis itu lagi. Biar bagaimanapun dia memang telah berhutang pada Yuna. Bila bukan gadis itu yang menyelamatkannya, maka dia pasti akan berhutang pada orang lain.


Setelah berpikir demikian, Raiden mulai bangun dari tempat tidurnya. Token kayu miliknya terletak di samping belatinya. Saat dia memeriksa poin di token itu--angkanya sama sekali tidak berubah.


Tidak hanya berfungsi sebagai benda yang akan membawanya mengikuti ujian di 'Tahta Gardien' dan penyimpanan poin--token kayu ini juga berfungsi sebagai penyimpanan barang, terkhususnya pakaian dan benda mati lainnya.


Setelah selesai bersiap, apalagi dengan pedang dan belatinya---Raiden pun keluar dari kamar. Dia tahu ini penginapan dan jelas bukanlah tempat yang murah, dia jadi merasa bersalah kepada Yuna.


Penginapan ini bertingkat dua, lantai pertama bisa dikatakan adalah tempat khusus untuk pelanggan makan dan di sinilah Yuna menunggu. Gadis berambut ungu itu duduk di salah satu bilik, di hadapannya terdapat meja duduk sederhana dengan beberapa hidangan lezat.


Yuna hanya sejenak memperhatikan sekeliling sebelum pandangannya tertuju pada Raiden yang berjalan ke arahnya, keningnya sedikit mengerut ketika pemuda itu berpenampilan sangat rapi.


Dia tidak bisa menahan diri untuk tak bertanya, "Kau bersiap-siap untuk apa? Ini sudah malam. Kau itu tidak sadarkan diri selama seharian ini,"


Raiden duduk berseberangan dengan Yuna, "Mn. Kupikir.. aku harus pergi.. Akan kubayar semua poin yang kau keluarkan untukku, aku benar-benar berterima kasih."


"…"


Yuna merasa seperti sudah bersikap agak sedikit keterlaluan kepada pemuda di depannya, "Kau makanlah dulu. Itu bisa dipikirkan nanti. Yang lebih penting, bagaimana kau bisa terluka sampai nyaris kehilangan nyawa?"


Raiden tidak menolak untuk makan dan dia juga tidak berniat menyembunyikan apa pun pada gadis ini, "Banyak pemain yang secara alami kusinggung, kau juga pasti tahu insiden ular itu dan Nona Melinda. Jadi setelah ujiannya berakhir, beberapa orang datang dan mencariku."


Yuna, "Aku juga baru mengingat-ingat namamu. Kau Raiden yang menjadi buronan di Kota Semanggi, kan? Poster yang mencari musuh itu sangat mengesalkan."


!?


Raiden tersentak, warna matanya berubah cemerlang. "Kata 'buronan' itu terlalu kasar, lagipula poster yang tersebar bukan aku pelakunya. Ini kedua temanku, Yun dan Lulu yang melakukannya."


Yuna, "Kenapa kau tidak menghentikan mereka?"


"Karena aku setuju."


!


"Itu sama saja kau ikut terlibat, ish." Yuna menenggak air di sisinya sambil memperhatikan Raiden makan.


Dia sudah mengumpulkan informasi tentang pemuda ini seharian dan benar-benar terkesan. Raiden terkenal sebagai berandalan liar walau informasi tentang perawakannya terlalu banyak dan jauh melenceng dari yang terpampang nyata di depannya ini.


Ada yang bilang Raiden adalah pria berusia 40 Tahun dengan tubuh berotot. Sebagian yang lain mengatakan dia mempunyai wajah penuh bekas luka parut, dan tidak sedikit yang berkata Raiden merupakan orang gila yang akan merobek perut siapa pun dengan belati di tangannya.


Raiden sadar dia tengah diperhatikan, "Kenapa kau melihatku seperti itu? Baru tahu bahwa aku mempunyai wajah yang tampan?"


!!


Yuna tersedak napasnya mendengar ucapan barusan, dia terbatuk-batuk. "Siapa yang memperhatikanmu! Kau narsis dan sombong sekali, cih."


Raiden menyumpit sepotong daging dan memasukkannya ke dalam mulut, ekspresi wajahnya tetap tenang seperti biasa. "Aku bukan narsis, tapi penuh percaya diri. Aku tampan dan sempurna. Aku bersyukur kepada Tuhan yang memberiku kesempurnaan ini. Apa aku salah bila menyombongkannya?"


"Hmph," Yuna memalingkan sejenak wajahnya, dia mungkin tidak tahu harus bagaimana mendebat Raiden. Karenanya untuk menutupi hal ini, dirinya berkata. "Kau bilang tadi akan pergi, kau mau ke mana hingga bahkan tidak ingin membuang waktu?"


Raiden menanggapi, "Aku harus ke Kota Cahaya dan ke Guild Singa Emas. Oh iya, apa ada ketua Guild yang memilihmu?"


Yuna justru balik bertanya, "Kau tidak memperhatikan saat pemilihan?"


"Terlalu banyak pemain. Siapa yang mau memperhatikan mereka semua? Aku tidak punya alasan untuk melakukannya. Jadi kau ada di Guild mana?"


"Sama sepertimu."


!?


Raiden sedikit tersentak, tetapi kemudian tersenyum. "Baguslah, kita bisa menjadi teman. Sebagai anggota baru sebuah Guild, aku sebenarnya merasa gugup. Jadi saat tahu kau juga berada di Guild yang sama sepertiku, rasanya agak melegakan."


Yuna tersenyum meledek, "Bukankah kau tadi sangat percaya diri?"


Raiden, "Tentu saja. Ketampananku ini bisa mengundang iri hati para pemain lainnya. Kalau aku hanya sendirian di Guild Singa Emas, maka bayangkan seperti apa diriku menjadi target bully-an karena wajah tampan mempesona ini."


Yuna tertawa, "Bukan main. Kau benar-benar sangat narsis. Sudahlah, makan dan istirahatlah. Berangkatnya besok saja, ini sudah terlalu larut. Pemuda tampan tidak baik jalan malam-malam, kau bisa diculik nanti.."


Melihat gadis ini yang bisa juga tertawa membuat Raiden senang, dia kembali melanjutkan makannya meski tidak butuh waktu lama sampai dirinya merasa sedang diperhatikan oleh sesuatu.


Di lantai pertama ini memang tidak hanya dia dan Yuna, tetapi juga ada cukup banyak pelanggan. Ramai pembicaraan di antara mereka hingga terlalu banyak suara yang terdengar, namun Raiden merasa ada beberapa orang yang memperhatikan dirinya.


Dia pun mengembuskan napas pelan, "Yaah. Sepertinya aku memang tidak punya pilihan selain melanjutkan perjalanan ke Kota Cahaya besok, aku tidak mau menjadi target penculikan. Ah, di kamar tadi kulihat ada dua tempat tidur. Apa kita harus sekamar?"


Yuna telah selesai tertawa, dia kembali seperti biasa walau tatapan matanya kini sudah lebih ramah dibandingkan yang sebelumnya. "Aku tidak punya banyak poin untuk menyewa kamar terpisah. Lagipula kenapa kau khawatir? Aku tidak akan menggerayangimu."


Raiden, "Bukan begitu. Tapi apa kau tidak takut sekamar denganku? Kau sudah menyebutku 'mesum'. Bagaimana jika aku tiba-tiba menyerangmu? Kau ini kan perempuan,"


"Akan kupastikan kau akan menyesal jika melakukannya.." Yuna tentu tahu cara menjaga diri. Dia tidak akan segan-segan mengebiri orang lain termasuk Raiden bila pemuda ini nekat mengambil kesempatan darinya.


Lagipula, Yuna juga mempunyai bakat menilai orang hanya dalam sekali pandang. Raiden tentu bukan tipekal serigala liar. Justru sekamar dengan pemuda ini akan membantunya menghadapi masalah yang mungkin saja terjadi.


Yuna minum untuk kedua kalinya. Lewat ekor matanya dia melihat beberapa orang sedang menatap ke arahnya. Sudah lama dia merasa seperti sedang diikuti. Bisa dikatakan, dialah yang tengah diawasi saat ini dan bukan Raiden.


***