
Raiden menyelam lebih dalam dan mengikuti ke mana pedangnya mengarahkan. Dia melihat dinding daging di kedua sisinya bergerak dan merasa gugup karenanya.
Beberapa ikan terlihat berenang di sekitar Raiden, hanya saja hewan itu mati ketika menyentuh dinding daging tersebut. Dia merasa benar-benar akan tewas bila sampai menyentuhnya.
"Yiling. Kita tidak akan bertemu hewan buas di tempat ini, kan?"
"Kau lurus saja,"
Raiden terus menyelam. Dia bisa melihat tulang putih-keperakan makhluk yang sudah menelannya. Tulang itu nampak mengeluarkan cahaya dan memang membantu Raiden melihat, hanya saja tidak ada pemandangan indah di mana pun mata memandang.
"Kenapa suhunya semakin hangat di sini ...?" Raiden mulai khawatir, dia merasa berdebar ketika semakin lama menyelam dan suhu di sekitarnya kian menghangat.
"Rai, kau melihatnya?"
?!
"Melihat apa-" Raiden mengerutkan kening dan baru saja akan bertanya saat dia mulai melihat sebuah gumpalan merah yang berdetak tidak jauh di depannya.
"Apa itu .... Jantung hewan ini?" Raiden bertanya sambil lebih dekat untuk memperhatikan gumpalan daging itu. "Rasanya agak aneh melihat jantung hewan ini .... Jika yang kulihat benar-benar jantung,"
"Jalan keluar kita,"
Raiden tersentak, tetapi dia langsung menarik belati miliknya. "Aku tidak akan bertanya Yiling, aku akan percaya padamu."
"Kau tidak bisa menebasnya dengan memakai belati itu. Gunakan aku,"
Raiden merasakan tenggorokannya sakit. Memakai Yiling terlalu berisiko, dia tentu tidak bisa---apalagi sekarang tenaganya semakin berkurang karena berada di dalam hewan ini.
Rasa hangat yang menerpa tubuhnya bahkan membuat dadanya sesak. Jika dia nekat menggunakan Yiling, maka dirinya bisa berada dalam keadaan yang buruk.
"Rai, cepat lakukan. Gunakan aku,"
"Tidak bisa. Aku tidak akan sanggup bertahan jika sampai memakaimu,"
"Lakukanlah, Rai. Kesempatanmu hanya sekali. Percaya padaku,"
Raiden mengepalkan tangannya. Yiling sangat pemaksa dan kemungkinan dia berhasil dengan memakai belati memang tidak besar, tapi ini sebenarnya lebih baik daripada pedangnya yang sangat kuat itu.
Raiden menyimpan belati miliknya dan dengan agak ragu menyentuh pegangan pedangnya. Tangannya meremas kuat Yiling.
"Kuharap kau tidak mempermainkanku," Raiden bersuara. Dia pun menggertak dan memakai jempol tangannya agar bilah Yiling terlihat.
Detik itu juga, lesatan petir langsung menyerang gumpalan daging besar yang berdenyut tersebut hingga berlubang dan kemudian meledak. Di saat yang sama, dinding daging meledak-ledak dengan cara yang begitu meriah.
Lesatan petir itu terus melaju dan di mana pun dia berada----ledakan terus tercipta. Tidak ada yang bahkan mampu menghilangkan luka tanpa bekas sama sekali. Setiap dinding daging itu telah dikacaukan hingga tidak bersisa.
Hewan besar itu menggeliat sambil mengeluarkan suara yang sangat memekakkan telinga. Darah dan potongan daging hewan itu menyebar, hewan bernyawa apa pun yang disentuh oleh potongan daging tersebut langsung tewas di tempat.
Raiden terlempar sangat jauh, tangan kanannya menghitam karena pemakaian pedang yang berlebihan. Dirinya bahkan dalam kondisi yang tidak sadarkan diri.
*
*
Di atas danau, suara memekakkan telinga itu didengar oleh Tuan Kanae. Pria tersebut jelas saja terkejut dan merasa tidak nyaman. Dia menunggu Raiden dengan perasaan was-was.
Tuan Kanae memang tidak menjelaskan secara terperinci bahaya Danau Seribu Kisah, tapi bukan berarti dia ingin Raiden kehilangan nyawanya meski 'mati' bagi pemain Elvort Garden adalah sesuatu yang wajar dan tidak bisa dihindari.
"Aku memberinya ujian ini karena aku melihat sesuatu yang tidak semua pemain memilikinya. Dia pemuda yang mempunyai kemampuan. Dia sosok yang pemberani dan pantang menyerah. Aku ingin melihat apakah dia memang sesuai dengan yang kubayangkan selama ini,"
Tuan Kanae bernapas pelan. Dia terus menunggu sampai Raiden kembali naik ke permukaan. Bulan terlihat masih menggantung di atas sana.
Butuh waktu lama bagi Tuan Kanae untuk menunggu Raiden. Bahkan langit mulai terlihat berwarna di atas sana. Dirinya sama sekali tidak tidur atau pun pergi dari tempatnya duduk.
!!
Air danau tiba-tiba menyembur ke atas seperti diledakkan. Suara keras bahkan didengar oleh Tuan Kanae. Seseorang melesat dari ledakan air danau itu dan kemudian menapak di hadapan Tuan Kanae.
?!
Seseorang yang dilihat oleh Tuan Kanae sekarang tidak lain adalah Raiden. Sosok pemuda tampan dengan mata merah itu dalam keadaan yang basah kuyup dan nampak tersengal-sengal.
"Rai ...."
Raiden mendekati Tuan Kanae dan memberikan sesuatu yang dia dapat dari dalam danau. Di tangannya adalah sebuah bola kaca dengan bunga teratai di dalamnya.
Raiden berujar, "Aku mendapatkan ini setelah bertarung dengan monster yang besar. Anda keterlaluan sekali .... Hah .... Kenapa Anda tidak mengatakan apa-apa tentang penunggu danau ini? Aku nyaris terbunuh,"
"..............." Tuan Kanae memperhatikan benda yang Raiden berikan padanya. Dia baru saja akan bicara saat pemuda itu tiba-tiba saja berjalan pergi.
"Raiden,"
"Tuan Kanae, aku saat ini sedang sangat lelah. Aku pasti akan menemuimu nanti," Raiden menoleh dan tersenyum, "Aku senang bisa melakukan ini. Pengalaman yang kudapat sangat hebat. Aku lolos dalam tes-mu, kan?"
*
*
Tuan Kanae menepati janjinya. Dia memberikan surat rekomendasi agar Raiden bisa langsung mengikuti pertandingan antar pemain.
Di hari pertandingan, para pemain dari Guild Singa Emas mulai berkumpul. Sebuah arena pertarungan terlihat dan bahkan ada tempat duduk yang tersedia bagi para pemain. Entah mereka yang hanya menjadi penonton, maupun yang akan bertanding.
Hide berada dalam sebuah kelompok dan terlihat bagai kumpulan pemain senior yang mendominasi. Mereka nampak menyilangkan tangan dan lebih kepada memandang rendah para anggota junior dari guild ini.
Dalam Guild Singa Emas, Raiden hanya mengenal Yuna, Gleen dan Ryouma sebagai sesama anggota baru. Meski dia percaya dengan kemampuannya, tetapi tetap saja pertandingan antar pemain ini membuat Raiden gugup.
Kasamatsu berdiri dan mulai berdeham. Dia pun mengeluarkan suara yang bisa didengar oleh para anggota Guild Singa Emas. "Sebelum pertandingan antar pemain dilangsungkan. Tuan Muda Hamada akan menyampaikan pidatonya..!"
!!
Raiden tersentak ketika para pemain di sampingnya mulai bertepuk tangan. Dia pun juga ikut melakukannya meski kedua tangannya hanya mengeluarkan suara tepukan yang pelan.
Tuan Muda Hamada, sosok pria dengan paras menawan dan tubuh yang tegap sempurna itu nampak berdiri di tempat yang paling tinggi. Dia memandang ke bawah dan memperhatikan wajah-wajah para anggota dari Guild Singa Emas miliknya.
Suara Tuan Muda Hamada begitu tenang dan seakan tanpa nada. Dia pun berkata, "Pemandangan yang terlihat dari atas sini .... Adalah pemandangan yang menakjubkan."
"..............."
"..............."
Raiden tertegun selama beberapa saat. Dia berkedip dan kemudian berkata, "Ap-apa itu sambutan pembuka darinya--"
Baru saja akan melontarkan pertanyaan, tiba-tiba terdengar suara riuh dari para pemain guild ini. Raiden sampai syok dan secara spontan menutup telinganya.
Di antara suara riuh itu, dia mendengar ucapan yang mengagumi suara Tuan Muda Hamada meski sosok yang nampak berdiri itu hanya mengatakan beberapa kata saja.
Tuan Muda Hamada kembali duduk di kursi miliknya. Karin yang berdiri di samping kursi itu nampak menyilangkan tangan dan mendengus.
Karin berkata, "Harusnya sambutanmu lebih menggebu-gebu lagi,"
"............. Asalkan mereka mendengarkan pidatoku yang singkat, itu sudah cukup."
Karin menggeleng. Wanita berambut merah dengan mata biru itu nampak melirik ke arah Kasamatsu dan membuat pria tersebut mengangguk pelan.
Kasamatsu kembali melangkah ke depan dan berseru, "Salam para anggota guild terhebatku..! Hari ini merupakan saat yang sudah lama kalian nantikan. Pertandingan antar pemain yang akan membawa kalian mengambil misi bersama kami ke Wilayah Tengah. Misi untuk mengalahkan Sang Naga dan menjadi pemain terbaik di Elvort Garden."
Kasamatsu berkata, "Ada lima puluh anggota guild yang akan ikut berpartisipasi. Kalian akan dibagi menjadi dua tim dan bertarung satu sama lain. Hanya ada sepuluh orang terbaik yang akan menempati kursi keanggotaan di sampingku ini dan pastikan bahwa kau adalah salah satu yang terpilih."
Kasamatsu mengangkat tangannya dan berseru, "Tanpa membuang banyak waktu. Aku akan menyambut peserta pertama, Ryouma..!"
!!
"A-aku?!" Ryouma kaget mendengar namanya dipanggil. Raiden yang berada di sampingnya pun ikut tidak percaya.
"Aku yang dipanggil pertama?!"
Raiden berkedip, "Bagaimana kau bisa--"
"Peserta yang akan bertarung melawan Ryouma adalah Raiden!"
!!!
Yuna terkejut, begitu pula dengan Ryouma dan Raiden. Mereka sampai terperangah karena tidak menyangka akan disatukan dalam pertarungan semacam ini.
"Rai ...." Ryouma menelan ludah. Raiden adalah teman barunya dan sosok yang sudah menyelamatkan nyawanya. "Aku ... Bagaimana aku bisa .... Bertarung denganmu?"
Raiden mengembuskan napas. Dia terkejut bukan karena harus melawan teman barunya, melainkan tak percaya bahwa dia disebut untuk menjadi pemain yang akan bertanding pertama kali.
"Rai ..." Ryouma nampak sangat gugup. Dia bahkan kesulitan untuk mengambil napas saat ini. Hanya saja secara tiba-tiba pundaknya langsung ditepuk oleh seseorang yang tidak lain adalah Raiden.
"Kawan, kau tidak perlu khawatir. Anggap saja ini hanya latihan. Ayo naik ke arena bersamaku," Raiden tersenyum dan lalu mengajak Ryouma.
Hide yang berada di antara teman-temannya memperhatikan bagaimana Raiden dan Ryouma yang mulai menaiki lantai arena. Dia nampak mengepalkan tangannya.
"Hide. Ada apa denganmu, kawan?" Nara menyenggol pemuda berambut pirang di sampingnya saat melihat raut wajah Hide yang tidak seperti biasa.
Hide menjawab dengan nada yang terdengar agak kesal. "Aku hanya tidak menyangka bahwa orang itu harus bertarung dengan pemain yang lemah. Ini mengesalkan,"
"Mm .... Apa aku harus mengatur rencana untuknya?"
"Hmph, tentu saja jika itu tidak merepotkanmu."
******