RAIDEN

RAIDEN
27 - Keserakahan



"Kenapa kalian diam saja?! Apa ingin menunggu diselamatkan?!" Hide berseru, dia merutuki beberapa pemain yang lain tidak bergerak untuk membantunya.


Liyan sendiri menggeram, dia menyerang kepulan asap hitam di atasnya dan melindungi beberapa pemain. Tindakan Liyan ini justru semakin memancing amarah dari Hide.


"Apa kalian tidak malu diselamatkan oleh seekor Binatang Roh?! Liyan bahkan lebih baik daripada kalian semua!"


"Ish, menyebalkan! Kami juga sudah berusaha!" seorang pemain wanita berseru dan meminta Hide diam, "Apa kau tidak lihat kami juga punya masalah di sini, hah?!"


"Benar, kau hanya bicara tanpa melihat kami yang juga sedang kesulitan! Perhatikan saja langkahmu!" wanita yang lain ikut bersuara.


"Kau!" andai Hide tidak sadar bahwa lawannya sekarang adalah orang lain, dia mungkin akan menerjang kedua wanita tersebut dan membungkam mereka. Sayangnya ada yang lebih penting daripada itu semua, apalagi sepertinya Raiden sedang dalam kesulitan.


Apa yang dipikirkan Hide benar, saat ini pemuda bermata merah itu bertarung sengit dengan monster besar yang merupakan wujud dari boneka beruang Mina. Raiden berusaha memberi serangan pada anak perempuan itu, tetapi monster yang dilawannya tidak memberinya celah sama sekali.


"Apa yang kalian lakukan?!" Raiden terkejut ketika ada empat pemain yang justru lebih mementingkan untuk merebut batu roh itu daripada membantunya melawan monster.


Ogiwara juga melihatnya, "Sialan. Mereka tidak punya malu sama sekali..!" sayang dirinya tidak dapat mendekat karena bayangan hitam runcing ini.


Yun juga melihatnya, dia menatap tajam ke arah empat pemain yang nampak hanya mementingkan diri itu. Dia saat mereka semua sedang bertarung, keempat orang itu justu berebut ingin mendapatkan Batu Roh berisi Phoenix tersebut. Buruknya, keempat pemain itu penuh dengan ***** membunuh.


Mina memperhatikannya. Entah sejak kapan anak perempuan itu tersenyum lebar hingga memperlihatkan barisan gigi putihnya. Dia terlihat senang, bahkan ketika salah satu pemain mendapat luka sayatan dari rekannya sendiri akibat memperebutkan benda pusakanya.


"Mereka akan saling menghabisi, ini bagus sekali.." Mina menjentikkan jarinya dan seketika lantai tempat kakinya berpijak mulai bergetar.


Raiden dan pemain yang lain tersentak, mereka bisa merasakannya. Dalam waktu tiga tarikan napas, altar persembahan tempat Mina berada terangkat tinggi dan lantai yang mereka sendiri pijak mulai berubah menjadi lumpur hitam yang lengket.


"Apa-apaan ini?!"


!!


Salah seorang pemain terperangkap, kakinya terperosok hingga sulit untuk digerakkan. Tiga bayangan runcing melesat dan mengikat kedua tangan dan lehernya. Dirinya tidak mampu lagi menghindar apalagi beberapa pemain lain juga menghadapi nasib yang sama.


Mina melihat pemain itu menggeram, dia menyukai ekspresi wajah pria berpakaian hijau muda tersebut. Dengan sekali gerakan jari, dirinya mulai membuat pemain itu bergerak sesuai keinginannya.


"Nah, ayo bermain..!" Mina mengibaskan tangannya dan sedetik berikutnya---lima orang pemain yang terikat oleh banyak miliknya mulai melesat dan menyerang pemain lainnya.


!!


Karin, Ogiwara, dan Yuna adalah tiga orang dari beberapa pemain yang dapat menghindari terkena lumpur lengket milik Mina. Tapi tidak demikian dengan Gleen, Ryouma dan Mei. Mereka lengah hingga terjebak dalam perangkap tersebut.


Gleen dipaksa untuk menyerang rekannya sendiri, tangannya sampai sakit karena dia memberontak. Di sisi lain, Shoyo berusaha menebas lesatan dari bayangan hitam yang menyerangnya.


Para pemain itu sebenarnya kewalahan. Mereka harus membagi konsentrasi untuk mengambil pijakan yang benar sambil menghindari serangan dari rekan mereka yang dikendalikan serta lesatan pada kepulan asap hitam di atas sana.


Belum lagi, mereka juga harus waspada terhadap serangan nyasar dari pertarungan Raiden melawan monster raksasa nan berotot itu. Sungguh, keadaan ini tidak memberi mereka keuntungan apa pun.


!!


Raiden meludahkan darah, dia sebenarnya tidak bertarung sendirian melawan monster ini---tetapi rekan yang membantunya juga tidak terlalu kuat. Apalagi pada beberapa kesempatan, dirinya justru selalu menyelamatkan mereka yang nyaris terkena serangan fatal.


Vit tidak pernah berhenti menyelimuti belati milik Raiden. Dia melompat dan menapak pada lengan kanan lawan sebelum memberi serangan pada mata monster yang dihadapinya.


!!


"Kawan, terima kasih." Raiden tersengal-sengal, namun bukan waktunya untuk menyerah dengan keadaan ini. Dia masih sanggup melawan monster tersebut.


"Mereka sangat kuat, kita terjebak Rai.." Yun bisa melihat anak perempuan berusia 10 Tahun itu mempermainkan mereka. Jelas sekali Mina sebenarnya dapat memberi mereka serangan yang fatal dari atas sana---tetapi justru anak itu tidak melakukannya.


"Yun, gunakan serangan jarak jauh terkuat yang kau miliki dan ulur waktu sejenak untukku," ekspresi Raiden serius. Tangan kanannya kembali menyentuh gagang dari pedangnya.


Yun sendiri mengerutkan kening, dia melihat tangan temannya yang meneteskan darah dan agak gemetar. Dirinya pun tahu apa yang sudah terjadi pada temannya, "Kau telah menarik pedangmu hari ini, Rai. Jadi jangan lakukan lagi."


"Aku tidak punya pilihan-"


"Kubilang jangan lakukan lagi..!" Yun memotong ucapan Raiden, "Kau sudah mencapai batasmu. Tidak perlu memaksakan diri, aku akan memikirkan cara lain."


"Tidak ada waktu, Yun. Kali ini kita gunakan rencanaku. Ulur waktu dan biarkan aku yang selesaikan sisanya," Raiden sambil bicara juga tidak pernah kehilangan fokus pada lawan dan sekelilingnya. Dia bisa menangkis serangan yang dialamatkan padanya dan bahkan memberi serangan balasan.


"Rai, kau tahu benar pedangmu tidak dapat digunakan lebih dari sekali. Senjata itu lebih tinggi levelnya dibandingkan dirimu. Lihatlah luka di tanganmu, itu adalah buktinya."


"Jangan mengkhawatirkannya. Luka semacam ini tidak akan membunuhku,"


"Benarkah? Lalu bagaimana dengan ini." Mina seketika ikut dalam pembicaraan Yun dan Raiden. Dia tersenyum dan mulai mengibaskan tangannya yang mana sebuah jaring hitam besar tiba-tiba terbentuk di udara.


!!


Jaring yang nampak bagai milik laba-laba itu datang dengan cepat ke arah Raiden dan Yun hingga sulit dihindari. Karin yang tersentak langsung melesat dan memberi serangan yang kuat pada jaring tersebut hingga suara keras terdengar.


Dia berhasil menyelamatkan dua orang pemuda, tetapi sebagian dari jaring laba-laba itu mengenai tubuh tiga orang pemain yang langsung terpisah bagai habis ditebas begitu saja. Padahal jaring hitam itu nampak sangat rapuh.


Tindakan yang dilakukan Mina sangat mengejutkan. Karin menatap tajam anak perempuan tersebut sambil meminta Raiden untuk bersiap. Dia sendirilah yang akan membantu pemuda ini mengulur waktu meski Yun menolak rencana itu karena khawatir dengan kondisi temannya.


"Dia akan baik-baik saja," Karin meyakinkan Yun, "Kau jangan khawatir. Jika kau menganggap temanmu telah mencapai batasannya---maka saat ini dia harus melampaui batasan tersebut."


!!


Karin seketika melesat, dia membuat Yun dan Raiden tersentak. Wanita berambut merah itu menyerang monster milik Mina dengan gesit dan cepat, nyaris tanpa ampun.


Mina kali ini melesatkan pemain yang dia kendalikan untuk menyerang Karin, tetapi wanita tersebut sangat pandai bertarung. Bahkan ketika dirinya kembali melesatkan benang hitam miliknya---wanita itu dengan mudah menebasnya.


Pertarungan Karin memancing pemain yang lain untuk kembali bersemangat termasuk Yun dan Raiden. Mereka mulai mengerahkan segalanya dan semakin bersemangat dalam menghadapi asap hitam menyebalkan itu.


Mina awalnya merasa sudah berada di atas awan, dia merasa siapa pun tidak bisa membunuhnya. Tetapi ketika dia hendak menyerang Karin, dirinya mendapat serangan dari bawah yang tidak lain adalah Raiden.


Pemuda bermata merah itu berhasil memanfaatkan kelengahan Mina hingga dia dapat melakukan serangan yang tidak terduga pada anak perempuan tersebut serta memberinya luka tebasan di punggung.


!!


Mina sangat marah karena ada seseorang yang begitu berani melukainya. Secara mengejutkan dia berubah menjadi sosok yang bahkan membuat napas dan detakan jantung berhenti.


"Dia.." mata Yun terbelalak. Dia menyaksikan tubuh Mina yang berubah menjadi makhluk mengerikan---bahkan melebihi monster yang tengah dilawan oleh Karin.


***