RAIDEN

RAIDEN
41 - Guild Armonia



Yun merupakan anggota baru dari Guild Banteng Putih. Guild tersebut memiliki cabang di kebun nomor 20 dan lokasinya sendiri tidak terlalu jauh dari Penginapan Anggrek Bulan.


Guild Singa Emas sebenarnya juga punya cabang di tempat ini dan Raiden baru mengetahuinya setelah Hide datang dan mengajaknya pulang. Hanya saja, entah kenapa gaya bicara si pirang tersebut kembali ketus seperti biasa.


"Cabang Guild Singa Emas tidak jauh dari sini meski lokasinya sedikit tersembunyi. Hanya saja dilihat dari penampilanmu, aku yakin kau tidak akan kesulitan untuk menemukannya. Yaah... Terserahlah. Kau mau datang atau tetap menginap di sini itu bukan urusanku. Aku memberi tahu ini agar tidak ada orang yang beranggapan bahwa aku sudah menelantarkanmu."


Raiden dan Yun berkedip saat pemuda berambut pirang itu datang begitu saja dan sekarang pergi tanpa menunggu mereka memberikan respon. Yun bahkan mendengus saking tidak percayanya bahwa ada orang dengan sifat seperti Hide di dunia ini.


"Bukankah beberapa waktu yang lalu dia begitu baik? Kenapa sekarang sikapnya berubah sedrastis itu?" Yun menatap Raiden yang terlihat tertegun.


"Entahlah... Tapi aku tidak pernah merasa bahwa dia ada di level orang yang baik. Si Pirang itu... Apa sebutan yang biasa kau dan kelompokmu pakai Yun?"


"Tsundere?"


"Ah, benar. Itu sebutan yang tepat,"


Yun mendengus sambil tersenyum. Dia pun menepuk pelan pundak Raiden dan kembali bertanya, "Jadi... Apa kau mau tetap tinggal di sini atau pergi bersama si Pirang itu? Lihat, dia mulai menaiki singa peliharaannya. Kurasa dia sebentar lagi akan meninggalkanmu,"


"Dia sudah memberiku pilihan. Aku tentu akan tetap di sini, lagipula bukankah aku masih ada janji temu nanti malam. Kau sebaiknya juga kembali ke Guild-mu. Teman-temanmu sepertinya sudah lama menunggu,"


Yun mengarahkan pandangan tepat di mana mata Raiden tertuju. Dia memang sudah ditunggu oleh rekan-rekannya, bahkan Shoyo dan Mei sudah berulang kali memanggil namanya dengan penuh semangat. Ini mungkin sudah saatnya untuk pergi.


Lilulu sendiri sudah tidak berada di dalam Penginapan Anggrek Bulan. Dia pergi setelah menerima pesan dari Guild-nya, bahkan tanpa memberi tahu siapa pun termasuk Raiden dan Yun.


Di sisi lain, Karin juga mengajak Yuna untuk pulang. Mereka menunggangi Liyan dan sebelum itu meminta Raiden ikut. Namun pemuda bermata merah tersebut menolak dengan alasan dia sudah menyewa satu kamar untuk semalam dan Poin-nya akan terbuang percuma bila dia meninggalkan tempat ini.


Raiden sebenarnya tetap didesak untuk ikut, tetapi dirinya bersikeras tinggal di Penginapan Anggrek Bulan. Lagipula, dia bukanlah anak kecil yang harus selalu dijaga dan diawasi----dia memiliki hidup sendiri meskipun kini dirinya telah masuk dalam sebuah Guild.


Karin dan Yuna pun akhirnya menyerah. Raiden sama sekali tidak bisa dibujuk. Pemikiran pemuda bermata merah ini memang tidak salah. Meskipun telah bergabung dengan sebuah Guild----seseorang masih memiliki kebebasan untuk jalan hidupnya sendiri dan memang bagi beberapa pemain----Guild hanya berfungsi sebagai tempat pulang.


Kebanyakan pemain yang bergabung pada sebuah Guild masih sering pergi menjalankan misi seorang diri. Tidak sedikit dari mereka yang beranggapan bahwa membentuk tim hanya akan menjadi beban.


Karin berpikir bahwa Raiden juga pasti merasa demikian, itulah sebabnya pemuda bermata merah tersebut tidak ingin pulang bersamanya. Raiden seakan masih menjaga jarak dengannya, dengan Hide, Yuna, bahkan dengan Guild Singa Emas.


*


*


*


Pemikiran Karin tidak sepenuhnya salah. Memang benar bahwa Raiden masih menjaga jarak. Dia tidak mau terlalu terikat pada Guild yang baginya hanya sebagai salah satu pijakan untuk bisa mengikuti ujian di wilayah tengah.


Game ini bukan game biasa. Para pemain di Elvort Garden kebanyakan terdiri dari orang-orang yang hanya mementingkan diri sendiri. Sulit untuk mengetahui siapa di antara mereka yang benar-benar baik dan Raiden tidak akan pernah melupakan kenyataan yang sepenting ini.


Pemuda bermata merah itu sekarang berada di dalam kamarnya. Dia terlihat masih mengasah belati miliknya dan sesekali memandang ke arah jendela.


Di luar, suasana begitu gelap. Namun dibandingkan dengan kesunyian----Raiden justru mendengar jelas suara rintik hujan. Meskipun malam ini tidak seperti yang biasanya, namun Raiden tetap merasa inilah waktu yang tepat melakukan pertumpahan darah.


Raiden memperhatikan belati miliknya dengan seksama. Bilah pada senjata tersebut nampak berkilat, dia memang sangat hati-hati dalam mengasah belatinya dan bahkan tatapan matanya penuh dengan ketekunan.


"Mm... Sempurna," Raiden tersenyum tipis saat melihat pantulan wajahnya di bilah senjatanya. Dia pun bangkit dan segera keluar dari kamarnya. Lokasi yang akan dia tuju adalah sebuah kediaman kosong yang sebenarnya berada cukup jauh dari Penginapan Anggrek Bulan.



Tidak sulit menebak tempat pertemuan yang paling sesuai dengan anggota Guild Armonia. Mereka adalah kelompok yang menyukai tempat sunyi, kotor, berantakan termasuk bila lokasi itu memiliki rumor mengerikan bagi pada NPC.


"......"


Raiden sama sekali tidak memperlambat laju Drift miliknya. Dia terus melaju dan seakan menerobos hujan. Tidak butuh waktu lama sampai dirinya tiba di lokasi yang paling buruk di kota ini. Sebuah kediaman yang dahulunya di huni oleh keluarga 'Duan'.


Dilihat dari atas, kediaman 'Duan' cukup luas. Mereka mempunyai tiga bangunan yang sama besar, namun salah satunya memiliki kondisi yang lebih parah. Seakan bangunan itu sudah diterjang angin atau dihantam sesuatu yang besar hingga tak lagi mampu untuk berdiri kokoh.


Raiden mematikan mesin drift-nya ketika ia telah berada di halaman depan salah satu bangunan. Karena hujan yang cukup deras, tempat ini jadi makin mencekam. Apalagi Raiden dengan sengaja tidak menyalakan lampu sorot kendaraannya.


Dia membuka helm-nya dan lantas mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling. Hanya saja Raiden tidak menemukan ada orang selain dirinya sendiri di tempat ini.


"Yun ternyata belum datang..."


Tetesan air hujan yang membasahi tubuh Raiden begitu dingin, apalagi angin yang berhembus membuat suhu di tempat ini semakin rendah. Dia sendiri juga tidak berniat masuk ke bangunan yang ada di depannya karena curiga terdapat jebakan di dalamnya.


"Apa mereka tidak datang karena hujan?" Raiden berpikir bahwa penantangnya yang berasal dari Guild Armonia takut pada hujan hingga mereka tidak berani datang ke tempat ini.


Raiden baru saja akan mendengus dan mengejek mereka saat dia merasakan hembusan angin yang aneh. Dia pun spontan menengadah dan seketika melihat lima orang berpakaian ungu gelap nampak berdiri di atap bangunan yang jelas-jelas sangat rapuh itu.


Guild Armonia cukup mudah dikenali dengan corak matahari merah pada pakaian berwarna ungu mereka. Bahkan semakin gelap suasananya, warna merah pada corak matahari tersebut menjadi semakin jelas. Guild ini termasuk salah satu lawan yang paling merepotkan bagi Raiden.


"Kukira kalian tidak datang," suara Raiden terkesan meledek. Mata berwarna merah miliknya nampak berkilat dan sejujurnya agak menakutkan di pandangan orang awam. Rasanya seakan-akan bahwa dia bukanlah manusia, melainkan jelmaan iblis.


"Aku tidak bisa mendengarmu," salah seorang pria yang memiliki tubuh besar dengan wajah garang berujar cukup keras. Dia membawa pedang besar di punggungnya.


"Aku bilang... 'Kukira Kalian Tidak Akan Datang...!'" Raiden berseru, dalam hati dia tidak menyangka tetesan hujan ini bisa mengubah suasana yang harusnya menegangkan menjadi agak konyol. Haah... Dia merasa seperti sedang reuni dengan teman lamanya.


"Tidak perlu banyak bicara! Malam ini adalah kematianmu...!" salah seorang di antara orang-orang itu melesat dengan tombak yang terayun kuat.


Mata Raiden terbelalak, namun ekspresi wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan. Justru dia sangat berkonsentrasi dan lalu melempar helm miliknya ke arah pria berpakaian ungu tersebut.


Tombak itu menusuk tepat helm Raiden hingga meledak di udara. Detik itu juga pertarungan dengan alur yang cepat dan dihiasi oleh hujan terlihat. Raiden sama sekali tidak kesulitan memposisikan tiap langkahnya, begitu pula dengan orang yang dia lawan.


"Lama tidak berjumpa, inikah cara kalian memberiku sambutan, huh?" belati milik Raiden bergesekan keras dengan tombak lawannya dan dirinya pun menggunakan kakinya untuk memberi tendangan.


Gerakan pria berpakaian ungu itu cepat. Dia menggunakan lengannya dalam menangkis serangan Raiden. Dia pun memutar tubuhnya untuk membalas serangan yang dirinya terima. Wajahnya cukup enak dipandang mata.


"Sambutan yang cocok kau dapatkan adalah mati di ujung tombakku ini,"


"Hei, kebencianmu terlalu mudah dibaca. Tapi kurasa dengan ini aku benar-benar tidak punya penyesalan untuk mengambil nyawamu,"


Meski saat ini yang Raiden lawan hanya satu orang, tetapi dia sama sekali tidak menurunkan kewaspadaannya pada lingkungan sekitar. Berikutnya, hal yang dia waspadai pun akhirnya datang.


Empat orang dari Guild Armonia melesat turun dan pertarungan satu lawan lima terjadi. Mereka tidak hanya memakai Vit, tetapi juga menggunakan air hujan dan benda-benda lain untuk melukai lawan.


Raiden menghindari tiap serangan yang bisa berdampak fatal jika ia nekat menahannya. Gerakan kakinya lincah dan saat sedang serius----dia nampak seperti orang lain.


Guild Armonia dan Raiden saling memiliki masalah lama. Semua ini bermula dari Kota Petir dan desa tempat pertama kali Raiden datang ke Elvort Garden. Yun dan Lilulu sendiri tidak tahu permusuhan antara Raiden dengan Guild Armonia sudah selama itu. Yang mereka ketahui hanya sebatas teman mereka memang suka membuat banyak musuh di mana-mana.


"Tidak hanya membantai dan merusak seluruh tempat di desa Petir, bahkan warga kotanya pun tidak kau lepaskan. Dan sekarang kau justru hidup tanpa rasa bersalah? Hah. Bagus sekali hidupmu ini," salah seorang pria mengejek Raiden sambil melesatkan serangan yang terbuat dari aliran Vit.


Raiden yang mengambil jarak dapat menangkisnya, Dia pun mendengus. "Oh..? Jadi kalian datang sebagai pembela keadilan? Tapi kurasa ada hal yang harus kalian koreksi lebih dahulu. Aku memang melakukan pembantaian, tapi kalian juga ikut terlibat di dalamnya."


"Jangan bicara sembarangan!" seorang pria menggeram marah, "Kau membuat warga desa petir menjadi persembahan demi mendapatkan Pedang Iblis itu dan kemudian menguji cobanya pada warga kota. Kau lalu memanfaatkan kami hingga Guild Armonia tampak buruk dan kau sendiri justru menyembunyikan kebusukanmu. Benar-benar licik!"


"Raiden, aku mungkin tidak akan mengungkit ini andai orang yang kau bunuh adalah para NPC. Tetapi kau juga tidak punya belas kasihan pada para pemain yang hidup di sana. Kau tidak menyisakan siapa pun."


"Hah, mereka pantas mendapatkannya." Jawaban Raiden mengejutkan. Apalagi, dia terlihat tidak merasa bersalah sama sekali. Justru, bibirnya memperlihatkan seringai yang menakutkan, "Kalian tidak perlu membangun citra di tempat ini. Elvort Garden dibuat untuk para sampah dan kau tahu sampah? Mereka hanya perlu disingkirkan. Jangan naif, di dunia ini... Tidak ada manusia yang benar-benar baik."


Angin tiba-tiba saja berubah arah dan kini terdengar suara gemuruh petir. Belum ada tanda-tanda Yun akan datang hingga Raiden mulai memikirkan sesuatu. Dia tidak akan membiarkan hidup orang-orang yang tahu perbuatan buruknya di masa lalu.


***