
Raiden merasakan sakit pada seluruh tubuhnya. Dia menutup mata perlahan dan kemudian kembali membukanya. Dirinya yakin tulang pada tangan kanannya benar-benar remuk.
"Kau masih bisa bertahan, kan?" Hide bertanya dengan suara yang pelan. Dia tidak memiliki satu pun Potion untuk membantu mengurangi sakit yang dialami oleh pemuda di sampingnya ini.
"Aku.." Raiden baru akan bicara ketika tiba-tiba dirinya muntahkan darah. Organ dalamnya seperti sedang diaduk dan terasa sedang ditusuk-tusuk.
"Tidak perlu bicara. Kau akan semakin kesakitan nanti.." Hide sebenarnya juga terluka, namun bila dibandingkan dengan dirinya---kondisi Raiden bahkan jauh lebih parah. "Cobalah untuk bernapas pelan dan aku akan berusaha mencari sesuatu yang dapat mengobatimu,"
"Jangan pergi.." suara Raiden lemah, dia bisa merasakan ada tulang rusuknya yang patah. "Kau.. Berbahaya jika kau.. Pergi sendirian.."
"Bodoh. Aku akan baik-baik saja. Aku juga tidak mungkin membawamu, kau hanya akan menjadi beban. Lebih baik kau tetap di sini dan berusahalah untuk tidak mati sebelum aku kembali," Hide mulai bangun dan berjalan ke arah salah satu ujung dari tempat ini. Dia meninggalkan Raiden yang masih terbaring tanpa mampu bergerak.
Tidak ada yang tahu bagaimana kondisi para pemain lain. Kemungkinan besar mereka semua berada dalam situasi yang berbeda-beda. Bisa saja saat ini mereka berhadapan dengan bahaya. Hide bahkan tidak tahu siapa di antara pemain yang berhasil mendapatkan Batu Roh berisi Phoenix tersebut, namun memang untuk sekarang prioritas utamanya adalah menemukan sesuatu yang bisa mengobati Raiden.
Hide berjalan menelusuri tempat yang lembab tersebut sambil membawa pedangnya. Kakinya beberapa kali menginjak tanaman merambat dan sesekali menebas tumbuhan yang menghalangi jalannya.
Keningnya mengerut ketika dia semakin jauh melangkah. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang diam-diam mengawasinya. Hide pun menggenggam erat pedangnya dan sedetik berikutnya mulai berbalik dengan lesatan serangan yang kuat.
Sebuah batu besar yang tertutupi oleh tanaman merambat langsung meledak bersamaan dengan terdengarnya suara geraman keras. Sosok makhluk hitam melompat keluar dan berdiri tepat di hadapan Hide.
!!
Pemuda berambut pirang itu tersentak ketika tahu makhluk yang sejak tadi mengawasinya. Sosok di depannya ini tidak lain adalah Binatang Roh berwujud Kucing Hantu Tengah Malam. Hewan yang mempunyai cakaran beracun dengan gerakan bertarung yang lincah.
Ukuran tubuh makhluk di hadapan Hide paling tidak sama seperti harimau dewasa, namun sebenarnya Kucing Hantu Tengah Malam bisa tumbuh lebih besar lagi. Yang ada di depannya justru masih berusia muda. Walau demikian, racun pada cakarnya tersebut tidaklah main-main.
Kucing Hantu Tengah Malam telah menargetkan Hide. Dia mengeluarkan suara geraman dan tanpa ragu langsung menerjang manusia itu. Pertarungan sengit antara keduanya pun tidak mampu dihindari.
"Tsk, sialan. Padahal aku berniat mencari obat untuk orang itu, tapi malah terjebak dengan binatang rendahan ini.." Hide mengelak ke kanan dan berusaha menghindari serangan Kucing Hantu Tengah Malam. Orang yang dirinya maksud tidak lain adalah Raiden. Dia hanya berharap semoga pemuda itu tidak mati sebelum dirinya kembali.
Kebetulan saja, jauh di tempat Hide berada sekarang---Raiden terlihat masih berbaring sambil menatap lurus ke arah langit-langit. Dia tidak bisa bergerak sama sekali dan kondisinya pun masih dalam keadaan yang kurang baik.
Raiden bisa merasakan air menyentuh punggung dan tangannya di samping rasa sakit yang dia alami. Terakhir kali dia berada dalam kondisi yang tidak berdaya semacam ini adalah ketika dirinya berusia sekitaran 14 Tahun.
Kilasan tentang masa lalu seakan muncul di hadapannya. Waktu itu langit-langit yang dia tatap bernuansa putih dengan lampu penerang ruangan. Aroma kuat dari obat-obatan dan alat bantu pernapasan terpasang di tubuhnya, masa yang jelas amat menyedihkan.
"…"
Raiden perlahan berkedip, dia tidak mau mengingatnya lagi. Pedang yang berada di sampingnya sendiri tanpa disadari mengeluarkan aliran listrik kecil yang seakan langsung menyatu pada genangan air di sekitarnya.
Dahi Raiden mengerut, dia meringis. Jari-jari dan seluruh tubuhnya merasakan hantaran listrik yang membuat aliran darahnya seperti dibakar. Bahkan untuk berteriak kesakitan pun dia sulit melakukannya.
Tidak ada yang tahu termasuk Hide bahwa pedang yang selama ini menemani Raiden mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan pemiliknya sendiri. Selama Raiden masih mempunyai napas yang tersisa, maka walau separah apa pun lukanya dan sehancur apa pun tulang-tulangnya.. Pedang itu akan menyembuhkannya tanpa efek samping sama sekali.
Tentu saja kehebatan luar biasa ini sama besarnya dengan risiko dari penggunaan pedang yang memiliki batasan tertentu dalam mengayunkannya. Belum lagi proses penyembuhan yang dilakukan oleh pedang ini lumayan menyakitkan, Raiden benar-benar harus bisa bertahan darinya.
Jujur saja tidak banyak senjata yang mempunyai kemampuan penyembuhan semacam ini. Pedang Raiden sepertinya merupakan senjata kelas tinggi atau bisa jadi adalah satu-satunya di Elvort Garden. Andai ini diketahui oleh orang lain, ada kemungkinan pedang Raiden akan diincar dan menjadi rebutan.
"YiLing, hentikan. Aku sudah baik-baik saja.." suara Raiden lemah, tetapi kemudian kembali meringis ketika aliran listrik menyengatnya lagi dan lagi. Dia seakan baru saja mengajak pedangnya bicara.
"YiLing.."
"Diamlah."
Tidak ada seorang pun selain Raiden yang terbaring lemah di tempat lembab itu. Namun bentakan dari suara asing barusan terdengar amat jelas dan bagai suara laki-laki dewasa.
"Kau sudah berlebihan kali ini. Apa kau sedang bersikap menjadi pahlawan? Jangan lupa bahwa dunia ini tidak untuk mereka yang baik."
"Aku tahu.." Raiden bisa merasakan tulang-tulangnya seperti diperbaiki secara perlahan. Dia tahu benar bagaimana hukum dunia ini.
"YiLing.. Kau sekarang jadi banyak bicara,"
"Aku selalu seperti ini. Tidak ada orang, jadi aku bebas menegurmu."
Tidak ada sistem di Elvort Garden, tetapi Raiden sudah menganggap pedangnya sebagai 'Sistem'. YiLing merupakan item misterius yang didapatkan oleh pemain paling beruntung. Kebetulan sekali Dewi Keberuntungan berpihak kepada Raiden. Kedua temannya, yakni Lulu dan Yun bahkan tidak tahu bahwa senjatanya dapat bicara layaknya manusia.
"Aku mendengar suara.."
"Pemuda yang sebelumnya bersamamu saat ini sedanh bertarung dengan Kucing Hantu Tengah Malam.." suara YiLing terdengar dingin, ".. Tidak perlu ke sana membantunya. Setelah kau pulih, ayo pergi ke pusat Dungeon ini."
Untuk seukuran pedang, YiLing benar-benar egois. Ini sebenarnya hal yang wajar mengingat dia hanyalah pusaka yang tidak memiliki hati. Dapat dikatakan dia sejenis senjata gelap, hanya saja mampu menjalankan komunikasi yang baik dengan Raiden.
"…"
Sebenarnya meski terlihat akrab, tetapi Raiden masih belum mampu menarik YiLing keluar dari sarungnya secara utuh. Menarik bilahnya sejauh 5 cm bahkan sudah membuat kondisinya seperti ini, apalagi jika dirinya nekat melakukan hal yang lebih lagi---dia bisa saja langsung menjadi abu.
"Aku tidak boleh meninggalkannya.." suara Raiden pelan, ".. Walau pertemuan awal kami tidak terlalu menyenangkan, tapi sekarang aku berada di Guild miliknya. Dalam hal ini dia adalah seniorku,"
"Sudah kubilang jangan terlalu baik. Apa perlu aku menyetrummu hingga pikiranmu kembali menjernih?"
"…" Raiden tersenyum. Andai dalam keadaan biasa, dirinya pasti sudah tertawa sekarang. YiLing seperti sedang menikmati saat-saat tidak ada orang yang melihat mereka.
!
Ketika Raiden ingin berbicara, dirinya seketika mendengar suara debaman yang sangat keras. Pertarungan yang dilakukan oleh Hide saat ini mungkin telah mencapai puncaknya. Sayang, dua masih belum mampu bergerak.
Pemuda berambut pirang dan merupakan bagian dari Guild Singa Emas itu memang terlihat bertarung sengit melawan Kucing Hantu Tengah Malam. Hide mampu bergerak gesit tanpa kehilangan konsentrasi pada cakaran beracun dari Binatang Roh itu.
Kucing Hantu Tengah Malam sendiri merasa frustrasi sebab serangannya tidak pernah mengenai target sama sekali. Lawannya seakan memiliki respon yang cepat pada setiap terjangan yang dia lakukan. Ini seakan-akan lawannya mempunyai semacam insting hewan buas.
GRRRR..!
Hiden mendengus ketika mendengar suara geraman dari Kucing Hantu Tengah Malam. Dia melihat tatapan tajam yang penuh kebencian dari Binatang Roh tersebut dan ini sama sekali tidak membuatnya gentar.
"Aku tidak akan pernah takut dengan tatapan mata itu. Liyan seratus kali lebih menyeramkan saat sedang marah dan Karin bahkan lebih buruk lagi."
Vit mengalir kuat pada bilah pedang Hide. Dia memang pernah kalah dari Raiden, tetapi bukan berarti dirinya merupakan pemain yang lemah. Kekalahannya di hari itu telah mengajarkannya untuk tidak pernah meremehkan lawan.
Kucing Hantu Tengah Malam menyadari apa yang ingin dilakukan lawannya. Dia pun menyiapkan diri dan detik berikutnya kembali menerjang disertai suara geraman yang kuat.
Di waktu bersamaan Hide juga ikut melesat. Kecepatannya sulit diikuti mata, yang terlihat justru hanya garis cahaya keemasan dan nampak membentang di udara. Tiba di titik tertentu cahaya tersebut melengkung dan seakan berputar di udara.
Kucing Hantu Tengah Malam tahu arah serangan itu, tetapi saat akan menggunakan cakar beracun miliknya---pola serangan lawan mendadak berubah dan bahkan itu terjadi tepat di udara, bersamaan saat dia hampir saja mengenai lawannya.
!!
Suara yang amat keras terdengar dan nyaris memecah gendang telinga. Angin kejut tercipta dan menyapu tanaman merambat di sekitaran tempat pertarungan Hide. Angin tersebut bahkan mencapai tempat di mana Raiden berada.
Baru setelah efek serangan terakhir yang kuat itu mereda, Hide dapat melihat tubuh Kucing Hantu Tengah Malam berubah menjadi butiran cahaya dan lalu menghilang. Sebuah kotak berukuran sedang terlihat melayang di udara setelah cahaya dari tubuh Binatang Roh itu lenyap.
?!
Hide tersentak, namun tidak butuh waktu lama sampai dia melompat dan mengambil kotak tersebut. Ketika membukanya, dia agak terkejut dengan apa yang baru saja dirinya dapatkan.
***